Sabtu, 21 Oktober 2017

Bill

AMY menarik tanganku. Ujung kukunya yang robek menggores permukaan kulitku. Tangannya dingin. Gemetar.
“Aku mau kasih dia pelajaran!”
“Jangan, Bill..!”
“Amy!”
“Demi aku..”
Aku melepaskan tanganku dari genggamannya. Kulayangkan tinju ke tiang di samping Amy. Ia terkejut, menarik langkahnya. Tubuhku gemetar. Aku merasakan panas menjalar dari punggung hingga kepala. Aku segera menjauhi Amy sebelum akhirnya ia mengejarku.
“Bill..!”

*

Ia tak menyalakan lampu saat kami tiba di ruang ini. Aku lupa sudah berapa lama kami duduk dekat pintu kaca menuju balkon. Cahaya kota meremang di wajah Amy. Ia masih terlihat cantik seperti dulu. Meski dalam keadaan seburuk ini.
Kemeja warna pastelnya kusut.  
“Aku ganti baju sebentar”
Amy hendak beranjak dan aku menahannya.
“Kamu yakin malam ini kamu aman di sini?”
“Dia tidak akan datang.”
Aku membuang muka sambil tertawa sinis. Aku benci dibiarkan merasa sekhawatir ini.
“Bill.., percaya padaku.”
“Oke. Sekarang buka bajumu. Tunjukkan bahwa kamu memang tidak apa-apa.”
Amy terdiam. Dengan pelan ia mulai membuka kancing atas kemejanya. Memejamkan mata, ia terlihat gugup. Aku menahan dan menurunkan kedua tangannya. Aku melanjutkan membuka kancing satu persatu, lalu menanggalkan kemejanya itu. 

Aku menahan napas. Rasa panas kembali menjalari tubuhku. Amy memejamkan mata dan napasnya terdengar berat. Aku membuka seluruh kemejanya dan melihat apa yang sejak tadi sebetulnya tak ingin kulihat.

“Anjing!” 
Aku tak mengira suara yang setengah mati kutahan itu terdengar pula olehnya. Aku tertunduk, memejamkan mata. Jemariku mencengkram kedua bahunya.

“Bill...” Suara Amy terdengar lemah. 
Aku membuka mataku kembali. Melihat kembali. Pikiranku yang kacau membuatku tak mampu menghitung jumlah bekas sundutan rokok di tubuh Amy. Di dada, kedua payudara, perut. Bekas bakar itu masih merah. Aku pun bisa melihat lebam di pinggang kiri Amy.
Aku kembali menutup kedua mataku. Masih memegang kedua bahunya.
“Bill..”
“Aku mau bunuh dia!”
“Bill...” kini Amy menatap mataku. Gerakan tirai tipis yang tertiup angin membayang di kedua bola matanya. 
“Jangan lakukan hal yang akan membuatku merasa semakin tidak berarti.”
“Semakin? Jadi, siapa yang pertama kali membuat kamu merasa tidak berarti? Dia? Siapa dia? Si bajingan itu?!”
Mata Amy berkaca. Aku segera memeluknya.

Tangisnya tertahan. Napasnya menggema di telingaku. 
Tubuhku terasa panas dan kepalaku rasanya akan pecah. Aku betul-betul ingin membunuh lelaki itu. 

Beberapa menit berlalu. Rasa panas itu berangsur hilang.
“Besok kita obati lukamu. Aku antar kamu ke dokter.”
Amy mengambil tanganku. Meletakannya perlahan di dadanya. Aku ngilu membayangkan rasa sakitnya saat tanganku menyentuh luka-luka itu.
“Kamu bisa merasakan rasa sakitku, Bill?”
“Aku bahkan tak lagi bisa membedakan siapa sebetulnya yag sedang dia sakiti. Kamu atau aku.”
Ia tersenyum. Ia masih bisa tersenyum.
“Aku sepertinya tak perlu dokter. Ini hanya luka bakar. Dan tak parah.”
“Amy? Kamu pikir aku setuju?”
Amy menatapku. Lalu ia tersenyum. Aku merasa malu. Ia pasti sedang menertawakan ucapakanku barusan. Ya, sejak kapan ia harus minta persetujuanku untuk melakukan sesuatu. Bodohnya aku.
“Maksudku, aku akan khawatir jika lukamu tak diobati.”
“Ketika masih kecil, setiap aku luka kecil, hal yang pertama kali mama lakukan adalah menempelkan air liurnya ke lukaku. Aku tak pernah tahu apa manfaatnya secara medis. Tapi anehnya itu selalu berhasil membuat lukaku tak menjadi parah. Bahkan segera mengering.”
Amy berbicara sambil meletakan telunjuknya di lidahnya, lalu menempelkan telunjuk itu di lukanya. Satu persatu.
Ia masih berbicara. Aku membasahi telunjukku dengan air liur, lalu menempelkannya di lukanya. Ia cepat menatapku, lalu tersenyum.
“Kau lihat? Aku sudah memiliki dokterku sendiri.” 
Aku mengalihkan pandanganku. Mengapa ia masih bisa berbicara setenang itu?
Malam merangkak jauh. Aku masih di apartemen Amy. Kami masih duduk di dekat pintu balkonnya dan ia sudah tertidur sejak tadi di pahaku. Kakiku kram, tapi aku tak mau bergerak dan membuatnya terbangun.  Cahaya kota masih membayang di wajahnya. Seperti masa lalu yang membayang dalam kepalaku.  

*

“Billa. Semalam Lu di mana? Gua telepon berkali-kali. Awalnya nyambung, tapi enggak diangkat.  Terus malah enggak nyambung sama sekali.”
“Sori, Gus. Tadi malam gua ketiduran di rumah teman. Capek banget gue. Teman gue enggak berani bangunin.
“Lu dicariin Pak Yohanes tuh. Katanya minggu lalu Lu nawarin lukisan Lu ke dia? Dia mau lihat."
“Ah, serius? Kenapa dia enggak hubungi gue langsung? Oke, nanti gua telepon dia.
"Emang lukisan mana yang mau Lu lepas? Lagi enggak punya duit ya, Lu? 
Aku segera meninggalkan Agus. Ia persis seperti polisi pembuat surat kehilangan. Banyak tanya. 
Kaus oblongku terasa lengket di kulit. Aku lapar. Perutku tak kenal nasi sejak siang kemarin. Aku menjejalkan sisa potongan martabak ke mulutku. Agus pasti membawa pacarnya ke sini tadi malam. Dapur ini selalu rapi setiap Lily berkunjung. Kamar mandi ini pun tak bau kandang sapi lagi.  

“Lahir batin Lu makmur ya semalam?!” teriakku dari dalam kamar mandi.
“Berisik Kau, betina!”
Aku tertawa keras mendengar teriakan Agus.

Kopi pahitku masih tersisa setengah cangkir saat Agus selesai berbicara tentang banyak hal. Aku hanya menyimak sepuluh menit pertama ucapannya. selebihnya aku hanya pura-pura mendengarkan. Pikiranku tak di sini.

Agus laki-laki, tapi sungguh doyan bicara. Banyak orang bilang, Tuhan keliru memasang kelamin saat kami diciptakan. Semestinya aku yang lelaki dan dia wanita. Aku sering menolak dikatai kembar dengannya oleh orang-orang kendati wajah kami memang mirip dan lahir di waktu yang sama. Dan dia memang bukan kerabatku. Tapi, Agus adalah orang yang membuatku merasa bukan terlahir dari sebuah batu. Orang yang bisa kuandalkan hampir dalam situasi apapun.

"Bill, Lu kalau lagi cekak, ngomong. Lu ngapain ngelepas Chaos? Dulu jangankan ke si Pak Yohanes, sama bosnya Lily juga Lu enggak mau ngelepas."

"Gue bakal bikin yang lebih bagus dari Chaos. Lagipula lukisan itu kayak pacar. Kalau bukan jodoh, ya udah, lepas aja." 

"Paling bisa Lu kalau ngomong.."

Sebuah pesan masuk ke telepon selularku.

                Bill, dia dtg. Aku takut.

Aku segera memasukkan rokok ke dalam cangkir kopiku. Kuraih jaket jeans, kunci motor, dan segera pergi.
“Heh! Ke mana lagi Lu, betina?”

*

Aku memarkir trailku dan berlari menuju minimarket di lantai dasar bangunan apartemen itu. Segera kubayar sebotol bir. Membuka dan membuang isinya.
Nomor 84. Aku mengetuk pintu itu dengan keras. Teriakan penghuninya terdengar mendekati pintu. Suaranya berat dan marah.
Pintu terbuka dan aku segera mendorong tubuh lelaki itu sebelum ia bertanya tujuanku datang ke sini. Ia tersungkur, tapi segera bangun. Aku berlari menuju ruang dalam. Aku tak menemukannya. Aku mulai panik. Lelaki itu berteriak, menarik dan membantingku. Tubuhku terhempas dan menimpa TV. Ia sudah berada di depanku lagi saat aku mencoba bangun.  Matanya merah. Ia menarik kerah jaketku.
"Siapa kau? Mau apa?!"
Aku tak bisa bernapas. Kugenggam erat botol kosong yang sedari tadi tak lepas dari tanganku. Sekuat tenaga aku mengayunkan botol itu ke bagian belakang kepalanya. Ia terjatuh. Tubuhnya tak bergerak lagi. 
Aku berlari menuju kamar. Amy di sana, tak memakai apapun. 

“Bill...”

Aku mengangkat tubuhnya. Menaruhnya di tempat tidur, lalu mengambil pakaian apapun dari dalam lemari dan memakaikannya. Tubuhnya lemah. Bibirnya bengkak dan berdarah. Pelipisnya lebam. Aku panik dan segera membawa Amy pergi.  


*

Aku tahu Agus sengaja tak pulang malam ini. Sejak aku membawa Amy tadi siang, ia belum kembali kecuali saat membawakan sup, obat, dan perban dari apotek. Ia berkata aku bisa kapanpun memintanya datang jika aku butuh bantuan.  
Amy masih tertidur di kasur tipis dalam studioku. Ia belum bisa makan. Hanya tiga sendok sup yang bisa ia telan. Aku sudah membersihkan darah dari tubuhnya, tapi lukanya masih di sana.
“Bill...”
“Amy. Mau minum?”
“Aku enggak mau pulang, Bill.”
“Kamu memang tidak boleh pulang. Kamu di sini dengan aku.”
“Dia bagaimana?”
Aku memandangnya. Mengusap rambutnya. Berharap ia tak bertanya lebih jauh.
“Masih sakit? Kuobati?”
Ia mengangguk. Aku membuka kancing kemejaku yang kupakaikan padanya tadi sore. Aku menutup mataku sebentar, menyiapkan diri untuk melihat kembali luka-luka itu.
Bajingan! Luka itu bertambah banyak. Dadaku mulai sesak kembali. Napasku menjadi lebih cepat.
Hei..., it’s okay. I’m okay. I'm with you..
Aku mengangkat wajahku. Menahan tangis sambil menyampingkan rambutnya yang menutupi wajah. Ia menatapku. Lengannya yang masih lemah berusaha mendekatkan wajahku ke wajahnya.
“Bill..”
Wajahku bisa merasakan napasnya.
“Obati lukaku...”
Aku membasahi ujung telunjukku dengan liurku dan melekatkannya ke luka di bahu Amy. Kubasahi lagi, kusentuhkan ke luka di dadanya. Ia memejamkan mata dan menggigit bibirnya setiap jariku menyentuh lukanya. Ia kesakitan. Dan aku merasa ngilu. Aku berhenti. 
Amy lalu membuka matanya. Ia menarik wajahku lembut, mendekatkan wajahnya ke telingaku. 
“Obati aku, Bill..” bisiknya. 
Aku merasakan permukaan bibirnya menyentuh permukaan leherku. 
Lalu, tangannya menggiring kepalaku perlahan, mendekatkan bibirku ke luka di payudaranya. Aku membasahi bibirku, menyentuhkannya ke permukaan luka itu.
Tangannya lembut mengusap leher hingga punggungku. Hawa hangat menjalari tubuhku. 
Bibirku masih di sana. Menyentuh setiap permukaan. Mengobati lukanya... 

Udara pengap dalam kamar. Aroma cat dalam ruangan bercampur aroma tanah dari luar. hujan sudah reda sejak tadi. Menyisakan sepi.  

Malam yang lengang. 
Malam yang tenang sebelum suara sirine samar terdengar di kejauhan.

***




      







Kamis, 02 Februari 2017

Eni dan Belakang Rumahku

Ketika aku kelas 1 SMA, keluargaku pindah ke rumah baru. Kami pindah ke kota kabupaten. Sebelumnya kami tinggal di kampung. Rumah baru kami adalah salah satu rumah di sebuah perumahan baru. Baru sebanyak 20% rumah yang dihuni di perumahan itu. Termasuk rumahku yang belum sepenuhnya jadi itu.

Selayaknya perumahan baru, kami dan tetangga belum saling mengenal. Jarak rumah kami pun berjauhan. Latar belakang dan pekerjaan tiap anggota keluarga di perumahan ini sangat beragam. Ayahku sendiri adalah pegawai di sebuah perusahaan BUMN.  

Hanya sedikit peristiwa yang kami alami di rumah itu. Kami memang hanya sebentar menempatinya. Setahun kemudian rumah itu dijual setelah orang tuaku memutuskan untuk berpisah.

Bagiku, rumah itu memang hanya melahirkan kesedihan. 
Salah satunya akan kuceritakan padamu.

**

Tak lama setelah mama tiba di rumah, aku bisa mendengar gerutuannya. Dari dapur hingga ruang makan, aku bisa mendengar mama berbicara hampir tak berhenti dan kudengar namaku disebut-sebut. Aku juga dengar bapak menyahut. Karena itu, aku segera tahu bahwa mereka sedang membicarakan aku.

Dari percakapan mereka, aku tahu bahwa mama baru saja mendengar obrolan tak mengenakkan dari para tetangga tentangku. Mama memang seperti sengaja berbicara nyaring agar aku yang sejak tadi masih di kamar itu bisa mendengar suaranya.

Akhirnya, aku tahu apa yang mereka persoalkan. Mama bilang, mama tak sengaja mendengarkan obrolan Eni dan beberapa tetangga tentangku. Mama mendengar itu saat kebetulan lewat di samping rumah Eni.

Akan kuceritakan dulu siapa Eni itu.

Eni adalah keponakan tetanggaku saat masih tinggal di kampung. Kami se-SMP dan ia tinggal di rumah bibinya, tetangga kami itu. Namun, saat SMA, kami masuk ke sekolah berbeda. Secara kebetulan, orang tua Eni membelikannya rumah di perumahan baru ini, tak jauh dari blok rumahku. Jadi, bisa dibilang, di komplek perumahan ini hanya Eni-lah yang paling tahu tentang keluarga kami. Namun, Eni juga adalah salah satu dari sekian banyak temanku yang tak mengenal siapa dan bagaimana aku.

“Dia tuh orangnya gimana sih?”, tanya salah seorang tetangga kepada Eni.
‘Dia’ yang dimaksud adalah aku karena memang sebelumnya mama mendengar mereka sedang membicarakanku.
Kayaknya sih  sombong“
“Iya, ya.  Enggak pernah keluar rumah. Enggak pernah gabung sama kita-kita ngobrol kayak gini”
“Iya. Dari dulu juga enggak pernah keluar rumah.“

Rupanya itu penyebab gerutuan mama. Mama marah padaku karena aku tak pernah mau keluar rumah. Kerjaanku sehari-hari sepulang sekolah hanya membaca buku, menggambar, menulis, atau asik dengan barang-barang kerajinan tangan buatanku.

Mama sudah bosan menyuruhku main keluar rumah. Jika umumnya orang tua memarahi anaknya karena terlalu sering main di luar rumah, maka mama sebaliknya. Dan biasanya aku hanya menjawab dengan “Rumahku istanaku”. Aku menjawab itu karena rasanya tak ada penjelasanku yang akan bisa mama terima. Mama tak akan terima jika aku hanya bilang, “Aku bukan tidak mau, tapi tidak bisa”.

Bapak sebenarnya tak pernah terlalu memusingkan aku yang tak pernah bergaul dengan tetangga ini. Bapak mengerti karena pada dasarnya dia orang yang sama seperti aku. Bisa dikatakan, aku mendapatkan sifat ini dari bapak. Bapak adalah orang yang hanya perlu rumah dan keluarga untuk bisa bersenang-senang dan mengembalikan tenaga setelah capek dan suntuk dengan pekerjaannya.

Mama berbeda. Mama enerjik. Sangat mudah bergaul dan pergaulannya luas. Sebenarnya, itulah sebabnya aku mengagumi mama. Karena mama bisa melakukan apa yang tidak bisa kulakukan.

Namun, malam itu situasinya sedikit berbeda. Baik mama maupun bapak sama-sama menyalahkanku. Pasalnya, aku membuat orang lain jadi bergunjing tentang aku. Aku membiarkan orang-orang percaya dengan kesimpulan mereka sendiri tentang aku. Aku membuat orang-orang berpikir bahwa aku sombong yang dengan begitu tak menutup kemungkinan mereka akan menganggap orang tuaku tak bisa mendidik anaknya. Dan karena itulah malam itu mama dan bapak memarahiku habis-habisan.

“Makan tuh ‘Rumahku istanaku’!” kata mama. Dan bapak diam seperti setuju.
Aku merasa sangat kecewa. Bukan karena anggapan orang-orang seperti Eni. Tapi karena orang-orang terdekat yang aku harapkan paling mengerti aku pun berkata demikian. Aku merasa, sesulit itukah menjadi diri sendiri?

Aku ingat saat aku masih di kampung, keseharianku tak jauh berbeda dengan saat aku sudah pindah ke rumah baru ini. Aku tak pernah menyukai bagian depan rumah, karena dari bagian itulah biasanya tamu masuk. Aku menghindari setiap teras rumah karena di sanalah biasanya para tetangga berkumpul saat senggang. Aku sering tersiksa jika mama menyuruhku pergi ke warung. Bukan karena jarak warung itu memang jauh, tapi karena pergi ke warung artinya aku harus melewati banyak rumah dan berakhir dengan harus bercakap-cakap dengan pemilik warung.  Aku selalu merasa kikuk dan bingung harus berbicara tentang apa.

Aku selalu merasa nyaman di belakang rumah. Jauh di belakang rumah. Lebih tepatnya di kebun sayuran milikku yang dari arah rumah tak akan terlihat karena terhalang oleh kandang ayam kami. Aku lebih suka naik ke atas pohon, lalu membaca buku hingga terkadang hampir ketiduran. Aku lebih suka bermain dengan hewan-hewan peliharaan. Aku lebih merasa aman dan ramai di tempat sepi.

Eni hanya satu dari sekian banyak teman yang tak mengenal aku dengan baik. Aku tak keberatan. Pun aku tak akan dengan sengaja menjadi orang yang benar-benar seperti yang mereka simpulkan. Karena memang tak demikian kenyataannya. Kelak mereka akan tahu dengan sendirinya. Atau mungkin tidak akan pernah sama sekali.

*

Beberapa minggu setelah peristiwa itu, aku membeli martabak di depan ruko yang terletak di bagian depan perumahan kami.  Sambil menunggu martabak selesai dimasak, aku bercakap-cakap sejenak dengan penjualnya. Penjual itu seorang perempuan yang usianya sepertinya tak berbeda jauh denganku. Aku menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang makin lama terasa makin pribadi. Tapi aku senang-senang saja menjawabnya.  
Kemudian, sambil memberikan kantong martabak itu kepadaku, dia berkata begini. 

“Rupanya kamu enggak sombong seperti yang orang-orang omongin, ya.”
“Hah?” aku seketika merasa heran.
“Iya. Aku dengar dari orang-orang, kamu itu sombong. Enggak mau ngobrol sama orang-orang. Rupanya kalau diajak ngobrol duluan, kamu asik juga diajak ngobrol.”

Aku tertawa canggung saat meninggalkan penjual martabak itu.

Sepanjang jalan menuju rumah, pikiranku penuh dan hambar. Aku teringat perkataan Eni. Aku teringat cibiran mama padaku, “Makan tuh!”

Dadaku sesak.


Aku tak ingat apakah aku menangis atau tidak saat berjalan menuju rumah. 
Tapi aku masih ingat, malam itu, perjalanan menuju rumah terasa lebih lama daripada biasanya. 


***