Rabu, 26 Juni 2013

Cerpen Anak: Janji Si Pohon Mangga

Ada satu pohon mangga yang tumbuh di halaman sebuah rumah kosong. Sejak penghuni rumah itu pindah ke kota lain, si pohon mangga selalu merasa kesepian. Tubuhnya yang menjulang tinggi menjadi tidak terawat dengan baik. Daunnya yang lebat sering rontok. Ranting-rantingnya yang kering juga berjatuhan dan memenuhi halaman.
Namun hari ini si pohon mangga sangat bergembira. Ia mendengar kabar bahwa ada penghuni baru yang akan tinggal di rumah itu.  “Asyiik..! Pokoknya aku harus ceria hari ini, untuk menyambut para penghuni baru,”  kata si pohon mangga ketika cahaya matahari mulai menyentuh daun-daun dan rantingnya.
“Mudah-mudahan keluarga itu akan menyukaiku. Aku berjanji akan berbuah lebat. Daun-daunku yang rimbun akan membuat rumah mereka teduh dan sejuk sepanjang hari,” gumam pohon mangga itu lagi. Ia tak sabar menunggu kedatangan penghuni baru.
Di tengah hari, sebuah mobil berwarna putih perlahan berhenti di depan rumah. Seorang anak lelaki keluar, dan mendorong pintu pagar agar mobil mereka bisa masuk. Pohon mangga yang sempat tertidur karena terlalu lama menunggu tersentak kaget mendengar denyit pintu pagar. Ia senang sekali. “Mereka datang!” katanya.
Ternyata penghuni baru rumah ini adalah sebuah keluarga dengan dua anak dan seorang nenek. Setelah semua keluar dari mobil, mereka melihat teras dan halaman rumah itu.  “Nah, Dito dan Dita, mulai hari ini kita akan tinggal di rumah ini”, kata ayah kedua anak itu.
“Wow! Rumah ini besar sekali!” teriak Dito.  
“Iya betul, Dito. Halamannya juga luas”, ibunya menimpali.
“Boleh kan aku mengajak teman-temanku bermain lompat tali di halaman, Bu?” giliran Dita yang bertanya.
“Iya Dita sayang. Boleh..” jawab ibunya lagi.
“Ooh, jadi dua anak kecil itu bernama Dito dan Dita. Aku pasti akan membuat mereka betah bermain di halaman karena mereka tak akan kepanasan.” Pohon mangga itu kembali bergumam dalam hatinya.
“Nanti aku juga bisa bermain sepakbola di halaman dengan teman-teman baruku”, ujar Dito. “Tapi..., hmmm..”
“Ada apa, Dito?” tanya ayah.
“Pohon mangga ini harus ditebang, ayah.”
Betapa kagetnya pohon mangga itu mendengar ucapan Dito barusan. Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Lho, mengapa harus ditebang?” tanya ayah dan ibu serentak.
“Pohon mangga ini terlalu besar. Tumbuhnya pun di tengah halaman. Pohon ini akan menghalangiku kalau aku mau bermain bola bersama teman-teman di halaman.  
“Iya sih,  aku juga jadi tidak bisa bebas bermain lompat tali karena terhalang pohon ini.” kata Dita.
Pohon mangga yang malang. Kini matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis saat mendengar alasan Dito dan Dita.
“Dito dan Dita...” tiba-tiba terdengar suara nenek yang segera menghampiri kedua anak itu. “Mari kita berdiri lebih dekat dengan pohon ini.” Dita dan Dito menurut. Mereka berjalan mendekati pohon mangga itu.
“Apa yang kalian rasakan?” nenek menatap wajah Dito dan Dita dengan lembut.  “Teduh, Nek,” jawab Dito pelan. “Sejuk, Nek”, tambah Dita.
“Nah, benar sekali. Pohon ini membuat halaman rumah kita menjadi teduh dan terasa sejuk. Lalu, apa yang akan terjadi kalau pohon ini ditebang?”
“Panas..”, Dito menjawab dengan suara yang semakin pelan karena  malu dengan niatnya tadi. “Dan udara tidak sejuk lagi” tambah Dita.
“Pintar sekali.  Itulah yang akan terjadi kalau pohon ini ditebang. Selain itu, banyak kerugian lain kalau kita menebang pohon ini.”
“Dan kita tidak bisa menikmati buah mangga yang manis dari halaman rumah kita sendiri..” kata ibu yang juga sudah ada di dekat mereka. Nenek dan ibu tersenyum disusul oleh senyum Dito dan Dita.
“Nah, jadi bagaimana? Masih mau menebang pohon mangga yang banyak manfaatnya ini?” tanya ayah sambil menahan senyuman.
“Tidak mauuuuu.....” jawab Dito dan Dita berteriak sambil memeluk ayah mereka. Lalu semuanya tertawa. Orangtua dan nenek mereka lega karena Dito dan Dita akhirnya menyadari bahwa menebang pohon itu bukan keputusan yang baik. Bahkan Dito dan Dita berencana menanami lagi halaman mereka dengan pohon buah-buahan lainnya. Si pohon mangga pun akhirnya lega dan sangat bahagia. Ia berjanji untuk tumbuh lebih baik agar bisa lebih bermanfaat untuk keluarga ini.

Sejak saat itu, si pohon mangga selalu memenuhi janjinya. Ia tumbuh semakin rimbun. Udara yang sejuk selalu memenuhi halaman dan rumah. Di musim mangga, buahnya sangat lebat dan manis. Dito, Dita dan teman-teman mereka semakin betah bermain di bawah pohon itu. *** 
 (tamat)

Cerpen Anak

Dimuat di Kompas Anak,  26 Mei 2013

Dear Steve...

Pagi kemarin, pesan singkat dari Kirsty mau tak mau membuatku bangun untuk tidak sekadar mematikan alarm dan tidur kembali. Aku harus membuka mata dan berpikir sejenak harus seperti apa kubalas SMS-nya. “Hi Ellis, aku ingin memberitahumu bahwa Steve akan pulang dalam waktu dekat, karena ayahnya meninggal”, kujawab terimakasih karena telah memberitahuku.
Samar-samar terdengar lelaki perempuan bercakap-cakap di dapur, pagi ini. Steve sudah datang rupanya. Suara perempuan muda itu pasti Ezara, anak kakak perempuannya yang tertua. Dua kali pertemuan singkatku dengan perempuan itu tak membuatku cepat melupakan suara ramahnya. Kali ini Ezara tak membawa bayinya.
Pintu menuju halaman belakang terdengar dibuka. Lalu keduanya kembali bercakap-cakap dengan suara yang semakin samar. Aku sempat terlelap kembali setelah sadar rumah telah sepi saat aku terbangun lagi. 
“Aku turut berduka cita atas meninggalnya ayahmu, Steve” kataku ketika berpas-pasan dengan lelaki berumur empat puluhan itu di muka kamar mandi. Ia berterima kasih sambil seperlunya memberitahu bahwa ayahnya meninggal Sabtu kemarin. “Aku tak sempat datang ke pemakamannya”, katanya. Kudengar nada bicaranya biasa saja. Seperti menceritakan kepergian teman lama yang tak lagi terlalu akrab. Aku lalu berpikir mungkin aku yang justru berlebihan, menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang menyedihkan bagi Steve.
 Steve masuk ke kamarnya setelah ia berkata bahwa ia perlu istirahat. Penerbangan berjam-jam membuat kepalanya sakit.  
****
Aku menutup pintu yang menuju teras belakang. Angin di awal musim gugur mulai merontokkan daun-daun. Tiba-tiba aku teringat percakapanku dengan Steve di sebuah makan malam sederhana, di teras ini.  “Kau pasti lahir dari  keluarga musisi”, tebakku saat itu.
“Aha! Kau salah, Ellis. Aku satu-satunya orang yang memilih musik sebagai pekerjaan sekaligus teman hidupku”, kata Steve setelah meletakkan kembali gelas red-wine di samping piringnya. Ini kali pertama aku minum anggur, atas bujukkan Steve. Katanya “Kau tak akan benar-benar merasakan kenikmatan beef steak kalau tak sambil minum red wine”.
Sebetulnya aku tak terlalu lapar malam ini. Tapi dari sepuluh orang teman Steve yang ia undang untuk datang ke rumah dan makan siang bersamanya ternyata cuma dua orang yang datang. Salad, daging kalkun, beef, hingga sausage kangguru, dan beberapa pack vegetable-curry dari restoran India, masih bertumpuk di dalam kulkas. Akhirnya ia memohon padaku untuk membantunya menghabiskan semua makanan itu malam ini. Steve bilang aku tak perlu memasak appun lagi. Tapi aku merasa perlu menyumbang nasi. Walau nasi dan steak bukan pasangan serasi, (kecuali di kedai-kedai steak di kota asalku) tapi ini lebih baik daripada aku membawa tangan kosong.
Lalu Steve mulai bercerita tentang masa kecilnya. Makin lama ia terlihat semakin asyik bercerita. Bagian ketika ia mengamuk karena minta dibelikan grand piano di usia sepuluh tahun adalah bagian paling seru ia ceritakan. Diam-diam, aku menemukan Steve yang lain. Steve yang malam ini tak seperti Steve yang kukenal dari cerita Kirsty atau yang kulihat sendiri sebelumnya. 
Steve tertawa lepas. Aku pun ikut tertawa. Bukan karena mendengar cerita yang menurutnya lucu itu, tapi karena kebahagiaanku bertemu dengan sosok Steve yang berbeda.
“Nasi apa ini? Rasanya berbeda..” kata tiba-tiba Steve memotong ceritanya.
“Ini nasi yang kumasak dengan santan dan rempah. Di negaraku, ini disebut nasi uduk.”
“Hmm.. Can I have more?”
“Why not? Help yourself, Mate..”
Nasi udukku tandas. Laris manis....
****
Di ruang tamu, kain penutup piano Steve terbuka. Di atasnya terdapat foto kedua orang tuanya yang sedikit berdebu. Ibunya sudah lebih dulu meninggal. Sedangkan ayahnya  April lalu berulang tahun yang ke-90 tahun. Setiap enam bulan sekali, Steve selalu pulang dari pekerjaanya sebagai pemain piano di kapal pesiar. Ia hanya akan menginap di rumah ini dua atau tiga malam saja. Selebihnya ia habiskan di rumah ayahnya di sebuah suburb di sebelah barat kota Melbourne. Kali ini hal itu tentu tak lagi bisa dilakukannya.
 Aku sering berpikir, betapa kesepian menjalani hidup seperti yang Steve jalani. Tak menikah, bahkan tak memiliki “partner” seperti kebanyakan orang-orang di sini. Jika pulang selama tak lebih dari tiga minggu, ia sering keluar rumah hingga larut malam. Lalu esoknya bercerita padaku bahwa ia menemui beberapa teman lamanya. Sesekali ia hanya menghabiskan malam di depan TV sambil kadang menawariku agar-agar dengan custard dan irisan apricot kalengan.
Mungkin benar kata Kirsty, Steve tidak menikah karena sulit menemukan perempuan yang mau dinikahi untuk hanya ditemui setiap dua kali setahun. “Tapi di kapal ia akan banyak bertemu wanita cantik yang akan menghiburnya”, kata Kirsty. “Tapi bagiku itu tetap menyedihkan”, kataku menyanggah. “Yeah, but, who cares??”, kata Kirsty lagi ketika akan menutup obrolan kami.
Yang kutahu, Ezara satu-satunya keluarga yang rutin menemui Steve. Ezara bahkan sering mengirim makanan, atau memberi seplastik lemon dan jeruk dari kebunnya. Menjelang keberangkatannya untuk kembali berlayar, biasanya Steve mengajak Ezara dan suaminya untuk makan malam bersama. Setelah mereka pulang, Steve larut kembali dalam kesendiriannya. Tapi ia selalu terlihat biasa saja.
Aku sering menemukan diriku kebingungan mencari cara agar bisa menyapa Steve lebih sering, mengajaknya duduk minum kopi bersama, mendengarkan ceritanya. Aku ingin mendengar ia bermain satu atau dua lagu dengan pianonya. Aku ingin memintanya memainkan beberapa nomor Sonata yang sering ia lantunkan di tengah malam, saat aku dan Kirsty berada di kamar masing-masing.
Aku ingin Steve tak semenyedihkan ini. Tapi sering juga aku menganggap diriku terlalu berlebihan. Siapa yang sebenarnya menyedihkan? Steve yang selalu tampak kesepiankah? Atau aku yang selalu kebingungan dengan keterbiasaan Steve pada sesuatu yang kuanggap sebagai sebuah kemalangan?
Who cares??  Perkataan Kirsty  kembali terngiang di pendengaranku.

