Selasa, 27 Maret 2018

Bubur Kacang Hijau dan Geng 20-30



Dua buah ayunan, dua buah jungkat-jungkit, sebuah panggung tinggi dengan tangga di kedua sisinya, ‘terowongan’ ban warna-warni; Itulah arena bermain kami, para murid Taman Kanak-Kanak Estetika. Hanya itu. Selebihnya, kami hanya punya halaman yang luas, beberapa pohon jambu klutuk yang bebas kami naiki kapan saja, dan pohon-pohon pinus yang tumbuh menjulang di sepanjang jalan menuju gedung TK kami. Rontokan daun-daunnya yang runcing seperti jarum menutupi sebagian area tanah yang sengaja tak ditanami rumput. Tanaman perdu memagari hampir sekeliling area TK. Di belakang ayunan, terdapat beberapa pohon arbei. Batangnya yang berduri merambati tanaman lainnya. Kami, khususnya murid perempuan, senang memetiki arbei-arbei itu dan langsung memakannya.

TK kami jauh dari kebisingan. Di dusun kami, TK ini menjadi satu-satunya ‘sekolah’. SD, SMP, apalagi SMA, tak ada di sini. TK kami hanya punya dua ruangan dan sebuah toilet yang jarang digunakan karena salurannya sering mampat. Anak-anak, khususnya lelaki, lebih sering berjalan agak jauhan ke arah semak-semak saat hendak buang air kecil. Tak ada aspal di sepanjang jalan menuju TK kami. Tak ada lalu lalang kendaraan yang akan membuat kami khawatir tertabrak.

Aku lebih suka tiba lebih pagi. Tiba sepagi mungkin membuatku bebas memilih mau bermain apa. Ayunan adalah permainan favorit kami. Kami selalu berlomba paling cepat mendapatkannya, baik pada pagi hari maupun saat istirahat dimulai. Yang menyebalkan adalah, anak lelaki selalu lebih cepat mendapatkannya. Apalagi jika anak lelaki itu galak, kami tak akan berani menolak apabila dia tiba-tiba datang dan menyuruh kami pergi dari ayunan itu. Itulah sebabnya, ada kebanggaan dan kepuasan yang tak bisa dijelaskan saat teman-temanmu baru tiba di sekolah sedangkan kau sudah dengan anggunnya berayun-ayun di ayunan itu.

Bunyi lonceng masuk kelas selalu terdengar pukul 07.00 pagi. Bu Nunung, satu-satunya guru di TK kami, yang memukul lonceng itu. Lonceng kami adalah gir sepeda bekas yang sudah berkarat. Lonceng itu diikat dengan tambang kecil dan digantung di cabang pohon jambu depan bangunan kelas. Jika ingin membunyikannya, Bu Nunung akan mengambil besi yang juga diikat di pohon itu, lalu memukulkannya ke lonceng. Kami akan segera berlarian menuju teras kelas, berbaris rapi, menunggu ketua kelas menunjuk barisan yang paling rapi untuk masuk lebih dulu ke dalam kelas.

Sebagaimana kelas taman kanak-kanak pada umumnya, kami lebih banyak bernyanyi, menggambar, dan berlatih menulis. Aku tak banyak ingat kegiatan apa saja yang kami lakukan di dalam kelas, tapi aku sangat ingat bahwa Bu Nunung begitu sabar membimbing kami. Oh ya, di TK kami juga ada Bu Anang. Beliau semacam asisten Bu Nunung, tapi bukan dalam hal mengajar. Beliau membantu Bu Nunung dalam mengatur kami. Beliau juga yang membersihkan ruangan dan menyapu halaman. Bu Anang jauh lebih tua daripada Bu Nunung. Beliau sudah beruban. Tubuhnya gemuk, sama seperti Bu Nunung.

Ada beberapa hari spesial yang kusuka selama di TK. Yang pertama adalah hari Jumat. Mengapa? Karena pada hari Jumat kami selalu menerima makanan tambahan. Menunya selalu sama, yaitu bubur kacang hijau. Karena TK kami adalah TK milik perusahaan tempat ayah-ayah kami bekerja, maka program rutin makanan tambahan ini sepenuhnya dibiayai kantor. Setiap Jumat, beberapa  ibu anggota Darmawanita perusahaan akan membawa sebuah panci besar berisi bubur kacang hijau ke sekolah kami. Mereka menuangnya ke cangkir-cangkir plastik lengkap dengan sendok bebeknya, lalu memberikannya kepada kami. Sesekali, ada juga telur rebus  yang dibagikan, tapi jarang sekali.

Hari kedua yang spesial bagiku adalah hari piknik! Ah, betapa aku dan kawan-kawan sangat menunggu-nunggu hari ini. Karenanya, saat Bu Nunung berkata “Besok kita piknik, ya, anak-anak!” kami langsung bersorak-sorak. Bu Nunung tak lupa memberitahu bahwa kami harus membawa bekal untuk makan siang di tempat tujuan kami nanti. Aku tak sabar ingin segera mengabari mama tentang kegiatan ini. Aku juga segera menebak-nebak menu apa yang akan mama siapkan untuk bekalku nanti. Tapi, sepertinya aku sudah bisa menebaknya.

