Minggu, 01 Februari 2015

Tubuhku

25/01/15

AKU baru bangun. Di luar hujan. Ini pukul 13:43 WIB. Aku baru tidur sekitar pukul tujuh pagi tadi, ketika orang-orang di kost baru saja bangun. Aku mendengar mbak penjaga kost mondar-mandir menyapu lantai teras setiap kamar. Aku sempat pula mendengar ia mengambil jatah cucianku dari keranjang yang ditaruh di depan pintu, samping rak sepatu. Anak-anaknya juga terdengar mulai ribut karena Minggu pagi adalah jadwal mereka bermain bola. Tapi di saat bersamaan, aku dengan manisnya mematikan lampu, merebahkan diri, menarik selimut dan mengucap selamat tidur pada diri sendiri.

Hujan di luar malah semakin deras. Aku menyibak tirai tanpa membuka jendela. Motorku tidak kehujanan, helm pun aman. Apotek di depan kost tetap buka hari Minggu begini. Meskipun para dokternya hanya membuka praktik dari Senin hingga Sabtu.

Memang sudah sejak dua minggu lalu bagian depan kost disulap menjadi apotek dan ruang praktik dokter.  Dokter-dokter itu tak lain adalah pemilik kost ini beserta anak perempuannya yang baru saja mendapat izin membuka praktik sebagai dokter umum. Sedangkan ayahnya adalah dokter spesialis anak. Seharusnya aku senang karena kalau aku sakit, aku tak usah susah payah mengirim tubuhku ke dokter yang jauh dari kost. Namun aku malah risih, membayangkan tiap hari akan ada orang-orang sakit berdatangan dan berkumpul tak jauh dari kamarku. Bagaimana kalau penyakit mereka menempel juga di tubuhku? Bagaimana kalau ada yang tak terselamatkan, lalu meninggal di situ? Malam harinya kost ini pasti akan menyeramkan. Aku memang sangat penakut. Aku juga tak pernah suka rumah sakit dan suasananya yang (menurutku) selalu menyeramkan sekaligus memilukan. Dan kali ini suasana itu hadir tak kurang enam meter jaraknya dari pintu kamarku! 

Tapi toh sepengetahuanku, hingga saat ini belum ada pasien yang datang. Mungkin karena orang belum terbiasa datang ke sini. Aku membayangkan para dokter itu menanti-nanti, bahkan sedikit berharap-harap ada pasien yang datang. Apakah seorang dokter sering berharap orang-orang menjadi sakit agar ia mendapat pemasukan? Itu adalah pertanyaan yang belum sempat kutanyakan pada dokter manapun. Aku membayangkan dokter sama seperti tukang tambal ban pinggir jalan, yang mendapat rezeki justru dari kesusahan orang lain. Dan karena itu pulalah ia justru dianggap sebagai penolong. Tuhan memang maha adil.

Masih hujan. Masih malas merapikan kamar.  Aku mendekati cermin. Wajahku kusam, pucat dan penuh jerawat. Kusut masai, seperti kucing liar kurus dengan bulunya yang jarang-jarang dan setengah basah oleh gerimis. Ini kondisi wajah terburuk yang pernah kualami.

Aku memerhatikan lagi wajahku di cermin. Memerhatikan gurat wajah dan beberapa helai rambut yang mencuat dari kumpulannya. Liar. Tak mau diatur sisir. Semua rambutku masih hitam walau tak setebal dulu. Rambutku memang sangat sering rontok, seperti rambut ibuku. Mungkin turunan. Ketika masih kecil hingga remaja, saking tebalnya rambutku, aku pernah berharap agar suatu hari rambutku lebih tipis. Aku menginginkan rambut tipis karena sepertinya akan mudah ditata. Sering pita atau ikat rambut yang kubeli dengan riang menjadi tak terpakai karena rambutku terlalu tebal untuk diikat atau dijepit. Karet tipis warna-warni itu mudah putus atau pita-pita mudah lepas kalau dipakai untuk menjepit rambutku. Lain dengan rambut teman-temanku yang tipis. Pita-pita begitu anteng menempel di rambut mereka. Kini, saat rambutku mulai menipis karena rontok, aku malah cemas dan mulai sibuk menimbang-nimbang sampo mana yang bisa menghentikannya.

Tubuh dan kulitku masih baik-baik saja. Walaupun kurus, tapi tanda-tanda kemudaan masih terlihat jelas. Syukurlah. Namun aku sering membayangkan bahwa suatu hari nanti aku akan melihat lebih banyak keriput dan kulit yang kendur di hampir semua bagian tubuhku. Aku membayangkan kulit di leher bawah dagu akan melorot. Dada akan kempis dan perut akan bergelambir. Kulit paha akan lebih mudah dicubit dan kulit lutut akan terlalu longgar untuk tulang tempurung yang dibungkusnya. Sementara itu, kakiku akan gemetar jika berdiri terlalu lama.

Pernah beberapa waktu lalu aku menemukan sehelai uban di antara rambut hitamku. Mungkin pengaruh hormon atau pigmen. Saat mencabut sehelai uban itu aku merasa sangat takjub. Takjub membayangkan rambut yang begitulah agaknya yang kelak akan lebih banyak jumlahnya di kepalaku. Aku takjub membayangkan kesibukanku di hari-hari nanti; mengecat rambut agar selalu  hitam. Berupaya keras untuk mengelabui waktu. Ketika memegang sehelai uban itu, aku merasa seperti mendapat sebuah kiriman atau pesan dari masa depan.

Aku begitu sayang pada tubuhku. Tubuh ini begitu setia mengantongi ruhku. Begitu setia turut serta sekaligus mengantar ke mana pun pikiran dan hasratku ingin pergi. Begitu takluk pada kehendakku yang membuatnya menjadi gemuk, kurus, cantik, buruk atau bahkan sakit. Aku menyayangi tubuh mudaku yang tetap tegak berdiri walau aku makan sembarangan, tidur sekenanya, bekerja segilanya. Aku tahu, kelak ia akan tak sepenurut ini. Bukan kehendaknya, tapi waktulah biang keladinya.  Ia kelak akan mudah terasa sakit saat aku makan sedikit saja daging kambing atau bayam dan kangkung kesukaanku. Ia akan mudah terasa linu saat aku kehujaanan atau sebentar saja terkena angin malam. Aku kelak akan harus tidur di bawah pukul sembilan malam, hal yang hampir tak pernah kulakukan sekarang.

Masih memandangi tubuh. Aku pernah berkeinginan untuk memiliki tato. Aku suka tato. Khususnya gambar atau tulisan yang dapat mengingatkan pada kenangan tertentu. Aku membayangkan tubuh yang bertato itu seperti sebuah prasasti. Andai agama tak melarang bertato, sudah dari dulu aku memahat tubuhku dengan jarum dan tinta warna-warni. Aku membayangkan aku memiliki tato di leher, di belakang telinga, di bahu kiri, di lengan bagian dalam, atau di sisi kiri telunjuk kanan. Tapi tentu tak akan pernah kuwujudkan. Pernah sekali aku memakai tato temporer. Aku memiliki tato itu ketika berkunjung ke Candi Prambanan, di bagian pasar yang menjual berbagai buah tangan. Aku meminta dibikinkan tato di bagian tengkuk leherku kepada sang artis tato emperan. Aku lumayan suka melihat hasilnya, walaupun tak terlalu puas karena tato temporer hanya berwarna hitam, tak warna-warni seperti tato asli.

Tentu tato itu tak bertahan lama. Namun setidaknya tato itu masih ada ketika beberapa hari kemudian aku pulang ke Bandung dan tinggal di rumah nenek. Saat itu aku sudah lupa dengan tato di tengkuk leherku itu. Aku mengikat rambutku. Ketika nenekku lihat, dia langsung bertanya dengan nada setengah terkejut, “Ellis ditato??”. Aku langsung gelagapan dan menjelaskan bahwa itu hanya tato temporer. Nenekku agaknya tetap tak suka. Baginya, mau temporer atau permanen, asal itu judulnya adalah “tato” tetap tak boleh. Nenekku yang bertitel haji dan gemar pergi ke pengajian itu pasti risih mengetahui cucunya punya pikiran bahwa tato itu indah.

Hingga kini, aku masih punya pikiran yang sama tentang tato dan tubuh yang serupa prasasti itu. Dulu aku pernah diberitahu bahwa tak bertato bukan sekadar soal menuruti larangan agama. Mungkin iya, kita bisa saja mengambil risiko untuk menanggung dosa dengan tetap menato tubuh kita. “Tapi bayangkan kalau kamu sudah mati nanti”, katanya. Kalau sudah mati nanti, tubuh yang selama ini jadi milik kita yang paling privat akan menjadi milik publik. Tubuh kita yang kita tutup-tutupi atau yang bisa seenaknya kita apa-apakan ini akan diurus oleh orang-orang yang bisa saja bukan anggota keluarga kita. Tubuh kita yang terbujur itu akan ditelanjangi, dimandikan beramai-ramai. Jika ada bagian yang di luar kelaziman, bukan tak mungkin akan menimbulkan omongan. Akan dijadikan bahan pembicaraan. Bahkan dianggap aib. Kita saat ini atau bahkan ketika tinggal ruh nanti bisa saja masa bodoh dengan omongan itu. Tapi apakah anggota keluarga atau orang-orang terdekat kita akan mudah menerima omongan-omongan itu? Aku menimpali, “Ya justru itu kan alasannya mengapa yang memandikan tubuh kita haruslah anggota keluarga sendiri. Artinya, tak mungkin mereka mengomong-ngomongkan kita di luar”. Jawaban yang kuterima; “Iya kalau hanya anggota keluarga saja. Kalau ternyata anggota keluargamu berhalangan atau terlambat datang di hari kamu mati, maka orang-orang yang bukan keluargamulah yang akan memandikan tubuhmu”. Benar juga. Aku lantas bersimpulan bahwa tubuh manusia, sejak mereka lahir bahkan sampai mati, tak pernah utuh menjadi miliknya sendiri.

Aku masih di depan cermin. Membayangkan kelak tubuh ini akan dibaringkan di atas batang-batang pohon pisang, lalu dimandikan beramai-ramai. Siapa orang yang kelak mencuci rambutku untuk terakhir kalinya? Apakah ia akan membubuhkan sampo yang biasanya kupakai? Yang bisa membuat rambutku berhenti rontok itu. Apakah orang-orang yang memandikanku akan sadar bahwa aku memiliki tanda lahir di salah satu bagian tubuhku?

Aku ingin mengabadikan tubuh mudaku. Ingin memotret bayangan tubuhku yang telanjang di dalam cermin. Sebagai kenangan. Sebagai penghibur diri kelak di masa tua, saat jemariku bahkan kepayahan membuka lembar-lembar potret itu. Sebagai pengingat bahwa aku pernah muda. Karena pada saat itu mungkin aku sudah tak bisa lagi membayangkan bagaimana rasanya menjadi muda, sebagaimana saat ini aku tak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi tua. Namun semua itu akan datang, bukan? Waktu adalah penyetia janji.

Aku teringat lagi sehelai uban yang kucabut dari kulit kepalaku beberapa waktu lalu. Sehelai uban adalah sehelai pesan dari masa depan. Sehelai uban adalah sehelai benang kain kafan*.
***


*) Kalimat terakhir terinspirasi dari kalimat dalam puisi Ahda Imran, berjudul “Merdeka Walk, Medan”.