Dua buah ayunan, dua buah
jungkat-jungkit, sebuah panggung tinggi dengan tangga di kedua sisinya, ‘terowongan’
ban warna-warni; Itulah arena bermain kami, para murid Taman Kanak-Kanak Estetika.
Hanya itu. Selebihnya, kami hanya punya halaman yang luas, beberapa pohon jambu
klutuk yang bebas kami naiki kapan saja, dan pohon-pohon pinus yang tumbuh
menjulang di sepanjang jalan menuju gedung TK kami. Rontokan daun-daunnya yang
runcing seperti jarum menutupi sebagian area tanah yang sengaja tak ditanami
rumput. Tanaman perdu memagari hampir sekeliling area TK. Di belakang ayunan,
terdapat beberapa pohon arbei. Batangnya yang berduri merambati tanaman lainnya.
Kami, khususnya murid perempuan, senang memetiki arbei-arbei itu dan langsung
memakannya.
TK kami jauh dari kebisingan. Di
dusun kami, TK ini menjadi satu-satunya ‘sekolah’. SD, SMP, apalagi SMA, tak
ada di sini. TK kami hanya punya dua ruangan dan sebuah toilet yang jarang
digunakan karena salurannya sering mampat. Anak-anak, khususnya lelaki, lebih
sering berjalan agak jauhan ke arah semak-semak saat hendak buang air kecil. Tak
ada aspal di sepanjang jalan menuju TK kami. Tak ada lalu lalang kendaraan yang
akan membuat kami khawatir tertabrak.
Aku lebih suka tiba lebih pagi. Tiba
sepagi mungkin membuatku bebas memilih mau bermain apa. Ayunan adalah permainan
favorit kami. Kami selalu berlomba paling cepat mendapatkannya, baik pada pagi
hari maupun saat istirahat dimulai. Yang menyebalkan adalah, anak lelaki selalu
lebih cepat mendapatkannya. Apalagi jika anak lelaki itu galak, kami tak akan
berani menolak apabila dia tiba-tiba datang dan menyuruh kami pergi dari ayunan
itu. Itulah sebabnya, ada kebanggaan dan kepuasan yang tak bisa dijelaskan saat
teman-temanmu baru tiba di sekolah sedangkan kau sudah dengan anggunnya
berayun-ayun di ayunan itu.
Bunyi lonceng masuk kelas selalu
terdengar pukul 07.00 pagi. Bu Nunung, satu-satunya guru di TK kami, yang
memukul lonceng itu. Lonceng kami adalah gir
sepeda bekas yang sudah berkarat. Lonceng itu diikat dengan tambang kecil
dan digantung di cabang pohon jambu depan bangunan kelas. Jika ingin
membunyikannya, Bu Nunung akan mengambil besi yang juga diikat di pohon itu,
lalu memukulkannya ke lonceng. Kami akan segera berlarian menuju teras kelas,
berbaris rapi, menunggu ketua kelas menunjuk barisan yang paling rapi untuk
masuk lebih dulu ke dalam kelas.
Sebagaimana kelas taman
kanak-kanak pada umumnya, kami lebih banyak bernyanyi, menggambar, dan berlatih
menulis. Aku tak banyak ingat kegiatan apa saja yang kami lakukan di dalam
kelas, tapi aku sangat ingat bahwa Bu Nunung begitu sabar membimbing kami. Oh
ya, di TK kami juga ada Bu Anang. Beliau semacam asisten Bu Nunung, tapi bukan
dalam hal mengajar. Beliau membantu Bu Nunung dalam mengatur kami. Beliau juga
yang membersihkan ruangan dan menyapu halaman. Bu Anang jauh lebih tua daripada
Bu Nunung. Beliau sudah beruban. Tubuhnya gemuk, sama seperti Bu Nunung.
