Kamis, 02 Februari 2017

Eni dan Belakang Rumahku

Ketika aku kelas 1 SMA, keluargaku pindah ke rumah baru. Kami pindah ke kota kabupaten. Sebelumnya kami tinggal di kampung. Rumah baru kami adalah salah satu rumah di sebuah perumahan baru. Baru sebanyak 20% rumah yang dihuni di perumahan itu. Termasuk rumahku yang belum sepenuhnya jadi itu.

Selayaknya perumahan baru, kami dan tetangga belum saling mengenal. Jarak rumah kami pun berjauhan. Latar belakang dan pekerjaan tiap anggota keluarga di perumahan ini sangat beragam. Ayahku sendiri adalah pegawai di sebuah perusahaan BUMN.  

Hanya sedikit peristiwa yang kami alami di rumah itu. Kami memang hanya sebentar menempatinya. Setahun kemudian rumah itu dijual setelah orang tuaku memutuskan untuk berpisah.

Bagiku, rumah itu memang hanya melahirkan kesedihan. 
Salah satunya akan kuceritakan padamu.

**

Tak lama setelah mama tiba di rumah, aku bisa mendengar gerutuannya. Dari dapur hingga ruang makan, aku bisa mendengar mama berbicara hampir tak berhenti dan kudengar namaku disebut-sebut. Aku juga dengar bapak menyahut. Karena itu, aku segera tahu bahwa mereka sedang membicarakan aku.

Dari percakapan mereka, aku tahu bahwa mama baru saja mendengar obrolan tak mengenakkan dari para tetangga tentangku. Mama memang seperti sengaja berbicara nyaring agar aku yang sejak tadi masih di kamar itu bisa mendengar suaranya.

Akhirnya, aku tahu apa yang mereka persoalkan. Mama bilang, mama tak sengaja mendengarkan obrolan Eni dan beberapa tetangga tentangku. Mama mendengar itu saat kebetulan lewat di samping rumah Eni.

Akan kuceritakan dulu siapa Eni itu.

Eni adalah keponakan tetanggaku saat masih tinggal di kampung. Kami se-SMP dan ia tinggal di rumah bibinya, tetangga kami itu. Namun, saat SMA, kami masuk ke sekolah berbeda. Secara kebetulan, orang tua Eni membelikannya rumah di perumahan baru ini, tak jauh dari blok rumahku. Jadi, bisa dibilang, di komplek perumahan ini hanya Eni-lah yang paling tahu tentang keluarga kami. Namun, Eni juga adalah salah satu dari sekian banyak temanku yang tak mengenal siapa dan bagaimana aku.

“Dia tuh orangnya gimana sih?”, tanya salah seorang tetangga kepada Eni.
‘Dia’ yang dimaksud adalah aku karena memang sebelumnya mama mendengar mereka sedang membicarakanku.
Kayaknya sih  sombong“
“Iya, ya.  Enggak pernah keluar rumah. Enggak pernah gabung sama kita-kita ngobrol kayak gini”
“Iya. Dari dulu juga enggak pernah keluar rumah.“

Rupanya itu penyebab gerutuan mama. Mama marah padaku karena aku tak pernah mau keluar rumah. Kerjaanku sehari-hari sepulang sekolah hanya membaca buku, menggambar, menulis, atau asik dengan barang-barang kerajinan tangan buatanku.

Mama sudah bosan menyuruhku main keluar rumah. Jika umumnya orang tua memarahi anaknya karena terlalu sering main di luar rumah, maka mama sebaliknya. Dan biasanya aku hanya menjawab dengan “Rumahku istanaku”. Aku menjawab itu karena rasanya tak ada penjelasanku yang akan bisa mama terima. Mama tak akan terima jika aku hanya bilang, “Aku bukan tidak mau, tapi tidak bisa”.

Bapak sebenarnya tak pernah terlalu memusingkan aku yang tak pernah bergaul dengan tetangga ini. Bapak mengerti karena pada dasarnya dia orang yang sama seperti aku. Bisa dikatakan, aku mendapatkan sifat ini dari bapak. Bapak adalah orang yang hanya perlu rumah dan keluarga untuk bisa bersenang-senang dan mengembalikan tenaga setelah capek dan suntuk dengan pekerjaannya.

