Di suatu hari, sekira jam empat
sore lebih sedikit, aku sedang menunggu jadwal latihan teater. Baru aku saja aktor
yang sudah tiba di sekretariat teater. Teman-teman lain sesama aktor belum
datang.
Sutradaraku, seorang perempuan yang juga senior di jurusan, rupanya
sudah lebih dulu tiba. Ia sedang di ruang sebelah. Kami tak banyak bicara saat
berpapasan tadi.
Suasana tak nyaman selalu aku
rasakan jika hanya berdua saja dengannya. Rasa tak sukanya kepadaku membuat aku
selalu merasa terintimidasi. Karenanya, aku lebih sering menghindar. Wajar,
mungkin. Siapa yang akan suka pada junior yang dipacari lelaki yang mati-matian
kau cintai. Iya, junior itu adalah aku.
Begitulah yang kudengar. Sutradaraku
itu konon telah lebih dulu menyukai lelaki yang sebulan lalu sempat berpacaran
denganku. “Mungkin itu alasan dia sentimen sama kamu,” ujar seorang teman saat
memberi penjelasan. Mungkin saja. Tapi, manalah kutahu tentang perasaan beliau
kepada lelaki itu?
Sutradaraku tetap menunjukkan
rasa tak sukanya padaku kendati akhirnya dia tahu bahwa aku sudah putus karena
lelaki itu menghamili mantan pacarnya saat ia masih berpacaran denganku.
Oh, sampai di mana tadi?
Ah, ya. Sore itu, ya? Sore dengan
udara kering pergantian musim, matahari yang kelelahan bersinar
seharian, dan pohon alpukat yang daunnya nyaris habis dimakan ulat. Sore yang
sungguh tak menarik.
Aku sedang berbaring di kasur busa
usang di antara tumpukan peti kostum dan properti saat seseorang mengetuk pintu
ruang sekre. Sebetulnya, aku malas beranjak apalagi untuk menerima tamu. Namun,
tak ada orang lain di ruangan ini. Aku pun berjalan dan segera membuka pintu.
Seseorang berdiri di depan pintu.
Laki-laki. Cahaya matahari yang masih cukup silau menyorot dan membuatku harus menyipitkan
mata, tak bisa melihat dengan jelas. Setelah beberapa detik, aku bisa lebih
jelas melihat wajah lelaki itu.
Lelaki dengan perawakannya
tinggi, tegap, berkulit putih. Rambutnya ikal kecokelatan. Sorot matanya dalam
dan teduh. Ia segera tersenyum saat mulai berbicara. Dan itulah saat di mana aku merasa tak lagi bisa mendengar atau melakukan apapun selain tak berkedip
menatapnya.
Ia sangat tampan. Sangat tampan!
“Teh Ninanya ada?” tanya lelaki
itu. Rupanya lelaki itu mencari sutradaraku. Mungkin mereka berteman. Atau
mungkin lebih. Mendadak aku kecewa oleh alasan yang tidak
jelas. Aku segera mempertemukan dia dengan sutradaraku. Aku sama sekali tak berniat nimbrung. Your enemy’s friend is your
enemy, right?
Setelah setengah jam kemudian, belum
ada tanda-tanda bahwa teman-teman aktor lainnya akan datang ke sekre. Aku masih berbaring di kasur usang itu saat Teh Nina memanggil.
“Ya, Teh?” tanyaku sambil
berusaha mengabaikan lelaki tadi yang rupanya masih di sini. Rupanya dia tidak
datang sendiri. Sepertinya, yang seorang lagi adalah temannya. Aku merasa bersalah
karena baru menyadari keberadaan temannya itu.
“Kenalkan, ini Aji dan ini...(aku
lupa). Mereka pemusik kita. Mulai hari ini kita akan latihan sama tim musik.”
“Oh, iya, Teh.”
Eh, bagaimana?
Sore itu, setelah semua aktor
berkumpul, kami latihan bersama. Para pemusik itu memperhatikan kami dan aku tak
lagi memperhatikan salah satu di antara mereka karena perhatianku telah tertuju
pada tokoh yang kuperankan.
