Sabtu, 05 Mei 2018

Lelaki Lampau

Sebut saja namanya Aji.   

Di suatu hari, sekira jam empat sore lebih sedikit, aku sedang menunggu jadwal latihan teater. Baru aku saja aktor yang sudah tiba di sekretariat teater. Teman-teman lain sesama aktor belum datang. 

Sutradaraku, seorang perempuan yang juga senior di jurusan, rupanya sudah lebih dulu tiba. Ia sedang di ruang sebelah. Kami tak banyak bicara saat berpapasan tadi.

Suasana tak nyaman selalu aku rasakan jika hanya berdua saja dengannya. Rasa tak sukanya kepadaku membuat aku selalu merasa terintimidasi. Karenanya, aku lebih sering menghindar. Wajar, mungkin. Siapa yang akan suka pada junior yang dipacari lelaki yang mati-matian kau cintai. Iya, junior itu adalah aku.

Begitulah yang kudengar. Sutradaraku itu konon telah lebih dulu menyukai lelaki yang sebulan lalu sempat berpacaran denganku. “Mungkin itu alasan dia sentimen sama kamu,” ujar seorang teman saat memberi penjelasan. Mungkin saja. Tapi, manalah kutahu tentang perasaan beliau kepada lelaki itu?  

Sutradaraku tetap menunjukkan rasa tak sukanya padaku kendati akhirnya dia tahu bahwa aku sudah putus karena lelaki itu menghamili mantan pacarnya saat ia masih berpacaran denganku.

Oh, sampai di mana tadi?

Ah, ya. Sore itu, ya? Sore dengan udara kering pergantian musim, matahari yang kelelahan bersinar seharian, dan pohon alpukat yang daunnya nyaris habis dimakan ulat. Sore yang sungguh tak menarik.

Aku sedang berbaring di kasur busa usang di antara tumpukan peti kostum dan properti saat seseorang mengetuk pintu ruang sekre. Sebetulnya, aku malas beranjak apalagi untuk menerima tamu. Namun, tak ada orang lain di ruangan ini. Aku pun berjalan dan segera membuka pintu.

Seseorang berdiri di depan pintu. Laki-laki. Cahaya matahari yang masih cukup silau menyorot dan membuatku harus menyipitkan mata, tak bisa melihat dengan jelas. Setelah beberapa detik, aku bisa lebih jelas melihat wajah lelaki itu.

Lelaki dengan perawakannya tinggi, tegap, berkulit putih. Rambutnya ikal kecokelatan. Sorot matanya dalam dan teduh. Ia segera tersenyum saat mulai berbicara. Dan itulah saat di mana aku merasa tak lagi bisa mendengar atau melakukan apapun selain tak berkedip menatapnya.

Ia sangat tampan. Sangat tampan!

“Teh Ninanya ada?” tanya lelaki itu. Rupanya lelaki itu mencari sutradaraku. Mungkin mereka berteman. Atau mungkin lebih.  Mendadak aku kecewa oleh alasan yang tidak jelas. Aku segera mempertemukan dia dengan sutradaraku. Aku sama sekali tak berniat nimbrung. Your enemy’s friend is your enemy, right?

Setelah setengah jam kemudian, belum ada tanda-tanda bahwa teman-teman aktor lainnya akan datang ke sekre. Aku masih berbaring di kasur usang itu saat Teh Nina memanggil.

“Ya, Teh?” tanyaku sambil berusaha mengabaikan lelaki tadi yang rupanya masih di sini. Rupanya dia tidak datang sendiri. Sepertinya, yang seorang lagi adalah temannya. Aku merasa bersalah karena baru menyadari keberadaan temannya itu.

“Kenalkan, ini Aji dan ini...(aku lupa). Mereka pemusik kita. Mulai hari ini kita akan latihan sama tim musik.”

“Oh, iya, Teh.”

Eh, bagaimana?  

Sore itu, setelah semua aktor berkumpul, kami latihan bersama. Para pemusik itu memperhatikan kami dan aku tak lagi memperhatikan salah satu di antara mereka karena perhatianku telah tertuju pada tokoh yang kuperankan.