Mama berbeda. Mama enerjik. Sangat mudah bergaul dan pergaulannya luas. Sebenarnya, itulah sebabnya aku mengagumi mama. Karena mama bisa melakukan apa yang tidak bisa kulakukan.

Namun, malam itu situasinya sedikit berbeda. Baik mama maupun bapak sama-sama menyalahkanku. Pasalnya, aku membuat orang lain jadi bergunjing tentang aku. Aku membiarkan orang-orang percaya dengan kesimpulan mereka sendiri tentang aku. Aku membuat orang-orang berpikir bahwa aku sombong yang dengan begitu tak menutup kemungkinan mereka akan menganggap orang tuaku tak bisa mendidik anaknya. Dan karena itulah malam itu mama dan bapak memarahiku habis-habisan.

“Makan tuh ‘Rumahku istanaku’!” kata mama. Dan bapak diam seperti setuju.
Aku merasa sangat kecewa. Bukan karena anggapan orang-orang seperti Eni. Tapi karena orang-orang terdekat yang aku harapkan paling mengerti aku pun berkata demikian. Aku merasa, sesulit itukah menjadi diri sendiri?

Aku ingat saat aku masih di kampung, keseharianku tak jauh berbeda dengan saat aku sudah pindah ke rumah baru ini. Aku tak pernah menyukai bagian depan rumah, karena dari bagian itulah biasanya tamu masuk. Aku menghindari setiap teras rumah karena di sanalah biasanya para tetangga berkumpul saat senggang. Aku sering tersiksa jika mama menyuruhku pergi ke warung. Bukan karena jarak warung itu memang jauh, tapi karena pergi ke warung artinya aku harus melewati banyak rumah dan berakhir dengan harus bercakap-cakap dengan pemilik warung.  Aku selalu merasa kikuk dan bingung harus berbicara tentang apa.

Aku selalu merasa nyaman di belakang rumah. Jauh di belakang rumah. Lebih tepatnya di kebun sayuran milikku yang dari arah rumah tak akan terlihat karena terhalang oleh kandang ayam kami. Aku lebih suka naik ke atas pohon, lalu membaca buku hingga terkadang hampir ketiduran. Aku lebih suka bermain dengan hewan-hewan peliharaan. Aku lebih merasa aman dan ramai di tempat sepi.

Eni hanya satu dari sekian banyak teman yang tak mengenal aku dengan baik. Aku tak keberatan. Pun aku tak akan dengan sengaja menjadi orang yang benar-benar seperti yang mereka simpulkan. Karena memang tak demikian kenyataannya. Kelak mereka akan tahu dengan sendirinya. Atau mungkin tidak akan pernah sama sekali.

*

Beberapa minggu setelah peristiwa itu, aku membeli martabak di depan ruko yang terletak di bagian depan perumahan kami.  Sambil menunggu martabak selesai dimasak, aku bercakap-cakap sejenak dengan penjualnya. Penjual itu seorang perempuan yang usianya sepertinya tak berbeda jauh denganku. Aku menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang makin lama terasa makin pribadi. Tapi aku senang-senang saja menjawabnya.  
Kemudian, sambil memberikan kantong martabak itu kepadaku, dia berkata begini. 

“Rupanya kamu enggak sombong seperti yang orang-orang omongin, ya.”
“Hah?” aku seketika merasa heran.
“Iya. Aku dengar dari orang-orang, kamu itu sombong. Enggak mau ngobrol sama orang-orang. Rupanya kalau diajak ngobrol duluan, kamu asik juga diajak ngobrol.”

Aku tertawa canggung saat meninggalkan penjual martabak itu.

Sepanjang jalan menuju rumah, pikiranku penuh dan hambar. Aku teringat perkataan Eni. Aku teringat cibiran mama padaku, “Makan tuh!”

Dadaku sesak.


Aku tak ingat apakah aku menangis atau tidak saat berjalan menuju rumah. 
Tapi aku masih ingat, malam itu, perjalanan menuju rumah terasa lebih lama daripada biasanya. 


***