AMY menarik tanganku. Ujung kukunya yang robek menggores permukaan kulitku. Tangannya dingin. Gemetar.
“Aku mau kasih dia pelajaran!”
“Jangan, Bill..!”
“Amy!”
“Demi aku..”
Aku melepaskan tanganku dari
genggamannya. Kulayangkan tinju ke tiang di samping Amy. Ia terkejut, menarik
langkahnya. Tubuhku gemetar. Aku merasakan panas menjalar dari punggung hingga
kepala. Aku segera menjauhi Amy sebelum akhirnya ia mengejarku.
“Bill..!”
*
Ia tak menyalakan lampu saat kami
tiba di ruang ini. Aku lupa sudah berapa lama kami duduk dekat pintu kaca menuju
balkon. Cahaya kota meremang di wajah Amy. Ia masih terlihat cantik seperti
dulu. Meski dalam keadaan seburuk ini.
Kemeja warna pastelnya kusut.
“Aku ganti baju sebentar”
Amy hendak beranjak dan aku menahannya.
“Kamu yakin malam ini kamu aman
di sini?”
“Dia tidak akan datang.”
Aku membuang muka sambil tertawa
sinis. Aku benci dibiarkan merasa sekhawatir ini.
“Bill.., percaya padaku.”
“Oke. Sekarang buka bajumu. Tunjukkan bahwa kamu memang tidak apa-apa.”
“Oke. Sekarang buka bajumu. Tunjukkan bahwa kamu memang tidak apa-apa.”
Amy terdiam. Dengan pelan ia mulai membuka kancing atas
kemejanya. Memejamkan mata, ia terlihat gugup. Aku menahan dan menurunkan kedua tangannya. Aku melanjutkan membuka kancing satu persatu, lalu menanggalkan kemejanya itu.
Aku menahan napas. Rasa panas
kembali menjalari tubuhku. Amy memejamkan mata dan napasnya terdengar berat.
Aku membuka seluruh kemejanya dan melihat apa yang sejak tadi sebetulnya tak
ingin kulihat.
“Anjing!”
Aku tak mengira suara yang setengah mati kutahan itu terdengar pula olehnya. Aku tertunduk, memejamkan mata. Jemariku mencengkram kedua bahunya.
Aku tak mengira suara yang setengah mati kutahan itu terdengar pula olehnya. Aku tertunduk, memejamkan mata. Jemariku mencengkram kedua bahunya.
“Bill...” Suara Amy terdengar lemah.
Aku membuka mataku kembali.
Melihat kembali. Pikiranku yang kacau membuatku tak mampu menghitung jumlah
bekas sundutan rokok di tubuh Amy. Di dada, kedua payudara, perut. Bekas bakar
itu masih merah. Aku pun bisa melihat lebam di pinggang kiri Amy.
Aku kembali menutup kedua mataku.
Masih memegang kedua bahunya.
“Bill..”
“Aku mau bunuh dia!”
“Bill...” kini Amy menatap
mataku. Gerakan tirai tipis yang tertiup angin membayang di kedua bola matanya.
“Jangan lakukan hal yang akan membuatku
merasa semakin tidak berarti.”
“Semakin? Jadi, siapa yang
pertama kali membuat kamu merasa tidak berarti? Dia? Siapa dia? Si bajingan
itu?!”
Mata Amy berkaca. Aku segera memeluknya.
Tangisnya tertahan. Napasnya menggema di telingaku.
Tubuhku terasa panas dan kepalaku rasanya akan pecah. Aku betul-betul ingin membunuh lelaki itu.
Beberapa menit berlalu. Rasa
panas itu berangsur hilang.
“Besok kita obati lukamu. Aku
antar kamu ke dokter.”
Amy mengambil tanganku.
Meletakannya perlahan di dadanya. Aku ngilu membayangkan rasa sakitnya saat
tanganku menyentuh luka-luka itu.
“Kamu bisa merasakan rasa
sakitku, Bill?”
“Aku bahkan tak lagi bisa
membedakan siapa sebetulnya yag sedang dia sakiti. Kamu atau aku.”
Ia tersenyum. Ia masih bisa
tersenyum.
“Aku sepertinya tak perlu dokter.
Ini hanya luka bakar. Dan tak parah.”
“Amy? Kamu pikir aku setuju?”
Amy menatapku. Lalu ia tersenyum.
Aku merasa malu. Ia pasti sedang menertawakan ucapakanku barusan. Ya, sejak
kapan ia harus minta persetujuanku untuk melakukan sesuatu. Bodohnya aku.
“Maksudku, aku akan khawatir jika
lukamu tak diobati.”
“Ketika masih kecil, setiap aku
luka kecil, hal yang pertama kali mama lakukan adalah menempelkan air liurnya
ke lukaku. Aku tak pernah tahu apa manfaatnya secara medis. Tapi anehnya itu
selalu berhasil membuat lukaku tak menjadi parah. Bahkan segera mengering.”
Amy berbicara sambil meletakan
telunjuknya di lidahnya, lalu menempelkan telunjuk itu di lukanya. Satu persatu.
Ia masih berbicara. Aku membasahi
telunjukku dengan air liur, lalu menempelkannya di lukanya. Ia cepat
menatapku, lalu tersenyum.
“Kau lihat? Aku sudah memiliki
dokterku sendiri.”
Aku mengalihkan pandanganku. Mengapa ia masih bisa berbicara setenang itu?
Aku mengalihkan pandanganku. Mengapa ia masih bisa berbicara setenang itu?
Malam merangkak jauh. Aku masih
di apartemen Amy. Kami masih duduk di dekat pintu balkonnya dan ia sudah
tertidur sejak tadi di pahaku. Kakiku kram, tapi aku tak mau
bergerak dan membuatnya terbangun.
Cahaya kota masih membayang di wajahnya. Seperti masa lalu yang
membayang dalam kepalaku.
*
“Billa. Semalam Lu di mana? Gua
telepon berkali-kali. Awalnya nyambung,
tapi enggak diangkat. Terus malah enggak nyambung sama
sekali.”
“Sori, Gus. Tadi malam gua
ketiduran di rumah teman. Capek banget gue. Teman gue enggak berani bangunin.”
“Lu dicariin Pak Yohanes tuh. Katanya
minggu lalu Lu nawarin lukisan Lu ke
dia? Dia mau lihat."
“Ah, serius? Kenapa dia enggak hubungi gue langsung? Oke, nanti gua telepon dia.”
"Emang lukisan mana yang mau Lu lepas? Lagi enggak punya duit ya, Lu?
Aku segera meninggalkan Agus. Ia persis seperti polisi pembuat surat kehilangan. Banyak tanya.
Kaus oblongku terasa lengket di kulit. Aku lapar. Perutku tak kenal nasi sejak siang kemarin. Aku menjejalkan sisa potongan martabak ke mulutku. Agus pasti membawa pacarnya ke sini tadi malam. Dapur ini selalu rapi setiap Lily berkunjung. Kamar mandi ini pun tak bau kandang sapi lagi.
"Emang lukisan mana yang mau Lu lepas? Lagi enggak punya duit ya, Lu?
Aku segera meninggalkan Agus. Ia persis seperti polisi pembuat surat kehilangan. Banyak tanya.
Kaus oblongku terasa lengket di kulit. Aku lapar. Perutku tak kenal nasi sejak siang kemarin. Aku menjejalkan sisa potongan martabak ke mulutku. Agus pasti membawa pacarnya ke sini tadi malam. Dapur ini selalu rapi setiap Lily berkunjung. Kamar mandi ini pun tak bau kandang sapi lagi.
“Lahir batin Lu makmur ya semalam?!”
teriakku dari dalam kamar mandi.
“Berisik Kau, betina!”
Aku tertawa keras mendengar teriakan Agus.
Aku tertawa keras mendengar teriakan Agus.
Kopi pahitku masih tersisa
setengah cangkir saat Agus selesai berbicara tentang banyak hal. Aku hanya menyimak sepuluh menit pertama ucapannya. selebihnya aku hanya pura-pura mendengarkan. Pikiranku tak di sini.
Agus laki-laki, tapi sungguh doyan bicara. Banyak orang bilang, Tuhan keliru memasang kelamin saat kami diciptakan. Semestinya aku yang lelaki dan dia wanita. Aku sering menolak dikatai kembar dengannya oleh orang-orang kendati wajah kami memang mirip dan lahir di waktu yang sama. Dan dia memang bukan kerabatku. Tapi, Agus adalah orang yang membuatku merasa bukan terlahir dari sebuah batu. Orang yang bisa kuandalkan hampir dalam situasi apapun.
"Bill, Lu kalau lagi cekak, ngomong. Lu ngapain ngelepas Chaos? Dulu jangankan ke si Pak Yohanes, sama bosnya Lily juga Lu enggak mau ngelepas."
"Gue bakal bikin yang lebih bagus dari Chaos. Lagipula lukisan itu kayak pacar. Kalau bukan jodoh, ya udah, lepas aja."
"Paling bisa Lu kalau ngomong.."
Agus laki-laki, tapi sungguh doyan bicara. Banyak orang bilang, Tuhan keliru memasang kelamin saat kami diciptakan. Semestinya aku yang lelaki dan dia wanita. Aku sering menolak dikatai kembar dengannya oleh orang-orang kendati wajah kami memang mirip dan lahir di waktu yang sama. Dan dia memang bukan kerabatku. Tapi, Agus adalah orang yang membuatku merasa bukan terlahir dari sebuah batu. Orang yang bisa kuandalkan hampir dalam situasi apapun.
"Bill, Lu kalau lagi cekak, ngomong. Lu ngapain ngelepas Chaos? Dulu jangankan ke si Pak Yohanes, sama bosnya Lily juga Lu enggak mau ngelepas."
"Gue bakal bikin yang lebih bagus dari Chaos. Lagipula lukisan itu kayak pacar. Kalau bukan jodoh, ya udah, lepas aja."
"Paling bisa Lu kalau ngomong.."
Sebuah pesan masuk ke telepon
selularku.
Bill,
dia dtg. Aku takut.
Aku segera memasukkan rokok ke dalam cangkir kopiku. Kuraih jaket jeans, kunci motor, dan segera pergi.
“Heh! Ke mana lagi Lu, betina?”
*
Aku memarkir trailku dan berlari
menuju minimarket di lantai dasar bangunan apartemen itu. Segera kubayar
sebotol bir. Membuka dan membuang isinya.
Nomor 84. Aku mengetuk pintu itu
dengan keras. Teriakan penghuninya terdengar mendekati pintu. Suaranya berat
dan marah.
Pintu terbuka dan aku segera
mendorong tubuh lelaki itu sebelum ia bertanya tujuanku datang ke sini. Ia tersungkur, tapi segera bangun. Aku berlari menuju ruang dalam. Aku tak menemukannya. Aku
mulai panik. Lelaki itu berteriak, menarik dan membantingku. Tubuhku terhempas dan menimpa TV. Ia sudah berada di depanku lagi saat aku mencoba bangun. Matanya merah. Ia menarik kerah jaketku.
"Siapa kau? Mau apa?!"
Aku tak bisa bernapas. Kugenggam erat botol kosong yang sedari tadi tak lepas dari tanganku. Sekuat tenaga aku mengayunkan botol itu ke bagian belakang kepalanya. Ia terjatuh. Tubuhnya tak bergerak lagi.
"Siapa kau? Mau apa?!"
Aku tak bisa bernapas. Kugenggam erat botol kosong yang sedari tadi tak lepas dari tanganku. Sekuat tenaga aku mengayunkan botol itu ke bagian belakang kepalanya. Ia terjatuh. Tubuhnya tak bergerak lagi.
Aku berlari menuju kamar. Amy di
sana, tak memakai apapun.
