Pagi kemarin, pesan singkat dari Kirsty mau tak mau
membuatku bangun untuk tidak sekadar mematikan alarm dan tidur kembali. Aku
harus membuka mata dan berpikir sejenak harus seperti apa kubalas SMS-nya. “Hi
Ellis, aku ingin memberitahumu bahwa Steve akan pulang dalam waktu dekat,
karena ayahnya meninggal”, kujawab terimakasih karena telah memberitahuku.
Samar-samar terdengar lelaki perempuan bercakap-cakap
di dapur, pagi ini. Steve sudah datang rupanya. Suara perempuan muda itu pasti
Ezara, anak kakak perempuannya yang tertua. Dua kali pertemuan singkatku dengan
perempuan itu tak membuatku cepat melupakan suara ramahnya. Kali ini Ezara tak
membawa bayinya.
Pintu menuju halaman belakang terdengar dibuka. Lalu
keduanya kembali bercakap-cakap dengan suara yang semakin samar. Aku sempat
terlelap kembali setelah sadar rumah telah sepi saat aku terbangun lagi.
“Aku turut berduka cita atas meninggalnya ayahmu,
Steve” kataku ketika berpas-pasan dengan lelaki berumur empat puluhan itu di
muka kamar mandi. Ia berterima kasih sambil seperlunya memberitahu bahwa
ayahnya meninggal Sabtu kemarin. “Aku tak sempat datang ke pemakamannya”,
katanya. Kudengar nada bicaranya biasa saja. Seperti menceritakan kepergian
teman lama yang tak lagi terlalu akrab. Aku lalu berpikir mungkin aku yang
justru berlebihan, menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang menyedihkan
bagi Steve.
Steve masuk ke kamarnya setelah ia berkata bahwa
ia perlu istirahat. Penerbangan berjam-jam membuat kepalanya sakit.
****
Aku menutup pintu yang menuju teras belakang. Angin di
awal musim gugur mulai merontokkan daun-daun. Tiba-tiba aku teringat
percakapanku dengan Steve di sebuah makan malam sederhana, di teras ini. “Kau pasti lahir dari keluarga musisi”, tebakku saat itu.
“Aha! Kau salah, Ellis. Aku satu-satunya orang yang
memilih musik sebagai pekerjaan sekaligus teman hidupku”, kata Steve setelah
meletakkan kembali gelas red-wine di
samping piringnya. Ini kali pertama aku minum anggur, atas bujukkan Steve.
Katanya “Kau tak akan benar-benar merasakan kenikmatan beef steak kalau tak sambil minum red wine”.
Sebetulnya aku tak terlalu lapar malam ini. Tapi dari
sepuluh orang teman Steve yang ia undang untuk datang ke rumah dan makan siang
bersamanya ternyata cuma dua orang yang datang. Salad, daging kalkun, beef, hingga sausage kangguru, dan beberapa pack vegetable-curry dari restoran India, masih bertumpuk di dalam
kulkas. Akhirnya ia memohon padaku untuk membantunya menghabiskan semua makanan
itu malam ini. Steve bilang aku tak perlu memasak appun lagi. Tapi aku merasa
perlu menyumbang nasi. Walau nasi dan steak bukan pasangan serasi, (kecuali di
kedai-kedai steak di kota asalku) tapi ini lebih baik daripada aku membawa
tangan kosong.
Lalu Steve mulai bercerita tentang masa kecilnya. Makin
lama ia terlihat semakin asyik bercerita. Bagian ketika ia mengamuk karena
minta dibelikan grand piano di usia sepuluh tahun adalah bagian paling seru ia
ceritakan. Diam-diam, aku menemukan Steve yang lain. Steve yang malam ini tak
seperti Steve yang kukenal dari cerita Kirsty atau yang kulihat sendiri sebelumnya.
Steve tertawa lepas. Aku pun ikut tertawa. Bukan
karena mendengar cerita yang menurutnya lucu itu, tapi karena kebahagiaanku
bertemu dengan sosok Steve yang berbeda.
“Nasi apa ini? Rasanya berbeda..” kata tiba-tiba Steve
memotong ceritanya.
“Ini nasi yang kumasak dengan santan dan rempah. Di
negaraku, ini disebut nasi uduk.”
“Hmm.. Can I
have more?”
“Why not?
Help yourself, Mate..”
Nasi udukku tandas. Laris manis....
****
Di ruang tamu, kain penutup piano Steve terbuka. Di
atasnya terdapat foto kedua orang tuanya yang sedikit berdebu. Ibunya sudah
lebih dulu meninggal. Sedangkan ayahnya
April lalu berulang tahun yang ke-90 tahun. Setiap enam bulan sekali,
Steve selalu pulang dari pekerjaanya sebagai pemain piano di kapal pesiar. Ia
hanya akan menginap di rumah ini dua atau tiga malam saja. Selebihnya ia
habiskan di rumah ayahnya di sebuah suburb di sebelah barat kota Melbourne.
Kali ini hal itu tentu tak lagi bisa dilakukannya.
