25/01/15
AKU baru bangun. Di luar hujan. Ini
pukul 13:43 WIB. Aku baru tidur sekitar pukul tujuh pagi tadi, ketika
orang-orang di kost baru saja bangun. Aku mendengar mbak penjaga kost mondar-mandir
menyapu lantai teras setiap kamar. Aku sempat pula mendengar ia mengambil jatah
cucianku dari keranjang yang ditaruh di depan pintu, samping rak sepatu.
Anak-anaknya juga terdengar mulai ribut karena Minggu pagi adalah jadwal mereka
bermain bola. Tapi di saat bersamaan, aku dengan manisnya mematikan lampu,
merebahkan diri, menarik selimut dan mengucap selamat tidur pada diri sendiri.
Hujan di luar
malah semakin deras. Aku menyibak tirai tanpa membuka jendela. Motorku tidak
kehujanan, helm pun aman. Apotek di depan kost tetap buka hari Minggu begini. Meskipun
para dokternya hanya membuka praktik dari Senin hingga Sabtu.
Memang sudah
sejak dua minggu lalu bagian depan kost disulap menjadi apotek dan ruang
praktik dokter. Dokter-dokter itu tak
lain adalah pemilik kost ini beserta anak perempuannya yang baru saja mendapat
izin membuka praktik sebagai dokter umum. Sedangkan ayahnya adalah dokter spesialis
anak. Seharusnya aku senang karena kalau aku sakit, aku tak usah susah payah
mengirim tubuhku ke dokter yang jauh dari kost. Namun aku malah risih,
membayangkan tiap hari akan ada orang-orang sakit berdatangan dan berkumpul tak
jauh dari kamarku. Bagaimana kalau penyakit mereka menempel juga di tubuhku?
Bagaimana kalau ada yang tak terselamatkan, lalu meninggal di situ? Malam
harinya kost ini pasti akan menyeramkan. Aku memang sangat penakut. Aku juga
tak pernah suka rumah sakit dan suasananya yang (menurutku) selalu menyeramkan
sekaligus memilukan. Dan kali ini suasana itu hadir tak kurang enam meter jaraknya
dari pintu kamarku!
Tapi toh sepengetahuanku, hingga saat ini
belum ada pasien yang datang. Mungkin karena orang belum terbiasa datang ke
sini. Aku membayangkan para dokter itu menanti-nanti, bahkan sedikit
berharap-harap ada pasien yang datang. Apakah seorang dokter sering berharap
orang-orang menjadi sakit agar ia mendapat pemasukan? Itu adalah pertanyaan
yang belum sempat kutanyakan pada dokter manapun. Aku membayangkan dokter sama
seperti tukang tambal ban pinggir jalan, yang mendapat rezeki justru dari
kesusahan orang lain. Dan karena itu pulalah ia justru dianggap sebagai
penolong. Tuhan memang maha adil.
Masih hujan.
Masih malas merapikan kamar. Aku
mendekati cermin. Wajahku kusam, pucat dan penuh jerawat. Kusut masai, seperti kucing
liar kurus dengan bulunya yang jarang-jarang dan setengah basah oleh gerimis. Ini
kondisi wajah terburuk yang pernah kualami.
Aku memerhatikan
lagi wajahku di cermin. Memerhatikan gurat wajah dan beberapa helai rambut yang
mencuat dari kumpulannya. Liar. Tak mau diatur sisir. Semua rambutku masih
hitam walau tak setebal dulu. Rambutku memang sangat sering rontok, seperti
rambut ibuku. Mungkin turunan. Ketika masih kecil hingga remaja, saking
tebalnya rambutku, aku pernah berharap agar suatu hari rambutku lebih tipis.
