Ketika
aku kelas 1 SMA, keluargaku pindah ke rumah baru. Kami pindah ke kota
kabupaten. Sebelumnya kami tinggal di kampung. Rumah baru kami adalah salah
satu rumah di sebuah perumahan baru. Baru sebanyak 20% rumah yang dihuni di perumahan
itu. Termasuk rumahku yang belum sepenuhnya jadi itu.
Selayaknya
perumahan baru, kami dan tetangga belum saling mengenal. Jarak rumah kami pun
berjauhan. Latar belakang dan pekerjaan tiap anggota keluarga di perumahan ini
sangat beragam. Ayahku sendiri adalah pegawai di sebuah perusahaan BUMN.
Hanya sedikit peristiwa yang kami alami di rumah itu. Kami memang hanya sebentar menempatinya. Setahun kemudian rumah itu dijual setelah orang tuaku memutuskan untuk berpisah.
Bagiku, rumah
itu memang hanya melahirkan kesedihan.
Salah satunya akan kuceritakan padamu.
Salah satunya akan kuceritakan padamu.
**
Tak
lama setelah mama tiba di rumah, aku bisa mendengar gerutuannya. Dari dapur
hingga ruang makan, aku bisa mendengar mama berbicara hampir tak berhenti dan
kudengar namaku disebut-sebut. Aku juga dengar bapak menyahut. Karena itu, aku
segera tahu bahwa mereka sedang membicarakan aku.
Dari
percakapan mereka, aku tahu bahwa mama baru saja mendengar obrolan tak
mengenakkan dari para tetangga tentangku. Mama memang seperti sengaja berbicara
nyaring agar aku yang sejak tadi masih di kamar itu bisa mendengar suaranya.
Akhirnya,
aku tahu apa yang mereka persoalkan. Mama bilang, mama tak sengaja mendengarkan
obrolan Eni dan beberapa tetangga tentangku. Mama mendengar itu saat kebetulan
lewat di samping rumah Eni.
Akan kuceritakan
dulu siapa Eni itu.
Eni
adalah keponakan tetanggaku saat masih tinggal di kampung. Kami se-SMP dan ia
tinggal di rumah bibinya, tetangga kami itu. Namun, saat SMA, kami masuk ke
sekolah berbeda. Secara kebetulan, orang tua Eni membelikannya rumah di
perumahan baru ini, tak jauh dari blok rumahku. Jadi, bisa dibilang, di komplek
perumahan ini hanya Eni-lah yang paling tahu tentang keluarga kami. Namun, Eni juga adalah salah satu dari sekian banyak temanku yang tak mengenal siapa dan
bagaimana aku.
“Dia
tuh orangnya gimana sih?”, tanya salah seorang tetangga kepada Eni.
‘Dia’
yang dimaksud adalah aku karena memang sebelumnya mama mendengar mereka sedang
membicarakanku.
“Kayaknya sih sombong“
“Iya,
ya. Enggak
pernah keluar rumah. Enggak pernah
gabung sama kita-kita ngobrol kayak gini”
“Iya.
Dari dulu juga enggak pernah keluar
rumah.“
Rupanya
itu penyebab gerutuan mama. Mama marah padaku karena aku tak pernah mau keluar
rumah. Kerjaanku sehari-hari sepulang sekolah hanya membaca buku, menggambar,
menulis, atau asik dengan barang-barang kerajinan tangan buatanku.
Mama
sudah bosan menyuruhku main keluar rumah. Jika umumnya orang tua memarahi
anaknya karena terlalu sering main di luar rumah, maka mama sebaliknya. Dan biasanya
aku hanya menjawab dengan “Rumahku istanaku”. Aku menjawab itu karena rasanya
tak ada penjelasanku yang akan bisa mama terima. Mama tak akan terima jika aku
hanya bilang, “Aku bukan tidak mau, tapi tidak bisa”.
Bapak
sebenarnya tak pernah terlalu memusingkan aku yang tak pernah bergaul dengan tetangga
ini. Bapak mengerti karena pada dasarnya dia orang yang sama seperti aku. Bisa dikatakan,
aku mendapatkan sifat ini dari bapak. Bapak adalah orang yang hanya perlu rumah
dan keluarga untuk bisa bersenang-senang dan mengembalikan tenaga setelah capek
dan suntuk dengan pekerjaannya.