Ada beberapa hari spesial yang
kusuka selama di TK. Yang pertama adalah hari Jumat. Mengapa? Karena pada hari
Jumat kami selalu menerima makanan tambahan. Menunya selalu sama, yaitu bubur
kacang hijau. Karena TK kami adalah TK milik perusahaan tempat ayah-ayah kami
bekerja, maka program rutin makanan tambahan ini sepenuhnya dibiayai kantor. Setiap
Jumat, beberapa ibu anggota Darmawanita
perusahaan akan membawa sebuah panci besar berisi bubur kacang hijau ke sekolah
kami. Mereka menuangnya ke cangkir-cangkir plastik lengkap dengan sendok
bebeknya, lalu memberikannya kepada kami. Sesekali, ada juga telur rebus yang dibagikan, tapi jarang sekali.
Hari kedua yang spesial bagiku
adalah hari piknik! Ah, betapa aku dan kawan-kawan sangat menunggu-nunggu hari
ini. Karenanya, saat Bu Nunung berkata “Besok kita piknik, ya, anak-anak!” kami
langsung bersorak-sorak. Bu Nunung tak lupa memberitahu bahwa kami harus
membawa bekal untuk makan siang di tempat tujuan kami nanti. Aku tak sabar
ingin segera mengabari mama tentang kegiatan ini. Aku juga segera menebak-nebak
menu apa yang akan mama siapkan untuk bekalku nanti. Tapi, sepertinya aku sudah
bisa menebaknya.
Hari piknik tiba. Benar ‘kan
dugaanku, mama membekaliku mie instan goreng dan telur dadar. Aku suka! Aku lebih
suka mie goreng daripada nasi goreng. Dan pasangan terbaik mie goreng adalah
telur dadar.
Penuh suka cita, aku mantap
berjalan kaki menuju TK. Jaraknya dari rumahku hanya sekitar 350 meter. Tiba di
sekolah, kulihat teman-teman juga sudah berkumpul. Kami membawa bekal
masing-masing. Beberapa teman sedang saling memberitahu menu bekalnya. Ada yang
terdengar sangat bangga saat menyebutkan masakan apa yang ia bawa. Aku tahu,
Erpan adalah anak yang bekalnya paling mewah di antara kami. Wajar saja. Dia
adalah anak manajer, anak atasan para ayah kami yang rata-rata cuma mandor. Bekal
Erpan tak hanya nasi dan daging ayam berukuran besar, tapi juga lengkap dengan
camilan mahal yang dibeli ibunya langsung di Pontianak! Pokoknya, tak ada yang bisa
mengalahkan bekal Erpan.
“Anak-anak, ayo baris dulu!” kata
Bu Nunung. Bu Anang berdiri di bagian belakang barisan, mengawasi kami. Bu
Nunung menjelaskan semacam peraturan yang harus kami patuhi selama berjalan
kaki ke tempat tujuan kami. Salah satunya, tak boleh berjalan jauh dari
rombongan. Kami memang akan berjalan kaki dan perjalanan ini pasti
menyenangkan.
Oh, ya, aku belum memberitahumu
ke mana kami akan berpiknik. Tujuan kami adalah kebun karet. Ya, kebun karet! Kebun
yang seisi-isinya hanya ditanami pohon karet. Lahan perkebunan karet yang luasnya
hektaran ini membentang tak jauh dari TK kami. Pohon karet inilah yang diurusi
oleh ayah-ayah kami saban hari di perusahaan. Bisa dikatakan, pohon-pohon karet
inilah yang mampu menghadirkan nasi dan lauk di atas meja kami. Pohon yang juga
selalu rela dilukai tubuhnya setiap hari demi biaya sekolah kami kelak.
Kami mulai berjalan. Kami dikawal
dan diawasi oleh Bu Nunung, Bu Anang, dan si Mbak, seorang asisten rumah tangga
yang bekerja di rumah Erpan. Kami bernyanyi-nyanyi, bersorak-sorak sepanjang
jalan. Kami berjalan di jalan yang biasa kami sebut “jalan lahan pangan”, jalan
yang biasanya ada di bagian dalam perkebunan dan menghubungkan satu desa dengan
desa lainnya. Tentu kami tak akan berjalan terlalu jauh. Tak akan lebih dari
300 meter. Ada satu tempat di kebun karet yang sudah biasa menjadi tujuan akhir
kami. Tempat itu adalah sebuah area yang permukaan tanahnya rata sehingga kami
bisa duduk di sana. Entah mengapa kami tak pernah bosan dengan tempat itu.
Kami duduk setelah mendapat
aba-aba dari Bu Nunung. Kami sudah diperbolehkan membuka bekal kami. Sebelumnya,
kami membaca doa sebelum makan bersama. Bu Nunung dan Bu Anang juga membawa
bekal. Aku ingat betul, Bu Anang tidak menaruh bekalnya di dalam wadah,
melainkan langsung di dalam kantong plastik hitam. Bekal Bu Anang tak banyak
dan menunya sangat sederhana. Tapi, entah mengapa kami selalu meminta dan
beliau selalu dengan baik hati membaginya kepada kami. Juga entah mengapa,
bekal Bu Anang, sesederhana apapun menunya, selalu terasa nikmat bagi kami.
Selama makan, nyamuk-nyamuk di
kebun karet juga makan. Tangan dan kaki kami bentol-bentol digigit nyamuk. Racun
nyamuk bakar yang dinyalakan Bu Anang tak sanggup mengusir nyamuk-nyamuk ganas
itu. Tapi, kami tak peduli. Kami tetap senang. Kami tetap kenyang.
Setelah makan bersama selesai,
kami bersiap pulang. Acara piknik usai. Bu Nunung mewanti-wanti agar kami
langsung pulang ke rumah, tidak boleh main ke mana-mana dulu. Kami memang tak
kembali ke TK. Dari kebun karet itu, tiap murid langsung berjalan ke arah rumah
masing-masing, termasuk aku. Anak-anak 20 akan pulang melalui jalan yang searah
dengan jalan kembali menuju TK. Sedangkan anak-anak 30 akan pulang meneruskan
jalan dari titik kami makan bersama tadi. Rumah mereka tak terlalu jauh dari
titik itu, berbeda dengan anak-anak 20 harus berjalan dua kali lipat jauhnya
dibanding perjalanan dari rumah ke TK.
Bu Nunung dan Bu Anang pulang
searah dengan anak-anak 30. Sementara kami, anak-anak 20 pulang bersama si
Mbak. Setidaknya ada satu orang dewasa yang menemani kami. Kalaupun tidak, kami
berani berjalan sendiri, sebagaimana aku berani melewati jalan ini setiap kali pergi
ke masjid untuk mengaji.
Tentang 20 dan 30, itu adalah
istilah yang dipakai untuk menamai dua komplek perumahan milik perusahaan. Dinamakan
perumahan 20 karena memang jumlah rumahnya hanya 20. Demikian pula, hanya ada
30 rumah di perumahan 30. Semua rumah di kedua perumahan itu hanya boleh dihuni
oleh para pegawai perusahaan.
Aku adalah anak 20. Rumahku rumah
ke-14. Selain dua perumahan itu, ada ‘kawasan elit’ yang dihuni para petinggi perusahaan. Jumlah rumah di kawasan
itu tak lebih dari lima rumah. Rumah yang dinding dan lantainya terbuat dari
tembok. Tak seperti rumah 20 atau 30 yang berlantai dan berdinding papan.
Jadi, kau bisa mengira-ngira
berapa banyak penduduk yang tinggal di dusun Kajang, dusun yang mayoritas dihuni para pegawai perusahaan
ini. Kau juga pasti bisa menebak bahwa rumah Erpan adalah rumah yang paling
bagus dan besar di kawasan elit itu. Kau bahkan bisa melihat sebuah parabola
bertengger gagah di atap rumahnya. Sementara, kami di rumah hanya bisa menonton
TVRI dari layar hitam putih televisi.
Entah kapan dan bagaimana
mulanya, selalu ada persaingan halus antara anak-anak 20 dan 30. Dalam segala
hal. Bahkan di tingkat anak-anak TK seperti kami. Kalau sedang akur, persaingan
itu tidak tampak. Namun, jika salah seorang saja memulai, misalnya ada anak 30
yang mengejek 20 atau sebaliknya, maka perkelahian antar ‘geng’ pun dimulai. Seandainya
pun kau bersahabat dekat dengan salah satu anak 30, maka di saat perkelahian
itu terjadi, kau harus tetap menganggapnya sebagai musuh. Jika tidak, kau akan
dikucilkan oleh gengmu.
Salah satu perkelahian yang masih
kuingat adalah yang terjadi pada suatu siang saat Bu Nunung tidak masuk karena
sakit. Kami tetap datang ke sekolah. Karena tak ada guru, kami mulai tak
terkendali. Aku lupa siapa yang memulai. Aku baru sadar ada perkelahian saat
anak 20 dan 30 sudah saling ejek, saling ledek, lalu berlanjut dengan saling lempar.
Buah pinus kering, jambu busuk, hingga batu menjadi alat kami untuk saling
menyerang. Semua anak segera mengambil tas karena perkelahian akan berlanjut ke
jalan.
Bu Anang yang sejak tadi
berteriak-teriak melerai kami tak kami gubris. Kami semakin brutal. Anak-anak
20 makin tak suka karena anak 30 merasa Bu Anang ada di pihak mereka. Bu Anang
yang memang tinggal di perumahan 30 itu sebetulnya tak berpihak pada mereka.
Tapi, anak-anak 20 sudah terlanjur sebal dan menganggap Bu Anang sebagai bagian
dari musuh mereka.
Tawuran antara anak 20 dan 30
masih berlangsung. Kami masih saling lempar. Seorang anak 30 tiba-tiba
mengambil segenggam pasir dan melemparkannya ke wajahku. Aku tak sempat
menyadari lemparan itu sehingga sebagian pasir masuk ke mata dan mulutku. Aku menangis
keras dengan muka penuh pasir.
Karena setiap pertengkaran yang
terjadi akan berhenti secara otomatis jika sudah ada salah satu anak yang
menangis, maka kami pun seketika berhenti. Tangisku mulai reda, tapi aku mulai
ketakutan karena baru ingat botol air minumku masih tertinggal di TK. Aku mulai
menangis lagi membayangkan mama yang memarahiku jika pulang tanpa botol itu.
Aku terpaksa berjalan ke arah TK yang kini dikuasai anak-anak 30. Anak-anak 20 masih
berkumpul di jalan. Tak ada satupun dari mereka yang mau menemaniku. Aku berjalan
sambil terus menangis.
Kemudian, Bu Anang berjalan ke
arahku. Ia menyodorkan botol air minum itu kepadaku sambil mengomel dalam
bahasa Sunda “Matakan oge ulah parasea
atuh!” (Makanya jangan pada bertengkar!). Aku mengambilnya dan segera
meninggalkan TK. Aku sempat melihat wajah para anak 30 yang melihatku dengan
tatapan penuh kemenangan. Aku berjalan ke arah kumpulan anak 20 yang mulai
menjauhiku karena menganggapku sebagai biang kekalahan kami hari ini. Akupun
akhirnya berjalan pulang sendirian.
Sesampai di rumah, mama merasa
heran karena aku pulang lebih cepat dengan rambut yang dipenuhi pasir. Aku menceritakan
kejadian di sekolah dengan harapan mama akan membelaku. Melihatku seperti itu,
mama yang sedang memasak di dapur malah berkata dengan suara lantang, “Siapa suruh kelahi?! Mandi sana!”
Aku berjalan lunglai. Aku mulai
menangis lagi.
Dan hari itu seketika menjadi
hari terburuk sepanjang hidupku saat itu.
Hari terburuk yang kukenang
sambill tersenyum pada hari ini.