Hari piknik tiba. Benar ‘kan dugaanku, mama membekaliku mie instan goreng dan telur dadar. Aku suka! Aku lebih suka mie goreng daripada nasi goreng. Dan pasangan terbaik mie goreng adalah telur dadar.

Penuh suka cita, aku mantap berjalan kaki menuju TK. Jaraknya dari rumahku hanya sekitar 350 meter. Tiba di sekolah, kulihat teman-teman juga sudah berkumpul. Kami membawa bekal masing-masing. Beberapa teman sedang saling memberitahu menu bekalnya. Ada yang terdengar sangat bangga saat menyebutkan masakan apa yang ia bawa. Aku tahu, Erpan adalah anak yang bekalnya paling mewah di antara kami. Wajar saja. Dia adalah anak manajer, anak atasan para ayah kami yang rata-rata cuma mandor. Bekal Erpan tak hanya nasi dan daging ayam berukuran besar, tapi juga lengkap dengan camilan mahal yang dibeli ibunya langsung di  Pontianak! Pokoknya, tak ada yang bisa mengalahkan bekal Erpan.  

“Anak-anak, ayo baris dulu!” kata Bu Nunung. Bu Anang berdiri di bagian belakang barisan, mengawasi kami. Bu Nunung menjelaskan semacam peraturan yang harus kami patuhi selama berjalan kaki ke tempat tujuan kami. Salah satunya, tak boleh berjalan jauh dari rombongan. Kami memang akan berjalan kaki dan perjalanan ini pasti menyenangkan.

Oh, ya, aku belum memberitahumu ke mana kami akan berpiknik. Tujuan kami adalah kebun karet. Ya, kebun karet! Kebun yang seisi-isinya hanya ditanami pohon karet. Lahan perkebunan karet yang luasnya hektaran ini membentang tak jauh dari TK kami. Pohon karet inilah yang diurusi oleh ayah-ayah kami saban hari di perusahaan. Bisa dikatakan, pohon-pohon karet inilah yang mampu menghadirkan nasi dan lauk di atas meja kami. Pohon yang juga selalu rela dilukai tubuhnya setiap hari demi biaya sekolah kami kelak.  

Kami mulai berjalan. Kami dikawal dan diawasi oleh Bu Nunung, Bu Anang, dan si Mbak, seorang asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Erpan. Kami bernyanyi-nyanyi, bersorak-sorak sepanjang jalan. Kami berjalan di jalan yang biasa kami sebut “jalan lahan pangan”, jalan yang biasanya ada di bagian dalam perkebunan dan menghubungkan satu desa dengan desa lainnya. Tentu kami tak akan berjalan terlalu jauh. Tak akan lebih dari 300 meter. Ada satu tempat di kebun karet yang sudah biasa menjadi tujuan akhir kami. Tempat itu adalah sebuah area yang permukaan tanahnya rata sehingga kami bisa duduk di sana. Entah mengapa kami tak pernah bosan dengan tempat itu.

Kami duduk setelah mendapat aba-aba dari Bu Nunung. Kami sudah diperbolehkan membuka bekal kami. Sebelumnya, kami membaca doa sebelum makan bersama. Bu Nunung dan Bu Anang juga membawa bekal. Aku ingat betul, Bu Anang tidak menaruh bekalnya di dalam wadah, melainkan langsung di dalam kantong plastik hitam. Bekal Bu Anang tak banyak dan menunya sangat sederhana. Tapi, entah mengapa kami selalu meminta dan beliau selalu dengan baik hati membaginya kepada kami. Juga entah mengapa, bekal Bu Anang, sesederhana apapun menunya, selalu terasa nikmat bagi kami.

Selama makan, nyamuk-nyamuk di kebun karet juga makan. Tangan dan kaki kami bentol-bentol digigit nyamuk. Racun nyamuk bakar yang dinyalakan Bu Anang tak sanggup mengusir nyamuk-nyamuk ganas itu. Tapi, kami tak peduli. Kami tetap senang. Kami tetap kenyang.

Setelah makan bersama selesai, kami bersiap pulang. Acara piknik usai. Bu Nunung mewanti-wanti agar kami langsung pulang ke rumah, tidak boleh main ke mana-mana dulu. Kami memang tak kembali ke TK. Dari kebun karet itu, tiap murid langsung berjalan ke arah rumah masing-masing, termasuk aku. Anak-anak 20 akan pulang melalui jalan yang searah dengan jalan kembali menuju TK. Sedangkan anak-anak 30 akan pulang meneruskan jalan dari titik kami makan bersama tadi. Rumah mereka tak terlalu jauh dari titik itu, berbeda dengan anak-anak 20 harus berjalan dua kali lipat jauhnya dibanding perjalanan dari rumah ke TK.

Bu Nunung dan Bu Anang pulang searah dengan anak-anak 30. Sementara kami, anak-anak 20 pulang bersama si Mbak. Setidaknya ada satu orang dewasa yang menemani kami. Kalaupun tidak, kami berani berjalan sendiri, sebagaimana aku berani melewati jalan ini setiap kali pergi ke masjid untuk mengaji.  

Tentang 20 dan 30, itu adalah istilah yang dipakai untuk menamai dua komplek perumahan milik perusahaan. Dinamakan perumahan 20 karena memang jumlah rumahnya hanya 20. Demikian pula, hanya ada 30 rumah di perumahan 30. Semua rumah di kedua perumahan itu hanya boleh dihuni oleh para pegawai perusahaan.

Aku adalah anak 20. Rumahku rumah ke-14. Selain dua perumahan itu, ada ‘kawasan elit’ yang dihuni  para petinggi perusahaan. Jumlah rumah di kawasan itu tak lebih dari lima rumah. Rumah yang dinding dan lantainya terbuat dari tembok. Tak seperti rumah 20 atau 30 yang berlantai dan berdinding papan.

Jadi, kau bisa mengira-ngira berapa banyak penduduk yang tinggal di dusun Kajang, dusun  yang mayoritas dihuni para pegawai perusahaan ini. Kau juga pasti bisa menebak bahwa rumah Erpan adalah rumah yang paling bagus dan besar di kawasan elit itu. Kau bahkan bisa melihat sebuah parabola bertengger gagah di atap rumahnya. Sementara, kami di rumah hanya bisa menonton TVRI dari layar hitam putih televisi.

Entah kapan dan bagaimana mulanya, selalu ada persaingan halus antara anak-anak 20 dan 30. Dalam segala hal. Bahkan di tingkat anak-anak TK seperti kami. Kalau sedang akur, persaingan itu tidak tampak. Namun, jika salah seorang saja memulai, misalnya ada anak 30 yang mengejek 20 atau sebaliknya, maka perkelahian antar ‘geng’ pun dimulai. Seandainya pun kau bersahabat dekat dengan salah satu anak 30, maka di saat perkelahian itu terjadi, kau harus tetap menganggapnya sebagai musuh. Jika tidak, kau akan dikucilkan oleh gengmu.

Salah satu perkelahian yang masih kuingat adalah yang terjadi pada suatu siang saat Bu Nunung tidak masuk karena sakit. Kami tetap datang ke sekolah. Karena tak ada guru, kami mulai tak terkendali. Aku lupa siapa yang memulai. Aku baru sadar ada perkelahian saat anak 20 dan 30 sudah saling ejek, saling ledek, lalu berlanjut dengan saling lempar. Buah pinus kering, jambu busuk, hingga batu menjadi alat kami untuk saling menyerang. Semua anak segera mengambil tas karena perkelahian akan berlanjut ke jalan.

Bu Anang yang sejak tadi berteriak-teriak melerai kami tak kami gubris. Kami semakin brutal. Anak-anak 20 makin tak suka karena anak 30 merasa Bu Anang ada di pihak mereka. Bu Anang yang memang tinggal di perumahan 30 itu sebetulnya tak berpihak pada mereka. Tapi, anak-anak 20 sudah terlanjur sebal dan menganggap Bu Anang sebagai bagian dari musuh mereka.

Tawuran antara anak 20 dan 30 masih berlangsung. Kami masih saling lempar. Seorang anak 30 tiba-tiba mengambil segenggam pasir dan melemparkannya ke wajahku. Aku tak sempat menyadari lemparan itu sehingga sebagian pasir masuk ke mata dan mulutku. Aku menangis keras dengan muka penuh pasir.

Karena setiap pertengkaran yang terjadi akan berhenti secara otomatis jika sudah ada salah satu anak yang menangis, maka kami pun seketika berhenti. Tangisku mulai reda, tapi aku mulai ketakutan karena baru ingat botol air minumku masih tertinggal di TK. Aku mulai menangis lagi membayangkan mama yang memarahiku jika pulang tanpa botol itu. Aku terpaksa berjalan ke arah TK yang kini dikuasai anak-anak 30. Anak-anak 20 masih berkumpul di jalan. Tak ada satupun dari mereka yang mau menemaniku. Aku berjalan sambil terus menangis.

Kemudian, Bu Anang berjalan ke arahku. Ia menyodorkan botol air minum itu kepadaku sambil mengomel dalam bahasa Sunda “Matakan oge ulah parasea atuh!” (Makanya jangan pada bertengkar!). Aku mengambilnya dan segera meninggalkan TK. Aku sempat melihat wajah para anak 30 yang melihatku dengan tatapan penuh kemenangan. Aku berjalan ke arah kumpulan anak 20 yang mulai menjauhiku karena menganggapku sebagai biang kekalahan kami hari ini. Akupun akhirnya berjalan pulang sendirian.

Sesampai di rumah, mama merasa heran karena aku pulang lebih cepat dengan rambut yang dipenuhi pasir. Aku menceritakan kejadian di sekolah dengan harapan mama akan membelaku. Melihatku seperti itu, mama yang sedang memasak di dapur malah berkata dengan suara lantang,  “Siapa suruh kelahi?! Mandi sana!”

Aku berjalan lunglai. Aku mulai menangis lagi.
Dan hari itu seketika menjadi hari terburuk sepanjang hidupku saat itu. 
Hari terburuk yang kukenang sambill tersenyum pada hari ini.