Baiklah. Kalian bisa menyimpulkan
bahwa aku baru saja jatuh cinta pada pandangan pertama. Sungguh sangat geli mengakui
hal itu pada siapapun termasuk pada kalian. Terasa norak. Tapi, kenorakan itu
tidak seberapa dibandingkan kenorakanku yang lain; sering kabur jika bertemu
orang yang disukai. Maka, jika kau adalah jenis orang yang semakin menyukai
seseorang semakin ingin sering bertemu, maka aku sebaliknya. Semakin aku
menyukai seseorang, semakin aku yakin bahwa kabur adalah tindakan yang tepat. You know you love that much when you can’t
bear the feeling. -_-
Jika demikian, mudah kalian tebak
bahwa pertemuan demi pertemuan tak terelakan semasa proses latihan adalah masa-masa paling menyiksa bagiku. Pada waktu istirahat, jika yang lain bisa dengan mudah
berbicara, bercanda, sampai peluk-pelukan saking mulai akrab, aku memilih kabur
ke kantin. Tak sekali dua kali aku gugup setengah mati ketika Aji menyapaku
walaupun hanya selewat. Iya benar, aku senorak itu.
Hari pertunjukan akhirnya tiba
dan selesai dengan cepat. Euforia pascapertunjukan juga sudah reda. Artinya,
semua segera kembali ke titik semula. Artinya, tak akan ada lagi latihan rutin.
Artinya, tak ada lagi tim pemusik. Artinya, tak ada lagi pertemuan-pertemuan
tak terelakan antara aku dan Aji.
Teman sekamarku di rumah indekost
sudah sejak awal bisa menebak. Apalagi kami memang seteater dan mengikuti
garapan di waktu yang sama meskipun untuk naskah yang berbeda. Tentu dia bisa
melihat perubahanku dari perempuan berekspresi datar menjadi perempuan gugupan.
Berminggu-minggu kemudian. “Terus
gimana atuh sekarang? Kan enggak bisa ketemu dia lagi.” Ujar
Desita. Teman sekamarku itu.
Kampret! Ia tak tahu bahwa
pertanyaan itu sudah lebih dulu kutanyakan pada diriku berminggu-minggu ini. Singkat
cerita, karena perasaan yang brengsek ini tidak bisa lagi kutanggung, suatu
hari akhirnya aku memutuskan untuk melakukan sesuatu. Aku mengiriminya pesan
singkat.
Isi pesan yang nanggung. Penuh isyarat yang sengaja
dibuat-buat agar ia mafhum maksudku. Sesuai perkiraanku, ia cukup cerdas
menangkap isyarat itu sehingga akhirnya mendesakku agar menemuinya di sebuah
taman dalam kampus.
Adegan selanjutnya sungguh sangat
Bollywood: taman sore hari, pohon besar yang rindang, angin yang lembut, hari
yang syahdu.
Hanya ada dia di taman itu. Oh, andai
bisa, ingin kutinggal saja jantungku di kamar agar tak segugup ini.
Aku berjalan. Berusaha tampak
biasa saja. Duduk di sampingnya. Setelah berbasa-basi, aku mulai bicara tentang
topik apapun secara acak. Dia yang lebih
banyak menyimak sejak tadi mulai merasa perbincangan ini semakin tak nampak
faedahnya, semakin jauh dari apa yang sudah ia duga tujuan awalnya.
“Sebenarnya kita bukan mau bicara
tentang ini, kan?” katanya tiba-tiba tanpa melihat ke arahku. Ia tampak mulai
kesal. Aku seketika diam.
Ia kemudian menghadapkan wajahnya
ke arahku. “Kenapa di SMS kamu bilang kamu ingin tapi takut ketemu aku? Itu kan yang mau kita bahas.”
Sebetulnya aku tak punya
persiapan matang untuk menerima todongan pertanyaan seperti ini. Tapi, aku
memang merasa harus bertanggung jawab atas apa yang kulakukan tadi,
mengiriminya SMS seperti itu. Aku merasa bodoh. Bingung. Rasanya aku mau pulang
saja.
Setelah “dipaksa” mengaku, aku
akhirnya memberitahu dia bahwa aku menyukainya.
“Sejak kapan?” tanyanya.
O, demi dewa langit senja yang merah,
mengapa kau tanyakan itu, wahai lelaki menyebalkan? Apa pentingnya? Aku
terpaksa menanggung malu ketika ia tersenyum-senyum saat kujawab bahwa aku
menyukainya sejak detik-detik awal pertemuan pertama kami.
“Kok enggak keliatan?” komentarnya. Masih sambil tersenyum.
Rasanya aku ingin meminjam senyuman
itu, lalu berpura-pura lupa mengembalikannya.