Mama
berbeda. Mama enerjik. Sangat mudah bergaul dan pergaulannya luas. Sebenarnya,
itulah sebabnya aku mengagumi mama. Karena mama bisa melakukan apa yang tidak
bisa kulakukan.
Namun,
malam itu situasinya sedikit berbeda. Baik mama maupun bapak sama-sama
menyalahkanku. Pasalnya, aku membuat orang lain jadi bergunjing tentang aku. Aku
membiarkan orang-orang percaya dengan kesimpulan mereka sendiri tentang aku. Aku
membuat orang-orang berpikir bahwa aku sombong yang dengan begitu tak menutup
kemungkinan mereka akan menganggap orang tuaku tak bisa mendidik anaknya. Dan karena
itulah malam itu mama dan bapak memarahiku habis-habisan.
“Makan
tuh ‘Rumahku istanaku’!” kata mama. Dan
bapak diam seperti setuju.
Aku
merasa sangat kecewa. Bukan karena anggapan orang-orang seperti Eni. Tapi
karena orang-orang terdekat yang aku harapkan paling mengerti aku pun berkata
demikian. Aku merasa, sesulit itukah menjadi diri sendiri?
Aku
ingat saat aku masih di kampung, keseharianku tak jauh berbeda dengan saat aku
sudah pindah ke rumah baru ini. Aku tak pernah menyukai bagian depan rumah,
karena dari bagian itulah biasanya tamu masuk. Aku menghindari setiap teras
rumah karena di sanalah biasanya para tetangga berkumpul saat senggang. Aku sering
tersiksa jika mama menyuruhku pergi ke warung. Bukan karena jarak warung itu
memang jauh, tapi karena pergi ke warung artinya aku harus melewati banyak
rumah dan berakhir dengan harus bercakap-cakap dengan pemilik warung. Aku selalu merasa kikuk dan bingung harus
berbicara tentang apa.
Aku
selalu merasa nyaman di belakang rumah. Jauh di belakang rumah. Lebih tepatnya
di kebun sayuran milikku yang dari arah rumah tak akan terlihat karena
terhalang oleh kandang ayam kami. Aku lebih suka naik ke atas pohon, lalu
membaca buku hingga terkadang hampir ketiduran. Aku lebih suka bermain dengan
hewan-hewan peliharaan. Aku lebih merasa aman dan ramai di tempat sepi.
Eni
hanya satu dari sekian banyak teman yang tak mengenal aku dengan baik. Aku tak
keberatan. Pun aku tak akan dengan sengaja menjadi orang yang benar-benar
seperti yang mereka simpulkan. Karena memang tak demikian kenyataannya. Kelak mereka
akan tahu dengan sendirinya. Atau mungkin tidak akan pernah sama sekali.
*
Beberapa
minggu setelah peristiwa itu, aku membeli martabak di depan ruko yang terletak
di bagian depan perumahan kami. Sambil
menunggu martabak selesai dimasak, aku bercakap-cakap sejenak dengan
penjualnya. Penjual itu seorang perempuan yang usianya sepertinya tak berbeda
jauh denganku. Aku menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang makin lama terasa
makin pribadi. Tapi aku senang-senang saja menjawabnya.
Kemudian, sambil memberikan kantong martabak
itu kepadaku, dia berkata begini.
“Rupanya kamu enggak sombong seperti yang orang-orang omongin, ya.”
“Hah?”
aku seketika merasa heran.
“Iya.
Aku dengar dari orang-orang, kamu itu sombong. Enggak mau ngobrol sama orang-orang. Rupanya kalau diajak ngobrol
duluan, kamu asik juga diajak ngobrol.”
Aku
tertawa canggung saat meninggalkan penjual martabak itu.
Sepanjang
jalan menuju rumah, pikiranku penuh dan hambar. Aku teringat perkataan Eni. Aku teringat cibiran mama padaku, “Makan
tuh!”
Dadaku sesak.
*
Aku
tak ingat apakah aku menangis atau tidak saat berjalan menuju rumah.
Tapi aku masih ingat, malam itu, perjalanan menuju rumah terasa lebih lama daripada biasanya.
Tapi aku masih ingat, malam itu, perjalanan menuju rumah terasa lebih lama daripada biasanya.
***