****
Aku berada di dalam kamar ketika kudengar langkah Steve mondar-mandir antara kamar mandi dan ruang tidurnya. Ia seperti berlari-lari, padahal jarak kedua ruangan itu hanya tiga meter. Kudengar ia seperti berbincang dengan seseorang, lalu tertawa keras. Sesekali suaranya melemah. Kupikir seseorang menelponnya. Kuintip dari celah pintu, tapi tak kulihat ia memegang telepon. Ia seperti sedang berbicara dengan seseorang yang hanya ada dalam pikirannya.
Steve terus berbicara sendiri. Aku tak mendengar suara Kirsty di sofa bersama televisi yang biasanya selalu ia nyalakan. Kirsty pasti di dalam kamarnya. Aku semakin tidak berani untuk keluar. Tingkah aneh Steve membuat tengah malam ini menjadi sedikit menegangkan. Sebuah pesan kuterima, “Ellis, kamu tidak apa-apa? Aku tak berani keluar kamar. Steve aneh sekali”.  Kujawab singkat, “Aku pun. Dia seperti sedang kebingungan. Kasihan, Steve.”
Beberapa jam kemudian, malam mulai sepi. Sepertinya Steve sudah tidur di kamarnya. Aku memberanikan diri keluar menuju dapur dan mengambil air minum. Lalu kumatikan lagi lampu dapur dan ruang makan.
Saat melewati ruang tamu, kulihat foto ayah dan ibu Steve tak lagi berdebu. Sebuah buku partitur tergeletak dalam keadaan terbuka di atas kursi dekat piano itu. Sekilas aku membaca judul lagu. Tiba-tiba aku teringat saat tak sengaja mendengarkan perkataan Ezara ketika Steve memainkan lagu itu di acara makan malam mereka, "Hey, itu lagu yang sering dimainkan kakek ketika aku kecil!"
Sekarang aku tahu apa yang Steve rasakan. Lebih dari itu, aku serta-merta seolah terhisap oleh kesedihannya. Kesedihan yang tak pernah ia ungkapkan pada siapapun.
Malam semakin renta. Angin tak sekencang biasanya. Namun di luar, denyit engsel gerbang halaman yang tertiup angin terdengar amat pilu.  Aku pun kembali melangkah menuju kamarku.
Aku berbisik amat pelan hingga hanya terdengar oleh telingaku saja,
Sleep tight, Steve. Good night…..

*****
Tak seperti Laverton, Bendigo lebih berbukit. Kota kecil sebelah utara Victoria ini memiliki lebih banyak bangunan tua. Pohon-pohon seperti orang-orang lansia yang kehilangan rambutnya. Murung dan pendiam. Rumah-rumah kehilangan nyawa. Penghuninya lebih memilih untuk bersembunyi di dalam kamar atau di balik selimut. Aku sendiri hampir tak pernah mematikan electric-blanket dan penghangat ruangan.
Hampir satu term aku pindah dan mengajar di salah satu sekolah menengah di kota ini. Di sini pun aku memiliki tempat murid-murid yang menyenangkan seperti Laverton. Hari ini aku mengajari mereka tentang cara membuat Batik. Beberapa murid sangat antusias ingin langsung mencoba. Namun tiba-tiba aku teringat Steve. Ia pernah memuji gaunku yang bermotif Batik saat aku memakainya ke sebuah pesta kecil di rumah temanku.
Sejak pindah ke kota ini, aku tak pernah lagi kembali ke rumah Steve. Semua barang yang masih bisa kupakai telah kubawa. Sisanya aku sumbangkan. Akupun tak secara langsung pamit padanya, karena seperti biasa ia sedang berlayar. Aku hanya menyampaikan salamku untuk Steve melalui Ezara. Semoga ia tak lupa menyampaikan salamku kalau nanti Steve kembali.
Kirsty sudah lebih dulu pindah ke St. Kilda. Ia beruntung karena di sana pantainya sangat indah. Tetapi harga sewa apartemen sangat mahal. Aku lebih memilih tinggal di kota kecil tapi murah seperti di sini. Aku harus berhemat, agar tabunganku tiap bulan selalu cukup untuk membiayai kuliah adikku di Bandung. Aku pun rasanya tak sempat memikirkan apapun selain bekerja dan menabung. Suatu hari Retno, kawan kuliahku dulu bertanya di inbox Facebook, “Kamu nggak pengen cari pacar di Australia?”. Kujawab dengan kelakar, “Boro-boro, Non. Nggak sempet dan nggak ada yang nyangkut di hati. Hahaha..”. Ya, di otakku hampir tak mengingat apapun selain bekerja. Tapi kali ini aku terus teringat Steve. Ada apa? Rasanya ini tak wajar..
Setelah jam istirahat usai dan sebelum bergegas menuju kelas sepuluh, sebuah pesan muncul di kotak masuk handphone-ku.
“Hi Ellis, apa kabar? Ini aku, Ezara. Aku harap aku tak mengganggumu. Ellis, Steve meninggal tadi malam. Jika kau tak keberatan, bolehkah kami minta alamatmu? Ethan akan menemuimu karena ada pesan dari Steve untukmu. Thanks Ellis..”.

Aku menutup pesan itu. Aku melangkah menuju kelas. Aku berjalan seperti biasa, tetapi tak pernah aku merasakan langkah yang tak biasa seperti ini. Kakiku terasa ringan. Wajahku tak menampakkan apapun selain kekosongan.
Steve....
****
Aku menunggu Ethan dengan kecemasan. Aku khawatir Ethan akan lebih menggenapkan rasa kehilanganku pada Steve. Aku bahkan segera mengabaikan rasa kikuk ketika Ethan akhirnya muncul dari salah satu gerbong kereta api.
Ini kali pertamaku bertemu dia. Aku hampir lupa saat Ezara menyebut nama Ethan dalam pesan kemarin. Aku hanya ingat sedikit cerita tentangnya. Ethan, keponakan lelaki kesayangan Steve dan satu-satunya orang di keluarga yang mewarisi bakat musik Steve. Ethan ke Perancis lima tahun lalu untuk mengembangkan bakat dan karirnya dalam bermusik.
“Hai! Ellis? Benar?” mata birunya berkilap-kilap saat mengucapkan kata itu.
“Ya. Dan kau pasti Ethan. Maaf, aku turut berduka tentang Steve, dan aku sangat kehilangan” mataku mulai berkaca-kaca. Tiba-tiba Ethan merangkulku, membenamkan aku dalam rasa kehilangan yang tak biasa ini.
Ethan menuntun tubuhku berjalan menjauhi stasiun. Di sebuah coffee-shop kami berhenti. Beberapa saat kemudian, kami mulai berusaha bersikap biasa kembali. Aku melihat Ethan tak lagi gugup menghadapiku yang mulai berhenti menangis.
“Maaf, aku yakin kau sengaja tak bekerja hari ini karena harus menemuiku. Dan aku pun minta maaf, karena sebetulnya tak ada pesan khusus dari Steve untukmu. Tapi aku merasa harus bertemu denganmu. Kupikir itu adalah cara terbaik untuk menebus rasa bersalahku karena tidak ada di samping Paman Steve di saat hari-hari terakhirnya”, Ethan terus berbicara dan kembali terlihat gugup. Ia sepertinya tahu aku menangkap gelagatnya. Maka ia kemudian mengeluarkan sebuah amplop dan menyuruhku membukanya. “Aku harap kau tak keberatan membaca ini..”
Perlahan aku membuka dan mulai membaca surat itu...

Dear Ethan,

Apa kabar, Nak? Ketika membaca surat ini, aku ingin kau dalam keadaan terbaikmu.
Aku menulis surat ini di dekat pianoku. Benda kesayangan kita. Aku selalu ingat saat pertama kali ibumu menyentuhkan jari-jari kecilmu di atas tuts piano ini. Kamu begitu gembira dan menangis saat ibumu memintamu berhenti bermain-main dengan piano ini. Sejak itu aku tahu bahwa kamu akan menjadi musisi hebat suatu hari nanti. Dan aku benar.

Kupikir, sebentar lagi aku tak akan lagi bisa bermain piano. Nada-nada itu tak lagi bisa keluar dari jari-jariku. Tapi jauh di dalam pikiranku, aku selalu bisa merasakan setiap nada itu. Dan aku akan menyimpannya. Aku harap aku bisa memainkannya sekali lagi di hadapan kakek dan nenekmu di sana nanti. Aku harap begitu.

Sebelum kututup surat ini, aku ingin bercerita padamu tentang seorang temanku. Namanya Ellis. Ia perempuan muda yang pernah menyewa salah satu kamar di rumahku beberapa bulan lalu. Aku tidak pernah memiliki teman sebaik dia. Dan kupikir, dia tak pernah benar-benar sadar bahwa banyak hal sederhana namun istimewa yang telah ia hadirkan pada pertemanan singkat kami.
Aku tak bisa bercerita banyak. Kau harus menemuinya sendiri. Dan tolong sampaikan terima kasihku padanya untuk hari-hari singkat yang menyenangkan.

Jaga baik-baik dirimu, Kawan..
Aku akan selalu mendengarkan setiap musik yang kau mainkan.
Dan aku sangat bangga padamu, Nak.

With love,
- Steve -
P.S. Kalau Ellis tak keberatan, mintalah ia memasak nasi bernama “nasi uduk”. Dan kau akan segera menyukai nasi itu seperti halnya kau akan segera menyukai perempuan baik hati itu..


Aku melipat kembali surat itu. Nafasku lebih ringan, tak ada sesak seperti tadi. Tak bisa kujelaskan perasaan ini. Bahwa aku justru merasa lega setelah membaca surat Steve. Aku tak pernah mengira bahwa pertemanan kami yang singkat itu meninggalkan jejak di ingatan Steve. Aku kehilangan, namun merasa bahagia karena sempat memberikan ingatan-ingatan indah bagi Steve.
Aku memberikan surat itu kembali kepada Ethan. Aku melihat ke kedalaman matanya. “Ellis, bolehkah besok aku menemuimu lagi? Aku akan menginap di hotel kecil sekitar sini” kata Ethan.
“Tentu saja. Aku punya kamar kosong di flat-ku. Kau bisa memakai kamar itu, Ethan.”
“Apakah itu artinya aku bisa makan malam dengan nasi uduk?” tanya Ethan sambil melirik ke arah amplop itu.


“Tentu....” aku hampir tak bisa menyembunyikan senyumku. Cepat-cepat kuteguk kopi yang segera dingin. Dingin yang tak sedikitpun kutemukan di dalam tatapan Ethan. Tatapan hangat yang mengingatkanku pada sosok lain Steve malam itu.



-- Ellis Artyana --
Dimuat di CHIC Magazine, edisi 16 Juni 2013

Senin, 24 Juni 2013

“Cetar Membahana”

SETELAH sukses mempopulerkan kata “sesuatu”, artis Syahrini kembali menciptakan istilah, “cetar membahana”. Tak perlu waktu lama, istilah ciptaan Syahrini kali ini pun mulai ramai diucapkan orang. Mungkin awalnya hanya hendak menjadikannya sebagai guyonan, atau bahkan memperolok-olok istilah itu saja. Akan tetapi pada akhirnya toh istilah itu pun menjadi populer di kalangan masyarakat.

Bagi Syahrini, bisa jadi istilah-istilah itu sengaja ia ciptakan, atau bisa jadi pula hal itu merupakan ucapan yang muncul secara spontan . Di sebuah pemberitaan dalam  situs portal berita online Syahrini menjelaskan baginya arti istilah “cetar” itu “lebih dari istimewa”, atau “lebih dari spektakuler”. Akan tetapi, jika kita mencari arti kata itu di Kamus Besar Bahasa Indonesia maka artinya adalah  tiruan bunyi cambuk yang dipukulkan. Sedangkan kata “membahana”  memiliki arti  bergema atau berkumandang. Lalu kira-kira bagaimana awalnya Syahrini bisa dengan “semena-mena” menggunakan kata itu untuk mewakili arti seperti yang ia jelaskan tadi?  

Dalam ilmu linguistik dikenal istilah onomatope, yaitu tiruan terhadap bunyi-bunyi yang ada. Dalam bahasa Indonesia kata-kata seperti gemericik, mengonggong, mendesis, mengeong, bordering,  merupakan contoh onomatope.  Kata mengeong tidak lain berasal dari suara kucing, sehingga kata itu hanya khusus digunakan untuk menggambarkan suara binatang tersebut.

Lalu bagaimana dengan “cetar membahana”? Jika kita merujuk pada makna dalam KBBI maka makna istilah itu bisa berarti suara yang menggema. Artinya, suara cetar itu tidak hanya nyaring melainkan juga bergema di telinga, atau bahkan menggelegar. Bila kita lihat makna asosiatifnya, maka istilah ini tidak lagi sekadar dipakai untuk menggambarkan bunyi, tetapi juga dapat berarti suatu hal yang lebih dari sekadarnya atau  hal yang luar biasa.

Maka setidaknya kini dapatlah dipahami mengapa Syahrini memakai  istilah itu untuk menggambarkan sesuatu yang lebih dari istimewa, atau sesuatu yang spektakuler.  Terlepas bahwa hal tersebut bisa diterima atau tidak dalam kaidah pembentukan bahasa Indonesia yang baku, akan tetapi fenomena ini setidaknya bisa menjelaskan kepada kita bahwa bahasa bersifat dinamis.

Akan tetapi pertanyaannya, meski daya tahannya tidak pernah lama, mengapa  istilah-istilah yang digunakan oleh kalangan selebritas lebih cepat popular ketimbang  istilah yang muncul dari insitusi  seperti badan bahasa?     



Sumber:  Khazanah -- Pikiran Rakyat,  5 April 2013

Tiga Tema Indonesia

BARISAN pasukan tentara keraton Yogyakarta itu berdiri tegap dan kaku. Mereka membawa senapan, sedangkan beberapa orang lainnya membawa bendera dan drum yang sesekali mengeluarkan bunyi genderang saat ditabuh. Suara itu seolah menjadi tanda bahwa mereka siap berperang. Namun para prajurit itu tak lain seperti pasukan hantu, tanpa tubuh dan kepala. Hanya sepatu boot, dan topi yang lebih mirip topi tentara kolonial Belanda saja yang menandakan keberadaan sosok mereka. Seperti hantu. tubuh mereka ada namun tak terlihat.

Instalasi Jompet Kuswidananto “War of Java. Do you remember?”.  merupakan salah satu  karya sejumlah perupa Indonesia dalam pameran yang bertajuk “Closing the Gap; Indonesian Contemporary Art” yang berlangsung di Flatform Melbourne International Fine Art, Mellbourne, Austrlia (20 Januari-18 Maret 2011). Flatform merupakan sebuah ruang seni yang berada di Kota Mellbourne, yang khusus memamerkan karya-karya seni kontemporer.