Baiklah. Kalian bisa menyimpulkan bahwa aku baru saja jatuh cinta pada pandangan pertama. Sungguh sangat geli mengakui hal itu pada siapapun termasuk pada kalian. Terasa norak. Tapi, kenorakan itu tidak seberapa dibandingkan kenorakanku yang lain; sering kabur jika bertemu orang yang disukai. Maka, jika kau adalah jenis orang yang semakin menyukai seseorang semakin ingin sering bertemu, maka aku sebaliknya. Semakin aku menyukai seseorang, semakin aku yakin bahwa kabur adalah tindakan yang tepat. You know you love that much when you can’t bear the feeling.  -_-

Jika demikian, mudah kalian tebak bahwa pertemuan demi pertemuan tak terelakan semasa proses latihan adalah masa-masa paling menyiksa bagiku. Pada waktu istirahat, jika yang lain bisa dengan mudah berbicara, bercanda, sampai peluk-pelukan saking mulai akrab, aku memilih kabur ke kantin. Tak sekali dua kali aku gugup setengah mati ketika Aji menyapaku walaupun hanya selewat. Iya benar, aku senorak itu.

Hari pertunjukan akhirnya tiba dan selesai dengan cepat. Euforia pascapertunjukan juga sudah reda. Artinya, semua segera kembali ke titik semula. Artinya, tak akan ada lagi latihan rutin. Artinya, tak ada lagi tim pemusik. Artinya, tak ada lagi pertemuan-pertemuan tak terelakan antara aku dan Aji.

Teman sekamarku di rumah indekost sudah sejak awal bisa menebak. Apalagi kami memang seteater dan mengikuti garapan di waktu yang sama meskipun untuk naskah yang berbeda. Tentu dia bisa melihat perubahanku dari perempuan berekspresi datar menjadi perempuan gugupan.

Berminggu-minggu kemudian. “Terus gimana atuh sekarang? Kan enggak bisa ketemu dia lagi.” Ujar Desita. Teman sekamarku itu.

Kampret! Ia tak tahu bahwa pertanyaan itu sudah lebih dulu kutanyakan pada diriku berminggu-minggu ini. Singkat cerita, karena perasaan yang brengsek ini tidak bisa lagi kutanggung, suatu hari akhirnya aku memutuskan untuk melakukan sesuatu. Aku mengiriminya pesan singkat.

Isi pesan yang nanggung. Penuh isyarat yang sengaja dibuat-buat agar ia mafhum maksudku. Sesuai perkiraanku, ia cukup cerdas menangkap isyarat itu sehingga akhirnya mendesakku agar menemuinya di sebuah taman dalam kampus.

Adegan selanjutnya sungguh sangat Bollywood: taman sore hari, pohon besar yang rindang, angin yang lembut, hari yang syahdu.

Hanya ada dia di taman itu. Oh, andai bisa, ingin kutinggal saja jantungku di kamar agar tak segugup ini.

Aku berjalan. Berusaha tampak biasa saja. Duduk di sampingnya. Setelah berbasa-basi, aku mulai bicara tentang topik apapun secara acak.  Dia yang lebih banyak menyimak sejak tadi mulai merasa perbincangan ini semakin tak nampak faedahnya, semakin jauh dari apa yang sudah ia duga tujuan awalnya.

“Sebenarnya kita bukan mau bicara tentang ini, kan?” katanya tiba-tiba tanpa melihat ke arahku. Ia tampak mulai kesal. Aku seketika diam.

Ia kemudian menghadapkan wajahnya ke arahku. “Kenapa di SMS kamu bilang kamu ingin tapi takut ketemu aku? Itu kan yang mau kita bahas.”

Sebetulnya aku tak punya persiapan matang untuk menerima todongan pertanyaan seperti ini. Tapi, aku memang merasa harus bertanggung jawab atas apa yang kulakukan tadi, mengiriminya SMS seperti itu. Aku merasa bodoh. Bingung. Rasanya aku mau pulang saja. 

Setelah “dipaksa” mengaku, aku akhirnya memberitahu dia bahwa aku menyukainya.

“Sejak kapan?” tanyanya.

O, demi dewa langit senja yang merah, mengapa kau tanyakan itu, wahai lelaki menyebalkan? Apa pentingnya? Aku terpaksa menanggung malu ketika ia tersenyum-senyum saat kujawab bahwa aku menyukainya sejak detik-detik awal pertemuan pertama kami.

