Sabtu, 15 Oktober 2016

Mencuci Kaus Kaki

Pagi tadi, saya mencuci kaus kaki. Untuk pertama kalinya lagi setelah lama tak pernah berkaus kaki. Kaus kaki yang saya cuci berwarna dominan putih dengan sedikit warna biru di bagian pergelangan kaki dan tumit. Harganya murah. Hanya 3 Euro untuk empat pasang kaus kaki termasuk yang saya cuci ini. 

Sudah enam hari kaus itu berada dalam ember cucian kotor. Sebelum mencuci, saya merendamnya. Saya merendamnya dengan pakaian-pakaian kotor lain. Iya benar, ada banyak 'pantangan' mencuci yang saya langgar di sini. Pertama, karena mendiamkan cucian kotor terlalu lama. Kedua, karena saya tak memisahkan si kaus kaki ini dengan pakaian-pakaian lainnya. Hantu malas memang sedang merasuki saya akhir-akhir ini. 

Menurut ajaran mamak dulu, ini kesalahan yang hampir tak bisa ditolerir. “Pisahkan pakaian putih, pakaian luntur, dan kaus kaki saat mencuci. Enggak boleh disatukan!” kata beliau di masa lampau. Dan saya melanggarnya hari ini. Mengapa saya cenderung melanggar aturan mamak justru ketika saya sudah paham faidah aturan itu? 

Mundur sedikit ke beberapa hari lalu saat saya memakai kaus kaki ini. Saat itu hujan baru reda. Gerimis masih tinggal. Saya merungkuk-rungkuk saat berjalan, melindungi tubuh dari butir-butir tipis air. Padahal tak ada bedanya jika saya memilih berjalan dengan tegak daripada harus membungkuk begitu. Saya tetap akan kebasahan. Manusia memang kerap bertingkah konyol. Tetap bersikeras melindungi diri walaupun tahu sudah terperangkap. 

Di sepanjang jalan, ada banyak genangan. Airnya hitam. Campuran tanah dan tetesan oli dari kendaraan yang lewat. Saya berjalan sambil sesekali berjingkat. Berusaha menghindari genangan itu. Tapi tokh saya tetap bisa merasakan air itu meresap ke dalam sepatu. Kaus kaki yang hampir semuanya berwarna putih itu berwarna coklat kehitaman di bagian telapaknya. 

Saya kepayahan saat mencucinya. Kedua tangan saya menggosok dengan sepenuh tenaga. Walaupun sudah direndam setengah jam, tetap tak memudahkan saya untuk menghilangkan noda hitam itu. Saya mulai sebal. Noda ini bandel sekali. Saya mulai menyesal mengapa saya harus memakai kaus kaki itu. Tapi, saat saya memilih untuk memakainya, saya tak mengira bahwa saya akan melewati jalan penuh genangan. Berikutnya saya memilih sebal pada diri sendiri, mengapa memilih jalan itu. Seharusnya saya sempat berpikir untuk memilih jalan lain yang setidaknya tak terlalu banyak genangan. Atau yang walaupun banyak genangan, tapi airnya tak berwarna hitam. 

Saya masih kesal. Kali ini saya kesal pada jalan itu. Mengapa jalan itu tak rata sehingga membuat air mudah tergenang di sana. O, juga kendaraan-kendaraan yang lewat itu. Mereka juga salah karena merekalah yang menyebabkan air genangan menjadi hitam dan berminyak sehingga noda di kaus kaki saya lebih kuat melekat. Tapi genangan itu juga tak akan ada jika tak ada hujan? Baiklah, kalau begitu biang keladinya adalah hujan. Ya. Hujan. Tapi ‘kan hujan juga tak akan turun jika Tuhan tak menghendaki. Iya, saya mulai bawa-bawa Tuhan. Baiklah, kalau begitu semua ini salah Tuhan. Gara-gara Dia, kaus kaki saya jadi hitam dan susah menjadi sebersih semula. Karena tak terlihat, menyalahkan Tuhan kadang jauh lebih mudah.

Tunggu. 

Gerakan tangan saya terhenti. 

Saya memandangi kaus kaki itu. Benda yang membungkus kedua kaki saya. Benda yang turut dalam perjalanan saya. Benda yang harus terkena genangan air kotor di sepanjang jalan yang saya pilih. Benda yang walaupun saya sudah tak lagi berada di jalan itu, tetap harus menyimpan jejak noda di tubuhnya akibat pilihan saya. Benda yang sekuat apapun upaya saya untuk membersihkannya tetap tak akan mengembalikannya seperti semula. Sebersih sediakala. Benda yang akan selalu mengingatkan saya pada jalan kotor yang pernah saya pilih setiap kali saya melihat sisa noda yang tak bisa hilang itu. 

Kaus kaki saya. 

Saya tiba-tiba merasa harus meminta maaf pada sepasang kaus kaki saya itu. Dan mungkin saya harus merawat rasa penyesalan ini demi mengingatkan saya untuk tak melakukan hal serupa.  

Saya kembali mencuci kaus kaki saya. Saya menambahkan detergen. Mengucek-nya lagi sambil meniru jargon iklan detergen itu, “Enggak ada noda, enggak belajar”. 

Kalimat jargon yang tak lebih dari sekadar kalimat penghibur diri. 


Depok, 15 Oktober 2016