Dalam pameran kali ini, selain Jompet juga terdapat karya tujuhbelas perupa Indonesia lainnya,  Angki Purbandono, Budi Ubrux, Eko Nugroho, Entang Wiharsono, F.X. Harsono, Gusti Agung Mangu Putra, Haris Purnomo, I Gusti Ngurah Udiantara, Maria Indria Sari,  Sini Irawan, Samsul Arifin, Sigit Santoso, Tromarama, Ugo Untoro, Ugy Sugiarto, Yudi Sulistyo., juga perepua dari Bandung Ay Tjoe Christine, Prilla Tania. Pameran ini mengusung tiga tema, yaitu,  social, political and the personalnew realism; dan new media, diandaikan bisa menjadi pintu masuk pintu masuk atau jendela pagi publik seni rupa Australia sehingga bisa lebih dekat mengenal lihat keragaman ragam seni rupa kontemporer di Indonesia.

Pemilihan karya yang disesuaikan dengan ketiga tema pameran ini diharapkan dapat merepresentasikan perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia. Seni kontemporer ini tidak hanya dilihat dari segi latar belakang isu sosial maupun politik yang pada akhirnya mempengaruhi karya para seniman Indonesia, melainkan juga  dari segi kecenderungan aliran-dan ragam media yang digunakan oleh para seniman dalam berkarya. Hal itulah yang membuat pameran tersebut memilki tiga tema sekaligus.

Sebutlah, Study of First September Doll karya Ay Tjoe Christine yang mengusung tema sosial politik dan persona. Demikian juga Sigit Santoso (“After the Crucifixion # 2), atau pelukis senior Entang Wiharso (Underclared Skins), Ugo Untoro ( d.h.12), F.X. Harsono (Memory of a Name – Rewriting The Erased). Sedang sejumlah karya yang dikategorikan pada New Realism di antaranya Budi Ubrux (Stock Market) dan  I Gusti Ngurah Udiantara (Level of Beautty, dan Out of Control), Haris Purnomo (judul: The Pink Dot), Ugy Sugiarto (judul: Muse). Sedangkankan New Media diusung oleh Prilla Tania (Space Within Time), Jompet Kuswidananto (judul: War of Java. Do You Remember?). 
                                                               **

KURATOR Bryn Collie menyadari bahwa perkembangan seni rupa Indonesia tidaklah banyak diketahui oleh masyarakat di Australia. Hal inilah yang menjadi latar belakang utama diselenggarakannya pameran ini. Menurut Collie, secara semantis tajuk pameran Closing the Gap ini merujuk pada kenyataan terdapatnya batas fisik antara Indonesia dan Australia, yaitu, berupa  Laut Timor. Secara metafor, makna tajuk tersebut juga merujuk pada perbedaan budaya, politik dan bahasa.

Maka, tidak heran jika perkembangan seni rupa Indonesia tidak pernah sepenuhnya diketahui oleh Australia. “Indonesia mungkin adalah tetangga terdekat kami. Tapi kami di Australia bisa jadi adalah salah satu dari orang-orang terakhir yang mengetahui perkembangan seni di Indonesia” tutur Collie.

Dia sendiri memandang para seniman Indonesia adalah seniman yang kaya akan bakat. Hal ini merupakan kreativitas yang secara turun temurun lahir dari  keberagaman budaya yang ada di Indonesia. Respon serta sambutan yang baik dari masyarakat Australia terhadap pameran Closing the Gap: Indonesian Contemporary Art ini membuat Collie merasa perlu memperpanjang waktu pameran ini.**


Dimuat di Pikiran Rakyat, 3 April 2011 

Seorang Lelaki, 8 Tahun Lalu

Sekitar menjelang tengah tahun 2004, seperti umumnya anak SMA yang baru lulus kala itu, saya mulai mempersiapkan diri mendaftar kuliah. Tidaklah terbayangkan awalnya bahwa rupanya saya dapat kuliah. Saat itu yang saya tahu adalah bahwa saya tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah lulus, karena memang tidak ada kepastian apakah orang tua saya akan sanggup membiayai saya untuk kuliah atau tidak.

Saya memulai prosedur pendaftaran dengan cara mengisi formulir SPMB yang belakangan saya tahu telah berganti sebut menjadi SNMPTN.  Kampus yang saya pilih adalah UPI. Jurusan pertama yang saya pilih Pendidikan Bahasa Indonesia dan yang keduanya adalah Bahasa Jepang. Beberapa anggota keluarga yang tahu –padahal saya merahasiakannya termasuk dari orangtua tentang pilihan itu—heran karena kok Bahasa Jepang malah jadi pilihan kedua.  Lalu saya juga berpikir mengapa saya meletakkan formasi pilihan serupa itu? Tapi ada jawaban yang bukan sekadar alibi dari diri saya ; “Mengapa saya harus menomorduakan bahasa saya sendiri?”. Betapapun terdengar idealis, hal itu tidak mengurangi kecintaan dan ketertarikan saya pada bahasa lain. Semua bahasa di dunia  ini bagi saya sangat ajaib.

Namun bukan ingatan itu yang dominan pada saat saya menulis  ini. Akan tetapi ingatan bahwa ada hal yang membuat saya penasaran hingga kini. Tentang  peristiwa saat saya mendaftar SPMB itu. Tentang bagaimana repotnya. Dan tentang seseorang yang  membantu saya kala itu namun saya sendiri sangat lupa dan tidak tahu siapa dia.

****
Jauh berbulan-bulan sebelum UAN, suatu malam, tiba-tiba telpon di rumah nenek tempat saya tinggal berdering.  Suara lelaki di ujung telepon bilang bahwa dia ingin bicara dengan Ellis. Ya, saya sendiri, begitu jawab saya. Dia tidak saya kenal sama sekali. Dia menyebutkan namanya serta asal muasal ia bisa mendapat nomor telepon rumah ini. Dia terdengar datar dan tidak bermaksud apa-apa. Walau motivasinya menelpon dan mengajak saya berkenalan tidak luput dari pertanyaan di hati saya, namun karena orang asing seperti itu tidak begitu penting untuk saya, dan dia pun terdengar datar-datar saja, maka saya tidak merasa ingin bertanya lebih jauh tentang ini itu pada dia.

Kemudian dia sering menelpon saya. Tapi tetap dengan obrolan ngaler-ngidul dan tidak spesifik. Pembicaraan kami di telpon sering mentok karena dua-duanya tidak cukup punya bahan menarik  untuk diobrolkan. Mungkin karena bosan juga, dia pelan-pelan hilang dan saya masa bodo dengan hengkangnya dia dari dunia obral-obrol via telpon itu.

Kembali ke peristiwa SPMB tadi. Saya dan teman-teman sekelas yang juga akan mendaftar, berkumpul di sekolah untuk pergi bersama ke ITB, tempat kami harus mengembalikan formulir. Semua calon peserta SPMB harus menyerahkan formulir dan semua persyaratan  hingga batas pukul 12:00 WIB. Kami yang berasal dari daerah Margahayu Kopo ini butuh waktu lebih awal untuk pergi ke sana agar tak kesiangan. Setelah berkumpul semua, kami siap mencari angkot. Iseng-iseng saya buka map, dan  “Gustii.., sayah poho mawa potokopi ijazaaah..” (Ya Tuhan, saya lupa bawa fotokopi ijazah)  kalimat itu yang reflek keluar dari mulut saya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11:00. Saya panik. Jarak dari rumah saya ke sekolah saja sudah lumayan jauh. Teman-teman memutuskan untuk meninggalkan saya karena takut terlambat.  Saya pulang dengan perasaan panik luar biasa. Dalam keadaan tidak karuan begitu, saya sekonyong-konyong pergi ke box telpon umum. Saya menelpon lelaki itu. Saya menceritakan kepanikan saya tanpa saya sadari mengapa saya harus bercerita pada dia. Lalu dia bilang dia akan mengantar saya. Tanpa sungkan saya bilang, oke, jemput saya secepatnya! Setelah menyebutkan alamat rumah, saya bergegas pulang mengambil fotokopi ijazah. Kejadian itu sangat luar biasa ricuh bagi saya sehingga saya tidak ingat untuk mengukur sopan-tidaknya memberi instruksi seperti itu pada dia.
Saat saya menunggu dia di depan gang, waktu menunjukan pukul 11:40 WIB. Lalu dia datang sesuai dengan ciri-ciri yang dia sebutkan di telpon. Kami bertemu untuk pertama kalinya, tetapi tidak punya waktu untuk berkenalan dan berkata “Senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan Anda”. Yang saya pikirkan saat itu adalah dia harus menepati perkataannya untuk mengantar saya ke ITB tepat waktu. “Tenang, 15 menit cukup kok!” Saya ingat dia bilang begitu, padahal jarak yang kami tempuh adalah dari Kopo ke ITB. Bahwa saya percaya dia tidak akan nyasar itu benar, karena dia—setidaknya mungkin—sudah  kenal daerah Bandung. Tetapi bahwa saya yakin kami bisa tiba di sana tepat waktu, itu tidak benar.

Kami tiba di ITB pukul 12:05. Saya tidak sempat banyak berkata-kata selain berterima kasih dengan singkat. Dia bilang dia akan jemput saya dan mengantar saya pulang. Saya bilang “Oke”.
Rupanya loket penyerahan formulir belum ditutup. Saya selamat dan bisa mendaftar. Setelah urusan saya selesai barulah saya sadar ada SMS dari dia yang mengatakan bahwa dia akan menjenguk dulu kakakknya (atau teman kakaknya, atau kakak temannya. Saya lupa) di rumah sakit. Saya pun mengiyakan ketika dia bilang tunggu saja dia di gerbang utama ITB.

Saya berjumpa dengan teman-teman saya yang tadi duluan tiba di ITB. Kami sudah beres menyerahkan formulir, dan teman-teman mengajak saya pulang bersama. Namun karena saya sudah janji pada lelaki itu bahwa akan pulang diantar dia, saya pun menunggu. Tetapi ada kegawatan yang terjadi. Saya tidak tahu dimana letak gerbang utama ITB. Bahkan saya bingung dari gerbang mana tadi saya masuk. Saya berputar-putar di dalam kampus ITB yang saat itu saya rasa sangat luas dan membingungkan.

Akhirnya saya tiba di mulut gerbang, tetapi saya tahu itu sepertinya bukan gerbang utama. Dia sudah menunggu saya di gerbang utama dan bilang bahwa dia akan menuju ke tempat saya berdiri saat itu. Namun saya tidak bisa secara spesifik menjelaskan di mana saya saat itu. Akhirnya dia kesal setelah berputar-putar mencari dan tak menemukan saya.  Mendengar suara kesalnya di telpon, saya meminta maaf dan berkata saya akan pulang naik angkot saja. Dia tetap bilang bahwa dia akan terus mencari saya untuk mengantar pulang, tetapi saya bilang tidak usah, karena saya sudah cukup merepotkan dia hari ini. Saya pun pulang sendiri.

Setelah hari itu, mungkin sekitar beberapa hari kemudian dia menelpon saya. Dia bercerita dia akan bekerja di (kalau tidak salah) Batam. Dia lulusan D3 POLBAN, tapi saya lupa  jurusannya. Yang jelas pekerjaan di tempat barunya kelak sesuai dengan bidangnya. Dia bilang jangan heran jika nanti dia akan lama tidak menelpon. Tetapi dia berjanji akan menghubungi saya lagi.

Namun setelah saat itu saya tidak pernah mendengar kabar dari dia lagi. Bahkan ketika hasil SPMB keluar dan mengumumkan bahwa saya termasuk peserta yang lulus, saya tak pernah lagi tahu kabar dia. Namun seperti di awal, saya tidak terlalu ngeyel untuk mencari dia. Lagipula saya berpikir mungkin dia sedang sibuk di tempat baru.

Barangkali pernah dia menelpon saya, tapi saya tidak tahu karena saya sudah nge-kost, tidak tinggal di rumah nenek lagi. Nomor HP saya pun sudah diganti, tanpa bisa memberitahu dia karena nomor dia pun dulu tidak pernah saya simpan di HP. Pernah saya coba menelpon ke rumahnya saat saya masih bisa mengingat nomor telpon rumahnya. Tetapi ibunya bilang dia tidak di Bandung. Saya pun tidak bertanya lebih lanjut tentang nomor HP dia,  atau berpesan agar dia menghubungi saya jika bisa. Semua lewat begitu saja.

Sekarang yang tersisa hanya ingatan itu saja. Saya tidak ingat namanya, tidak ingat tempat tinggalnya, tidak ingat wajahnya. Saya tidak ingat apapun kecuali satu hal, yaitu bahwa dia sangat berjasa dan saya seharusnya bisa berterima kasih lebih banyak pada dia.

Saya ingin memberitahu pada dia bahwa sekarang saya sudah lulus kuliah dan bekerja. Saya ingin memberitahu dia bahwa jika 8 tahun yang lalu dia tidak bermurah hati mengantar saya, mungkin saya tak pernah bisa ikut SPMB dan kuliah, setidaknya di tahun itu. Dan saya ingin memberitahu dia bahwa hari pertama dan terakhir pertemuan kami itu menjadi penanda penting bagi sejarah perjalanan hidup saya selanjutnya hingga kini. Terakhir, saya juga ingin dia tahu bahwa untuk jasanya itu, saya akan senantiasa berdoa semoga dia diberi kebaikan yang berlipat dari Tuhan atas kebaikan yang dia berikan pada saya.

Terima kasih. Terima kasih sedalam-dalamnya, dari segenap hati dan jiwa saya.

Senja Dari Balik Jendela

Waktunya menutup tirai. Sudah hampir gelap. Lebih cepat dari biasanya. Masih ada gagak hitam yang bertengger di atap rumah tetangga yang tak pernah kukenal siapa namanya. Yang kutahu, mereka punya dua ekor anjing besar-besar. Aku bisa melihat halaman belakang rumah mereka dari jendela kamarku yang terletak di lantai dua ini.

Rumah yang satunya lagi, yang agak ke sebelah kiri, tampaknya mereka tak punya hewan peliharaan. Mereka sepasang suami istri tua. Tidak terlihat punya anak. Mungkin punya, tapi sudah tidak lagi bersama mereka. Tadi  kulihat si suami itu memotong rumput.  Ia memakai sweater coklat.  Tak berapa lama,  istrinya keluar dan mengatakan sesuatu yang tak bisa kudengar.  Lalu masuk lagi, diikuti suaminya yang terlebih dahulu mematikan mesin pemotong rumput itu.

Aku masih melihat langit dari tirai jendelaku yang tipis. Belum juga aku rapikan buku-buku untuk besok pagi. Nanti dulu. Tunggu sebentar. Rasanya masih ingin berdiam dulu sejenak.

Sepi sekali. Tapi sepi begini sudah menjadi sangat biasa.  

Ini malam yang kesekian kalinya. Di tanah dan langit yang sama, tanah Victoria. Tanah kemenangan.  Begitulah mungkin makna dari nama tempat ini. Mungkin, begitu banyak perjuangan yang dilewati  si pemberi nama ketika mendapatkan atau menemukan tempat ini. Maka untuk alasan itulah ia memberi nama Victoria.

Sedikit tersenyum memikirkan korelasinya dengan apa yang kualami. Mungkin tidak sekompleks itu. Tapi setidaknya ada benang merah yang bisa aku hubungkan dari keduanya. Kenyataannya, bagiku, untuk tiba di tanah ini bukanlah mudah. Tapi tak pula merasa perlu untuk putus asa. Di penghujung sisa-sisa tenaga dan harapan, sampai jualah di sini. Di tanah ini. Victoria, tanah kemenangan. Menang atas segala keraguan, kesulitan dan kesakitan.  Menang untuk sesuatu yang selalu aku percaya.

****

Saatnya sedikit bergerak. Menyiapkan buku-buku. Membaca lembar-lembar kertas untuk besok pagi. Tak ada secangkir kopi malam ini. Hanya teh hangat dan satu sendok gula. Cukuplah..

Dari sela-sela tirai, langit tampak semakin gelap. Lampu rumah tetangga mulai menyala. Redup dan sendu. Angin  meniup daun-daun pohon willow. Lenguh anjing yang kedinginan, dan suara burung gagak hitam yang parau.

Betapa dinginnya senja yang menjadi malam…