Rabu, 26 Juni 2013

Cerpen Anak: Janji Si Pohon Mangga

Ada satu pohon mangga yang tumbuh di halaman sebuah rumah kosong. Sejak penghuni rumah itu pindah ke kota lain, si pohon mangga selalu merasa kesepian. Tubuhnya yang menjulang tinggi menjadi tidak terawat dengan baik. Daunnya yang lebat sering rontok. Ranting-rantingnya yang kering juga berjatuhan dan memenuhi halaman.
Namun hari ini si pohon mangga sangat bergembira. Ia mendengar kabar bahwa ada penghuni baru yang akan tinggal di rumah itu.  “Asyiik..! Pokoknya aku harus ceria hari ini, untuk menyambut para penghuni baru,”  kata si pohon mangga ketika cahaya matahari mulai menyentuh daun-daun dan rantingnya.
“Mudah-mudahan keluarga itu akan menyukaiku. Aku berjanji akan berbuah lebat. Daun-daunku yang rimbun akan membuat rumah mereka teduh dan sejuk sepanjang hari,” gumam pohon mangga itu lagi. Ia tak sabar menunggu kedatangan penghuni baru.
Di tengah hari, sebuah mobil berwarna putih perlahan berhenti di depan rumah. Seorang anak lelaki keluar, dan mendorong pintu pagar agar mobil mereka bisa masuk. Pohon mangga yang sempat tertidur karena terlalu lama menunggu tersentak kaget mendengar denyit pintu pagar. Ia senang sekali. “Mereka datang!” katanya.
Ternyata penghuni baru rumah ini adalah sebuah keluarga dengan dua anak dan seorang nenek. Setelah semua keluar dari mobil, mereka melihat teras dan halaman rumah itu.  “Nah, Dito dan Dita, mulai hari ini kita akan tinggal di rumah ini”, kata ayah kedua anak itu.
“Wow! Rumah ini besar sekali!” teriak Dito.  
“Iya betul, Dito. Halamannya juga luas”, ibunya menimpali.
“Boleh kan aku mengajak teman-temanku bermain lompat tali di halaman, Bu?” giliran Dita yang bertanya.
“Iya Dita sayang. Boleh..” jawab ibunya lagi.
“Ooh, jadi dua anak kecil itu bernama Dito dan Dita. Aku pasti akan membuat mereka betah bermain di halaman karena mereka tak akan kepanasan.” Pohon mangga itu kembali bergumam dalam hatinya.
“Nanti aku juga bisa bermain sepakbola di halaman dengan teman-teman baruku”, ujar Dito. “Tapi..., hmmm..”
“Ada apa, Dito?” tanya ayah.
“Pohon mangga ini harus ditebang, ayah.”
Betapa kagetnya pohon mangga itu mendengar ucapan Dito barusan. Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Lho, mengapa harus ditebang?” tanya ayah dan ibu serentak.
“Pohon mangga ini terlalu besar. Tumbuhnya pun di tengah halaman. Pohon ini akan menghalangiku kalau aku mau bermain bola bersama teman-teman di halaman.  
“Iya sih,  aku juga jadi tidak bisa bebas bermain lompat tali karena terhalang pohon ini.” kata Dita.
Pohon mangga yang malang. Kini matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis saat mendengar alasan Dito dan Dita.
“Dito dan Dita...” tiba-tiba terdengar suara nenek yang segera menghampiri kedua anak itu. “Mari kita berdiri lebih dekat dengan pohon ini.” Dita dan Dito menurut. Mereka berjalan mendekati pohon mangga itu.
“Apa yang kalian rasakan?” nenek menatap wajah Dito dan Dita dengan lembut.  “Teduh, Nek,” jawab Dito pelan. “Sejuk, Nek”, tambah Dita.
“Nah, benar sekali. Pohon ini membuat halaman rumah kita menjadi teduh dan terasa sejuk. Lalu, apa yang akan terjadi kalau pohon ini ditebang?”
“Panas..”, Dito menjawab dengan suara yang semakin pelan karena  malu dengan niatnya tadi. “Dan udara tidak sejuk lagi” tambah Dita.
“Pintar sekali.  Itulah yang akan terjadi kalau pohon ini ditebang. Selain itu, banyak kerugian lain kalau kita menebang pohon ini.”
“Dan kita tidak bisa menikmati buah mangga yang manis dari halaman rumah kita sendiri..” kata ibu yang juga sudah ada di dekat mereka. Nenek dan ibu tersenyum disusul oleh senyum Dito dan Dita.
“Nah, jadi bagaimana? Masih mau menebang pohon mangga yang banyak manfaatnya ini?” tanya ayah sambil menahan senyuman.
“Tidak mauuuuu.....” jawab Dito dan Dita berteriak sambil memeluk ayah mereka. Lalu semuanya tertawa. Orangtua dan nenek mereka lega karena Dito dan Dita akhirnya menyadari bahwa menebang pohon itu bukan keputusan yang baik. Bahkan Dito dan Dita berencana menanami lagi halaman mereka dengan pohon buah-buahan lainnya. Si pohon mangga pun akhirnya lega dan sangat bahagia. Ia berjanji untuk tumbuh lebih baik agar bisa lebih bermanfaat untuk keluarga ini.

Sejak saat itu, si pohon mangga selalu memenuhi janjinya. Ia tumbuh semakin rimbun. Udara yang sejuk selalu memenuhi halaman dan rumah. Di musim mangga, buahnya sangat lebat dan manis. Dito, Dita dan teman-teman mereka semakin betah bermain di bawah pohon itu. *** 
 (tamat)

Cerpen Anak

Dimuat di Kompas Anak,  26 Mei 2013

1 komentar:

  1. tehh..aku ingin aktif menulis kembali...bagaimana agar aku tak jadi angkatan gagap?hehehe :(

    BalasHapus