**
Sejak hari itu, kami menjalani
hubungan yang secara sepihak ia beri tajuk “mengenal lebih dekat”. Sebagai si
penaksir, aku merasa kudu nrimo
dengan status membingungkan itu. Ketika Desita bertanya apakah kami sudah resmi
berpacaran, aku cuma mengernyitkan dahi, menggelengan kepala sambil
menjelaskan ihwal tajuk itu. Temanku itu ikut bingung dan memberi komentar
dengan hati-hati, takut menyinggungku. “Mungkin maksudnya memang kalian
berpacaran, tapi dia gengsi bilangnya.” Well....
Hei, tapi aku tak keberatan!
Karena hari-hari selanjutnya adalah hari penuh roman-roman yang hanya akan kau
temukan di FTV. Pemandangan-pemandangan ala Bollywood kerap mewarnai perjalanan
proses “mengenal lebih dekat” itu. Ah, sungguh picisan sekaligus memabukkan. Sangat khas anak muda.
Dia lelaki yang baik. Sangat
baik. Lelaki yang akan melindungimu bahkan dari candaan bar-bar teman-temanmu.
Suatu waktu, Desita pernah melemparku dengan bantal saat kami sedang bercanda.
Bantal itu mengenai kepalaku. Sesuatu yang biasa kami lakukan terhadap satu sama lain. Namun,
Aji secepatnya menarikku. Mengusap-usap kepalaku sambil menegur temanku itu
untuk tidak melempar barang apapun ke kepalaku. Desita hanya bengong dan
meminta maaf sambil terkesima.
Suatu hari yang lain, Aji
memberitahuku bahwa ia akan datang terlambat malam Minggu ini karena ia harus
menjadi panitia sebuah acara di jurusannya. Aku tak keberatan. Bahkan, jika ia
tak datang pun aku bisa mengerti. Lagipula, selama ini ia tak pernah tak
menemuiku pada Sabtu malam. Jadi, jika sekali malam ini ia tak datang dengan
alasan yang masuk akal, kupikir tak apa. Tapi, ia bersikeras berkata bahwa ia
akan tetap datang.
Aku memang sudah berpakaian yang
pantas untuk keluar malam ini. Jaga-jaga jika dia memang datang. Tapi, sudah
lewat pukul sembilan malam, belum ada tanda-tanda kemunculannya. Kusimpulkan dia
memang masih sibuk dan benar-benar tak akan datang.
Aku baru sadar bahwa aku tertidur
saat suara ketukan di pintu membangunkanku. Aku segera membukanya. Dia datang.
Dia menepati kata-katanya.
Dia berulangkali meminta maaf dan
aku berulangkali meyakinkan bahwa aku sama sekali tak keberatan. Setelah ia
merasa yakin, ia menyodorkan bunga yang sedari tadi ia sembunyikan di belakang
tubuhnya.
Jika kau adalah perempuan, kau
pasti paham apa yang aku rasakan saat itu.
Akan tetapi, di sisi yang lain,
meskipun kedekatan kami sekarang sudah memenuhi semua kriteria untuk disebut
“berpacaran”, perkataan Aji di awal tentang status hubungan kami membuatku
terlalu berhati-hati dalam hubungan ini. Membuatku lebih sering cemas dan
selalu membayangkan hal terburuk agar selalu siap. Aku takut terlalu percaya
diri. Efeknya, perasaanku tak bisa lepas. Aku tak bisa menjadi diriku sendiri. Tak
bisa berkata sedih saat sebenarnya sedang bersedih. Tak bisa berkata kecewa
saat sebenarnya sangat kecewa. Semua selalu kubuat agar tampak sempurna.
Sungguh menyiksa.
**
Hari pertama di Palembang, aku
memilih untuk memasak saja. Sementara itu, teman-temanku mengikuti acara
pembukaan Jambore Teater Nasional di salah satu kampus negeri di sana. Klub
tetater kampus kami memang mengikuti Jambore itu. Aku menjadi salah satu aktor
dalam garapan tersebut.
Untuk menghemat biaya, kami
membawa sendiri bahan makanan bahkan beberapa alat masak agar tak perlu membeli
selama di sini. Agar adil, ketua produksi membuat jadwal piket masak. Tapi
malam ini secara sukarela aku meminta agar aku saja yang memasak. Tak perlu
ditemani.