“Kok enggak keliatan?” komentarnya. Masih sambil tersenyum.

Rasanya aku ingin meminjam senyuman itu, lalu berpura-pura lupa mengembalikannya.

**

Sejak hari itu, kami menjalani hubungan yang secara sepihak ia beri tajuk “mengenal lebih dekat”. Sebagai si penaksir, aku merasa kudu nrimo dengan status membingungkan itu. Ketika Desita bertanya apakah kami sudah resmi berpacaran, aku cuma mengernyitkan dahi, menggelengan kepala sambil menjelaskan ihwal tajuk itu. Temanku itu ikut bingung dan memberi komentar dengan hati-hati, takut menyinggungku. “Mungkin maksudnya memang kalian berpacaran, tapi dia gengsi bilangnya.” Well....

Hei, tapi aku tak keberatan! Karena hari-hari selanjutnya adalah hari penuh roman-roman yang hanya akan kau temukan di FTV. Pemandangan-pemandangan ala Bollywood kerap mewarnai perjalanan proses “mengenal lebih dekat” itu. Ah, sungguh picisan sekaligus memabukkan. Sangat khas anak muda.

Dia lelaki yang baik. Sangat baik. Lelaki yang akan melindungimu bahkan dari candaan bar-bar teman-temanmu. Suatu waktu, Desita pernah melemparku dengan bantal saat kami sedang bercanda. Bantal itu mengenai kepalaku. Sesuatu yang biasa kami lakukan terhadap satu sama lain. Namun, Aji secepatnya menarikku. Mengusap-usap kepalaku sambil menegur temanku itu untuk tidak melempar barang apapun ke kepalaku. Desita hanya bengong dan meminta maaf sambil terkesima.  

Suatu hari yang lain, Aji memberitahuku bahwa ia akan datang terlambat malam Minggu ini karena ia harus menjadi panitia sebuah acara di jurusannya. Aku tak keberatan. Bahkan, jika ia tak datang pun aku bisa mengerti. Lagipula, selama ini ia tak pernah tak menemuiku pada Sabtu malam. Jadi, jika sekali malam ini ia tak datang dengan alasan yang masuk akal, kupikir tak apa. Tapi, ia bersikeras berkata bahwa ia akan tetap datang.

Aku memang sudah berpakaian yang pantas untuk keluar malam ini. Jaga-jaga jika dia memang datang. Tapi, sudah lewat pukul sembilan malam, belum ada tanda-tanda kemunculannya. Kusimpulkan dia memang masih sibuk dan benar-benar tak akan datang.

Aku baru sadar bahwa aku tertidur saat suara ketukan di pintu membangunkanku. Aku segera membukanya. Dia datang. Dia menepati kata-katanya.

Dia berulangkali meminta maaf dan aku berulangkali meyakinkan bahwa aku sama sekali tak keberatan. Setelah ia merasa yakin, ia menyodorkan bunga yang sedari tadi ia sembunyikan di belakang tubuhnya.

Jika kau adalah perempuan, kau pasti paham apa yang aku rasakan saat itu.

Akan tetapi, di sisi yang lain, meskipun kedekatan kami sekarang sudah memenuhi semua kriteria untuk disebut “berpacaran”, perkataan Aji di awal tentang status hubungan kami membuatku terlalu berhati-hati dalam hubungan ini. Membuatku lebih sering cemas dan selalu membayangkan hal terburuk agar selalu siap. Aku takut terlalu percaya diri. Efeknya, perasaanku tak bisa lepas. Aku tak bisa menjadi diriku sendiri. Tak bisa berkata sedih saat sebenarnya sedang bersedih. Tak bisa berkata kecewa saat sebenarnya sangat kecewa. Semua selalu kubuat agar tampak sempurna. Sungguh menyiksa.

**

Hari pertama di Palembang, aku memilih untuk memasak saja. Sementara itu, teman-temanku mengikuti acara pembukaan Jambore Teater Nasional di salah satu kampus negeri di sana. Klub tetater kampus kami memang mengikuti Jambore itu. Aku menjadi salah satu aktor dalam garapan tersebut.

