Selasa, 20 November 2018

Hai, Kumkum..


November, 2014

Sebuah benda persegi terbungkus koran menyandar di salah satu dinding tempat tinggalku.

“Apa itu?” tanyaku.

“Buka saja,” ujarmu.

Sebuah cermin.

Cermin berukuran 50x70 cm itu berbingkai kayu, tidak dicat, dan di kedua sisi yang berhadapan terdapat ornamen berbentuk kerang dan bintang laut. Juga dari kayu. 

“Untuk aku?”

“Iya. Sebuah kado.”

Aku menatap cermin itu.

“Lihatlah siapa yang ada di dalam cermin itu.”

Tentu saja aku. Tapi, aku tahu, jawabannya tak sesederhana itu.

“Siapa dirimu, dulu, kini, dan nanti?” katamu.

Aku masih termangu di depan cermin itu. Ya. Siapa aku?

“Kamu yang hari ini hadir dari kamu yang dulu. Kamu yang nanti hadir dari kamu yang sekarang.”

Benar. Semua peristiwa tali temali. Saling terjalin. Berkelindan. Aku hari ini dilahirkan oleh aku yang dulu. Dan seperti itu selanjutnya.

“Selamat ulang tahun. Kapanpun kamu kehilangan dirimu, bercerminlah. Agar kamu ingat siapa dirimu dulu dan hari ini. Agar juga kamu tahu, siapa dirimu di masa yang akan datang.”

Aku mengangguk. 

“Terima kasih, Kumkum.”


***


Juli, 2010


“Ke Kalimantan? Untuk?”

“Bapak menyuruhku. Katanya daripada aku tidak jelas di sini, sebaiknya di sana saja. Di sana, kata bapak, peluang kerja masih banyak.”

“Dan kamu mau?”

Aku mematung.

“Bagaimana dengan rencana ke Australia?”

“Sampai sekarang belum ada kabar. Kata bapak, jangan diharap lagi. Kalau memang jadi, pasti ada berita.”

“Oke. Sekarang aku tanya. Kamu benar mau balik ke Kalimantan atau tidak? Jangan kata bapak. Harus kata kamu.”

Jika manusia memiliki banyak kelemahan, maka melepaskan harapan adalah salah satunya.  Begitu pula aku. Bukan soal pindah ke mana, tetapi soal melepas sesuatu yang diinginkan dan menggantinya dengan hal yang tak diinginkan.

Kabar tentang ke Australia itu memang tak pasti. Sudah setengah tahun aku menunggu. Berkali-kali aku pergi ke kampus untuk menanyakannya, tapi nihil. Ketidakpastian mengikis habis semangatku. Mungkin memang tak jadi. Mungkin memang aku harus kembali ke Kalimantan seperti kata bapak. Menjadi PNS, mengajar di sebuah sekolah, bekerja Senin sampai Jumat atau bahkan Sabtu, lalu mengambil kredit perumahan BTN dan menyicilnya per bulan dengan slip gaji sebagai jaminan. Mungkin memang sebaiknya seperti itu. 

Itu juga mulia, bukan?

Benar. Itu juga mulia. Masalahnya, itu bukan cita-citaku.

“Gini. Sekarang, kamu pilih; mau kembali ke Kalimantan atau tetap di Bandung?”

“Tapi di Bandung ...”

“Apa? Kerjaan?”

Aku mengangguk. Aku memang pengangguran sekarang. Tidak punya uang, apalagi tabungan. Memang salahku. Terlalu ngeyel untuk hanya mau bekerja di satu bidang saja. Sementara itu, bidang yang kumau belum populer. Tak banyak lowongan untuk bekerja di bidang itu.

“Nanti kubantu. Yang penting kamu bisa makan.”

“Aku tidak mau dikasih uang. Aku mau dikasih pekerjaan.”

“Aku tahu. Anak keras kepala sepertimu mana mau nerima uang kalau bukan hasil kerja sendiri.”

Aku terdiam lagi. Bagaimana dia bisa secepat itu mengenalku?

“Aku punya banyak naskah yang harus diedit. Kamu mau jadi editor? Tapi tetap ada deadline. Jadi, ini beneran kerja. Bukan karena aku kasihan sama kamu. Bagaimana? Mau?”

Dudukku mulai tegak. Mataku terisi lagi. Tidak kosong seperti tadi. Aku seperti mendapat kabar baik dari langit. Tuhan menolongku. Iya, benar, ini memang dari langit. Melalui dia.

“Mau!”

Akupun akhirnya bisa meyakinkan bapak bahwa aku tetap di Bandung. Bapak terdengar tak yakin aku bisa bertahan. Bapak memang sudah mulai kehilangan keyakinannya kepadaku. Tapi, mungkin beliau berpikir bahwa berdebat terus menerus denganku juga melelahkan. Akhirnya, aku diizinkan tetap di Bandung.

Dengan uang dari hasil mengedit naskah-naskah itu aku bisa menyewa kost dengan biaya yang sangat murah. Saat dia bertanya apakah ada benda yang butuh kubeli, aku menjawab aku butuh setrika. Aku merasa heran karena dia tertawa saat mendengar jawabanku. Dia menjelaskan bahwa permintaanku sangat mencerminkan kepribadianku. Aku mengerutkan dahi, tak mengerti maksudnya.

“Kamu perfeksionis sekali. Ketika ditanya apa yang kamu butuhkan, kamu jawab setrika.”

“Perfeksionis? Iya benar. Tapi apa hubungannya dengan setrika?”

“Kamu tak suka memakai pakaian kusut, kan? Buatmu, terlihat rapi adalah keharusan. Kamu tidak mau terlihat buruk. Semua harus baik dan terlihat baik. Nah, itu, perfeksionis.”

Aku melongo. Iya juga, batinku.

“Oke. Mau setrika yang mana?”

“Aku enggak mau dibeliin.

“Iya, nanti potong honor.”

“Oke.”

Sejak saat itu, setrika murah seharga Rp65.000 itu selalu kupakai hingga kini. Bahkan ketika ibuku memberiku setrika yang jauh lebih bagus dan mahal, aku tetap memakai setrika itu. 

Setrika itu tak sekadar sebuah benda, tetapi seperti artefak dari peristiwa dan fase penting dalam hidupku. Meskipun awalnya judulnya ‘hutang’, tapi tokh saat penerimaan honor, tak sedikitpun jumlahnya dipotong untuk membayar harga setrika itu.

Beberapa bulan kemudian, hidupku tak terlalu jauh berbeda. Masih tidak jelas. Pekerjaanku hanya mengedit dan menghitung secermat mungkin pengeluaran uang agar bisa bertahan hidup. Kadang, aku diajak serta makan ketika akan membincangkan naskah. 

Ketika mulai terlalu sering diajak makan, aku jadi mulai curiga bahwa pembicaraan tentang naskah sebenarnya hanya alibi agar dia bisa menraktirku makan. Agar uangku utuh. Aku merasa rendah diri saat itu. Merasa bersyukur karena manusia ini sangat baik kepadaku, sekaligus merasa malu. Mungkin dia tak berpikir aku merepotkannya. Apalagi jika hanya makan di warung pinggiran atau warung nasi Padang seperti itu. Tapi, perasaan malu padanya dan pada diri sendiri ini membuatku merasa payah. Merasa tergantung. 

“Kamu sedang berjuang saat ini. Berjuang mendapatkan apa yang kamu inginkan. Cing sabar, cing tawakal. Aku yakin nanti kamu bisa berangkat. Jangan banyak pikiran. Jangan banyak sungkan. Fokus pada apa yang kamu cita-citakan. Kerjakan apa yang bisa kamu kerjakan. Itu saja.”

Aku tak menjawab sepatah katapun.

“Sudah. Jangan nangis.

Tak bisa. Aku tetap menangis di depan sepiring nasi ayam betutu yang ia pesankan untukku.