Semua teman mungkin berpikir aku
telah melakukan perbuatan yang terpuji dengan merelakan diri memasak sementara
mereka akan dengan gembira mengikuti acara pembukaan. Tapi, buatku ini hanya
cara agar aku bisa menyendiri. Seharusnya
aku sebahagia dan sesemangat teman-teman lainnya dalam perjalanan dan acara
ini. Namun, bagiku tidak. Aku merasa tak bersemangat. Pikiran dan hatiku sedang
tak pada tempatnya.
Sudah lebih dari dua minggu aku
tak bertemu Aji. Ini akan menjadi hal yang biasa saja jika aku tak merasa bahwa dia mulai menunjukkan gelagat
membuat jarak denganku. Kami semakin jarang berkomunikasi setelah pesan-pesanku
lebih sering dijawab seadanya. Aku menangkap kesan bahwa ia tak ingin diganggu.
Selama di Palembang, aku lebih
banyak diam.
**
Sore berangin dengan udara yang
kering seperti ini mengingatkanku pada hari saat Aji muncul untuk pertama
kalinya. Kenyataan bahwa sekarang aku sedang duduk di dekat jendela sekre
teater ini pun semakin menguatkan ingatanku. Ke mana saja dia?
Sudah sepekan setelah aku kembali
dari Palembang. Belum ada gelagat ia akan menghubungi apalagi menemuiku.
Sementara itu, kesibukan di teater belum reda. Bahkan ketika masih di Palembang
ketua teater kami sudah mengabari bahwa kemungkinan besar kami akan mengikuti
festival teater di Yogyakarta. Aku menanggapi dingin kabar itu. Bagiku tak
penting apakah aku akan dilibatkan lagi atau tidak. Jikapun aku tak diikutkan untuk
pertunjukkan berikutnya nanti, itu tak akan membuatku kecewa. Tidak ada yang
lebih menganggu bagiku saat ini selain pertanyaanku tentang nasib hubunganku
dengan Aji.
Aku mengenggam HP.
Menimbang-nimbang keberanianku untuk mengirim pesan duluan, setidaknya untuk
bertanya kabar. Sekata dua kata kuketik, lalu kuhapus lagi. Sekata dua kata
kuketik, kutimbang patut tak patutnya, lalu kuhapus lagi. Sepertinya akan
kuurungkan saja. Tapi, akan kucoba lagi.
Belum lagi selesai aku memikirkan
apa yang harus kuketik, suara seseorang mengejutkanku.
“Mau meng-SMS siapa?” katanya
sambil tersenyum.
“Ha?” air mukaku berubah. Pemilik
suara itu begitu kukenal meskipun sudah cukup lama tak kulihat.
“Ji, sejak kapan berdiri di
situ??” tanyaku gugup.
“Sejak tadi. Kamu enggak sadar,
ya? Serius amat sih ngetiknya. Hmm,
buat siapa, hayo?” katanya menggodaku.
Ah, senyum itu, ke mana saja
selama ini?
Dia mendekatiku yang masih duduk
di dekat jendela. Ia menanyakan kabarku. Kujawab singkat karena tak sabar ingin
bertanya hal yang sama kepadanya. Ia menjelaskan bahwa ia memang sedang sibuk karena
ada mata kuliah yang sulit. Aku menunjukkan wajah lega sebagaimana orang pada
umumnya saat menerima kabar yang melegakan. Namun, sebenarnya sama sekali aku
tidak mampu menangkap kesan bahwa penjelasan itu adalah sesuatu yang memang
sebenarnya terjadi.
Tak apa. Yang penting saat ini
aku tak lagi perlu mengetik SMS dan menghapusnya kembali.
Kami berbincang ringan sore itu.
Aku menahan diri untuk tak banyak bertanya apalagi menunjukkan sikap protes
karena ia “menghilang” beberapa minggu lalu. Aku pikir, segini pun sudah cukup
mengobati.
Namun, setelah pertemuan itu, aku
tak merasa lega. Pertemuan itu seperti pertanda buruk. Meskipun begitu, aku menyimpan
pikiran itu, tak kubesar-besarkan, sambil berharap semoga itu hanya kecemasanku
yang berlebihan saja.
**
Sutradara untuk pertunjukan di
Yogya akhirnya memilih aku sebagai pemeran utama. Secara konsep pertunjukan,
aku suka. Walaupun rasanya konsep itu masih mentah. Namun, aku yang masih anak
bawang saat itu belum merasa punya ilmu untuk mengkritiknya. Latihan demi
latihan sudah mulai dilaksanakan. Tapi, suatu hari, aku bertengkar dengan
sutradaraku. Sutradara sekaligus ketua teater kami saat itu memarahiku dan
beberapa temanku untuk sesuatu yang salah ia pahami. Penjelasanku tak didengarnya
baik-baik. Akhirnya aku marah dan itu membuatnya tersinggung. Kami bertengkar hebat hingga akhirnya aku menyatakan mundur
dari garapan itu.