Untuk menghemat biaya, kami membawa sendiri bahan makanan bahkan beberapa alat masak agar tak perlu membeli selama di sini. Agar adil, ketua produksi membuat jadwal piket masak. Tapi malam ini secara sukarela aku meminta agar aku saja yang memasak. Tak perlu ditemani.

Semua teman mungkin berpikir aku telah melakukan perbuatan yang terpuji dengan merelakan diri memasak sementara mereka akan dengan gembira mengikuti acara pembukaan. Tapi, buatku ini hanya cara agar aku bisa menyendiri.  Seharusnya aku sebahagia dan sesemangat teman-teman lainnya dalam perjalanan dan acara ini. Namun, bagiku tidak. Aku merasa tak bersemangat. Pikiran dan hatiku sedang tak pada tempatnya.  

Sudah lebih dari dua minggu aku tak bertemu Aji. Ini akan menjadi hal yang biasa saja jika aku tak  merasa bahwa dia mulai menunjukkan gelagat membuat jarak denganku. Kami semakin jarang berkomunikasi setelah pesan-pesanku lebih sering dijawab seadanya. Aku menangkap kesan bahwa ia tak ingin diganggu.

Selama di Palembang, aku lebih banyak diam.

**

Sore berangin dengan udara yang kering seperti ini mengingatkanku pada hari saat Aji muncul untuk pertama kalinya. Kenyataan bahwa sekarang aku sedang duduk di dekat jendela sekre teater ini pun semakin menguatkan ingatanku. Ke mana saja dia?

Sudah sepekan setelah aku kembali dari Palembang. Belum ada gelagat ia akan menghubungi apalagi menemuiku. Sementara itu, kesibukan di teater belum reda. Bahkan ketika masih di Palembang ketua teater kami sudah mengabari bahwa kemungkinan besar kami akan mengikuti festival teater di Yogyakarta. Aku menanggapi dingin kabar itu. Bagiku tak penting apakah aku akan dilibatkan lagi atau tidak. Jikapun aku tak diikutkan untuk pertunjukkan berikutnya nanti, itu tak akan membuatku kecewa. Tidak ada yang lebih menganggu bagiku saat ini selain pertanyaanku tentang nasib hubunganku dengan Aji.

Aku mengenggam HP. Menimbang-nimbang keberanianku untuk mengirim pesan duluan, setidaknya untuk bertanya kabar. Sekata dua kata kuketik, lalu kuhapus lagi. Sekata dua kata kuketik, kutimbang patut tak patutnya, lalu kuhapus lagi. Sepertinya akan kuurungkan saja. Tapi, akan kucoba lagi.
Belum lagi selesai aku memikirkan apa yang harus kuketik, suara seseorang mengejutkanku.

“Mau meng-SMS siapa?” katanya sambil tersenyum.

“Ha?” air mukaku berubah. Pemilik suara itu begitu kukenal meskipun sudah cukup lama tak kulihat.

“Ji, sejak kapan berdiri di situ??” tanyaku gugup.

“Sejak tadi. Kamu enggak sadar, ya? Serius amat sih ngetiknya. Hmm, buat siapa, hayo?” katanya menggodaku.

Ah, senyum itu, ke mana saja selama ini?

Dia mendekatiku yang masih duduk di dekat jendela. Ia menanyakan kabarku. Kujawab singkat karena tak sabar ingin bertanya hal yang sama kepadanya. Ia menjelaskan bahwa ia memang sedang sibuk karena ada mata kuliah yang sulit. Aku menunjukkan wajah lega sebagaimana orang pada umumnya saat menerima kabar yang melegakan. Namun, sebenarnya sama sekali aku tidak mampu menangkap kesan bahwa penjelasan itu adalah sesuatu yang memang sebenarnya terjadi.

Tak apa. Yang penting saat ini aku tak lagi perlu mengetik SMS dan menghapusnya kembali.

Kami berbincang ringan sore itu. Aku menahan diri untuk tak banyak bertanya apalagi menunjukkan sikap protes karena ia “menghilang” beberapa minggu lalu. Aku pikir, segini pun sudah cukup mengobati.

Namun, setelah pertemuan itu, aku tak merasa lega. Pertemuan itu seperti pertanda buruk. Meskipun begitu, aku menyimpan pikiran itu, tak kubesar-besarkan, sambil berharap semoga itu hanya kecemasanku yang berlebihan saja.

**

Sutradara untuk pertunjukan di Yogya akhirnya memilih aku sebagai pemeran utama. Secara konsep pertunjukan, aku suka. Walaupun rasanya konsep itu masih mentah. Namun, aku yang masih anak bawang saat itu belum merasa punya ilmu untuk mengkritiknya. Latihan demi latihan sudah mulai dilaksanakan. Tapi, suatu hari, aku bertengkar dengan sutradaraku. Sutradara sekaligus ketua teater kami saat itu memarahiku dan beberapa temanku untuk sesuatu yang salah ia pahami. Penjelasanku tak didengarnya baik-baik. Akhirnya aku marah dan itu membuatnya tersinggung. Kami bertengkar  hebat hingga akhirnya aku menyatakan mundur dari garapan itu.

Akan tetapi, setelah pertengkaran kami reda beberapa hari selanjutnya, aku diminta untuk menjadi penata make up dan kostum untuk pertunjukan itu.

Semakin dekat hari keberangkatan ke Jogja, aku semakin sibuk. Dan aku menemukan pola yang sama dengan saat menjelang keberangkatan ke Palembang: ia menjarak lagi dariku. Tak ada kabar. Sama sekali tak ada. Di sisi lain, aku sudah semakin tahu diri dan merasa harus membiarkan saja sikapnya itu.

Tiga jam sebelum kami berangkat ke Jogja, semua kebutuhan pertunjukan sudah kami siapkan. Kami tinggal menunggu bus carteran. Rencananya, kami akan berangkat selepas magrib.

Aku diam saja sedari tadi. Aku tahu, keberangkatan kali ini pun akan terjadi seperti saat ke Palembang. Kepergian dengan membawa kebingungan, kekosongan.

“Hai, Lis. Ada waktu untuk ketemu sebentar? Aku mau bicara.”

Sebuah pesan darinya datang begitu saja ke kotak pesanku. Aku terkejut. Jadi, keberangkatan kali ini tak akan sama dengan keberangkatan sebelumnya? Perasaanku tak enak.

Kami bertemu di rumah indekostku.

Mulanya, kami hanya diam saja. Aku sedikit tegang karena aku dikejar waktu keberangkatan. Aku memberanikan diri bertanya apa yang sebenarnya ingin ia bicarakan.

“...aku tidak yakin dengan perasaan aku. Sepertinya, sebaiknya kita putus..” katanya dengan sangat hati-hati.

“Ooo, gitu. Oke..” aku tersenyum. Menunggu kalimat selanjutnya.

“Kamu enggak marah? Kenapa? Kamu marah aja. Kalau kamu biasa begini, aku jadi bingung dan makin merasa bersalah.”

Aku tersenyum saja. Kukatakan padanya bahwa semua yang bisa ia bayangkan tentang responku saat mendengar kalimatnya itu telah aku lakukan jauh-jauh hari yang lalu. Menangis, bingung, menangis lagi. Semua sudah kuhabiskan. “Nah, jadi, sekarang enggak perlu bingung, ya.” Kataku dengan tenang.

Aji terdiam.

Setelah ketegangan mereda, dia pamit. Sebelum pergi, ia sempat menutup pertemuan kami dengan pertanyaan basa-basi “Oya, kapan kalian ke Jogja?”

“Sore ini,” jawabku.

Aku menangkap raut terkejut di wajahnya. Mungkin, ia merasa bersalah karena telah menciptakan situasi yang buruk di hari pentingku ini. “Hati-hati, ya.” Katanya dengan suara pelan. Aku mengangguk, tersenyum sambil mengusap-usap punggungnya. Tentu, aku tak akan memberitahunya bahwa hari buruk itu sudah ia ciptakan jauh beberapa minggu sebelum hari ini.

Setelah Aji pergi, aku butuh waktu sendirian sebelum kembali ke kampus. Aku tidak menangis, tidak marah, tidak kesal. Justru, rasanya saat ini seperti ada beban berat yang terangkat dari punggungku. 

Aku merasa lega. Merasa ringan. 
Oh, bukan..
Aku merasa hampa. Merasa kosong.

Bus carteran kami telah tiba. Aku sedikit terlambat naik ke dalam bus. Di sana, Desita menyambutku dengan wajah tegang. Sepertinya dia sudah menduga apa yang baru saja terjadi padaku. Aku segera memeluknya. Rupanya, aku masih punya sisa tangis yang harus segera kubuang sebelum berubah menjadi racun.

Dan malam itu, aku tak lagi bisa membedakan, apakah aku sedang melakukan perjalanan dari Bandung menuju Jogja ataukah perjalanan dari ada menjadi tiada.

**

Begitulah ceritanya.

Yang menarik buatku adalah bagaimana aku masih bisa mengingat dan merasakan semua peristiwa itu dengan sangat baik. Aku bukan tipe orang yang rapi menyimpan masa lalu. Masa lalu adalah masa lalu. Tak lebih.

Aku memang sama sekali tak ada urusan lagi dengannya. Pertemuan saat itu benar-benar pertemuan terakhir. Selama tiga tahun selanjutnya, kami bahkan tak pernah berpapasan meskipun sekampus. Hingga lulus S1. Hingga kini. 

Sudah tiga belas tahun kami tak pernah bertemu lagi dan tak ada yang menyedihkan dengan hal itu. Ujung kisah itu sudah jelas titiknya dan sejak itu pula sudah kuputuskan bahwa tak ada yang perlu diperpanjang kecuali ingatan itu sendiri. Ia tak lebih dari sepenggal alinea dari sebuah kisah lampau. 

Tapi, mengapa ingatanku tentang rasa gugup, bahagia, bingung, dan sedih tentang pengalaman yang satu ini masih terasa segar kendati sudah lama terjadi? Aku seperti tanpa sadar telah merawat perasaan-perasaan itu. Seperti ada sisi diriku yang berkata, “Mari simpan yang satu ini untuk kita ingat sambil tersenyum kelak tua nanti.” Iya, sepertinya demikian. Tak lebih.

Namun, ada hal yang sedikit lucu dan aneh. Beberapa hari lalu akunnya di media sosial. Awalnya, meskipun itu memang akunnya, tapi si aku dari masa lalu meyakinkanku bahwa lelaki di media sosial itu bukanlah lelaki yang pernah bersamaku dulu. Aku setuju dan mengerti maksudnya. Si aku itupun mencegah diriku terlalu lama melihat-lihat foto terbarunya itu. Ya, benar, itu memang bukan Aji yang dulu kukenal. 

Namun, di waktu-waktu lain, aku iseng kembali membuka akun itu. Kuperhatikan satu persatu foto terbarunya. Kulihat lebih lama. Tiba-tiba, aku merasa kehilangan.

Foto-foto itu seperti sedang berusaha membangunkanku dari ingatan-ingatan silam yang sengaja kusimpan untuk merawat perasaan-perasaan yang pernah menyertainya. Saat melihat foto itu, aku seperti dihadapkan pada kenyataan bahwa sesuatu yang lampau juga adalah sesuatu yang kini meskipun berbeda karena waktu telah banyak mengubahnya. Aku merasa sedih. Aku merasa realitas telah merampas salah satu hartaku yang kelak berharga di hari tua: kenangan.  

Aku menjadi sadar bahwa seberapapun manis atau pahitnya masa lalu, kelak ingatan itu akan tetap menjadi suatu hal yang berharga. Terlepas dari apakah ingatan itu akan tetap terasa manis atau pahit saat dikenang kembali kelak. Bagiku sendiri, ingatan tentang masa-masa bersamanya yang singkat itu adalah sesuatu yang sangat manis dengan sedikit rasa pahit yang menjadikannya lebih bermakna. 

Kelak, mungkin aku akan mengingatnya sambil menunggu anakku pulang setelah sebelumnya pamit sebentar untuk keluar dengan pacarnya. 
Atau mungkin aku akan menceritakannya kepada cucu perempuanku yang sedang merasa bimbang karena cinta pertamanya.

Siapa yang tahu, bukan? Karena masa lalu adalah harta terakhir yang kita punya di hari tua.

***

P.S.
Hei, Ji.
If only you read this, I will thank you for all moments we had shared together.
Be happy and I believe you are. :)


2 komentar: