MINGGU pagi, tetangga kost memutar lagu
yang pernah sangat akrab di telingaku jauh beberapa tahun ke belakang; Kuch
Kuch Hota Hai. Lagu soutdtrack dari
film berjudul sama dan pernah mewabah di seantero negeri. Kampungku tak luput
dari wabah itu. Dari ibu-ibu sampai bapak-bapak, dari anak-anak sampai remaja-remaja
tanggung sepertiku saat itu, semua terjangkit virus film yang diperankan oleh
Shahrukh Khan, Kajol, dan Rani Mukerji ini.
Mari kuceritakan
seperti apa mulanya virus itu menjangkiti kami.
*
Setelah keluarga
kami membeli VCD-player, dengan segera kami melahap semua jenis film yang
sedang naik daun saat itu. Selain untuk hiburan, memiliki VCD-player
dan menonton film-film terbaru adalah salah satu syarat naik kasta di
kampungku. Rumah tak keren kalau tak
punya VCD-player. Para ibu akan naik beberapa inchi dagunya saat ia becerita
bahwa TV di rumahya telah bersanding dengan benda itu, lengkap dengan speaker
setinggi pinggang. Atau kalaupun tak secara lisan, cara paling halus namun tak
kalah efek gaungnya adalah memasang volume paling tinggi saat berkaraoke
lagu-lagu Poppy Mercury atau Broeri Marantika. Tetangga tak hanya panas hatinya
oleh keberadaan VCD-player di rumah si ibu, tetapi juga panas kupingnya mendengar
suara bak toa rusak itu.
Suatu hari kami
sekeluarga mendengar banyak tetangga membicarakan film berjudul Kuch Kuch Hota
Hai. Kamu tahu, kalau sudah bicara tentang film ini, para ibu rela mematikan
dulu kompornya yang sedang memasak gulai nangka atau membiarkan anaknya tak
kunjung mandi walau tubuhnya sudah bau matahari. Perbincangan bapak-bapak di
pos ronda beralih dari sepakbola menjadi “Siapa yang lebih cantik, Tina atau
Anjeli?”. Nama Shahrukh Khan lebih sering muncul dari mulut teman-temanku ketimbang
nama guru galak yang biasanya jadi gerutuan kami sehari-hari.
Tak menunggu
waktu lama, aku dan mama memutuskan untuk menyewa VCD Kuch Kuch Hota Hai.
“Pokoknya siapin
sapu tangan, Mama Ellis. Pasti banjir air mata nanti kalau nonton itu.”
Itulah peringatan
keras salah satu tetangga kami.
Aku dan mama
segera menuju rental VCD. Jaraknya 20 menit jalan kaki. Aku lupa lagi namanya,
tapi koleksi VCD bajakan di rental ini cukup lengkap. Dari mulai film terbaru
hingga yang lawas. Pemiliknya adalah menantu Pak Nanda, seorang warga yang
dituakan dan dihormati karena kerap menjadi imam di masjid utama desa kami.
“Ada film film
Kucing-Kucing Hotahe, ndak?” kata
mama. Tak masalah salah sebut. Yang penting, tak kurang dari lima menit VCD
film itu sudah berada di tangan kami.
Kami menontonnya
dengan formasi keluarga yang lengkap.
Di awal adegan,
film ini memang sudah sangat meneror kelenjar air mata. Adegan saat Rahul
berdiri di depan tumpukan kayu dan api yang mengkremasi tubuh istrinya itu
membuat kami terdiam. Selanjutnya, adegan demi adegan berlanjut. Aku tahu aku
tak sendirian saat berusaha keras menahan air mata. Kulihat, mata bapak pun
berkaca-kaca.
