SETELAH sukses mempopulerkan
kata “sesuatu”, artis Syahrini kembali menciptakan istilah, “cetar membahana”. Tak perlu waktu lama, istilah ciptaan Syahrini kali ini pun mulai ramai diucapkan
orang. Mungkin awalnya hanya
hendak menjadikannya sebagai guyonan, atau bahkan memperolok-olok istilah itu
saja. Akan tetapi pada akhirnya toh
istilah itu pun menjadi populer di kalangan masyarakat.
Bagi Syahrini, bisa
jadi istilah-istilah itu sengaja ia ciptakan, atau bisa jadi pula hal itu merupakan ucapan yang muncul secara spontan . Di sebuah pemberitaan
dalam situs portal berita online
Syahrini menjelaskan baginya
arti istilah “cetar” itu “lebih dari istimewa”, atau “lebih dari spektakuler”. Akan tetapi, jika kita mencari arti kata itu
di Kamus Besar Bahasa Indonesia maka artinya adalah tiruan bunyi cambuk yang dipukulkan. Sedangkan kata “membahana” memiliki arti
bergema atau berkumandang. Lalu
kira-kira bagaimana awalnya
Syahrini bisa dengan “semena-mena” menggunakan kata itu untuk mewakili arti seperti yang ia jelaskan
tadi?
Dalam ilmu linguistik dikenal istilah onomatope, yaitu tiruan terhadap bunyi-bunyi
yang ada. Dalam bahasa Indonesia kata-kata seperti gemericik, mengonggong, mendesis, mengeong, bordering, merupakan contoh onomatope. Kata
mengeong tidak lain berasal dari
suara kucing, sehingga kata itu hanya khusus digunakan untuk menggambarkan
suara binatang tersebut.
Lalu
bagaimana dengan “cetar membahana”? Jika kita merujuk pada
makna dalam KBBI maka makna istilah itu bisa berarti suara yang menggema. Artinya, suara cetar itu tidak hanya nyaring
melainkan juga bergema di telinga, atau bahkan menggelegar. Bila kita lihat makna asosiatifnya, maka
istilah ini tidak lagi sekadar dipakai untuk menggambarkan bunyi, tetapi juga dapat
berarti suatu hal yang lebih dari
sekadarnya atau hal yang luar biasa.
Maka setidaknya kini dapatlah dipahami mengapa Syahrini
memakai istilah itu untuk menggambarkan
sesuatu yang lebih dari istimewa, atau sesuatu yang spektakuler.
Terlepas bahwa hal tersebut bisa diterima atau tidak dalam kaidah
pembentukan bahasa Indonesia yang baku, akan tetapi fenomena ini setidaknya
bisa menjelaskan kepada kita bahwa bahasa bersifat dinamis.
Akan tetapi pertanyaannya, meski daya tahannya tidak
pernah lama, mengapa istilah-istilah yang
digunakan oleh kalangan selebritas lebih cepat popular ketimbang istilah yang muncul dari insitusi seperti badan bahasa?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar