Senin, 24 Juni 2013

“Cetar Membahana”

SETELAH sukses mempopulerkan kata “sesuatu”, artis Syahrini kembali menciptakan istilah, “cetar membahana”. Tak perlu waktu lama, istilah ciptaan Syahrini kali ini pun mulai ramai diucapkan orang. Mungkin awalnya hanya hendak menjadikannya sebagai guyonan, atau bahkan memperolok-olok istilah itu saja. Akan tetapi pada akhirnya toh istilah itu pun menjadi populer di kalangan masyarakat.

Bagi Syahrini, bisa jadi istilah-istilah itu sengaja ia ciptakan, atau bisa jadi pula hal itu merupakan ucapan yang muncul secara spontan . Di sebuah pemberitaan dalam  situs portal berita online Syahrini menjelaskan baginya arti istilah “cetar” itu “lebih dari istimewa”, atau “lebih dari spektakuler”. Akan tetapi, jika kita mencari arti kata itu di Kamus Besar Bahasa Indonesia maka artinya adalah  tiruan bunyi cambuk yang dipukulkan. Sedangkan kata “membahana”  memiliki arti  bergema atau berkumandang. Lalu kira-kira bagaimana awalnya Syahrini bisa dengan “semena-mena” menggunakan kata itu untuk mewakili arti seperti yang ia jelaskan tadi?  

Dalam ilmu linguistik dikenal istilah onomatope, yaitu tiruan terhadap bunyi-bunyi yang ada. Dalam bahasa Indonesia kata-kata seperti gemericik, mengonggong, mendesis, mengeong, bordering,  merupakan contoh onomatope.  Kata mengeong tidak lain berasal dari suara kucing, sehingga kata itu hanya khusus digunakan untuk menggambarkan suara binatang tersebut.

Lalu bagaimana dengan “cetar membahana”? Jika kita merujuk pada makna dalam KBBI maka makna istilah itu bisa berarti suara yang menggema. Artinya, suara cetar itu tidak hanya nyaring melainkan juga bergema di telinga, atau bahkan menggelegar. Bila kita lihat makna asosiatifnya, maka istilah ini tidak lagi sekadar dipakai untuk menggambarkan bunyi, tetapi juga dapat berarti suatu hal yang lebih dari sekadarnya atau  hal yang luar biasa.

Maka setidaknya kini dapatlah dipahami mengapa Syahrini memakai  istilah itu untuk menggambarkan sesuatu yang lebih dari istimewa, atau sesuatu yang spektakuler.  Terlepas bahwa hal tersebut bisa diterima atau tidak dalam kaidah pembentukan bahasa Indonesia yang baku, akan tetapi fenomena ini setidaknya bisa menjelaskan kepada kita bahwa bahasa bersifat dinamis.

Akan tetapi pertanyaannya, meski daya tahannya tidak pernah lama, mengapa  istilah-istilah yang digunakan oleh kalangan selebritas lebih cepat popular ketimbang  istilah yang muncul dari insitusi  seperti badan bahasa?     



Sumber:  Khazanah -- Pikiran Rakyat,  5 April 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar