Kamis, 23 Agustus 2018

Surat Berharga


Apa saja surat-surat  berharga bagimu sekarang? Akta kelahiran? Ijazah pendidikan terakhir? Sertifikat penghargaan? Atau surat-surat kepemilikan barang mewah hingga investasi?

Di mana kamu menaruh semua itu?

Saat ini, seharusnya aku meneruskan pekerjaanku sejak sore, merapikan arsip-arsip pribadi. Seperti engkau, aku pun selalu hati-hati menyimpan surat-surat ini. Aku menaruhnya di map khusus, map paling bagus di antara map-map milikiku. Kemudian, map itu kusimpan baik-baik di lemari. Kupertimbangkan betul di mana aku meletakkannya agar jika kubutuhkan akan dengan mudah aku menemukannya. Seperti engkau, aku tak mau surat-surat itu rusak. Karena memang demikianlah sewajarnya memperlakukan hal yang kita anggap berharga.

Kuperiksa lagi satu persatu surat-surat itu. Seperti biasa, merapikan surat-surat berharga bagiku kerap memakan waktu lebih lama daripada merapikan arsip-arsip biasa. Bukan hanya pentingnya surat-surat itu, tetapi seringkali setiap surat itu mengingatkanku ada peristiwa-peristiwa lampau, setidaknya saat aku mulai memilikinya. Seperti saat kulihat ijazah pendidikan terakhirku. Aku ingat betul betapa aku harus melalui masa-masa menegangkan sekaligus melelahkan untuk mendapatkannya. Aku ingat betul saat pertama kali aku memegang ijazah itu, aku merasa aku berhak naik seanak tangga lebih tinggi dari posisiku berdiri sebelumnya. Juga betapa selembar ijazah itu mampu mengubah hidupku selanjutnya.

Selesai manaruh ijazah itu, aku kembali ingin mengingat-ingat masa kecilku saat kupegang surat akta kelahiranku. Surat ini sebetulnya bukanlah akta kelahiran asli melainkan “kutipan” karena tidak dibuat pada saat aku lahir. Kutipan itu dibuat saat aku sudah berusia lima tahun. Mengapa? Karena saat itu kami, aku dan orangtuaku, masih tinggal di sebuah desa yang amat terpencil. Tak ada kesempatan untuk segera mengurus akta kelahiranku ke kantor catatan sipil yang letaknya jauh di kota. Saat membaca lagi kutipan itu sekarang, aku kembali membayangkan betapa sulitnya kehidupan keluarga kami saat itu, khususnya saat aku masih bayi.

Pikiranku secepatnya berganti ke bayangan-bayangan tentang negeri-negeri jauh yang pernah aku kunjungi saat aku membaca beberapa sertifiikat penghargaan atau keikutsertaanku dalam beberapa program. Aku teringat betapa aku sangat bersemangat mengikuti alur demi alur petualanganku ke negeri-negeri itu. Berbagai pengalaman kuteguk tandas meskipun semakin membuatku haus saat telah berhasil menghabiskannya. Betapa semua itu terasa menggairahkan dan membuatku ingin terus menerus membawa diriku ke petualangan-petualangan berikutnya.

Selain surat-surat itu, ada juga kutemukan surat atau carikan-carikan kertas yang sering terselip di antara surat-surat penting berlaminating tadi. Misalnya, kartu iuran SPP saat SMP dan SMA, kartu ujian saat tes masuk universitas, surat pernyataan lulus  masuk universitas, hingga kartu tanda peserta paduan suara saat upacara peringatan hari kemerdekaan saat aku masih kelas 2 SMA.

Aku memang masih menaruh carikan-carikan itu di samping tentunya surat-surat berharga tadi. Surat itu memang “tak berharga”. Tak akan membuatku diterima kerja di lembaga yang kuidamkan. Tak akan membuatku mendapat penghasilan beberapa rupiah lebih tinggi dibandingkan kolega-kolegaku yang tak menyimpan benda-benda serupa milik mereka. Tak juga membuatku dianggap mumpuni di bidang tertentu sebagaimana yang sanggup dilakukan oleh sertifikat-sertifikat keikutsertaan dalam pelatihan-pelatihan penting. Namun, buatku carikan-carikan kertas itu sama berharganya dengan surat-surat berharga itu. Dengan caranya yang sederhana, carikan-carikan itu telah membantuku merekam ingatan peristiwa-peristiwa kecil di masa lalu yang sangat mudah ditelan usia.

Dengan kartu peserta paduan suara itulah aku mengingat betapa bangganya aku karena terpilih mewakili sekolah meskipun harus berlatih berhari-hari dengan hanya diberi uang delapan ribu perak puncak acara selesai. Dengan kartu iuran SPP itulah aku mengingat saat-saat menegangkan apabila orangtuaku harus terpaksa terlambat membayarnya karena hidup kami masih sulit saat itu. Dengan kartu tes masuk universitas itulah aku mengingat betapa aku tak terlalu bahagia saat aku dinyatakan lulus karena jauh-jauh hari orangtuaku bilang “Kamu ikut tes saja, ya. Belum tentu bisa kuliah karena belum tentu ada uangnya. Tapi setidaknya, kamu nanti bisa tahu kamu lulus atau tidak.” Dengan semua itu, dengan secarik dua carik kertas itulah aku bisa mengingat semuanya dengan jelas.

Aku istirahat sejenak, sambil kubuat tulisan ini. Sembari sesekali kembali menatap tumpukan surat-surat berharga itu.

Aku lantas bergumam pada diriku sendiri, “Sampai kapan benda-benda itu akan berharga, Lis? Sampai kamu tua? Sampai kelak kamu mati? Apakah masih ada yang akan menyimpankannya jika kelak kamu sudah tak ada?”

Tiba-tiba aku merasa sedih. Aku bergumam kembali, kali ini kutujukan kepada surat-surat itu. Kukatakan bahwa kelak kami akan berpisah. Entah kapan, tapi pasti. Kukatakan, kelak aku tak akan lagi bisa menyimpan mereka. Kusampaikan juga permintaan maafku karena tak bisa sepenuhnya berjanji bahwa mereka akan tetap tersimpan baik jika aku sudah mati. Terakhir, kusampaikan maaf jika kelak mereka tak lagi dianggap berharga.

Kini, giliran aku memandangi tubuhku. Tangan, badan, hingga ujung kaki. Sebagaimana surat-surat itu, tubuh yang amat berharga bagiku inipun kelak tak selamanya bisa kurawat. Kelak, kehadiran tubuh ini tak mustahil dianggap merepotkan ketimbang memudahkan hidup orang lain.

Karenanya, apa yang kusampaikan kepada surat-surat tadi, kusampaikan ulang kepada tubuhku. Tentang salam perpisahan yang mungkin saja terlalu awal atau mungkin tidak. Juga tentang permintaan maaf. Kusampaikan juga, “Semoga kelak kalian tak merepotkan siapapun yang masih tinggal saat aku pergi.”

Aku kembali merapikan arsip-arsip pribadiku. Membersihkannya dari debu, menaruhnya baik-baik. Sebagaimana aku menaruh tubuhku dalam waktu selagi masih ada bagianku.



Bandung, 28 Agustus 2018