Rabu, 27 Januari 2016

Mengajar Bahasa Indonesia di Point Cook Primary – 9 College

Terpilih sebagai guru bantu bahasa Indonesia dalam School Language Assistant Program (SLAP) merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya. Program ini merupakan proyek kerjasama antara DEECD (Department of Education and Early Childhood Development) Victoria, Monash University, dan Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Program ini dimulai sejak akhir Januari 2011. 

Selain dari Indonesia DEECD juga mendatangkan guru bantu dari Jepang, Prancis, Jerman, dan Spanyol.  Mereka ditempatkan selama satu tahun di sejumlah sekolah negeri di Victoria. Tugas kami adalah membantu sekolah-sekolah tersebut untuk melaksanakan program LOTE (Languages Other Than English).  Selain menjadi penutus asli, guru bantu juga bertugas untuk membantu para siswa mengenal dan mempelajari budaya dari masing-masing penutur asli bahasa yang mereka pelajari.

Saya ditempatkan di Point Cook Primary – 9 College. Sekolah ini telah mengajarkan bahasa Indonesia kepada siswa-siswanya selama empat belas tahun. Setiap minggu selama satu jam dalam satu kali pertemuan, para siswa dari Taman Kanak-kanak (TK) hingga kelas enam belajar  bahasa Indonesia. Sedangkan kelas tujuh hingga sembilan belajar bahasa Indonesia selama dua jam setiap minggu. Topik yang diajarkan sebagian diambil dari silabus yang mengacu pada VELS (Victorian Essential Learning Standards). Namun, sebagian besar diambil dari silabus yang disusun oleh tim guru bahasa Indonesia sekolah ini.

Di tingkat TK murid mulai belajar tentang salam dan perkenalan. Pertanyaan dasar seperti “Siapa namamu?” dan jawaban “Nama saya ....” terus menerus diulang agar murid menjadi terbiasa mendengar dan mengucapkan pertanyaan serta jawaban tersebut. Tujuan utama pembelajaran ini adalah melatih para siswa untuk mengucapkan ungkapan semacam iotu dengan benar. Beberapa murid bisa mengucapkannya dengan benar, namun sebagian murid menemukan kesulitan. Kesalahan ucap seperti “Siapa nanamu?”, dan  jawaban seperti “Mana saya Charlie” masih kerap terjadi. Maka, tidak heran jika untuk memperkenalkan dua atau tiga kalimat saja, membutuhkan waktu lebih dari satu kali pertemuan.

Kesalahan pengucapan tentu tidak hanya terjadi di kelas taman kanak-kanak, tapi juga di kelas-yang lebih tinggi. Selain itu, pemahaman siswa terhadap makna dan konteks kalimat juga diperhatikan. Dalam tataran konteks ini, saya juga harus menyisipkan pengetahuan ihwal budaya pada pelajaran saya. Misalnya, ketika seorang murid mempraktikkan penggunaan kalimat tanya “Kamu suka makan apa?” yang dia tujukan pada saya, maka saya perlu meralatnya dengan “Ibu suka makan apa?”. Selanjutnya saya jelaskan pada mereka tentang budaya sopan santun di Indonesia yang salah satunya adalah penggunaan kata sapa untuk orang yang usianya lebih tua daripada si penanya.

                                                                    **

Memberi  atau menerima sesuatu dengan tangan kanan  juga merupakan unsur budaya penting untuk dijelaskan kepada siswa.  Tidak heran kalau beberapa siswa menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang terlalu berlebihan sehingga membuat mereka berpikir bahwa bahasa Indonesia itu ribet. Ini menjadi tantangan bagi saya untuk memberi pengertian kepada mereka bahwa mempelajari bahasa juga berarti mempelajari budaya dari penutur asli bahasa tersebut.

Tantangan lain adalah saat menghadapi siswa yang tidak memiliki keinginan untuk belajar bahasa Indonesia. Hal tersebut tampak dari sikap mereka yang tidak mau memperhatikan guru saat menjelaskan, atau menolak ketika diberi tugas untuk dikerjakan. Saya melihat bahwa terkadang hal tersebut dilatarbelakangi oleh perasaan frustrasi yang mereka alami ketika mendapat kesulitan dalam belajar bahasa Indonesia di kelas. Karena alasan tersebut, saya perlu melakukan pendekatan personal kepada murid yang mengalami kesulitan seperti itu.

Selebihnya pembelajaran di kelas selalu menyenangkan. Terutama jika saya melihat antusiasme murid terhadap budaya Indonesia. Misalnya, dalam kegiatan bermain peran dalam pelajaran percakapan di depan kelas. Murid-murid seringkali meminta izin untuk memakai pakaian tradisional Indonesia yang memang disediakan oleh sekolah. Pekerjaan saya pun bertambah, yaitu, membantu sambil menjelaskan kepada mereka cara memakai sarung, selendang, songket, dan kebaya. Ada juga murid lain yang lebih memilih untuk memainkan wayang golek saat praktik percakapan tersebut. Maka dia pun harus sedikit berlatih terlebih dahulu untuk menjadi dalang sebelum tampil di depan kelas. Saya memberi julukan “Pak Dalang” kepada salah satu murid yang rupanya cukup pandai memainkan wayang-wayang golek tersebut. Dia pun dengan bangga memperkenalkan nama julukannya itu kepada teman-temannya.

Situasi pembelajaran seperti itu jauh lebih menarik dibandingkan hanya mendengarkan penjelasan guru, lalu mengerjakan soal-soal dari buku latihan. Dengan latihan bermuatan budaya seperti ini murid menjadi lebih bersemangat dan lebih cepat memahami materi pelajaran.. Kegiatan menarik lain adalah bernyanyi atau belajar dengan menggunakan teknik permainan tradisional Indonesia yang mudahkan siswa untuk memahami pelajaran.


Pengalaman ini menunjukkan kepada saya bahwa guru dituntut untuk selalu kreatif agar ia mampu meningkatkan antusiasme siswa dalam mempelajari bahasa Indonesia. Saya pun semakin termotivasi untuk lebih banyak mencari ide agar pembelajaran di kelas selalu menyenangkan. Semoga dengan begitu murid-murid akan semakin senang belajar, dan pelajaran bahasa Indonesia semakin digemari di sekolah ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar