Selasa, 15 November 2016

Aku, Shahrukh Khan, dan Hari-hari Lampau

MINGGU pagi, tetangga kost memutar lagu yang pernah sangat akrab di telingaku jauh beberapa tahun ke belakang; Kuch Kuch Hota Hai. Lagu soutdtrack dari film berjudul sama dan pernah mewabah di seantero negeri. Kampungku tak luput dari wabah itu. Dari ibu-ibu sampai bapak-bapak, dari anak-anak sampai remaja-remaja tanggung sepertiku saat itu, semua terjangkit virus film yang diperankan oleh Shahrukh Khan, Kajol, dan Rani Mukerji ini.

Mari kuceritakan seperti apa mulanya virus itu menjangkiti kami.
*

Setelah keluarga kami membeli VCD-player, dengan segera kami melahap semua jenis film yang sedang naik daun saat itu.  Selain untuk hiburan, memiliki VCD-player dan menonton film-film terbaru adalah salah satu syarat naik kasta di kampungku. Rumah tak keren kalau tak punya VCD-player. Para ibu akan naik beberapa inchi dagunya saat ia becerita bahwa TV di rumahya telah bersanding dengan benda itu, lengkap dengan speaker setinggi pinggang. Atau kalaupun tak secara lisan, cara paling halus namun tak kalah efek gaungnya adalah memasang volume paling tinggi saat berkaraoke lagu-lagu Poppy Mercury atau Broeri Marantika. Tetangga tak hanya panas hatinya oleh keberadaan VCD-player di rumah si ibu, tetapi juga panas kupingnya mendengar suara bak toa rusak itu.

Suatu hari kami sekeluarga mendengar banyak tetangga membicarakan film berjudul Kuch Kuch Hota Hai. Kamu tahu, kalau sudah bicara tentang film ini, para ibu rela mematikan dulu kompornya yang sedang memasak gulai nangka atau membiarkan anaknya tak kunjung mandi walau tubuhnya sudah bau matahari. Perbincangan bapak-bapak di pos ronda beralih dari sepakbola menjadi “Siapa yang lebih cantik, Tina atau Anjeli?”. Nama Shahrukh Khan lebih sering muncul dari mulut teman-temanku ketimbang nama guru galak yang biasanya jadi gerutuan kami sehari-hari.

Tak menunggu waktu lama, aku dan mama memutuskan untuk menyewa VCD Kuch Kuch Hota Hai.

“Pokoknya siapin sapu tangan, Mama Ellis. Pasti banjir air mata nanti kalau nonton itu.”

Itulah peringatan keras salah satu tetangga kami.

Aku dan mama segera menuju rental VCD. Jaraknya 20 menit jalan kaki. Aku lupa lagi namanya, tapi koleksi VCD bajakan di rental ini cukup lengkap. Dari mulai film terbaru hingga yang lawas. Pemiliknya adalah menantu Pak Nanda, seorang warga yang dituakan dan dihormati karena kerap menjadi imam di masjid utama desa kami.

“Ada film film Kucing-Kucing Hotahe, ndak?” kata mama. Tak masalah salah sebut. Yang penting, tak kurang dari lima menit VCD film itu sudah berada di tangan kami.
Kami menontonnya dengan formasi keluarga yang lengkap.

Di awal adegan, film ini memang sudah sangat meneror kelenjar air mata. Adegan saat Rahul berdiri di depan tumpukan kayu dan api yang mengkremasi tubuh istrinya itu membuat kami terdiam. Selanjutnya, adegan demi adegan berlanjut. Aku tahu aku tak sendirian saat berusaha keras menahan air mata. Kulihat, mata bapak pun berkaca-kaca.

Setelah selesai film itu, esoknya kami berburu VCD kumpulan soundtrack Kuch Kuch Hota Hai. Tentu saja bajakan. Hal ini membuatku lega karena bisa turut serta saat  teman-teman di sekolah bernyanyi “Koi mil gaya…, Mera dil gaya…” . Lagu yang sangat hits saat itu. Bahkan pada waktu istirahat di acara kemah Pramuka di sekolah, kakak pembina kami memutar lagu itu. Siswa-siswa lelaki sudah tak bisa membedakan dirinya dan Shahrukh Khan. Siswi-siswi berjingkrak-jingkrak meniru tarian Anjeli.  Pokoknya, Bollywood banget! Mungkin tak ada hubungan dengan yang terjadi selanjutnya, tapi yang jelas beberapa dari mereka kemudian dibawa ke ruang UKS  karena kesurupan.
 
Tak berhenti sampai Kuch Kuch Hota Hai. Film lainnya seperti Dil To Pagal Hai, Kabhi Kushi Kabhi Gham, Duplicate, Dil Se, dan lain-lain juga kami lahap. Saat kecanduan kami makin tinggi, kami tak hilang akal untuk bisa terus menyewa VCD yang biayanya tiga ribu rupiah perfilm itu. Kami dan beberapa tetangga biasanya akan patungan untuk menyewa beberapa film, lalu menonton bersama. Atau bergiliran menonton film di rumah masing-masing karena perfilm biasanya disewakan untuk tiga hari. Maka kami tak lagi hanya mengenal Shahrukh Khan sejak itu. Kami hapal betul artis-artis lainnya seperti  Salman Khan, Karina Kapoor, Pretty Zinta, Aishwarya Rai, Anil Kapoor, dan lain-lain. Jika kami membicarakan  mereka, nyaris tak beda dengan saat kami sedang membicarakan tetangga kami sendiri.

Virus Bollywood ini cukup lama mendiami kepala kami.  Seingatku, nama-nama India ini mulai surut dari keseharian kami saat aku duduk di kelas 3 SMP. Film-film itu mulai lenyap dari etalase-etalase penyewaan VCD. Berganti dengan demam berikutnya; demam Korea.

Tak lama setelah Bollywood mereda, televisi-televisi mulai menayangkan film-film seri Korea. Film pertama yang kutonton saat itu berjudul Endless Love. Rupanya film ini lebih ‘sadis’. Lebih tanpa tedeng aling-aling memeras air mata kami. Di akhir episode pertama saja, mata kami sekeluarga sembab dibuatnya. Setiap satu episode selesai, perbincangan tentang adegan-adegan itu hadir di meja makan kami, di ruang keluarga, dan berlanjut hingga di teras-teras rumah tetangga saat para ibu menghabiskan waktu siang bersama. Di sekolahku, lirik-lirik lagu dari film Korea itu mulai didengungkan. Para siswa atau siswi yang berkulit putih dan matanya kesipit-sipitan mendadak jadi idola sekolah.

Lenyap sudah periode Shahrukh Khan. Diganti dengan Won Bin, Song Seung-heon, Song Hye-kyo, dan kawan-kawan.  Demam Korea agaknya bertahan lebih lama, bahkan hingga kini. Konon film Endless Love itulah peletak batu pertama tren film yang disusul dengan tren musik Korea di tanah air.
Namun, rupanya hal ini bukan berarti membuat demam India benar-benar reda. Lagu-lagu soundtrack film India ini terlanjur memiliki tempat di cukup banyak orang. Mereka secara militan memelihara virus ini dalam CVD yang diputar di warung-warung, atau di stasiun-stasiun radio bergenre dangdut yang kerap didengar para sopir dalam truknya.

Atau, di sini, di rumah tetangga kost  ini.

*

Aku sedang menyapu saat lagu India itu masih diputar sang tetangga. Di saat yang sama, Anjeli dan Rahul sedang menari di dalam kepalaku. Juga di saat yang sama, aku melihat dirku teman-teman sekelas bernyanyi;

Koi mil gaya….
Koi mil gaya…
Mera dil gaya…




 ***

(Depok, 161116)

Sabtu, 15 Oktober 2016

Mencuci Kaus Kaki

Pagi tadi, saya mencuci kaus kaki. Untuk pertama kalinya lagi setelah lama tak pernah berkaus kaki. Kaus kaki yang saya cuci berwarna dominan putih dengan sedikit warna biru di bagian pergelangan kaki dan tumit. Harganya murah. Hanya 3 Euro untuk empat pasang kaus kaki termasuk yang saya cuci ini. 

Sudah enam hari kaus itu berada dalam ember cucian kotor. Sebelum mencuci, saya merendamnya. Saya merendamnya dengan pakaian-pakaian kotor lain. Iya benar, ada banyak 'pantangan' mencuci yang saya langgar di sini. Pertama, karena mendiamkan cucian kotor terlalu lama. Kedua, karena saya tak memisahkan si kaus kaki ini dengan pakaian-pakaian lainnya. Hantu malas memang sedang merasuki saya akhir-akhir ini. 

Menurut ajaran mamak dulu, ini kesalahan yang hampir tak bisa ditolerir. “Pisahkan pakaian putih, pakaian luntur, dan kaus kaki saat mencuci. Enggak boleh disatukan!” kata beliau di masa lampau. Dan saya melanggarnya hari ini. Mengapa saya cenderung melanggar aturan mamak justru ketika saya sudah paham faidah aturan itu? 

Mundur sedikit ke beberapa hari lalu saat saya memakai kaus kaki ini. Saat itu hujan baru reda. Gerimis masih tinggal. Saya merungkuk-rungkuk saat berjalan, melindungi tubuh dari butir-butir tipis air. Padahal tak ada bedanya jika saya memilih berjalan dengan tegak daripada harus membungkuk begitu. Saya tetap akan kebasahan. Manusia memang kerap bertingkah konyol. Tetap bersikeras melindungi diri walaupun tahu sudah terperangkap. 

Di sepanjang jalan, ada banyak genangan. Airnya hitam. Campuran tanah dan tetesan oli dari kendaraan yang lewat. Saya berjalan sambil sesekali berjingkat. Berusaha menghindari genangan itu. Tapi tokh saya tetap bisa merasakan air itu meresap ke dalam sepatu. Kaus kaki yang hampir semuanya berwarna putih itu berwarna coklat kehitaman di bagian telapaknya. 

Saya kepayahan saat mencucinya. Kedua tangan saya menggosok dengan sepenuh tenaga. Walaupun sudah direndam setengah jam, tetap tak memudahkan saya untuk menghilangkan noda hitam itu. Saya mulai sebal. Noda ini bandel sekali. Saya mulai menyesal mengapa saya harus memakai kaus kaki itu. Tapi, saat saya memilih untuk memakainya, saya tak mengira bahwa saya akan melewati jalan penuh genangan. Berikutnya saya memilih sebal pada diri sendiri, mengapa memilih jalan itu. Seharusnya saya sempat berpikir untuk memilih jalan lain yang setidaknya tak terlalu banyak genangan. Atau yang walaupun banyak genangan, tapi airnya tak berwarna hitam. 

Saya masih kesal. Kali ini saya kesal pada jalan itu. Mengapa jalan itu tak rata sehingga membuat air mudah tergenang di sana. O, juga kendaraan-kendaraan yang lewat itu. Mereka juga salah karena merekalah yang menyebabkan air genangan menjadi hitam dan berminyak sehingga noda di kaus kaki saya lebih kuat melekat. Tapi genangan itu juga tak akan ada jika tak ada hujan? Baiklah, kalau begitu biang keladinya adalah hujan. Ya. Hujan. Tapi ‘kan hujan juga tak akan turun jika Tuhan tak menghendaki. Iya, saya mulai bawa-bawa Tuhan. Baiklah, kalau begitu semua ini salah Tuhan. Gara-gara Dia, kaus kaki saya jadi hitam dan susah menjadi sebersih semula. Karena tak terlihat, menyalahkan Tuhan kadang jauh lebih mudah.

Tunggu. 

Gerakan tangan saya terhenti. 

Saya memandangi kaus kaki itu. Benda yang membungkus kedua kaki saya. Benda yang turut dalam perjalanan saya. Benda yang harus terkena genangan air kotor di sepanjang jalan yang saya pilih. Benda yang walaupun saya sudah tak lagi berada di jalan itu, tetap harus menyimpan jejak noda di tubuhnya akibat pilihan saya. Benda yang sekuat apapun upaya saya untuk membersihkannya tetap tak akan mengembalikannya seperti semula. Sebersih sediakala. Benda yang akan selalu mengingatkan saya pada jalan kotor yang pernah saya pilih setiap kali saya melihat sisa noda yang tak bisa hilang itu. 