“Bill...”
“Bill...”
Aku mengangkat tubuhnya. Menaruhnya di tempat tidur, lalu mengambil pakaian apapun dari dalam lemari dan memakaikannya. Tubuhnya lemah. Bibirnya bengkak dan berdarah. Pelipisnya lebam. Aku panik dan segera membawa Amy pergi.
*
Aku tahu Agus sengaja tak pulang malam
ini. Sejak aku membawa Amy tadi siang, ia belum kembali kecuali saat membawakan sup, obat, dan perban dari apotek. Ia berkata aku bisa kapanpun memintanya datang jika aku butuh bantuan.
Amy masih tertidur di kasur tipis dalam studioku. Ia
belum bisa makan. Hanya tiga sendok sup yang bisa ia telan. Aku
sudah membersihkan darah dari tubuhnya, tapi lukanya masih di sana.
“Bill...”
“Amy. Mau minum?”
“Aku enggak mau pulang, Bill.”
“Kamu memang tidak boleh pulang.
Kamu di sini dengan aku.”
“Dia bagaimana?”
Aku memandangnya. Mengusap
rambutnya. Berharap ia tak bertanya lebih jauh.
“Masih sakit? Kuobati?”
Ia mengangguk. Aku membuka
kancing kemejaku yang kupakaikan padanya tadi sore. Aku menutup mataku
sebentar, menyiapkan diri untuk melihat kembali luka-luka itu.
Bajingan! Luka itu bertambah banyak.
Dadaku mulai sesak kembali. Napasku menjadi lebih cepat.
“Hei..., it’s okay. I’m okay.
I'm with you..”
Aku mengangkat wajahku. Menahan
tangis sambil menyampingkan rambutnya yang menutupi wajah. Ia menatapku.
Lengannya yang masih lemah berusaha mendekatkan wajahku ke wajahnya.
“Bill..”
Wajahku bisa merasakan napasnya.
“Obati lukaku...”
Aku membasahi ujung telunjukku
dengan liurku dan melekatkannya ke luka di bahu Amy. Kubasahi lagi, kusentuhkan
ke luka di dadanya. Ia memejamkan mata dan menggigit bibirnya setiap jariku menyentuh lukanya. Ia kesakitan. Dan aku merasa ngilu. Aku berhenti.
Amy lalu membuka matanya. Ia menarik wajahku lembut, mendekatkan wajahnya ke telingaku.
“Obati aku, Bill..” bisiknya.
Aku merasakan permukaan bibirnya menyentuh permukaan leherku.
Lalu, tangannya menggiring kepalaku perlahan, mendekatkan bibirku ke luka di payudaranya. Aku membasahi bibirku, menyentuhkannya ke permukaan luka itu.
Amy lalu membuka matanya. Ia menarik wajahku lembut, mendekatkan wajahnya ke telingaku.
“Obati aku, Bill..” bisiknya.
Aku merasakan permukaan bibirnya menyentuh permukaan leherku.
Lalu, tangannya menggiring kepalaku perlahan, mendekatkan bibirku ke luka di payudaranya. Aku membasahi bibirku, menyentuhkannya ke permukaan luka itu.
Tangannya lembut mengusap leher hingga punggungku. Hawa hangat menjalari tubuhku.
Bibirku masih di sana. Menyentuh setiap permukaan. Mengobati lukanya...
Udara pengap dalam kamar. Aroma cat dalam ruangan bercampur aroma tanah dari luar. hujan sudah reda sejak tadi. Menyisakan sepi.
Bibirku masih di sana. Menyentuh setiap permukaan. Mengobati lukanya...
Udara pengap dalam kamar. Aroma cat dalam ruangan bercampur aroma tanah dari luar. hujan sudah reda sejak tadi. Menyisakan sepi.
Malam yang lengang.
Malam yang tenang sebelum suara sirine samar terdengar di kejauhan.
Malam yang tenang sebelum suara sirine samar terdengar di kejauhan.
***