Akan tetapi, setelah pertengkaran
kami reda beberapa hari selanjutnya, aku diminta untuk menjadi penata make up
dan kostum untuk pertunjukan itu.
Semakin dekat hari keberangkatan
ke Jogja, aku semakin sibuk. Dan aku menemukan pola yang sama dengan saat
menjelang keberangkatan ke Palembang: ia menjarak lagi dariku. Tak ada kabar.
Sama sekali tak ada. Di sisi lain, aku sudah semakin tahu diri dan merasa harus
membiarkan saja sikapnya itu.
Tiga jam sebelum kami berangkat
ke Jogja, semua kebutuhan pertunjukan sudah kami siapkan. Kami tinggal menunggu
bus carteran. Rencananya, kami akan berangkat selepas magrib.
Aku diam saja sedari tadi. Aku
tahu, keberangkatan kali ini pun akan terjadi seperti saat ke Palembang.
Kepergian dengan membawa kebingungan, kekosongan.
“Hai, Lis. Ada waktu untuk ketemu
sebentar? Aku mau bicara.”
Sebuah pesan darinya datang
begitu saja ke kotak pesanku. Aku terkejut. Jadi, keberangkatan kali ini tak
akan sama dengan keberangkatan sebelumnya? Perasaanku tak enak.
Kami bertemu di rumah indekostku.
Mulanya, kami hanya diam saja.
Aku sedikit tegang karena aku dikejar waktu keberangkatan. Aku memberanikan
diri bertanya apa yang sebenarnya ingin ia bicarakan.
“...aku tidak yakin dengan
perasaan aku. Sepertinya, sebaiknya kita putus..” katanya dengan sangat
hati-hati.
“Ooo, gitu. Oke..” aku tersenyum. Menunggu kalimat selanjutnya.
“Kamu enggak marah? Kenapa? Kamu marah aja.
Kalau kamu biasa begini, aku jadi bingung dan makin merasa bersalah.”
Aku tersenyum saja. Kukatakan
padanya bahwa semua yang bisa ia bayangkan tentang responku saat mendengar
kalimatnya itu telah aku lakukan jauh-jauh hari yang lalu. Menangis, bingung,
menangis lagi. Semua sudah kuhabiskan. “Nah, jadi, sekarang enggak perlu bingung, ya.” Kataku dengan
tenang.
Aji terdiam.
Setelah ketegangan mereda, dia
pamit. Sebelum pergi, ia sempat menutup pertemuan kami dengan pertanyaan
basa-basi “Oya, kapan kalian ke Jogja?”
“Sore ini,” jawabku.
Aku menangkap raut terkejut di
wajahnya. Mungkin, ia merasa bersalah karena telah menciptakan situasi yang
buruk di hari pentingku ini. “Hati-hati, ya.” Katanya dengan suara pelan. Aku mengangguk,
tersenyum sambil mengusap-usap punggungnya. Tentu, aku tak akan memberitahunya
bahwa hari buruk itu sudah ia ciptakan jauh beberapa minggu sebelum hari ini.
Setelah Aji pergi, aku butuh waktu sendirian sebelum kembali ke kampus. Aku tidak menangis, tidak marah, tidak kesal. Justru, rasanya saat ini seperti ada beban berat yang terangkat dari punggungku.
Aku merasa lega. Merasa ringan.
Oh, bukan..
Aku merasa hampa. Merasa kosong.
Bus carteran kami telah tiba. Aku sedikit terlambat naik ke dalam bus. Di sana, Desita menyambutku dengan wajah tegang. Sepertinya dia sudah menduga apa yang baru saja terjadi padaku. Aku segera memeluknya. Rupanya, aku masih punya sisa tangis yang harus segera kubuang sebelum berubah menjadi racun.
Aku merasa lega. Merasa ringan.
Oh, bukan..
Aku merasa hampa. Merasa kosong.
Bus carteran kami telah tiba. Aku sedikit terlambat naik ke dalam bus. Di sana, Desita menyambutku dengan wajah tegang. Sepertinya dia sudah menduga apa yang baru saja terjadi padaku. Aku segera memeluknya. Rupanya, aku masih punya sisa tangis yang harus segera kubuang sebelum berubah menjadi racun.
Dan malam itu, aku tak lagi bisa
membedakan, apakah aku sedang melakukan perjalanan dari Bandung menuju Jogja
ataukah perjalanan dari ada menjadi tiada.
**
Begitulah ceritanya.
Yang menarik buatku adalah bagaimana
aku masih bisa mengingat dan merasakan semua peristiwa itu dengan sangat baik. Aku
bukan tipe orang yang rapi menyimpan masa lalu. Masa lalu adalah masa lalu. Tak
lebih.
Aku memang sama sekali tak ada
urusan lagi dengannya. Pertemuan saat itu benar-benar pertemuan terakhir. Selama tiga tahun selanjutnya, kami bahkan tak pernah berpapasan meskipun sekampus. Hingga lulus S1. Hingga kini.
Sudah tiga belas tahun kami tak pernah bertemu lagi dan tak ada yang menyedihkan dengan hal itu. Ujung kisah itu sudah jelas titiknya dan sejak itu pula sudah kuputuskan bahwa tak ada yang perlu diperpanjang kecuali ingatan itu sendiri. Ia tak lebih dari sepenggal alinea dari sebuah kisah lampau.
Sudah tiga belas tahun kami tak pernah bertemu lagi dan tak ada yang menyedihkan dengan hal itu. Ujung kisah itu sudah jelas titiknya dan sejak itu pula sudah kuputuskan bahwa tak ada yang perlu diperpanjang kecuali ingatan itu sendiri.
Tapi, mengapa ingatanku tentang
rasa gugup, bahagia, bingung, dan sedih tentang pengalaman yang satu ini masih
terasa segar kendati sudah lama terjadi? Aku seperti tanpa sadar telah merawat
perasaan-perasaan itu. Seperti ada sisi diriku yang berkata, “Mari simpan yang
satu ini untuk kita ingat sambil tersenyum kelak tua nanti.” Iya, sepertinya
demikian. Tak lebih.
Namun, ada hal yang sedikit lucu
dan aneh. Beberapa hari lalu akunnya di media sosial. Awalnya, meskipun itu
memang akunnya, tapi si aku dari masa lalu meyakinkanku bahwa lelaki di media
sosial itu bukanlah lelaki yang pernah bersamaku dulu. Aku setuju dan mengerti
maksudnya. Si aku itupun mencegah diriku terlalu lama melihat-lihat foto
terbarunya itu. Ya, benar, itu memang bukan Aji yang dulu kukenal.
Namun, di waktu-waktu lain, aku iseng kembali membuka akun itu. Kuperhatikan satu persatu foto terbarunya. Kulihat lebih lama. Tiba-tiba, aku merasa kehilangan.
Namun, di waktu-waktu lain, aku iseng kembali membuka akun itu. Kuperhatikan satu persatu foto terbarunya. Kulihat lebih lama. Tiba-tiba, aku merasa kehilangan.
Foto-foto itu seperti sedang
berusaha membangunkanku dari ingatan-ingatan silam yang sengaja kusimpan untuk
merawat perasaan-perasaan yang pernah menyertainya. Saat melihat foto itu, aku
seperti dihadapkan pada kenyataan bahwa sesuatu yang lampau juga adalah sesuatu
yang kini meskipun berbeda karena waktu telah banyak mengubahnya. Aku merasa
sedih. Aku merasa realitas telah merampas salah satu hartaku yang kelak
berharga di hari tua: kenangan.
Aku menjadi sadar bahwa
seberapapun manis atau pahitnya masa lalu, kelak ingatan itu akan tetap menjadi suatu hal yang berharga. Terlepas dari apakah ingatan itu akan tetap
terasa manis atau pahit saat dikenang kembali kelak. Bagiku sendiri, ingatan tentang
masa-masa bersamanya yang singkat itu adalah sesuatu yang sangat manis dengan sedikit rasa pahit yang menjadikannya lebih bermakna.
Kelak, mungkin aku akan
mengingatnya sambil menunggu anakku pulang setelah sebelumnya pamit sebentar
untuk keluar dengan pacarnya.
Atau mungkin aku akan menceritakannya
kepada cucu perempuanku yang sedang merasa bimbang karena cinta pertamanya.
Siapa yang tahu, bukan? Karena
masa lalu adalah harta terakhir yang kita punya di hari tua.
***
P.S.
Hei, Ji.
If only you read
this, I will thank you for all moments we had shared together.
Be happy and I
believe you are. :)