Kaus kaki saya. 

Saya tiba-tiba merasa harus meminta maaf pada sepasang kaus kaki saya itu. Dan mungkin saya harus merawat rasa penyesalan ini demi mengingatkan saya untuk tak melakukan hal serupa.  

Saya kembali mencuci kaus kaki saya. Saya menambahkan detergen. Mengucek-nya lagi sambil meniru jargon iklan detergen itu, “Enggak ada noda, enggak belajar”. 

Kalimat jargon yang tak lebih dari sekadar kalimat penghibur diri. 


Depok, 15 Oktober 2016

Rabu, 27 Januari 2016

Murid-murid Australia Senang Belajar Mandi Ala Orang Indonesia

PAGI itu, bersama Ibu Anne, guru bahasa Indonesia di Point Cook Primary 9 College, Victoria, Australia, kami menyiapkan lima bak plastik berisi air hangat ke halaman sekolah. Sesuai dengan persetujuan kepala sekolah dan izin dari orang tua murid, hari itu semua murid kelas empat akan praktik mandi ala Indonesia.
Murid-murid yang sudah sudah sejak pagi tidak sabar menunggu, segera membawa handuk, sabun, dan baju satin ke halaman sekolah. Mereka tak sabar ingin mempraktikkan apa yang dua minggu sebelumnya telah mereka pelajari di kelas. Awalnya, saya sempat bingung ketika pertama kali Ibu Anne meminta saya membantunya menjelaskan mandi ala Indonesia kepada para murid. Topik tersebut dipilihnya untuk diajarkan di murid kelas empat selama term satu, tahun ajaran ini.
Akhirnya, saya memulai pemela-jaran tersebut dengan menjelaskan tentang tradisi mandi di Indonesia. Saya juga menjelaskan cara dan alat yang dipakai oleh orang Indonesiaketika mandi. Beberapa kosakata, seperti gayung, sabun, handuk, dan air, pun saya berikan.
Hal yang menyenangkan sekaligus tak terduga ternyata Ibu Anne punya selusin gayung yang dibelinya saat berkunjung ke Indonesia. Sambil mendengarkan penjelasan saya dan Ibu Anne, murid-murid mulai penasaran untuk mengetahui bagaimana mandi dengan menggunakan gayung. Bukan menggunakan shower seperti yang lumrahnya mereka lakukan. Saya mulai menunjukkan caranya di depan kelas, persis seperti sedang berpantomim.
Pagi itu mereka dibagi menjadi beberapa kelompok. Satu bak untuk tiga orang. Murid-murid perempuan yang sudah siap mandi dengan memakai baju renang itu segera meraih gayung. Mereka mulai mandi. Begitu juga dengan murid laki-laki. "Ayo, siram kepala dan badan" teriak Ibu Anne. "Oh, dont put the sabun in the bak mandi. Your air will be kotor!"
Saya pun sibuk membantu murid-murid menggunakan gayung dan memberi instruksi selanjutnya, "Sekarang, ambil sabun. Gosok ke badan, tangan, dan kaki. Lalu siram lagi pakai air." Murid-murid itu berteriak senang.
Shelny (9) yang terlihat kedinginan masih menunggu di depan pintu toilet sambil memegang handuk. "Kamu merasa dingin?" tanya saya. Murid itu mengangguk dan berkata, "Ya, but it was so fun." Saya lantas menyuruhnya segera mengganti pakaian setelah temannya keluar dari toilet. Latas temannya itu menghampiri saya dan berkata, "Ibu, I will do Indonesian mandi at home. Because its really fun!". Kemudian, dia bergegas kembali menuju kelas sambil membawa gayung, handuk, dan sabun.
Kegiatan mandi tadi merupakan salah satu dari sekian banyak pengalaman menarik yang saya alami ketika mengajar bahasa Indonesia di Point Cook Primary 9 College, Victoria, Australia. Sejak akhir Januari lalu, kami berenam dari Indonesia terpilih untuk menjadi Language Assistant di Australia. Keikutsertaan kami merupakan bentuk dari pelaksanaan SLAP (School Language Assis-tants Program) yang diselenggarakan oleh DEECD (Department Education and Early Childhood Development) Victoria, bekerjasama dengan Monash University dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Selain dari Indonesia, DEECD juga mendatangkan tenaga guru bantu dari Jepang, Perancis, Jerman, dan Spanyol.
Bahasa Indonesia dianggap penting untuk diajarkan kepada seluruh siswa di Victoria karena secara geografis Indonesia adalah negara yang lebih dekat dengan Australia. Kenyataan bahwa besarnya peluang berkarier di Indonesia turut menjadi hal yang memotivasi pemerintah Australia untuk mengajarkan bahasa Indonesia di sekolah-sekolah. Saat ini tercatat lebih dari lima ratus sekolah negeri ataupun swasta di Victoria yang memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa yang mereka ajarkan dalam program LOTE di sekolah. 

--Victoria, 10 Mei 2011--

Mengajar Bahasa Indonesia di Point Cook Primary – 9 College

Terpilih sebagai guru bantu bahasa Indonesia dalam School Language Assistant Program (SLAP) merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya. Program ini merupakan proyek kerjasama antara DEECD (Department of Education and Early Childhood Development) Victoria, Monash University, dan Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Program ini dimulai sejak akhir Januari 2011. 

Selain dari Indonesia DEECD juga mendatangkan guru bantu dari Jepang, Prancis, Jerman, dan Spanyol.  Mereka ditempatkan selama satu tahun di sejumlah sekolah negeri di Victoria. Tugas kami adalah membantu sekolah-sekolah tersebut untuk melaksanakan program LOTE (Languages Other Than English).  Selain menjadi penutus asli, guru bantu juga bertugas untuk membantu para siswa mengenal dan mempelajari budaya dari masing-masing penutur asli bahasa yang mereka pelajari.

Saya ditempatkan di Point Cook Primary – 9 College. Sekolah ini telah mengajarkan bahasa Indonesia kepada siswa-siswanya selama empat belas tahun. Setiap minggu selama satu jam dalam satu kali pertemuan, para siswa dari Taman Kanak-kanak (TK) hingga kelas enam belajar  bahasa Indonesia. Sedangkan kelas tujuh hingga sembilan belajar bahasa Indonesia selama dua jam setiap minggu. Topik yang diajarkan sebagian diambil dari silabus yang mengacu pada VELS (Victorian Essential Learning Standards). Namun, sebagian besar diambil dari silabus yang disusun oleh tim guru bahasa Indonesia sekolah ini.

Di tingkat TK murid mulai belajar tentang salam dan perkenalan. Pertanyaan dasar seperti “Siapa namamu?” dan jawaban “Nama saya ....” terus menerus diulang agar murid menjadi terbiasa mendengar dan mengucapkan pertanyaan serta jawaban tersebut. Tujuan utama pembelajaran ini adalah melatih para siswa untuk mengucapkan ungkapan semacam iotu dengan benar. Beberapa murid bisa mengucapkannya dengan benar, namun sebagian murid menemukan kesulitan. Kesalahan ucap seperti “Siapa nanamu?”, dan  jawaban seperti “Mana saya Charlie” masih kerap terjadi. Maka, tidak heran jika untuk memperkenalkan dua atau tiga kalimat saja, membutuhkan waktu lebih dari satu kali pertemuan.

Kesalahan pengucapan tentu tidak hanya terjadi di kelas taman kanak-kanak, tapi juga di kelas-yang lebih tinggi. Selain itu, pemahaman siswa terhadap makna dan konteks kalimat juga diperhatikan. Dalam tataran konteks ini, saya juga harus menyisipkan pengetahuan ihwal budaya pada pelajaran saya. Misalnya, ketika seorang murid mempraktikkan penggunaan kalimat tanya “Kamu suka makan apa?” yang dia tujukan pada saya, maka saya perlu meralatnya dengan “Ibu suka makan apa?”. Selanjutnya saya jelaskan pada mereka tentang budaya sopan santun di Indonesia yang salah satunya adalah penggunaan kata sapa untuk orang yang usianya lebih tua daripada si penanya.

                                                                    **

Memberi  atau menerima sesuatu dengan tangan kanan  juga merupakan unsur budaya penting untuk dijelaskan kepada siswa.  Tidak heran kalau beberapa siswa menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang terlalu berlebihan sehingga membuat mereka berpikir bahwa bahasa Indonesia itu ribet. Ini menjadi tantangan bagi saya untuk memberi pengertian kepada mereka bahwa mempelajari bahasa juga berarti mempelajari budaya dari penutur asli bahasa tersebut.

Tantangan lain adalah saat menghadapi siswa yang tidak memiliki keinginan untuk belajar bahasa Indonesia. Hal tersebut tampak dari sikap mereka yang tidak mau memperhatikan guru saat menjelaskan, atau menolak ketika diberi tugas untuk dikerjakan. Saya melihat bahwa terkadang hal tersebut dilatarbelakangi oleh perasaan frustrasi yang mereka alami ketika mendapat kesulitan dalam belajar bahasa Indonesia di kelas. Karena alasan tersebut, saya perlu melakukan pendekatan personal kepada murid yang mengalami kesulitan seperti itu.

Selebihnya pembelajaran di kelas selalu menyenangkan. Terutama jika saya melihat antusiasme murid terhadap budaya Indonesia. Misalnya, dalam kegiatan bermain peran dalam pelajaran percakapan di depan kelas. Murid-murid seringkali meminta izin untuk memakai pakaian tradisional Indonesia yang memang disediakan oleh sekolah. Pekerjaan saya pun bertambah, yaitu, membantu sambil menjelaskan kepada mereka cara memakai sarung, selendang, songket, dan kebaya. Ada juga murid lain yang lebih memilih untuk memainkan wayang golek saat praktik percakapan tersebut. Maka dia pun harus sedikit berlatih terlebih dahulu untuk menjadi dalang sebelum tampil di depan kelas. Saya memberi julukan “Pak Dalang” kepada salah satu murid yang rupanya cukup pandai memainkan wayang-wayang golek tersebut. Dia pun dengan bangga memperkenalkan nama julukannya itu kepada teman-temannya.

Situasi pembelajaran seperti itu jauh lebih menarik dibandingkan hanya mendengarkan penjelasan guru, lalu mengerjakan soal-soal dari buku latihan. Dengan latihan bermuatan budaya seperti ini murid menjadi lebih bersemangat dan lebih cepat memahami materi pelajaran.. Kegiatan menarik lain adalah bernyanyi atau belajar dengan menggunakan teknik permainan tradisional Indonesia yang mudahkan siswa untuk memahami pelajaran.


Pengalaman ini menunjukkan kepada saya bahwa guru dituntut untuk selalu kreatif agar ia mampu meningkatkan antusiasme siswa dalam mempelajari bahasa Indonesia. Saya pun semakin termotivasi untuk lebih banyak mencari ide agar pembelajaran di kelas selalu menyenangkan. Semoga dengan begitu murid-murid akan semakin senang belajar, dan pelajaran bahasa Indonesia semakin digemari di sekolah ini.

Mahasiswa BIPA Balai Bahasa UPI Lolos ke Babak Final Lomba Presenter Indosiar

GEDUNG Achmad Sanusi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, 4 Desember 2014. Sejak pukul 10:00 WIB, gedung ini telah dipenuhi oleh lebih dari enamratus orang. Umumnya mereka mahasiswa dengan pakaian yang rapi. Sejumlah orang yang duduk di kursi barisan depan terlihat mengenakan setelan jas atau blazer. Mereka adalah peserta Lomba Presenter Berita Akademi Indosiar. Sebuah acara yang diselenggarakan oleh Stasiun TV Indosiar, bekerjasama dengan Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia. 


Di salah satu kursi, tampaklah  seorang peserta perempuan sedang membaca beberapa kalimat di layar telepon pintarnya. Ia menghapal kalimat yang mesti diucapkan ketika mendapat giliran nanti. Namanya Lu Ying Xuan, mahasiswa asing yang berasal dari Tiongkok. Kepada Kim, temannya dari Korea, Lu Ying Xuan mengatakan bahwa ia merasa gugup. 

Selain Lu Ying Xuan, mahasiswa asing dari Tiongkok lainnya adalah Huang Meng Jiao dan Wang Qun. Ada juga Jeffrey Alexius Brandes (Belanda), Le Thi Ha (Vietnam), Minami Ninagawa (Jepang), dan Patricia Dorn (Jerman). Mereka juga mengikuti lomba tersebut. Mereka adalah para mahasiswa asing yang sejak September lalu belajar bahasa Indonesia di Balai Bahasa, Universitas Pendidikan Indonesia. Saat ini mereka belajar di tingkat menengah satu.  

Menurut Bapak Vidi Sukmayadi, dosen kelas menengah satu, lomba ini merupakan ajang untuk melatih keterampilan berbicara sekaligus mengasah keberanian para mahasiswanya untuk berbicara dalam bahasa Indonesia. Beliau menjelaskan,  persiapan dan latihan dilakukan selama empat hari. 
Mulanya, mahasiswa diajak menyaksikan beberapa berita di televisi. Dengan demikian, mereka dapat mengetahui dan mempelajari cara presenter ketika membuka dan membacakan berita. Hal-hal yang mereka pelajari meliputi pemilihan kata, artikulasi, dan tempo pada saat berbicara. Setelah itu, mahasiswa mulai berlatih sambil mendapat bimbingan dari dosen. Mahasiswa juga dibebaskan untuk memilih dan mengadaptasi salah satu gaya presenter di televisi.

Aksen khas bahasa pertama para mahasiswa ini menjadi kendala ketika mereka melatih pelafalan disertai intonasi yang tepat, sebagaimana pembaca berita di Indonesia pada umumnya. Namun, hal tersebut tidak menjadi halangan bagi mereka untuk tetap mengikuti lomba. “Kegiatan pembelajaran berbicara yang selama ini diterima di kelas juga menjadi bekal mereka dalam mengikuti lomba ini,”tutur Pak Vidi.

Sementara itu, berbeda dengan Lu Ying Xuan, Minami Ninagawa mengaku tidak terlalu gugup. “Semua penonton memberi semangat kepada saya. Jadi saya bisa tampil sambil tersenyum”, ujar mojang Jepang ini. Demikian pula yang dirasakan oleh Le Thi Ha. Ia bahkan tidak merasa gugup sama sekali karena merasa pasti kalah jika harus bersaing dengan peserta dari Indonesia. Hal ini membuatnya merasa tak punya beban apapun. “Saya pikir saya pasti kalah. Jadi tidak apa-apa. Santai saja”, ujarnya dengan bahasa Indonesia yang lancar. Namun, ternyata sikap tenang Le Thi Ha itulah justru yang mengantarnya ke babak final. Selain Le Thi Ha, Huang Meng Jiao (Tiongkok) juga berhasil masuk ke babak final dalam lomba tersebut. 

Hal ini merupakan kebanggaan tersendiri, baik bagi para mahasiswa maupun bagi Balai Bahasa, UPI. Pak Vidi mengatakan, baru kali ini ada mahasiswa BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) yang mengikuti Audisi Presenter Indosiar. “Ini hasil kerja keras mereka”, ujar beliau dengan wajah bahagia. 

Kesempatan yang jarang ini juga menjadi pengalaman yang berharga bagi para mahasiswa asing tersebut. “Kami merasa sangat beruntung”, ujar Lu Ying Xuang.  Ketika ditanya, hal apalagi yang berkesan dari pengalaman mengikuti lomba ini, Lu menjawab bahwa ia menyukai suasana lomba di Indonesia. “Selalu ramah dan ramai!” ujarnya. Suasana ini berbeda dengan suasana lomba yang ia rasakan sebelumnya. Biasanya lomba sangat serius, sehingga ketika melakukan kesalahan peserta akan menjadi lebih gugup. “Tetapi di sini, meskipun salah, tidak apa-apa”, ujar Lu yang juga senang karena dapat bertemu langsung dengan Walikota Bandung, Ridwan Kamil, dalam acara lomba tersebut. ** 


--- Ellis Artyana – Pengajar BIPA Balai Bahasa UPI