Sebulan kemudian, aku menyaksikan kebenaran dari perkataannya. Setelah beberapa proses rumit, akhirnya aku mendapat kabar bahwa aku akan segera berangkat ke Australia.

Dengan gugup, kusampaikan kabar itu kepadanya.
Memegang kepalaku, dia tersenyum “Ari sabar mah geningan...”

Pada hari keberangkatan, ia mengantarku. Aku sengaja meminta untuk tidak diantar sampai bandara. Lagipula, ada hal yang harus kuurus dulu di kampus.

Sebelum pamit pergi, menggengam kedua bahuku, ia berpesan  “Oke. Ini harimu. Ini cita-citamu. Melangkahlah. Lebarkan sayapmu. Percaya diri, tunjukkan kamu mampu. Dan kamu memang mampu. Baik-baiklah di negeri orang.”

Dan, ia pergi. Aku masih di tempatku saat taksi itu membawa tubuhnya menjauh dariku. 

Pandanganku kabur, air mataku luruh.


***  

Agustus, 2018


“Nanti, kalau sudah di Jerman, dan terjadi apa-apa sama aku, kamu jangan pulang, ya. Harus tetap menjalankan tugas sampai selesai.”

“Hah? Maksudnya apa?”

Aku langsung memberondonginya dengan macam-macam ungkapan kekesalan. Siapa yang tak kesal mendengar kalimat seperti itu sebelum pergi jauh?

“Ya, kan kalau.”

“Ya jangan bilang seperti itulah.”

“Oke, oke. Yang pasti, kerjakan sebaik-baiknya pekerjaanmu. Berikan sepenuhnya dirimu kepada pekerjaanmu..”


“Dan dia akan memberikan dirinya sepenuhnya kepadamu.” Ujarku melanjutkan.

Tah gening pinter.”

Pan udah sering diomongin gitu dari dulu.”

“Iya, ya.”

Aku tak pernah menyukai kalimat-kalimat penanda perpisahan. Siapa pula yang suka? Namun, ia kerap secara tak langsung menyiratkan bahwa aku harus melakukan apa saja jika ia tak ada. Kendati kesal mendengarnya, tapi diam-diam selalu kuingat pesannya.

“Manusia harus punya sikap. Harus punya prinsip. Harga diri kita diukur dari bagaimana kita bersikap.”

Setelah satu seruput kopi, ia melanjutkan nasihatnya.

“Juga harus selalu belajar. Harus rendah hati. Ilmu tak akan jinak pada mereka yang sombong. Juga harus selalu mengasihi orang-orang lemah. Orang-orang tak punya.”

Kalimat terakhir terdengar lebih tebal di telingaku. Benar dugaanku, ia mengulang kembali bagian itu.

“Ingat, ya. Harus selalu mengasihi orang yang lemah. Orang tak punya. Aku berasal dari orang-orang seperti itu. Jadi, kelak, jika aku sudah tak ada dan kamu rindu aku, datangilah orang-orang seperti itu. Karena di antara merekalah aku ada.”

Saat mengatakan itu, ia seperti sedang menuliskannya di salah satu dinding dalam hatiku. Menuliskannya dengan sebuah batu yang runcing. Oh, tidak, bukan batu. Sebuah permata. Guratannya dalam membekas di hatiku. Meninggalkan kilau. Pedih sekaligus damai rasanya.


***


November, 2018


Hai, Kumkum...

Sekarang aku di Jerman. Dalam suhu dingin minus satu derajat celcius. Kamu benar, tubuhku ringkih dalam suhu dingin. 

Kamu memang selalu benar. 
Seperti saat berpikir bahwa koperku terlalu penuh dan akan overload. Kamu menertawakanku saat aku terpaksa membongkar kembali dan meninggalkan sebagian barang yang berlebih saat petugas bandara mengatakan berat barangku lebih dari 30 kilogram. 

Kamu sempat menyuruhku meninggalkan setrika yang menurutmu memakan tempat. Tapi, aku menolak keras. Kamu tahu setrika itu akan selalu ikut ke manapun aku pergi, seperti saat ke Australia dulu. Tertawalah sepuasmu. 

Aku sebal, tapi toh tertawa juga.

Kumkum, ini November kesembilan buatmu. 
Susah sekali mengurus anak keras kepala ini ya, Kum? 
Anak yang bandel, yang sering hanyut dan hilang. 
Anak yang seringkali harus diluruskan dan dituntun ke jalan pulang.

Maafkan aku, Kumkum.
Mungkin karena aku terlalu percaya bahwa sejauh apapun aku tersesat, kamu akan selalu bisa menemukanku dan menarik tanganku kembali. Seperti anak kecil yang tak takut melangkah ke manapun karena tahu ibunya akan mengejar dan menuntunnya, bahkan menaruhnya  dalam buaian saat si anak menangis karena terjatuh.

Maafkan aku, Kumkum.
Sudah terlalu banyak merepotkan. Sudah terlalu sering membuat lelah dan cemas. Sudah terlalu kerap membuatmu berpikir untuk menyerah dan meninggalkan, tapi tak kunjung bisa kau lakukan. Kecemasanmu mengalahkan kekecewaanmu. 

Maafkan aku, Kumkum.
Ada banyak janji yang belum utuh kupenuhi. Pun tak sedikit yang belum kutepati. Salah satunya, menjadi lebih baik dari diriku sebelumnya. Aku merasa aku masih jauh dari kata “baik”. Masih harus berbenah. Jangan ke mana-mana ya, Kumkum. Jika Kumkum tak ada, aku seperti anak kehilangan ibunya di tengah pasar; bingung, takut, kesepian, sebanyak apapun orang di sekelilingku.

Usiaku bertambah lagi, Kumkum. Dan kamu masih seperti dulu. Masih sangat penyayang, sangat penyabar, tak pernah alpa mendidikku.

Terima kasih, Kumkum.

Semakin ke sini, kamu semakin sering berkata bahwa sekarang aku tambah hebat, tambah keren. Sementara, kamu merasa hal sebaliknya terjadi padamu.

Aku tak pernah setuju pada perkataanmu itu, Kumkum. Aku merasa belum keren dan aku tahu siapa yang lebih keren di antara kita. Lagipula, bukankah kita selalu setuju dengan pernyataan “Tak ada murid yang sanggup melampaui gurunya”?

Karena Kumkum adalah guruku, maka sampai kapanpun aku tak bisa melampauimu, Kumkum. Setiap apapun yang kamu sebut sebagai keberhasilanku, dengan izin Tuhan, adalah hasil tanganmu. Sampai kapanpun tidak akan sanggup aku mencapai titik di mana kamu berada lebih rendah daripada aku. Kamu akan selalu tinggi.

Terima kasih, Kumkum, untuk selalu ada di masa terburukku. Di titik paling rendah. Di masa paling gelap. Di saat tak memiliki siapapun yang percaya aku mampu.

“Kamu tidak punya satupun alasan untuk tidak percaya diri,” katamu yang kerap disampaikan dengan nada kesal. Kesal dengan kalimat pesimistis yang sering kuulang-ulang.

Terima kasih.

Kumkum, ini November ke sembilan bagimu. Ketika aku menatap cermin, maka aku melihat diriku yang sekarang adalah diriku yang dilahirkan dari sembilan tahun yang lalu. Dari sebuah pertanyaan seorang lelaki di atas kereta malam itu;
“Sebenarnya, kamu itu mau ke mana?”

Tolong sampaikan kepada lelaki itu, Kumkum; 
“Aku tak akan ke manapun, kecuali ke negeri-negeri yang menyimpan namamu.”


Terima kasih, Kumkum.
Doa terbaik untukmu.
Guru, ayah, kekasihku.


Salam sayang,


Markunyang
Konstanz, November 2018

Kamis, 23 Agustus 2018

Surat Berharga


Apa saja surat-surat  berharga bagimu sekarang? Akta kelahiran? Ijazah pendidikan terakhir? Sertifikat penghargaan? Atau surat-surat kepemilikan barang mewah hingga investasi?

Di mana kamu menaruh semua itu?

Saat ini, seharusnya aku meneruskan pekerjaanku sejak sore, merapikan arsip-arsip pribadi. Seperti engkau, aku pun selalu hati-hati menyimpan surat-surat ini. Aku menaruhnya di map khusus, map paling bagus di antara map-map milikiku. Kemudian, map itu kusimpan baik-baik di lemari. Kupertimbangkan betul di mana aku meletakkannya agar jika kubutuhkan akan dengan mudah aku menemukannya. Seperti engkau, aku tak mau surat-surat itu rusak. Karena memang demikianlah sewajarnya memperlakukan hal yang kita anggap berharga.

Kuperiksa lagi satu persatu surat-surat itu. Seperti biasa, merapikan surat-surat berharga bagiku kerap memakan waktu lebih lama daripada merapikan arsip-arsip biasa. Bukan hanya pentingnya surat-surat itu, tetapi seringkali setiap surat itu mengingatkanku ada peristiwa-peristiwa lampau, setidaknya saat aku mulai memilikinya. Seperti saat kulihat ijazah pendidikan terakhirku. Aku ingat betul betapa aku harus melalui masa-masa menegangkan sekaligus melelahkan untuk mendapatkannya. Aku ingat betul saat pertama kali aku memegang ijazah itu, aku merasa aku berhak naik seanak tangga lebih tinggi dari posisiku berdiri sebelumnya. Juga betapa selembar ijazah itu mampu mengubah hidupku selanjutnya.

Selesai manaruh ijazah itu, aku kembali ingin mengingat-ingat masa kecilku saat kupegang surat akta kelahiranku. Surat ini sebetulnya bukanlah akta kelahiran asli melainkan “kutipan” karena tidak dibuat pada saat aku lahir. Kutipan itu dibuat saat aku sudah berusia lima tahun. Mengapa? Karena saat itu kami, aku dan orangtuaku, masih tinggal di sebuah desa yang amat terpencil. Tak ada kesempatan untuk segera mengurus akta kelahiranku ke kantor catatan sipil yang letaknya jauh di kota. Saat membaca lagi kutipan itu sekarang, aku kembali membayangkan betapa sulitnya kehidupan keluarga kami saat itu, khususnya saat aku masih bayi.

Pikiranku secepatnya berganti ke bayangan-bayangan tentang negeri-negeri jauh yang pernah aku kunjungi saat aku membaca beberapa sertifiikat penghargaan atau keikutsertaanku dalam beberapa program. Aku teringat betapa aku sangat bersemangat mengikuti alur demi alur petualanganku ke negeri-negeri itu. Berbagai pengalaman kuteguk tandas meskipun semakin membuatku haus saat telah berhasil menghabiskannya. Betapa semua itu terasa menggairahkan dan membuatku ingin terus menerus membawa diriku ke petualangan-petualangan berikutnya.

Selain surat-surat itu, ada juga kutemukan surat atau carikan-carikan kertas yang sering terselip di antara surat-surat penting berlaminating tadi. Misalnya, kartu iuran SPP saat SMP dan SMA, kartu ujian saat tes masuk universitas, surat pernyataan lulus  masuk universitas, hingga kartu tanda peserta paduan suara saat upacara peringatan hari kemerdekaan saat aku masih kelas 2 SMA.

Aku memang masih menaruh carikan-carikan itu di samping tentunya surat-surat berharga tadi. Surat itu memang “tak berharga”. Tak akan membuatku diterima kerja di lembaga yang kuidamkan. Tak akan membuatku mendapat penghasilan beberapa rupiah lebih tinggi dibandingkan kolega-kolegaku yang tak menyimpan benda-benda serupa milik mereka. Tak juga membuatku dianggap mumpuni di bidang tertentu sebagaimana yang sanggup dilakukan oleh sertifikat-sertifikat keikutsertaan dalam pelatihan-pelatihan penting. Namun, buatku carikan-carikan kertas itu sama berharganya dengan surat-surat berharga itu. Dengan caranya yang sederhana, carikan-carikan itu telah membantuku merekam ingatan peristiwa-peristiwa kecil di masa lalu yang sangat mudah ditelan usia.

Dengan kartu peserta paduan suara itulah aku mengingat betapa bangganya aku karena terpilih mewakili sekolah meskipun harus berlatih berhari-hari dengan hanya diberi uang delapan ribu perak puncak acara selesai. Dengan kartu iuran SPP itulah aku mengingat saat-saat menegangkan apabila orangtuaku harus terpaksa terlambat membayarnya karena hidup kami masih sulit saat itu. Dengan kartu tes masuk universitas itulah aku mengingat betapa aku tak terlalu bahagia saat aku dinyatakan lulus karena jauh-jauh hari orangtuaku bilang “Kamu ikut tes saja, ya. Belum tentu bisa kuliah karena belum tentu ada uangnya. Tapi setidaknya, kamu nanti bisa tahu kamu lulus atau tidak.” Dengan semua itu, dengan secarik dua carik kertas itulah aku bisa mengingat semuanya dengan jelas.

Aku istirahat sejenak, sambil kubuat tulisan ini. Sembari sesekali kembali menatap tumpukan surat-surat berharga itu.

Aku lantas bergumam pada diriku sendiri, “Sampai kapan benda-benda itu akan berharga, Lis? Sampai kamu tua? Sampai kelak kamu mati? Apakah masih ada yang akan menyimpankannya jika kelak kamu sudah tak ada?”

Tiba-tiba aku merasa sedih. Aku bergumam kembali, kali ini kutujukan kepada surat-surat itu. Kukatakan bahwa kelak kami akan berpisah. Entah kapan, tapi pasti. Kukatakan, kelak aku tak akan lagi bisa menyimpan mereka. Kusampaikan juga permintaan maafku karena tak bisa sepenuhnya berjanji bahwa mereka akan tetap tersimpan baik jika aku sudah mati. Terakhir, kusampaikan maaf jika kelak mereka tak lagi dianggap berharga.

Kini, giliran aku memandangi tubuhku. Tangan, badan, hingga ujung kaki. Sebagaimana surat-surat itu, tubuh yang amat berharga bagiku inipun kelak tak selamanya bisa kurawat. Kelak, kehadiran tubuh ini tak mustahil dianggap merepotkan ketimbang memudahkan hidup orang lain.

Karenanya, apa yang kusampaikan kepada surat-surat tadi, kusampaikan ulang kepada tubuhku. Tentang salam perpisahan yang mungkin saja terlalu awal atau mungkin tidak. Juga tentang permintaan maaf. Kusampaikan juga, “Semoga kelak kalian tak merepotkan siapapun yang masih tinggal saat aku pergi.”

Aku kembali merapikan arsip-arsip pribadiku. Membersihkannya dari debu, menaruhnya baik-baik. Sebagaimana aku menaruh tubuhku dalam waktu selagi masih ada bagianku.



Bandung, 28 Agustus 2018

Sabtu, 05 Mei 2018

Lelaki Lampau

Sebut saja namanya Aji.   

Di suatu hari, sekira jam empat sore lebih sedikit, aku sedang menunggu jadwal latihan teater. Baru aku saja aktor yang sudah tiba di sekretariat teater. Teman-teman lain sesama aktor belum datang. 

Sutradaraku, seorang perempuan yang juga senior di jurusan, rupanya sudah lebih dulu tiba. Ia sedang di ruang sebelah. Kami tak banyak bicara saat berpapasan tadi.

Suasana tak nyaman selalu aku rasakan jika hanya berdua saja dengannya. Rasa tak sukanya kepadaku membuat aku selalu merasa terintimidasi. Karenanya, aku lebih sering menghindar. Wajar, mungkin. Siapa yang akan suka pada junior yang dipacari lelaki yang mati-matian kau cintai. Iya, junior itu adalah aku.

Begitulah yang kudengar. Sutradaraku itu konon telah lebih dulu menyukai lelaki yang sebulan lalu sempat berpacaran denganku. “Mungkin itu alasan dia sentimen sama kamu,” ujar seorang teman saat memberi penjelasan. Mungkin saja. Tapi, manalah kutahu tentang perasaan beliau kepada lelaki itu?  

Sutradaraku tetap menunjukkan rasa tak sukanya padaku kendati akhirnya dia tahu bahwa aku sudah putus karena lelaki itu menghamili mantan pacarnya saat ia masih berpacaran denganku.

Oh, sampai di mana tadi?

Ah, ya. Sore itu, ya? Sore dengan udara kering pergantian musim, matahari yang kelelahan bersinar seharian, dan pohon alpukat yang daunnya nyaris habis dimakan ulat. Sore yang sungguh tak menarik.

Aku sedang berbaring di kasur busa usang di antara tumpukan peti kostum dan properti saat seseorang mengetuk pintu ruang sekre. Sebetulnya, aku malas beranjak apalagi untuk menerima tamu. Namun, tak ada orang lain di ruangan ini. Aku pun berjalan dan segera membuka pintu.

Seseorang berdiri di depan pintu. Laki-laki. Cahaya matahari yang masih cukup silau menyorot dan membuatku harus menyipitkan mata, tak bisa melihat dengan jelas. Setelah beberapa detik, aku bisa lebih jelas melihat wajah lelaki itu.

Lelaki dengan perawakannya tinggi, tegap, berkulit putih. Rambutnya ikal kecokelatan. Sorot matanya dalam dan teduh. Ia segera tersenyum saat mulai berbicara. Dan itulah saat di mana aku merasa tak lagi bisa mendengar atau melakukan apapun selain tak berkedip menatapnya.

Ia sangat tampan. Sangat tampan!

“Teh Ninanya ada?” tanya lelaki itu. Rupanya lelaki itu mencari sutradaraku. Mungkin mereka berteman. Atau mungkin lebih.  Mendadak aku kecewa oleh alasan yang tidak jelas. Aku segera mempertemukan dia dengan sutradaraku. Aku sama sekali tak berniat nimbrung. Your enemy’s friend is your enemy, right?

Setelah setengah jam kemudian, belum ada tanda-tanda bahwa teman-teman aktor lainnya akan datang ke sekre. Aku masih berbaring di kasur usang itu saat Teh Nina memanggil.

“Ya, Teh?” tanyaku sambil berusaha mengabaikan lelaki tadi yang rupanya masih di sini. Rupanya dia tidak datang sendiri. Sepertinya, yang seorang lagi adalah temannya. Aku merasa bersalah karena baru menyadari keberadaan temannya itu.

“Kenalkan, ini Aji dan ini...(aku lupa). Mereka pemusik kita. Mulai hari ini kita akan latihan sama tim musik.”

“Oh, iya, Teh.”

Eh, bagaimana?  

Sore itu, setelah semua aktor berkumpul, kami latihan bersama. Para pemusik itu memperhatikan kami dan aku tak lagi memperhatikan salah satu di antara mereka karena perhatianku telah tertuju pada tokoh yang kuperankan.

Baiklah. Kalian bisa menyimpulkan bahwa aku baru saja jatuh cinta pada pandangan pertama. Sungguh sangat geli mengakui hal itu pada siapapun termasuk pada kalian. Terasa norak. Tapi, kenorakan itu tidak seberapa dibandingkan kenorakanku yang lain; sering kabur jika bertemu orang yang disukai. Maka, jika kau adalah jenis orang yang semakin menyukai seseorang semakin ingin sering bertemu, maka aku sebaliknya. Semakin aku menyukai seseorang, semakin aku yakin bahwa kabur adalah tindakan yang tepat. You know you love that much when you can’t bear the feeling.  -_-

Jika demikian, mudah kalian tebak bahwa pertemuan demi pertemuan tak terelakan semasa proses latihan adalah masa-masa paling menyiksa bagiku. Pada waktu istirahat, jika yang lain bisa dengan mudah berbicara, bercanda, sampai peluk-pelukan saking mulai akrab, aku memilih kabur ke kantin. Tak sekali dua kali aku gugup setengah mati ketika Aji menyapaku walaupun hanya selewat. Iya benar, aku senorak itu.

Hari pertunjukan akhirnya tiba dan selesai dengan cepat. Euforia pascapertunjukan juga sudah reda. Artinya, semua segera kembali ke titik semula. Artinya, tak akan ada lagi latihan rutin. Artinya, tak ada lagi tim pemusik. Artinya, tak ada lagi pertemuan-pertemuan tak terelakan antara aku dan Aji.

Teman sekamarku di rumah indekost sudah sejak awal bisa menebak. Apalagi kami memang seteater dan mengikuti garapan di waktu yang sama meskipun untuk naskah yang berbeda. Tentu dia bisa melihat perubahanku dari perempuan berekspresi datar menjadi perempuan gugupan.

Berminggu-minggu kemudian. “Terus gimana atuh sekarang? Kan enggak bisa ketemu dia lagi.” Ujar Desita. Teman sekamarku itu.

Kampret! Ia tak tahu bahwa pertanyaan itu sudah lebih dulu kutanyakan pada diriku berminggu-minggu ini. Singkat cerita, karena perasaan yang brengsek ini tidak bisa lagi kutanggung, suatu hari akhirnya aku memutuskan untuk melakukan sesuatu. Aku mengiriminya pesan singkat.

Isi pesan yang nanggung. Penuh isyarat yang sengaja dibuat-buat agar ia mafhum maksudku. Sesuai perkiraanku, ia cukup cerdas menangkap isyarat itu sehingga akhirnya mendesakku agar menemuinya di sebuah taman dalam kampus.

Adegan selanjutnya sungguh sangat Bollywood: taman sore hari, pohon besar yang rindang, angin yang lembut, hari yang syahdu.

Hanya ada dia di taman itu. Oh, andai bisa, ingin kutinggal saja jantungku di kamar agar tak segugup ini.

Aku berjalan. Berusaha tampak biasa saja. Duduk di sampingnya. Setelah berbasa-basi, aku mulai bicara tentang topik apapun secara acak.  Dia yang lebih banyak menyimak sejak tadi mulai merasa perbincangan ini semakin tak nampak faedahnya, semakin jauh dari apa yang sudah ia duga tujuan awalnya.

“Sebenarnya kita bukan mau bicara tentang ini, kan?” katanya tiba-tiba tanpa melihat ke arahku. Ia tampak mulai kesal. Aku seketika diam.

Ia kemudian menghadapkan wajahnya ke arahku. “Kenapa di SMS kamu bilang kamu ingin tapi takut ketemu aku? Itu kan yang mau kita bahas.”

Sebetulnya aku tak punya persiapan matang untuk menerima todongan pertanyaan seperti ini. Tapi, aku memang merasa harus bertanggung jawab atas apa yang kulakukan tadi, mengiriminya SMS seperti itu. Aku merasa bodoh. Bingung. Rasanya aku mau pulang saja. 

Setelah “dipaksa” mengaku, aku akhirnya memberitahu dia bahwa aku menyukainya.

“Sejak kapan?” tanyanya.

O, demi dewa langit senja yang merah, mengapa kau tanyakan itu, wahai lelaki menyebalkan? Apa pentingnya? Aku terpaksa menanggung malu ketika ia tersenyum-senyum saat kujawab bahwa aku menyukainya sejak detik-detik awal pertemuan pertama kami.

“Kok enggak keliatan?” komentarnya. Masih sambil tersenyum.

Rasanya aku ingin meminjam senyuman itu, lalu berpura-pura lupa mengembalikannya.

**

Sejak hari itu, kami menjalani hubungan yang secara sepihak ia beri tajuk “mengenal lebih dekat”. Sebagai si penaksir, aku merasa kudu nrimo dengan status membingungkan itu. Ketika Desita bertanya apakah kami sudah resmi berpacaran, aku cuma mengernyitkan dahi, menggelengan kepala sambil menjelaskan ihwal tajuk itu. Temanku itu ikut bingung dan memberi komentar dengan hati-hati, takut menyinggungku. “Mungkin maksudnya memang kalian berpacaran, tapi dia gengsi bilangnya.” Well....

Hei, tapi aku tak keberatan! Karena hari-hari selanjutnya adalah hari penuh roman-roman yang hanya akan kau temukan di FTV. Pemandangan-pemandangan ala Bollywood kerap mewarnai perjalanan proses “mengenal lebih dekat” itu. Ah, sungguh picisan sekaligus memabukkan. Sangat khas anak muda.

Dia lelaki yang baik. Sangat baik. Lelaki yang akan melindungimu bahkan dari candaan bar-bar teman-temanmu. Suatu waktu, Desita pernah melemparku dengan bantal saat kami sedang bercanda. Bantal itu mengenai kepalaku. Sesuatu yang biasa kami lakukan terhadap satu sama lain. Namun, Aji secepatnya menarikku. Mengusap-usap kepalaku sambil menegur temanku itu untuk tidak melempar barang apapun ke kepalaku. Desita hanya bengong dan meminta maaf sambil terkesima.  

Suatu hari yang lain, Aji memberitahuku bahwa ia akan datang terlambat malam Minggu ini karena ia harus menjadi panitia sebuah acara di jurusannya. Aku tak keberatan. Bahkan, jika ia tak datang pun aku bisa mengerti. Lagipula, selama ini ia tak pernah tak menemuiku pada Sabtu malam. Jadi, jika sekali malam ini ia tak datang dengan alasan yang masuk akal, kupikir tak apa. Tapi, ia bersikeras berkata bahwa ia akan tetap datang.

Aku memang sudah berpakaian yang pantas untuk keluar malam ini. Jaga-jaga jika dia memang datang. Tapi, sudah lewat pukul sembilan malam, belum ada tanda-tanda kemunculannya. Kusimpulkan dia memang masih sibuk dan benar-benar tak akan datang.

Aku baru sadar bahwa aku tertidur saat suara ketukan di pintu membangunkanku. Aku segera membukanya. Dia datang. Dia menepati kata-katanya.

Dia berulangkali meminta maaf dan aku berulangkali meyakinkan bahwa aku sama sekali tak keberatan. Setelah ia merasa yakin, ia menyodorkan bunga yang sedari tadi ia sembunyikan di belakang tubuhnya.

Jika kau adalah perempuan, kau pasti paham apa yang aku rasakan saat itu.

Akan tetapi, di sisi yang lain, meskipun kedekatan kami sekarang sudah memenuhi semua kriteria untuk disebut “berpacaran”, perkataan Aji di awal tentang status hubungan kami membuatku terlalu berhati-hati dalam hubungan ini. Membuatku lebih sering cemas dan selalu membayangkan hal terburuk agar selalu siap. Aku takut terlalu percaya diri. Efeknya, perasaanku tak bisa lepas. Aku tak bisa menjadi diriku sendiri. Tak bisa berkata sedih saat sebenarnya sedang bersedih. Tak bisa berkata kecewa saat sebenarnya sangat kecewa. Semua selalu kubuat agar tampak sempurna. Sungguh menyiksa.

**

Hari pertama di Palembang, aku memilih untuk memasak saja. Sementara itu, teman-temanku mengikuti acara pembukaan Jambore Teater Nasional di salah satu kampus negeri di sana. Klub tetater kampus kami memang mengikuti Jambore itu. Aku menjadi salah satu aktor dalam garapan tersebut.

Untuk menghemat biaya, kami membawa sendiri bahan makanan bahkan beberapa alat masak agar tak perlu membeli selama di sini. Agar adil, ketua produksi membuat jadwal piket masak. Tapi malam ini secara sukarela aku meminta agar aku saja yang memasak. Tak perlu ditemani.

Semua teman mungkin berpikir aku telah melakukan perbuatan yang terpuji dengan merelakan diri memasak sementara mereka akan dengan gembira mengikuti acara pembukaan. Tapi, buatku ini hanya cara agar aku bisa menyendiri.  Seharusnya aku sebahagia dan sesemangat teman-teman lainnya dalam perjalanan dan acara ini. Namun, bagiku tidak. Aku merasa tak bersemangat. Pikiran dan hatiku sedang tak pada tempatnya.  

Sudah lebih dari dua minggu aku tak bertemu Aji. Ini akan menjadi hal yang biasa saja jika aku tak  merasa bahwa dia mulai menunjukkan gelagat membuat jarak denganku. Kami semakin jarang berkomunikasi setelah pesan-pesanku lebih sering dijawab seadanya. Aku menangkap kesan bahwa ia tak ingin diganggu.

Selama di Palembang, aku lebih banyak diam.

**

Sore berangin dengan udara yang kering seperti ini mengingatkanku pada hari saat Aji muncul untuk pertama kalinya. Kenyataan bahwa sekarang aku sedang duduk di dekat jendela sekre teater ini pun semakin menguatkan ingatanku. Ke mana saja dia?

Sudah sepekan setelah aku kembali dari Palembang. Belum ada gelagat ia akan menghubungi apalagi menemuiku. Sementara itu, kesibukan di teater belum reda. Bahkan ketika masih di Palembang ketua teater kami sudah mengabari bahwa kemungkinan besar kami akan mengikuti festival teater di Yogyakarta. Aku menanggapi dingin kabar itu. Bagiku tak penting apakah aku akan dilibatkan lagi atau tidak. Jikapun aku tak diikutkan untuk pertunjukkan berikutnya nanti, itu tak akan membuatku kecewa. Tidak ada yang lebih menganggu bagiku saat ini selain pertanyaanku tentang nasib hubunganku dengan Aji.

Aku mengenggam HP. Menimbang-nimbang keberanianku untuk mengirim pesan duluan, setidaknya untuk bertanya kabar. Sekata dua kata kuketik, lalu kuhapus lagi. Sekata dua kata kuketik, kutimbang patut tak patutnya, lalu kuhapus lagi. Sepertinya akan kuurungkan saja. Tapi, akan kucoba lagi.
Belum lagi selesai aku memikirkan apa yang harus kuketik, suara seseorang mengejutkanku.

“Mau meng-SMS siapa?” katanya sambil tersenyum.

“Ha?” air mukaku berubah. Pemilik suara itu begitu kukenal meskipun sudah cukup lama tak kulihat.

“Ji, sejak kapan berdiri di situ??” tanyaku gugup.

“Sejak tadi. Kamu enggak sadar, ya? Serius amat sih ngetiknya. Hmm, buat siapa, hayo?” katanya menggodaku.

Ah, senyum itu, ke mana saja selama ini?

Dia mendekatiku yang masih duduk di dekat jendela. Ia menanyakan kabarku. Kujawab singkat karena tak sabar ingin bertanya hal yang sama kepadanya. Ia menjelaskan bahwa ia memang sedang sibuk karena ada mata kuliah yang sulit. Aku menunjukkan wajah lega sebagaimana orang pada umumnya saat menerima kabar yang melegakan. Namun, sebenarnya sama sekali aku tidak mampu menangkap kesan bahwa penjelasan itu adalah sesuatu yang memang sebenarnya terjadi.

Tak apa. Yang penting saat ini aku tak lagi perlu mengetik SMS dan menghapusnya kembali.

Kami berbincang ringan sore itu. Aku menahan diri untuk tak banyak bertanya apalagi menunjukkan sikap protes karena ia “menghilang” beberapa minggu lalu. Aku pikir, segini pun sudah cukup mengobati.

Namun, setelah pertemuan itu, aku tak merasa lega. Pertemuan itu seperti pertanda buruk. Meskipun begitu, aku menyimpan pikiran itu, tak kubesar-besarkan, sambil berharap semoga itu hanya kecemasanku yang berlebihan saja.

**

Sutradara untuk pertunjukan di Yogya akhirnya memilih aku sebagai pemeran utama. Secara konsep pertunjukan, aku suka. Walaupun rasanya konsep itu masih mentah. Namun, aku yang masih anak bawang saat itu belum merasa punya ilmu untuk mengkritiknya. Latihan demi latihan sudah mulai dilaksanakan. Tapi, suatu hari, aku bertengkar dengan sutradaraku. Sutradara sekaligus ketua teater kami saat itu memarahiku dan beberapa temanku untuk sesuatu yang salah ia pahami. Penjelasanku tak didengarnya baik-baik. Akhirnya aku marah dan itu membuatnya tersinggung. Kami bertengkar  hebat hingga akhirnya aku menyatakan mundur dari garapan itu.

Akan tetapi, setelah pertengkaran kami reda beberapa hari selanjutnya, aku diminta untuk menjadi penata make up dan kostum untuk pertunjukan itu.

Semakin dekat hari keberangkatan ke Jogja, aku semakin sibuk. Dan aku menemukan pola yang sama dengan saat menjelang keberangkatan ke Palembang: ia menjarak lagi dariku. Tak ada kabar. Sama sekali tak ada. Di sisi lain, aku sudah semakin tahu diri dan merasa harus membiarkan saja sikapnya itu.

Tiga jam sebelum kami berangkat ke Jogja, semua kebutuhan pertunjukan sudah kami siapkan. Kami tinggal menunggu bus carteran. Rencananya, kami akan berangkat selepas magrib.

Aku diam saja sedari tadi. Aku tahu, keberangkatan kali ini pun akan terjadi seperti saat ke Palembang. Kepergian dengan membawa kebingungan, kekosongan.

“Hai, Lis. Ada waktu untuk ketemu sebentar? Aku mau bicara.”

Sebuah pesan darinya datang begitu saja ke kotak pesanku. Aku terkejut. Jadi, keberangkatan kali ini tak akan sama dengan keberangkatan sebelumnya? Perasaanku tak enak.

Kami bertemu di rumah indekostku.

Mulanya, kami hanya diam saja. Aku sedikit tegang karena aku dikejar waktu keberangkatan. Aku memberanikan diri bertanya apa yang sebenarnya ingin ia bicarakan.

“...aku tidak yakin dengan perasaan aku. Sepertinya, sebaiknya kita putus..” katanya dengan sangat hati-hati.

“Ooo, gitu. Oke..” aku tersenyum. Menunggu kalimat selanjutnya.

“Kamu enggak marah? Kenapa? Kamu marah aja. Kalau kamu biasa begini, aku jadi bingung dan makin merasa bersalah.”

Aku tersenyum saja. Kukatakan padanya bahwa semua yang bisa ia bayangkan tentang responku saat mendengar kalimatnya itu telah aku lakukan jauh-jauh hari yang lalu. Menangis, bingung, menangis lagi. Semua sudah kuhabiskan. “Nah, jadi, sekarang enggak perlu bingung, ya.” Kataku dengan tenang.

Aji terdiam.

Setelah ketegangan mereda, dia pamit. Sebelum pergi, ia sempat menutup pertemuan kami dengan pertanyaan basa-basi “Oya, kapan kalian ke Jogja?”

“Sore ini,” jawabku.

Aku menangkap raut terkejut di wajahnya. Mungkin, ia merasa bersalah karena telah menciptakan situasi yang buruk di hari pentingku ini. “Hati-hati, ya.” Katanya dengan suara pelan. Aku mengangguk, tersenyum sambil mengusap-usap punggungnya. Tentu, aku tak akan memberitahunya bahwa hari buruk itu sudah ia ciptakan jauh beberapa minggu sebelum hari ini.

Setelah Aji pergi, aku butuh waktu sendirian sebelum kembali ke kampus. Aku tidak menangis, tidak marah, tidak kesal. Justru, rasanya saat ini seperti ada beban berat yang terangkat dari punggungku. 

Aku merasa lega. Merasa ringan. 
Oh, bukan..
Aku merasa hampa. Merasa kosong.

Bus carteran kami telah tiba. Aku sedikit terlambat naik ke dalam bus. Di sana, Desita menyambutku dengan wajah tegang. Sepertinya dia sudah menduga apa yang baru saja terjadi padaku. Aku segera memeluknya. Rupanya, aku masih punya sisa tangis yang harus segera kubuang sebelum berubah menjadi racun.

Dan malam itu, aku tak lagi bisa membedakan, apakah aku sedang melakukan perjalanan dari Bandung menuju Jogja ataukah perjalanan dari ada menjadi tiada.

**

Begitulah ceritanya.

Yang menarik buatku adalah bagaimana aku masih bisa mengingat dan merasakan semua peristiwa itu dengan sangat baik. Aku bukan tipe orang yang rapi menyimpan masa lalu. Masa lalu adalah masa lalu. Tak lebih.

Aku memang sama sekali tak ada urusan lagi dengannya. Pertemuan saat itu benar-benar pertemuan terakhir. Selama tiga tahun selanjutnya, kami bahkan tak pernah berpapasan meskipun sekampus. Hingga lulus S1. Hingga kini. 

Sudah tiga belas tahun kami tak pernah bertemu lagi dan tak ada yang menyedihkan dengan hal itu. Ujung kisah itu sudah jelas titiknya dan sejak itu pula sudah kuputuskan bahwa tak ada yang perlu diperpanjang kecuali ingatan itu sendiri. Ia tak lebih dari sepenggal alinea dari sebuah kisah lampau. 

Tapi, mengapa ingatanku tentang rasa gugup, bahagia, bingung, dan sedih tentang pengalaman yang satu ini masih terasa segar kendati sudah lama terjadi? Aku seperti tanpa sadar telah merawat perasaan-perasaan itu. Seperti ada sisi diriku yang berkata, “Mari simpan yang satu ini untuk kita ingat sambil tersenyum kelak tua nanti.” Iya, sepertinya demikian. Tak lebih.

Namun, ada hal yang sedikit lucu dan aneh. Beberapa hari lalu akunnya di media sosial. Awalnya, meskipun itu memang akunnya, tapi si aku dari masa lalu meyakinkanku bahwa lelaki di media sosial itu bukanlah lelaki yang pernah bersamaku dulu. Aku setuju dan mengerti maksudnya. Si aku itupun mencegah diriku terlalu lama melihat-lihat foto terbarunya itu. Ya, benar, itu memang bukan Aji yang dulu kukenal. 

Namun, di waktu-waktu lain, aku iseng kembali membuka akun itu. Kuperhatikan satu persatu foto terbarunya. Kulihat lebih lama. Tiba-tiba, aku merasa kehilangan.

Foto-foto itu seperti sedang berusaha membangunkanku dari ingatan-ingatan silam yang sengaja kusimpan untuk merawat perasaan-perasaan yang pernah menyertainya. Saat melihat foto itu, aku seperti dihadapkan pada kenyataan bahwa sesuatu yang lampau juga adalah sesuatu yang kini meskipun berbeda karena waktu telah banyak mengubahnya. Aku merasa sedih. Aku merasa realitas telah merampas salah satu hartaku yang kelak berharga di hari tua: kenangan.  

Aku menjadi sadar bahwa seberapapun manis atau pahitnya masa lalu, kelak ingatan itu akan tetap menjadi suatu hal yang berharga. Terlepas dari apakah ingatan itu akan tetap terasa manis atau pahit saat dikenang kembali kelak. Bagiku sendiri, ingatan tentang masa-masa bersamanya yang singkat itu adalah sesuatu yang sangat manis dengan sedikit rasa pahit yang menjadikannya lebih bermakna. 

Kelak, mungkin aku akan mengingatnya sambil menunggu anakku pulang setelah sebelumnya pamit sebentar untuk keluar dengan pacarnya. 
Atau mungkin aku akan menceritakannya kepada cucu perempuanku yang sedang merasa bimbang karena cinta pertamanya.

Siapa yang tahu, bukan? Karena masa lalu adalah harta terakhir yang kita punya di hari tua.

***

P.S.
Hei, Ji.
If only you read this, I will thank you for all moments we had shared together.
Be happy and I believe you are. :)


Selasa, 27 Maret 2018

Bubur Kacang Hijau dan Geng 20-30



Dua buah ayunan, dua buah jungkat-jungkit, sebuah panggung tinggi dengan tangga di kedua sisinya, ‘terowongan’ ban warna-warni; Itulah arena bermain kami, para murid Taman Kanak-Kanak Estetika. Hanya itu. Selebihnya, kami hanya punya halaman yang luas, beberapa pohon jambu klutuk yang bebas kami naiki kapan saja, dan pohon-pohon pinus yang tumbuh menjulang di sepanjang jalan menuju gedung TK kami. Rontokan daun-daunnya yang runcing seperti jarum menutupi sebagian area tanah yang sengaja tak ditanami rumput. Tanaman perdu memagari hampir sekeliling area TK. Di belakang ayunan, terdapat beberapa pohon arbei. Batangnya yang berduri merambati tanaman lainnya. Kami, khususnya murid perempuan, senang memetiki arbei-arbei itu dan langsung memakannya.

TK kami jauh dari kebisingan. Di dusun kami, TK ini menjadi satu-satunya ‘sekolah’. SD, SMP, apalagi SMA, tak ada di sini. TK kami hanya punya dua ruangan dan sebuah toilet yang jarang digunakan karena salurannya sering mampat. Anak-anak, khususnya lelaki, lebih sering berjalan agak jauhan ke arah semak-semak saat hendak buang air kecil. Tak ada aspal di sepanjang jalan menuju TK kami. Tak ada lalu lalang kendaraan yang akan membuat kami khawatir tertabrak.

Aku lebih suka tiba lebih pagi. Tiba sepagi mungkin membuatku bebas memilih mau bermain apa. Ayunan adalah permainan favorit kami. Kami selalu berlomba paling cepat mendapatkannya, baik pada pagi hari maupun saat istirahat dimulai. Yang menyebalkan adalah, anak lelaki selalu lebih cepat mendapatkannya. Apalagi jika anak lelaki itu galak, kami tak akan berani menolak apabila dia tiba-tiba datang dan menyuruh kami pergi dari ayunan itu. Itulah sebabnya, ada kebanggaan dan kepuasan yang tak bisa dijelaskan saat teman-temanmu baru tiba di sekolah sedangkan kau sudah dengan anggunnya berayun-ayun di ayunan itu.

Bunyi lonceng masuk kelas selalu terdengar pukul 07.00 pagi. Bu Nunung, satu-satunya guru di TK kami, yang memukul lonceng itu. Lonceng kami adalah gir sepeda bekas yang sudah berkarat. Lonceng itu diikat dengan tambang kecil dan digantung di cabang pohon jambu depan bangunan kelas. Jika ingin membunyikannya, Bu Nunung akan mengambil besi yang juga diikat di pohon itu, lalu memukulkannya ke lonceng. Kami akan segera berlarian menuju teras kelas, berbaris rapi, menunggu ketua kelas menunjuk barisan yang paling rapi untuk masuk lebih dulu ke dalam kelas.

Sebagaimana kelas taman kanak-kanak pada umumnya, kami lebih banyak bernyanyi, menggambar, dan berlatih menulis. Aku tak banyak ingat kegiatan apa saja yang kami lakukan di dalam kelas, tapi aku sangat ingat bahwa Bu Nunung begitu sabar membimbing kami. Oh ya, di TK kami juga ada Bu Anang. Beliau semacam asisten Bu Nunung, tapi bukan dalam hal mengajar. Beliau membantu Bu Nunung dalam mengatur kami. Beliau juga yang membersihkan ruangan dan menyapu halaman. Bu Anang jauh lebih tua daripada Bu Nunung. Beliau sudah beruban. Tubuhnya gemuk, sama seperti Bu Nunung.

Ada beberapa hari spesial yang kusuka selama di TK. Yang pertama adalah hari Jumat. Mengapa? Karena pada hari Jumat kami selalu menerima makanan tambahan. Menunya selalu sama, yaitu bubur kacang hijau. Karena TK kami adalah TK milik perusahaan tempat ayah-ayah kami bekerja, maka program rutin makanan tambahan ini sepenuhnya dibiayai kantor. Setiap Jumat, beberapa  ibu anggota Darmawanita perusahaan akan membawa sebuah panci besar berisi bubur kacang hijau ke sekolah kami. Mereka menuangnya ke cangkir-cangkir plastik lengkap dengan sendok bebeknya, lalu memberikannya kepada kami. Sesekali, ada juga telur rebus  yang dibagikan, tapi jarang sekali.

Hari kedua yang spesial bagiku adalah hari piknik! Ah, betapa aku dan kawan-kawan sangat menunggu-nunggu hari ini. Karenanya, saat Bu Nunung berkata “Besok kita piknik, ya, anak-anak!” kami langsung bersorak-sorak. Bu Nunung tak lupa memberitahu bahwa kami harus membawa bekal untuk makan siang di tempat tujuan kami nanti. Aku tak sabar ingin segera mengabari mama tentang kegiatan ini. Aku juga segera menebak-nebak menu apa yang akan mama siapkan untuk bekalku nanti. Tapi, sepertinya aku sudah bisa menebaknya.

Hari piknik tiba. Benar ‘kan dugaanku, mama membekaliku mie instan goreng dan telur dadar. Aku suka! Aku lebih suka mie goreng daripada nasi goreng. Dan pasangan terbaik mie goreng adalah telur dadar.

Penuh suka cita, aku mantap berjalan kaki menuju TK. Jaraknya dari rumahku hanya sekitar 350 meter. Tiba di sekolah, kulihat teman-teman juga sudah berkumpul. Kami membawa bekal masing-masing. Beberapa teman sedang saling memberitahu menu bekalnya. Ada yang terdengar sangat bangga saat menyebutkan masakan apa yang ia bawa. Aku tahu, Erpan adalah anak yang bekalnya paling mewah di antara kami. Wajar saja. Dia adalah anak manajer, anak atasan para ayah kami yang rata-rata cuma mandor. Bekal Erpan tak hanya nasi dan daging ayam berukuran besar, tapi juga lengkap dengan camilan mahal yang dibeli ibunya langsung di  Pontianak! Pokoknya, tak ada yang bisa mengalahkan bekal Erpan.  

“Anak-anak, ayo baris dulu!” kata Bu Nunung. Bu Anang berdiri di bagian belakang barisan, mengawasi kami. Bu Nunung menjelaskan semacam peraturan yang harus kami patuhi selama berjalan kaki ke tempat tujuan kami. Salah satunya, tak boleh berjalan jauh dari rombongan. Kami memang akan berjalan kaki dan perjalanan ini pasti menyenangkan.

Oh, ya, aku belum memberitahumu ke mana kami akan berpiknik. Tujuan kami adalah kebun karet. Ya, kebun karet! Kebun yang seisi-isinya hanya ditanami pohon karet. Lahan perkebunan karet yang luasnya hektaran ini membentang tak jauh dari TK kami. Pohon karet inilah yang diurusi oleh ayah-ayah kami saban hari di perusahaan. Bisa dikatakan, pohon-pohon karet inilah yang mampu menghadirkan nasi dan lauk di atas meja kami. Pohon yang juga selalu rela dilukai tubuhnya setiap hari demi biaya sekolah kami kelak.  

Kami mulai berjalan. Kami dikawal dan diawasi oleh Bu Nunung, Bu Anang, dan si Mbak, seorang asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Erpan. Kami bernyanyi-nyanyi, bersorak-sorak sepanjang jalan. Kami berjalan di jalan yang biasa kami sebut “jalan lahan pangan”, jalan yang biasanya ada di bagian dalam perkebunan dan menghubungkan satu desa dengan desa lainnya. Tentu kami tak akan berjalan terlalu jauh. Tak akan lebih dari 300 meter. Ada satu tempat di kebun karet yang sudah biasa menjadi tujuan akhir kami. Tempat itu adalah sebuah area yang permukaan tanahnya rata sehingga kami bisa duduk di sana. Entah mengapa kami tak pernah bosan dengan tempat itu.

Kami duduk setelah mendapat aba-aba dari Bu Nunung. Kami sudah diperbolehkan membuka bekal kami. Sebelumnya, kami membaca doa sebelum makan bersama. Bu Nunung dan Bu Anang juga membawa bekal. Aku ingat betul, Bu Anang tidak menaruh bekalnya di dalam wadah, melainkan langsung di dalam kantong plastik hitam. Bekal Bu Anang tak banyak dan menunya sangat sederhana. Tapi, entah mengapa kami selalu meminta dan beliau selalu dengan baik hati membaginya kepada kami. Juga entah mengapa, bekal Bu Anang, sesederhana apapun menunya, selalu terasa nikmat bagi kami.

Selama makan, nyamuk-nyamuk di kebun karet juga makan. Tangan dan kaki kami bentol-bentol digigit nyamuk. Racun nyamuk bakar yang dinyalakan Bu Anang tak sanggup mengusir nyamuk-nyamuk ganas itu. Tapi, kami tak peduli. Kami tetap senang. Kami tetap kenyang.

Setelah makan bersama selesai, kami bersiap pulang. Acara piknik usai. Bu Nunung mewanti-wanti agar kami langsung pulang ke rumah, tidak boleh main ke mana-mana dulu. Kami memang tak kembali ke TK. Dari kebun karet itu, tiap murid langsung berjalan ke arah rumah masing-masing, termasuk aku. Anak-anak 20 akan pulang melalui jalan yang searah dengan jalan kembali menuju TK. Sedangkan anak-anak 30 akan pulang meneruskan jalan dari titik kami makan bersama tadi. Rumah mereka tak terlalu jauh dari titik itu, berbeda dengan anak-anak 20 harus berjalan dua kali lipat jauhnya dibanding perjalanan dari rumah ke TK.

Bu Nunung dan Bu Anang pulang searah dengan anak-anak 30. Sementara kami, anak-anak 20 pulang bersama si Mbak. Setidaknya ada satu orang dewasa yang menemani kami. Kalaupun tidak, kami berani berjalan sendiri, sebagaimana aku berani melewati jalan ini setiap kali pergi ke masjid untuk mengaji.  

Tentang 20 dan 30, itu adalah istilah yang dipakai untuk menamai dua komplek perumahan milik perusahaan. Dinamakan perumahan 20 karena memang jumlah rumahnya hanya 20. Demikian pula, hanya ada 30 rumah di perumahan 30. Semua rumah di kedua perumahan itu hanya boleh dihuni oleh para pegawai perusahaan.

Aku adalah anak 20. Rumahku rumah ke-14. Selain dua perumahan itu, ada ‘kawasan elit’ yang dihuni  para petinggi perusahaan. Jumlah rumah di kawasan itu tak lebih dari lima rumah. Rumah yang dinding dan lantainya terbuat dari tembok. Tak seperti rumah 20 atau 30 yang berlantai dan berdinding papan.

Jadi, kau bisa mengira-ngira berapa banyak penduduk yang tinggal di dusun Kajang, dusun  yang mayoritas dihuni para pegawai perusahaan ini. Kau juga pasti bisa menebak bahwa rumah Erpan adalah rumah yang paling bagus dan besar di kawasan elit itu. Kau bahkan bisa melihat sebuah parabola bertengger gagah di atap rumahnya. Sementara, kami di rumah hanya bisa menonton TVRI dari layar hitam putih televisi.

Entah kapan dan bagaimana mulanya, selalu ada persaingan halus antara anak-anak 20 dan 30. Dalam segala hal. Bahkan di tingkat anak-anak TK seperti kami. Kalau sedang akur, persaingan itu tidak tampak. Namun, jika salah seorang saja memulai, misalnya ada anak 30 yang mengejek 20 atau sebaliknya, maka perkelahian antar ‘geng’ pun dimulai. Seandainya pun kau bersahabat dekat dengan salah satu anak 30, maka di saat perkelahian itu terjadi, kau harus tetap menganggapnya sebagai musuh. Jika tidak, kau akan dikucilkan oleh gengmu.

Salah satu perkelahian yang masih kuingat adalah yang terjadi pada suatu siang saat Bu Nunung tidak masuk karena sakit. Kami tetap datang ke sekolah. Karena tak ada guru, kami mulai tak terkendali. Aku lupa siapa yang memulai. Aku baru sadar ada perkelahian saat anak 20 dan 30 sudah saling ejek, saling ledek, lalu berlanjut dengan saling lempar. Buah pinus kering, jambu busuk, hingga batu menjadi alat kami untuk saling menyerang. Semua anak segera mengambil tas karena perkelahian akan berlanjut ke jalan.

Bu Anang yang sejak tadi berteriak-teriak melerai kami tak kami gubris. Kami semakin brutal. Anak-anak 20 makin tak suka karena anak 30 merasa Bu Anang ada di pihak mereka. Bu Anang yang memang tinggal di perumahan 30 itu sebetulnya tak berpihak pada mereka. Tapi, anak-anak 20 sudah terlanjur sebal dan menganggap Bu Anang sebagai bagian dari musuh mereka.

Tawuran antara anak 20 dan 30 masih berlangsung. Kami masih saling lempar. Seorang anak 30 tiba-tiba mengambil segenggam pasir dan melemparkannya ke wajahku. Aku tak sempat menyadari lemparan itu sehingga sebagian pasir masuk ke mata dan mulutku. Aku menangis keras dengan muka penuh pasir.

Karena setiap pertengkaran yang terjadi akan berhenti secara otomatis jika sudah ada salah satu anak yang menangis, maka kami pun seketika berhenti. Tangisku mulai reda, tapi aku mulai ketakutan karena baru ingat botol air minumku masih tertinggal di TK. Aku mulai menangis lagi membayangkan mama yang memarahiku jika pulang tanpa botol itu. Aku terpaksa berjalan ke arah TK yang kini dikuasai anak-anak 30. Anak-anak 20 masih berkumpul di jalan. Tak ada satupun dari mereka yang mau menemaniku. Aku berjalan sambil terus menangis.

Kemudian, Bu Anang berjalan ke arahku. Ia menyodorkan botol air minum itu kepadaku sambil mengomel dalam bahasa Sunda “Matakan oge ulah parasea atuh!” (Makanya jangan pada bertengkar!). Aku mengambilnya dan segera meninggalkan TK. Aku sempat melihat wajah para anak 30 yang melihatku dengan tatapan penuh kemenangan. Aku berjalan ke arah kumpulan anak 20 yang mulai menjauhiku karena menganggapku sebagai biang kekalahan kami hari ini. Akupun akhirnya berjalan pulang sendirian.

Sesampai di rumah, mama merasa heran karena aku pulang lebih cepat dengan rambut yang dipenuhi pasir. Aku menceritakan kejadian di sekolah dengan harapan mama akan membelaku. Melihatku seperti itu, mama yang sedang memasak di dapur malah berkata dengan suara lantang,  “Siapa suruh kelahi?! Mandi sana!”

Aku berjalan lunglai. Aku mulai menangis lagi.
Dan hari itu seketika menjadi hari terburuk sepanjang hidupku saat itu. 
Hari terburuk yang kukenang sambill tersenyum pada hari ini.