Apa saja surat-surat berharga bagimu sekarang? Akta kelahiran?
Ijazah pendidikan terakhir? Sertifikat penghargaan? Atau surat-surat
kepemilikan barang mewah hingga investasi?
Di mana kamu menaruh semua itu?
Saat ini, seharusnya aku
meneruskan pekerjaanku sejak sore, merapikan arsip-arsip pribadi. Seperti engkau,
aku pun selalu hati-hati menyimpan surat-surat ini. Aku menaruhnya di map
khusus, map paling bagus di antara map-map milikiku. Kemudian, map itu kusimpan
baik-baik di lemari. Kupertimbangkan betul di mana aku meletakkannya agar jika
kubutuhkan akan dengan mudah aku menemukannya. Seperti engkau, aku tak mau
surat-surat itu rusak. Karena memang demikianlah sewajarnya memperlakukan hal
yang kita anggap berharga.
Kuperiksa lagi satu persatu
surat-surat itu. Seperti biasa, merapikan surat-surat berharga bagiku kerap
memakan waktu lebih lama daripada merapikan arsip-arsip biasa. Bukan hanya
pentingnya surat-surat itu, tetapi seringkali setiap surat itu mengingatkanku
ada peristiwa-peristiwa lampau, setidaknya saat aku mulai memilikinya. Seperti
saat kulihat ijazah pendidikan terakhirku. Aku ingat betul betapa aku harus
melalui masa-masa menegangkan sekaligus melelahkan untuk mendapatkannya. Aku
ingat betul saat pertama kali aku memegang ijazah itu, aku merasa aku berhak naik
seanak tangga lebih tinggi dari posisiku berdiri sebelumnya. Juga betapa
selembar ijazah itu mampu mengubah hidupku selanjutnya.
Selesai manaruh ijazah itu, aku
kembali ingin mengingat-ingat masa kecilku saat kupegang surat akta kelahiranku.
Surat ini sebetulnya bukanlah akta kelahiran asli melainkan “kutipan” karena
tidak dibuat pada saat aku lahir. Kutipan itu dibuat saat aku sudah berusia
lima tahun. Mengapa? Karena saat itu kami, aku dan orangtuaku, masih tinggal di
sebuah desa yang amat terpencil. Tak ada kesempatan untuk segera mengurus akta
kelahiranku ke kantor catatan sipil yang letaknya jauh di kota. Saat membaca lagi
kutipan itu sekarang, aku kembali membayangkan betapa sulitnya kehidupan
keluarga kami saat itu, khususnya saat aku masih bayi.
Pikiranku secepatnya berganti ke
bayangan-bayangan tentang negeri-negeri jauh yang pernah aku kunjungi saat aku
membaca beberapa sertifiikat penghargaan atau keikutsertaanku dalam beberapa
program. Aku teringat betapa aku sangat bersemangat mengikuti alur demi alur
petualanganku ke negeri-negeri itu. Berbagai pengalaman kuteguk tandas meskipun
semakin membuatku haus saat telah berhasil menghabiskannya. Betapa semua itu
terasa menggairahkan dan membuatku ingin terus menerus membawa diriku ke
petualangan-petualangan berikutnya.
Selain surat-surat itu, ada juga
kutemukan surat atau carikan-carikan kertas yang sering terselip di antara
surat-surat penting berlaminating tadi. Misalnya, kartu iuran SPP saat SMP dan
SMA, kartu ujian saat tes masuk universitas, surat pernyataan lulus masuk universitas, hingga kartu tanda peserta
paduan suara saat upacara peringatan hari kemerdekaan saat aku masih kelas 2
SMA.
Aku memang masih menaruh
carikan-carikan itu di samping tentunya surat-surat berharga tadi. Surat itu memang
“tak berharga”. Tak akan membuatku diterima kerja di lembaga yang kuidamkan. Tak
akan membuatku mendapat penghasilan beberapa rupiah lebih tinggi dibandingkan
kolega-kolegaku yang tak menyimpan benda-benda serupa milik mereka. Tak juga
membuatku dianggap mumpuni di bidang tertentu sebagaimana yang sanggup
dilakukan oleh sertifikat-sertifikat keikutsertaan dalam pelatihan-pelatihan
penting. Namun, buatku carikan-carikan kertas itu sama berharganya dengan
surat-surat berharga itu. Dengan caranya yang sederhana, carikan-carikan itu
telah membantuku merekam ingatan peristiwa-peristiwa kecil di masa lalu yang
sangat mudah ditelan usia.
Dengan kartu peserta paduan suara
itulah aku mengingat betapa bangganya aku karena terpilih mewakili sekolah
meskipun harus berlatih berhari-hari dengan hanya diberi uang delapan ribu
perak puncak acara selesai. Dengan kartu iuran SPP itulah aku mengingat
saat-saat menegangkan apabila orangtuaku harus terpaksa terlambat membayarnya
karena hidup kami masih sulit saat itu. Dengan kartu tes masuk universitas
itulah aku mengingat betapa aku tak terlalu bahagia saat aku dinyatakan lulus
karena jauh-jauh hari orangtuaku bilang “Kamu ikut tes saja, ya. Belum tentu
bisa kuliah karena belum tentu ada uangnya. Tapi setidaknya, kamu nanti bisa
tahu kamu lulus atau tidak.” Dengan semua itu, dengan secarik dua carik kertas
itulah aku bisa mengingat semuanya dengan jelas.
Aku istirahat sejenak, sambil
kubuat tulisan ini. Sembari sesekali kembali menatap tumpukan surat-surat
berharga itu.
Aku lantas bergumam pada diriku
sendiri, “Sampai kapan benda-benda itu akan berharga, Lis? Sampai kamu tua? Sampai
kelak kamu mati? Apakah masih ada yang akan menyimpankannya jika kelak kamu
sudah tak ada?”
Tiba-tiba aku merasa sedih. Aku bergumam
kembali, kali ini kutujukan kepada surat-surat itu. Kukatakan bahwa kelak kami
akan berpisah. Entah kapan, tapi pasti. Kukatakan, kelak aku tak akan lagi bisa
menyimpan mereka. Kusampaikan juga permintaan maafku karena tak bisa sepenuhnya
berjanji bahwa mereka akan tetap tersimpan baik jika aku sudah mati. Terakhir,
kusampaikan maaf jika kelak mereka tak lagi dianggap berharga.
Kini, giliran aku memandangi
tubuhku. Tangan, badan, hingga ujung kaki. Sebagaimana surat-surat itu, tubuh
yang amat berharga bagiku inipun kelak tak selamanya bisa kurawat. Kelak, kehadiran
tubuh ini tak mustahil dianggap merepotkan ketimbang memudahkan hidup orang
lain.
Karenanya, apa yang kusampaikan
kepada surat-surat tadi, kusampaikan ulang kepada tubuhku. Tentang salam perpisahan
yang mungkin saja terlalu awal atau mungkin tidak. Juga tentang permintaan
maaf. Kusampaikan juga, “Semoga kelak kalian tak merepotkan siapapun yang masih
tinggal saat aku pergi.”
Aku kembali merapikan arsip-arsip
pribadiku. Membersihkannya dari debu, menaruhnya baik-baik. Sebagaimana aku
menaruh tubuhku dalam waktu selagi masih ada bagianku.
Bandung, 28 Agustus 2018