Selasa, 20 November 2018

Hai, Kumkum..


November, 2014

Sebuah benda persegi terbungkus koran menyandar di salah satu dinding tempat tinggalku.

“Apa itu?” tanyaku.

“Buka saja,” ujarmu.

Sebuah cermin.

Cermin berukuran 50x70 cm itu berbingkai kayu, tidak dicat, dan di kedua sisi yang berhadapan terdapat ornamen berbentuk kerang dan bintang laut. Juga dari kayu. 

“Untuk aku?”

“Iya. Sebuah kado.”

Aku menatap cermin itu.

“Lihatlah siapa yang ada di dalam cermin itu.”

Tentu saja aku. Tapi, aku tahu, jawabannya tak sesederhana itu.

“Siapa dirimu, dulu, kini, dan nanti?” katamu.

Aku masih termangu di depan cermin itu. Ya. Siapa aku?

“Kamu yang hari ini hadir dari kamu yang dulu. Kamu yang nanti hadir dari kamu yang sekarang.”

Benar. Semua peristiwa tali temali. Saling terjalin. Berkelindan. Aku hari ini dilahirkan oleh aku yang dulu. Dan seperti itu selanjutnya.

“Selamat ulang tahun. Kapanpun kamu kehilangan dirimu, bercerminlah. Agar kamu ingat siapa dirimu dulu dan hari ini. Agar juga kamu tahu, siapa dirimu di masa yang akan datang.”

Aku mengangguk. 

“Terima kasih, Kumkum.”


***


Juli, 2010


“Ke Kalimantan? Untuk?”

“Bapak menyuruhku. Katanya daripada aku tidak jelas di sini, sebaiknya di sana saja. Di sana, kata bapak, peluang kerja masih banyak.”

“Dan kamu mau?”

Aku mematung.

“Bagaimana dengan rencana ke Australia?”

“Sampai sekarang belum ada kabar. Kata bapak, jangan diharap lagi. Kalau memang jadi, pasti ada berita.”

“Oke. Sekarang aku tanya. Kamu benar mau balik ke Kalimantan atau tidak? Jangan kata bapak. Harus kata kamu.”

Jika manusia memiliki banyak kelemahan, maka melepaskan harapan adalah salah satunya.  Begitu pula aku. Bukan soal pindah ke mana, tetapi soal melepas sesuatu yang diinginkan dan menggantinya dengan hal yang tak diinginkan.

Kabar tentang ke Australia itu memang tak pasti. Sudah setengah tahun aku menunggu. Berkali-kali aku pergi ke kampus untuk menanyakannya, tapi nihil. Ketidakpastian mengikis habis semangatku. Mungkin memang tak jadi. Mungkin memang aku harus kembali ke Kalimantan seperti kata bapak. Menjadi PNS, mengajar di sebuah sekolah, bekerja Senin sampai Jumat atau bahkan Sabtu, lalu mengambil kredit perumahan BTN dan menyicilnya per bulan dengan slip gaji sebagai jaminan. Mungkin memang sebaiknya seperti itu. 

Itu juga mulia, bukan?

Benar. Itu juga mulia. Masalahnya, itu bukan cita-citaku.

“Gini. Sekarang, kamu pilih; mau kembali ke Kalimantan atau tetap di Bandung?”

“Tapi di Bandung ...”

“Apa? Kerjaan?”

Aku mengangguk. Aku memang pengangguran sekarang. Tidak punya uang, apalagi tabungan. Memang salahku. Terlalu ngeyel untuk hanya mau bekerja di satu bidang saja. Sementara itu, bidang yang kumau belum populer. Tak banyak lowongan untuk bekerja di bidang itu.

“Nanti kubantu. Yang penting kamu bisa makan.”

“Aku tidak mau dikasih uang. Aku mau dikasih pekerjaan.”

“Aku tahu. Anak keras kepala sepertimu mana mau nerima uang kalau bukan hasil kerja sendiri.”

Aku terdiam lagi. Bagaimana dia bisa secepat itu mengenalku?

“Aku punya banyak naskah yang harus diedit. Kamu mau jadi editor? Tapi tetap ada deadline. Jadi, ini beneran kerja. Bukan karena aku kasihan sama kamu. Bagaimana? Mau?”

Dudukku mulai tegak. Mataku terisi lagi. Tidak kosong seperti tadi. Aku seperti mendapat kabar baik dari langit. Tuhan menolongku. Iya, benar, ini memang dari langit. Melalui dia.

“Mau!”

Akupun akhirnya bisa meyakinkan bapak bahwa aku tetap di Bandung. Bapak terdengar tak yakin aku bisa bertahan. Bapak memang sudah mulai kehilangan keyakinannya kepadaku. Tapi, mungkin beliau berpikir bahwa berdebat terus menerus denganku juga melelahkan. Akhirnya, aku diizinkan tetap di Bandung.

Dengan uang dari hasil mengedit naskah-naskah itu aku bisa menyewa kost dengan biaya yang sangat murah. Saat dia bertanya apakah ada benda yang butuh kubeli, aku menjawab aku butuh setrika. Aku merasa heran karena dia tertawa saat mendengar jawabanku. Dia menjelaskan bahwa permintaanku sangat mencerminkan kepribadianku. Aku mengerutkan dahi, tak mengerti maksudnya.

“Kamu perfeksionis sekali. Ketika ditanya apa yang kamu butuhkan, kamu jawab setrika.”

“Perfeksionis? Iya benar. Tapi apa hubungannya dengan setrika?”

“Kamu tak suka memakai pakaian kusut, kan? Buatmu, terlihat rapi adalah keharusan. Kamu tidak mau terlihat buruk. Semua harus baik dan terlihat baik. Nah, itu, perfeksionis.”

Aku melongo. Iya juga, batinku.

“Oke. Mau setrika yang mana?”

“Aku enggak mau dibeliin.

“Iya, nanti potong honor.”

“Oke.”

Sejak saat itu, setrika murah seharga Rp65.000 itu selalu kupakai hingga kini. Bahkan ketika ibuku memberiku setrika yang jauh lebih bagus dan mahal, aku tetap memakai setrika itu. 

Setrika itu tak sekadar sebuah benda, tetapi seperti artefak dari peristiwa dan fase penting dalam hidupku. Meskipun awalnya judulnya ‘hutang’, tapi tokh saat penerimaan honor, tak sedikitpun jumlahnya dipotong untuk membayar harga setrika itu.

Beberapa bulan kemudian, hidupku tak terlalu jauh berbeda. Masih tidak jelas. Pekerjaanku hanya mengedit dan menghitung secermat mungkin pengeluaran uang agar bisa bertahan hidup. Kadang, aku diajak serta makan ketika akan membincangkan naskah. 

Ketika mulai terlalu sering diajak makan, aku jadi mulai curiga bahwa pembicaraan tentang naskah sebenarnya hanya alibi agar dia bisa menraktirku makan. Agar uangku utuh. Aku merasa rendah diri saat itu. Merasa bersyukur karena manusia ini sangat baik kepadaku, sekaligus merasa malu. Mungkin dia tak berpikir aku merepotkannya. Apalagi jika hanya makan di warung pinggiran atau warung nasi Padang seperti itu. Tapi, perasaan malu padanya dan pada diri sendiri ini membuatku merasa payah. Merasa tergantung. 

“Kamu sedang berjuang saat ini. Berjuang mendapatkan apa yang kamu inginkan. Cing sabar, cing tawakal. Aku yakin nanti kamu bisa berangkat. Jangan banyak pikiran. Jangan banyak sungkan. Fokus pada apa yang kamu cita-citakan. Kerjakan apa yang bisa kamu kerjakan. Itu saja.”

Aku tak menjawab sepatah katapun.

“Sudah. Jangan nangis.

Tak bisa. Aku tetap menangis di depan sepiring nasi ayam betutu yang ia pesankan untukku.

Sebulan kemudian, aku menyaksikan kebenaran dari perkataannya. Setelah beberapa proses rumit, akhirnya aku mendapat kabar bahwa aku akan segera berangkat ke Australia.

Dengan gugup, kusampaikan kabar itu kepadanya.
Memegang kepalaku, dia tersenyum “Ari sabar mah geningan...”

Pada hari keberangkatan, ia mengantarku. Aku sengaja meminta untuk tidak diantar sampai bandara. Lagipula, ada hal yang harus kuurus dulu di kampus.

Sebelum pamit pergi, menggengam kedua bahuku, ia berpesan  “Oke. Ini harimu. Ini cita-citamu. Melangkahlah. Lebarkan sayapmu. Percaya diri, tunjukkan kamu mampu. Dan kamu memang mampu. Baik-baiklah di negeri orang.”

Dan, ia pergi. Aku masih di tempatku saat taksi itu membawa tubuhnya menjauh dariku. 

Pandanganku kabur, air mataku luruh.


***  

Agustus, 2018


“Nanti, kalau sudah di Jerman, dan terjadi apa-apa sama aku, kamu jangan pulang, ya. Harus tetap menjalankan tugas sampai selesai.”

“Hah? Maksudnya apa?”

Aku langsung memberondonginya dengan macam-macam ungkapan kekesalan. Siapa yang tak kesal mendengar kalimat seperti itu sebelum pergi jauh?

“Ya, kan kalau.”

“Ya jangan bilang seperti itulah.”

“Oke, oke. Yang pasti, kerjakan sebaik-baiknya pekerjaanmu. Berikan sepenuhnya dirimu kepada pekerjaanmu..”


“Dan dia akan memberikan dirinya sepenuhnya kepadamu.” Ujarku melanjutkan.

Tah gening pinter.”

Pan udah sering diomongin gitu dari dulu.”

“Iya, ya.”

Aku tak pernah menyukai kalimat-kalimat penanda perpisahan. Siapa pula yang suka? Namun, ia kerap secara tak langsung menyiratkan bahwa aku harus melakukan apa saja jika ia tak ada. Kendati kesal mendengarnya, tapi diam-diam selalu kuingat pesannya.

“Manusia harus punya sikap. Harus punya prinsip. Harga diri kita diukur dari bagaimana kita bersikap.”

Setelah satu seruput kopi, ia melanjutkan nasihatnya.

“Juga harus selalu belajar. Harus rendah hati. Ilmu tak akan jinak pada mereka yang sombong. Juga harus selalu mengasihi orang-orang lemah. Orang-orang tak punya.”

Kalimat terakhir terdengar lebih tebal di telingaku. Benar dugaanku, ia mengulang kembali bagian itu.

“Ingat, ya. Harus selalu mengasihi orang yang lemah. Orang tak punya. Aku berasal dari orang-orang seperti itu. Jadi, kelak, jika aku sudah tak ada dan kamu rindu aku, datangilah orang-orang seperti itu. Karena di antara merekalah aku ada.”

Saat mengatakan itu, ia seperti sedang menuliskannya di salah satu dinding dalam hatiku. Menuliskannya dengan sebuah batu yang runcing. Oh, tidak, bukan batu. Sebuah permata. Guratannya dalam membekas di hatiku. Meninggalkan kilau. Pedih sekaligus damai rasanya.


***


November, 2018


Hai, Kumkum...

Sekarang aku di Jerman. Dalam suhu dingin minus satu derajat celcius. Kamu benar, tubuhku ringkih dalam suhu dingin. 

Kamu memang selalu benar. 
Seperti saat berpikir bahwa koperku terlalu penuh dan akan overload. Kamu menertawakanku saat aku terpaksa membongkar kembali dan meninggalkan sebagian barang yang berlebih saat petugas bandara mengatakan berat barangku lebih dari 30 kilogram. 