Aku menginginkan rambut tipis karena sepertinya akan mudah ditata. Sering pita
atau ikat rambut yang kubeli dengan riang menjadi tak terpakai karena rambutku
terlalu tebal untuk diikat atau dijepit. Karet tipis warna-warni itu mudah
putus atau pita-pita mudah lepas kalau dipakai untuk menjepit rambutku. Lain
dengan rambut teman-temanku yang tipis. Pita-pita begitu anteng menempel di rambut mereka. Kini, saat rambutku mulai menipis
karena rontok, aku malah cemas dan mulai sibuk menimbang-nimbang sampo mana yang
bisa menghentikannya.
Tubuh dan
kulitku masih baik-baik saja. Walaupun kurus, tapi tanda-tanda kemudaan masih
terlihat jelas. Syukurlah. Namun aku sering membayangkan bahwa suatu hari nanti
aku akan melihat lebih banyak keriput dan kulit yang kendur di hampir semua
bagian tubuhku. Aku membayangkan kulit di leher bawah dagu akan melorot. Dada
akan kempis dan perut akan bergelambir. Kulit paha akan lebih mudah dicubit dan
kulit lutut akan terlalu longgar untuk tulang tempurung yang dibungkusnya. Sementara
itu, kakiku akan gemetar jika berdiri terlalu lama.
Pernah beberapa
waktu lalu aku menemukan sehelai uban di antara rambut hitamku. Mungkin
pengaruh hormon atau pigmen. Saat mencabut sehelai uban itu aku merasa sangat
takjub. Takjub membayangkan rambut yang begitulah agaknya yang kelak akan lebih
banyak jumlahnya di kepalaku. Aku takjub membayangkan kesibukanku di hari-hari
nanti; mengecat rambut agar selalu hitam.
Berupaya keras untuk mengelabui waktu. Ketika memegang sehelai uban itu, aku
merasa seperti mendapat sebuah kiriman atau pesan dari masa depan.
Aku begitu
sayang pada tubuhku. Tubuh ini begitu setia mengantongi ruhku. Begitu setia
turut serta sekaligus mengantar ke mana pun pikiran dan hasratku ingin pergi.
Begitu takluk pada kehendakku yang membuatnya menjadi gemuk, kurus, cantik,
buruk atau bahkan sakit. Aku menyayangi tubuh mudaku yang tetap tegak berdiri
walau aku makan sembarangan, tidur sekenanya, bekerja segilanya. Aku tahu,
kelak ia akan tak sepenurut ini. Bukan kehendaknya, tapi waktulah biang
keladinya. Ia kelak akan mudah terasa
sakit saat aku makan sedikit saja daging kambing atau bayam dan kangkung kesukaanku.
Ia akan mudah terasa linu saat aku kehujaanan atau sebentar saja terkena angin malam.
Aku kelak akan harus tidur di bawah pukul sembilan malam, hal yang hampir tak
pernah kulakukan sekarang.
Masih memandangi
tubuh. Aku pernah berkeinginan untuk memiliki tato. Aku suka tato. Khususnya
gambar atau tulisan yang dapat mengingatkan pada kenangan tertentu. Aku
membayangkan tubuh yang bertato itu seperti sebuah prasasti. Andai agama tak
melarang bertato, sudah dari dulu aku memahat tubuhku dengan jarum dan tinta
warna-warni. Aku membayangkan aku memiliki tato di leher, di belakang telinga, di
bahu kiri, di lengan bagian dalam, atau di sisi kiri telunjuk kanan. Tapi tentu
tak akan pernah kuwujudkan. Pernah sekali aku memakai tato temporer. Aku memiliki
tato itu ketika berkunjung ke Candi Prambanan, di bagian pasar yang menjual
berbagai buah tangan. Aku meminta dibikinkan tato di bagian tengkuk leherku
kepada sang artis tato emperan. Aku lumayan suka melihat hasilnya, walaupun tak
terlalu puas karena tato temporer hanya berwarna hitam, tak warna-warni seperti
tato asli.
Tentu tato itu tak
bertahan lama. Namun setidaknya tato itu masih ada ketika beberapa hari
kemudian aku pulang ke Bandung dan tinggal di rumah nenek. Saat itu aku sudah
lupa dengan tato di tengkuk leherku itu. Aku mengikat rambutku. Ketika nenekku
lihat, dia langsung bertanya dengan nada setengah terkejut, “Ellis ditato??”.
Aku langsung gelagapan dan menjelaskan bahwa itu hanya tato temporer. Nenekku
agaknya tetap tak suka. Baginya, mau temporer atau permanen, asal itu judulnya
adalah “tato” tetap tak boleh. Nenekku yang bertitel haji dan gemar pergi ke
pengajian itu pasti risih mengetahui cucunya punya pikiran bahwa tato itu
indah.
Hingga kini, aku
masih punya pikiran yang sama tentang tato dan tubuh yang serupa prasasti itu. Dulu
aku pernah diberitahu bahwa tak bertato bukan sekadar soal menuruti larangan
agama. Mungkin iya, kita bisa saja mengambil risiko untuk menanggung dosa
dengan tetap menato tubuh kita. “Tapi bayangkan kalau kamu sudah mati nanti”,
katanya. Kalau sudah mati nanti, tubuh yang selama ini jadi milik kita yang
paling privat akan menjadi milik publik. Tubuh kita yang kita tutup-tutupi atau
yang bisa seenaknya kita apa-apakan ini akan diurus oleh orang-orang yang bisa
saja bukan anggota keluarga kita. Tubuh kita yang terbujur itu akan
ditelanjangi, dimandikan beramai-ramai. Jika ada bagian yang di luar kelaziman,
bukan tak mungkin akan menimbulkan omongan. Akan dijadikan bahan pembicaraan.
Bahkan dianggap aib. Kita saat ini atau bahkan ketika tinggal ruh nanti bisa
saja masa bodoh dengan omongan itu. Tapi apakah anggota keluarga atau
orang-orang terdekat kita akan mudah menerima omongan-omongan itu? Aku
menimpali, “Ya justru itu kan alasannya mengapa yang memandikan tubuh kita
haruslah anggota keluarga sendiri. Artinya, tak mungkin mereka
mengomong-ngomongkan kita di luar”. Jawaban yang kuterima; “Iya kalau hanya
anggota keluarga saja. Kalau ternyata anggota keluargamu berhalangan atau
terlambat datang di hari kamu mati, maka orang-orang yang bukan keluargamulah
yang akan memandikan tubuhmu”. Benar juga. Aku lantas bersimpulan bahwa tubuh
manusia, sejak mereka lahir bahkan sampai mati, tak pernah utuh menjadi
miliknya sendiri.
Aku masih di
depan cermin. Membayangkan kelak tubuh ini akan dibaringkan di atas
batang-batang pohon pisang, lalu dimandikan beramai-ramai. Siapa orang yang
kelak mencuci rambutku untuk terakhir kalinya? Apakah ia akan membubuhkan sampo
yang biasanya kupakai? Yang bisa membuat rambutku berhenti rontok itu. Apakah
orang-orang yang memandikanku akan sadar bahwa aku memiliki tanda lahir di
salah satu bagian tubuhku?
Aku ingin
mengabadikan tubuh mudaku. Ingin memotret bayangan tubuhku yang telanjang di
dalam cermin. Sebagai kenangan. Sebagai penghibur diri kelak di masa tua, saat
jemariku bahkan kepayahan membuka lembar-lembar potret itu. Sebagai pengingat bahwa
aku pernah muda. Karena pada saat itu mungkin aku sudah tak bisa lagi membayangkan
bagaimana rasanya menjadi muda, sebagaimana saat ini aku tak bisa membayangkan
bagaimana rasanya menjadi tua. Namun semua itu akan datang, bukan? Waktu adalah
penyetia janji.
Aku teringat
lagi sehelai uban yang kucabut dari kulit kepalaku beberapa waktu lalu. Sehelai
uban adalah sehelai pesan dari masa depan. Sehelai uban adalah sehelai benang
kain kafan*.
***
*) Kalimat terakhir terinspirasi dari
kalimat dalam puisi Ahda Imran, berjudul “Merdeka Walk, Medan”.