Terpilih sebagai guru bantu
bahasa Indonesia dalam School Language Assistant Program (SLAP) merupakan
pengalaman yang luar biasa bagi saya. Program ini merupakan proyek kerjasama
antara DEECD (Department of Education and Early Childhood Development) Victoria,
Monash University, dan Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Program ini
dimulai sejak akhir Januari 2011.
Selain dari Indonesia DEECD juga
mendatangkan guru bantu dari Jepang, Prancis, Jerman, dan Spanyol. Mereka ditempatkan selama satu tahun di
sejumlah sekolah negeri di Victoria. Tugas kami adalah membantu sekolah-sekolah
tersebut untuk melaksanakan program LOTE (Languages Other Than English). Selain menjadi penutus asli, guru bantu juga
bertugas untuk membantu para siswa mengenal dan mempelajari budaya dari
masing-masing penutur asli bahasa yang mereka pelajari.
Saya ditempatkan di Point Cook
Primary – 9 College. Sekolah ini telah mengajarkan bahasa Indonesia kepada
siswa-siswanya selama empat belas tahun. Setiap minggu selama satu jam dalam
satu kali pertemuan, para siswa dari Taman Kanak-kanak (TK) hingga kelas enam
belajar bahasa Indonesia. Sedangkan
kelas tujuh hingga sembilan belajar bahasa Indonesia selama dua jam setiap
minggu. Topik yang diajarkan sebagian diambil dari silabus yang mengacu pada
VELS (Victorian Essential Learning Standards). Namun, sebagian besar diambil
dari silabus yang disusun oleh tim guru bahasa Indonesia sekolah ini.
Di tingkat TK murid mulai belajar
tentang salam dan perkenalan. Pertanyaan dasar seperti “Siapa namamu?” dan
jawaban “Nama saya ....” terus menerus diulang agar murid menjadi terbiasa
mendengar dan mengucapkan pertanyaan serta jawaban tersebut. Tujuan utama
pembelajaran ini adalah melatih para siswa untuk mengucapkan ungkapan semacam
iotu dengan benar. Beberapa murid bisa mengucapkannya dengan benar, namun
sebagian murid menemukan kesulitan. Kesalahan ucap seperti “Siapa nanamu?”,
dan jawaban seperti “Mana saya Charlie”
masih kerap terjadi. Maka, tidak heran jika untuk memperkenalkan dua atau tiga
kalimat saja, membutuhkan waktu lebih dari satu kali pertemuan.
Kesalahan pengucapan tentu tidak
hanya terjadi di kelas taman kanak-kanak, tapi juga di kelas-yang lebih tinggi.
Selain itu, pemahaman siswa terhadap makna dan konteks kalimat juga
diperhatikan. Dalam tataran konteks ini, saya juga harus menyisipkan
pengetahuan ihwal budaya pada pelajaran saya. Misalnya, ketika seorang murid
mempraktikkan penggunaan kalimat tanya “Kamu suka makan apa?” yang dia tujukan
pada saya, maka saya perlu meralatnya dengan “Ibu suka makan apa?”. Selanjutnya
saya jelaskan pada mereka tentang budaya sopan santun di Indonesia yang salah
satunya adalah penggunaan kata sapa untuk orang yang usianya lebih tua daripada
si penanya.
**
Memberi atau menerima sesuatu dengan tangan
kanan juga merupakan unsur budaya
penting untuk dijelaskan kepada siswa.
Tidak heran kalau beberapa siswa menganggap hal tersebut sebagai sesuatu
yang terlalu berlebihan sehingga membuat mereka berpikir bahwa bahasa Indonesia
itu ribet. Ini menjadi tantangan bagi saya untuk memberi pengertian kepada
mereka bahwa mempelajari bahasa juga berarti mempelajari budaya dari penutur
asli bahasa tersebut.
Tantangan lain adalah saat
menghadapi siswa yang tidak memiliki keinginan untuk belajar bahasa Indonesia.
Hal tersebut tampak dari sikap mereka yang tidak mau memperhatikan guru saat
menjelaskan, atau menolak ketika diberi tugas untuk dikerjakan. Saya melihat
bahwa terkadang hal tersebut dilatarbelakangi oleh perasaan frustrasi yang
mereka alami ketika mendapat kesulitan dalam belajar bahasa Indonesia di kelas.
Karena alasan tersebut, saya perlu melakukan pendekatan personal kepada murid
yang mengalami kesulitan seperti itu.
Situasi pembelajaran seperti itu
jauh lebih menarik dibandingkan hanya mendengarkan penjelasan guru, lalu
mengerjakan soal-soal dari buku latihan. Dengan latihan bermuatan budaya seperti
ini murid menjadi lebih bersemangat dan lebih cepat memahami materi pelajaran..
Kegiatan menarik lain adalah bernyanyi atau belajar dengan menggunakan teknik
permainan tradisional Indonesia yang mudahkan siswa untuk memahami pelajaran.
Pengalaman ini menunjukkan kepada
saya bahwa guru dituntut untuk selalu kreatif agar ia mampu meningkatkan
antusiasme siswa dalam mempelajari bahasa Indonesia. Saya pun semakin
termotivasi untuk lebih banyak mencari ide agar pembelajaran di kelas selalu
menyenangkan. Semoga dengan begitu murid-murid akan semakin senang belajar, dan
pelajaran bahasa Indonesia semakin digemari di sekolah ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar