Selasa, 15 November 2016

Aku, Shahrukh Khan, dan Hari-hari Lampau

MINGGU pagi, tetangga kost memutar lagu yang pernah sangat akrab di telingaku jauh beberapa tahun ke belakang; Kuch Kuch Hota Hai. Lagu soutdtrack dari film berjudul sama dan pernah mewabah di seantero negeri. Kampungku tak luput dari wabah itu. Dari ibu-ibu sampai bapak-bapak, dari anak-anak sampai remaja-remaja tanggung sepertiku saat itu, semua terjangkit virus film yang diperankan oleh Shahrukh Khan, Kajol, dan Rani Mukerji ini.

Mari kuceritakan seperti apa mulanya virus itu menjangkiti kami.
*

Setelah keluarga kami membeli VCD-player, dengan segera kami melahap semua jenis film yang sedang naik daun saat itu.  Selain untuk hiburan, memiliki VCD-player dan menonton film-film terbaru adalah salah satu syarat naik kasta di kampungku. Rumah tak keren kalau tak punya VCD-player. Para ibu akan naik beberapa inchi dagunya saat ia becerita bahwa TV di rumahya telah bersanding dengan benda itu, lengkap dengan speaker setinggi pinggang. Atau kalaupun tak secara lisan, cara paling halus namun tak kalah efek gaungnya adalah memasang volume paling tinggi saat berkaraoke lagu-lagu Poppy Mercury atau Broeri Marantika. Tetangga tak hanya panas hatinya oleh keberadaan VCD-player di rumah si ibu, tetapi juga panas kupingnya mendengar suara bak toa rusak itu.

Suatu hari kami sekeluarga mendengar banyak tetangga membicarakan film berjudul Kuch Kuch Hota Hai. Kamu tahu, kalau sudah bicara tentang film ini, para ibu rela mematikan dulu kompornya yang sedang memasak gulai nangka atau membiarkan anaknya tak kunjung mandi walau tubuhnya sudah bau matahari. Perbincangan bapak-bapak di pos ronda beralih dari sepakbola menjadi “Siapa yang lebih cantik, Tina atau Anjeli?”. Nama Shahrukh Khan lebih sering muncul dari mulut teman-temanku ketimbang nama guru galak yang biasanya jadi gerutuan kami sehari-hari.

Tak menunggu waktu lama, aku dan mama memutuskan untuk menyewa VCD Kuch Kuch Hota Hai.

“Pokoknya siapin sapu tangan, Mama Ellis. Pasti banjir air mata nanti kalau nonton itu.”

Itulah peringatan keras salah satu tetangga kami.

Aku dan mama segera menuju rental VCD. Jaraknya 20 menit jalan kaki. Aku lupa lagi namanya, tapi koleksi VCD bajakan di rental ini cukup lengkap. Dari mulai film terbaru hingga yang lawas. Pemiliknya adalah menantu Pak Nanda, seorang warga yang dituakan dan dihormati karena kerap menjadi imam di masjid utama desa kami.

“Ada film film Kucing-Kucing Hotahe, ndak?” kata mama. Tak masalah salah sebut. Yang penting, tak kurang dari lima menit VCD film itu sudah berada di tangan kami.
Kami menontonnya dengan formasi keluarga yang lengkap.

Di awal adegan, film ini memang sudah sangat meneror kelenjar air mata. Adegan saat Rahul berdiri di depan tumpukan kayu dan api yang mengkremasi tubuh istrinya itu membuat kami terdiam. Selanjutnya, adegan demi adegan berlanjut. Aku tahu aku tak sendirian saat berusaha keras menahan air mata. Kulihat, mata bapak pun berkaca-kaca.

Setelah selesai film itu, esoknya kami berburu VCD kumpulan soundtrack Kuch Kuch Hota Hai. Tentu saja bajakan. Hal ini membuatku lega karena bisa turut serta saat  teman-teman di sekolah bernyanyi “Koi mil gaya…, Mera dil gaya…” . Lagu yang sangat hits saat itu. Bahkan pada waktu istirahat di acara kemah Pramuka di sekolah, kakak pembina kami memutar lagu itu. Siswa-siswa lelaki sudah tak bisa membedakan dirinya dan Shahrukh Khan. Siswi-siswi berjingkrak-jingkrak meniru tarian Anjeli.  Pokoknya, Bollywood banget! Mungkin tak ada hubungan dengan yang terjadi selanjutnya, tapi yang jelas beberapa dari mereka kemudian dibawa ke ruang UKS  karena kesurupan.
 
Tak berhenti sampai Kuch Kuch Hota Hai. Film lainnya seperti Dil To Pagal Hai, Kabhi Kushi Kabhi Gham, Duplicate, Dil Se, dan lain-lain juga kami lahap. Saat kecanduan kami makin tinggi, kami tak hilang akal untuk bisa terus menyewa VCD yang biayanya tiga ribu rupiah perfilm itu. Kami dan beberapa tetangga biasanya akan patungan untuk menyewa beberapa film, lalu menonton bersama. Atau bergiliran menonton film di rumah masing-masing karena perfilm biasanya disewakan untuk tiga hari. Maka kami tak lagi hanya mengenal Shahrukh Khan sejak itu. Kami hapal betul artis-artis lainnya seperti  Salman Khan, Karina Kapoor, Pretty Zinta, Aishwarya Rai, Anil Kapoor, dan lain-lain. Jika kami membicarakan  mereka, nyaris tak beda dengan saat kami sedang membicarakan tetangga kami sendiri.

Virus Bollywood ini cukup lama mendiami kepala kami.  Seingatku, nama-nama India ini mulai surut dari keseharian kami saat aku duduk di kelas 3 SMP. Film-film itu mulai lenyap dari etalase-etalase penyewaan VCD. Berganti dengan demam berikutnya; demam Korea.

Tak lama setelah Bollywood mereda, televisi-televisi mulai menayangkan film-film seri Korea. Film pertama yang kutonton saat itu berjudul Endless Love. Rupanya film ini lebih ‘sadis’. Lebih tanpa tedeng aling-aling memeras air mata kami. Di akhir episode pertama saja, mata kami sekeluarga sembab dibuatnya. Setiap satu episode selesai, perbincangan tentang adegan-adegan itu hadir di meja makan kami, di ruang keluarga, dan berlanjut hingga di teras-teras rumah tetangga saat para ibu menghabiskan waktu siang bersama. Di sekolahku, lirik-lirik lagu dari film Korea itu mulai didengungkan. Para siswa atau siswi yang berkulit putih dan matanya kesipit-sipitan mendadak jadi idola sekolah.

Lenyap sudah periode Shahrukh Khan. Diganti dengan Won Bin, Song Seung-heon, Song Hye-kyo, dan kawan-kawan.  Demam Korea agaknya bertahan lebih lama, bahkan hingga kini. Konon film Endless Love itulah peletak batu pertama tren film yang disusul dengan tren musik Korea di tanah air.
Namun, rupanya hal ini bukan berarti membuat demam India benar-benar reda. Lagu-lagu soundtrack film India ini terlanjur memiliki tempat di cukup banyak orang. Mereka secara militan memelihara virus ini dalam CVD yang diputar di warung-warung, atau di stasiun-stasiun radio bergenre dangdut yang kerap didengar para sopir dalam truknya.

Atau, di sini, di rumah tetangga kost  ini.

*

Aku sedang menyapu saat lagu India itu masih diputar sang tetangga. Di saat yang sama, Anjeli dan Rahul sedang menari di dalam kepalaku. Juga di saat yang sama, aku melihat dirku teman-teman sekelas bernyanyi;

Koi mil gaya….
Koi mil gaya…
Mera dil gaya…




 ***

(Depok, 161116)