Kamu sempat menyuruhku meninggalkan setrika yang menurutmu memakan tempat. Tapi, aku menolak keras. Kamu tahu setrika itu akan selalu ikut ke manapun aku pergi, seperti saat ke Australia dulu. Tertawalah sepuasmu. 

Aku sebal, tapi toh tertawa juga.

Kumkum, ini November kesembilan buatmu. 
Susah sekali mengurus anak keras kepala ini ya, Kum? 
Anak yang bandel, yang sering hanyut dan hilang. 
Anak yang seringkali harus diluruskan dan dituntun ke jalan pulang.

Maafkan aku, Kumkum.
Mungkin karena aku terlalu percaya bahwa sejauh apapun aku tersesat, kamu akan selalu bisa menemukanku dan menarik tanganku kembali. Seperti anak kecil yang tak takut melangkah ke manapun karena tahu ibunya akan mengejar dan menuntunnya, bahkan menaruhnya  dalam buaian saat si anak menangis karena terjatuh.

Maafkan aku, Kumkum.
Sudah terlalu banyak merepotkan. Sudah terlalu sering membuat lelah dan cemas. Sudah terlalu kerap membuatmu berpikir untuk menyerah dan meninggalkan, tapi tak kunjung bisa kau lakukan. Kecemasanmu mengalahkan kekecewaanmu. 

Maafkan aku, Kumkum.
Ada banyak janji yang belum utuh kupenuhi. Pun tak sedikit yang belum kutepati. Salah satunya, menjadi lebih baik dari diriku sebelumnya. Aku merasa aku masih jauh dari kata “baik”. Masih harus berbenah. Jangan ke mana-mana ya, Kumkum. Jika Kumkum tak ada, aku seperti anak kehilangan ibunya di tengah pasar; bingung, takut, kesepian, sebanyak apapun orang di sekelilingku.

Usiaku bertambah lagi, Kumkum. Dan kamu masih seperti dulu. Masih sangat penyayang, sangat penyabar, tak pernah alpa mendidikku.

Terima kasih, Kumkum.

Semakin ke sini, kamu semakin sering berkata bahwa sekarang aku tambah hebat, tambah keren. Sementara, kamu merasa hal sebaliknya terjadi padamu.

Aku tak pernah setuju pada perkataanmu itu, Kumkum. Aku merasa belum keren dan aku tahu siapa yang lebih keren di antara kita. Lagipula, bukankah kita selalu setuju dengan pernyataan “Tak ada murid yang sanggup melampaui gurunya”?

Karena Kumkum adalah guruku, maka sampai kapanpun aku tak bisa melampauimu, Kumkum. Setiap apapun yang kamu sebut sebagai keberhasilanku, dengan izin Tuhan, adalah hasil tanganmu. Sampai kapanpun tidak akan sanggup aku mencapai titik di mana kamu berada lebih rendah daripada aku. Kamu akan selalu tinggi.

Terima kasih, Kumkum, untuk selalu ada di masa terburukku. Di titik paling rendah. Di masa paling gelap. Di saat tak memiliki siapapun yang percaya aku mampu.

“Kamu tidak punya satupun alasan untuk tidak percaya diri,” katamu yang kerap disampaikan dengan nada kesal. Kesal dengan kalimat pesimistis yang sering kuulang-ulang.

Terima kasih.

Kumkum, ini November ke sembilan bagimu. Ketika aku menatap cermin, maka aku melihat diriku yang sekarang adalah diriku yang dilahirkan dari sembilan tahun yang lalu. Dari sebuah pertanyaan seorang lelaki di atas kereta malam itu;
“Sebenarnya, kamu itu mau ke mana?”

Tolong sampaikan kepada lelaki itu, Kumkum; 
“Aku tak akan ke manapun, kecuali ke negeri-negeri yang menyimpan namamu.”


Terima kasih, Kumkum.
Doa terbaik untukmu.
Guru, ayah, kekasihku.


Salam sayang,


Markunyang
Konstanz, November 2018