Setelah selesai
film itu, esoknya kami berburu VCD kumpulan soundtrack
Kuch Kuch Hota Hai. Tentu saja bajakan. Hal ini membuatku lega karena bisa
turut serta saat teman-teman di sekolah
bernyanyi “Koi mil gaya…, Mera dil gaya…”
. Lagu yang sangat hits saat itu. Bahkan
pada waktu istirahat di acara kemah Pramuka di sekolah, kakak pembina kami
memutar lagu itu. Siswa-siswa lelaki sudah tak bisa membedakan dirinya dan
Shahrukh Khan. Siswi-siswi berjingkrak-jingkrak meniru tarian Anjeli. Pokoknya, Bollywood
banget! Mungkin tak ada hubungan dengan yang terjadi selanjutnya, tapi yang
jelas beberapa dari mereka kemudian dibawa ke ruang UKS karena kesurupan.
Tak berhenti
sampai Kuch Kuch Hota Hai. Film lainnya seperti Dil To Pagal Hai, Kabhi Kushi
Kabhi Gham, Duplicate, Dil Se, dan lain-lain juga kami lahap. Saat kecanduan
kami makin tinggi, kami tak hilang akal untuk bisa terus menyewa VCD yang
biayanya tiga ribu rupiah perfilm itu. Kami dan beberapa tetangga biasanya akan
patungan untuk menyewa beberapa film, lalu menonton bersama. Atau bergiliran
menonton film di rumah masing-masing karena perfilm biasanya disewakan untuk
tiga hari. Maka kami tak lagi hanya mengenal Shahrukh Khan sejak itu. Kami
hapal betul artis-artis lainnya seperti Salman
Khan, Karina Kapoor, Pretty Zinta, Aishwarya Rai, Anil Kapoor, dan lain-lain.
Jika kami membicarakan mereka, nyaris
tak beda dengan saat kami sedang membicarakan tetangga kami sendiri.
Virus Bollywood
ini cukup lama mendiami kepala kami. Seingatku,
nama-nama India ini mulai surut dari keseharian kami saat aku duduk di kelas 3
SMP. Film-film itu mulai lenyap dari etalase-etalase penyewaan VCD. Berganti
dengan demam berikutnya; demam Korea.
Tak lama setelah
Bollywood mereda, televisi-televisi mulai menayangkan film-film seri Korea.
Film pertama yang kutonton saat itu berjudul Endless Love. Rupanya film ini
lebih ‘sadis’. Lebih tanpa tedeng aling-aling memeras air mata kami. Di akhir
episode pertama saja, mata kami sekeluarga sembab dibuatnya. Setiap satu
episode selesai, perbincangan tentang adegan-adegan itu hadir di meja makan
kami, di ruang keluarga, dan berlanjut hingga di teras-teras rumah tetangga
saat para ibu menghabiskan waktu siang bersama. Di sekolahku, lirik-lirik lagu
dari film Korea itu mulai didengungkan. Para siswa atau siswi yang berkulit
putih dan matanya kesipit-sipitan mendadak jadi idola sekolah.
Lenyap sudah periode
Shahrukh Khan. Diganti dengan Won Bin, Song Seung-heon, Song Hye-kyo, dan kawan-kawan.
Demam Korea agaknya bertahan lebih lama,
bahkan hingga kini. Konon film Endless Love itulah peletak batu pertama tren
film yang disusul dengan tren musik Korea di tanah air.
Namun, rupanya
hal ini bukan berarti membuat demam India benar-benar reda. Lagu-lagu soundtrack film India ini terlanjur memiliki
tempat di cukup banyak orang. Mereka secara militan memelihara virus ini dalam
CVD yang diputar di warung-warung, atau di stasiun-stasiun radio bergenre dangdut
yang kerap didengar para sopir dalam truknya.
Atau, di sini,
di rumah tetangga kost ini.
*
Aku
sedang menyapu saat lagu India itu masih diputar sang tetangga. Di saat yang
sama, Anjeli dan Rahul sedang menari di dalam kepalaku. Juga di saat yang sama,
aku melihat dirku teman-teman sekelas bernyanyi;
Koi mil gaya….
Koi mil gaya…
Mera dil gaya…