Aku sering berpikir, betapa kesepian menjalani
hidup seperti yang Steve jalani. Tak menikah, bahkan tak memiliki “partner”
seperti kebanyakan orang-orang di sini. Jika pulang selama tak lebih dari tiga
minggu, ia sering keluar rumah hingga larut malam. Lalu esoknya bercerita
padaku bahwa ia menemui beberapa teman lamanya. Sesekali ia hanya menghabiskan
malam di depan TV sambil kadang menawariku agar-agar dengan custard dan irisan
apricot kalengan.
Mungkin benar kata Kirsty, Steve tidak menikah karena
sulit menemukan perempuan yang mau dinikahi untuk hanya ditemui setiap dua kali
setahun. “Tapi di kapal ia akan banyak bertemu wanita cantik yang akan
menghiburnya”, kata Kirsty. “Tapi bagiku itu tetap menyedihkan”, kataku
menyanggah. “Yeah, but, who cares??”, kata Kirsty lagi ketika akan menutup
obrolan kami.
Yang kutahu, Ezara satu-satunya keluarga yang rutin
menemui Steve. Ezara bahkan sering mengirim makanan, atau memberi seplastik
lemon dan jeruk dari kebunnya. Menjelang keberangkatannya untuk kembali
berlayar, biasanya Steve mengajak Ezara dan suaminya untuk makan malam bersama.
Setelah mereka pulang, Steve larut kembali dalam kesendiriannya. Tapi ia selalu
terlihat biasa saja.
Aku sering menemukan diriku kebingungan mencari cara
agar bisa menyapa Steve lebih sering, mengajaknya duduk minum kopi bersama,
mendengarkan ceritanya. Aku ingin mendengar ia bermain satu atau dua lagu
dengan pianonya. Aku ingin memintanya memainkan beberapa nomor Sonata yang
sering ia lantunkan di tengah malam, saat aku dan Kirsty berada di kamar
masing-masing.
Aku ingin Steve tak semenyedihkan ini. Tapi sering
juga aku menganggap diriku terlalu berlebihan. Siapa yang sebenarnya
menyedihkan? Steve yang selalu tampak kesepiankah? Atau aku yang selalu
kebingungan dengan keterbiasaan Steve pada sesuatu yang kuanggap sebagai sebuah
kemalangan?
Who cares?? Perkataan Kirsty kembali terngiang di pendengaranku.
****
Aku berada di dalam kamar ketika kudengar langkah
Steve mondar-mandir antara kamar mandi dan ruang tidurnya. Ia seperti
berlari-lari, padahal jarak kedua ruangan itu hanya tiga meter. Kudengar ia
seperti berbincang dengan seseorang, lalu tertawa keras. Sesekali suaranya
melemah. Kupikir seseorang menelponnya. Kuintip dari celah pintu, tapi tak
kulihat ia memegang telepon. Ia seperti sedang berbicara dengan seseorang yang
hanya ada dalam pikirannya.
Steve terus berbicara sendiri. Aku tak mendengar suara
Kirsty di sofa bersama televisi yang biasanya selalu ia nyalakan. Kirsty pasti
di dalam kamarnya. Aku semakin tidak berani untuk keluar. Tingkah aneh Steve
membuat tengah malam ini menjadi sedikit menegangkan. Sebuah pesan kuterima,
“Ellis, kamu tidak apa-apa? Aku tak berani keluar kamar. Steve aneh
sekali”. Kujawab singkat, “Aku pun. Dia seperti sedang kebingungan.
Kasihan, Steve.”
Beberapa jam kemudian, malam mulai sepi. Sepertinya
Steve sudah tidur di kamarnya. Aku memberanikan diri keluar menuju dapur dan
mengambil air minum. Lalu kumatikan lagi lampu dapur dan ruang makan.
Saat melewati ruang tamu, kulihat foto ayah dan ibu
Steve tak lagi berdebu. Sebuah buku partitur tergeletak dalam keadaan terbuka
di atas kursi dekat piano itu. Sekilas aku membaca judul lagu. Tiba-tiba aku
teringat saat tak sengaja mendengarkan perkataan Ezara ketika Steve memainkan
lagu itu di acara makan malam mereka, "Hey, itu lagu yang sering dimainkan
kakek ketika aku kecil!"
Sekarang aku tahu apa yang Steve rasakan. Lebih dari
itu, aku serta-merta seolah terhisap oleh kesedihannya. Kesedihan yang tak
pernah ia ungkapkan pada siapapun.
Malam semakin renta. Angin tak sekencang biasanya.
Namun di luar, denyit engsel gerbang halaman yang tertiup angin terdengar amat
pilu. Aku pun kembali melangkah menuju kamarku.
Aku berbisik amat pelan
hingga hanya terdengar oleh telingaku saja,
Sleep tight, Steve. Good night…..
*****
Tak seperti Laverton, Bendigo lebih berbukit. Kota kecil
sebelah utara Victoria ini memiliki lebih banyak bangunan tua. Pohon-pohon
seperti orang-orang lansia yang kehilangan rambutnya. Murung dan pendiam.
Rumah-rumah kehilangan nyawa. Penghuninya lebih memilih untuk bersembunyi di dalam
kamar atau di balik selimut. Aku sendiri hampir tak pernah mematikan electric-blanket dan penghangat ruangan.
Hampir satu term
aku pindah dan mengajar di salah satu sekolah menengah di kota ini. Di sini pun
aku memiliki tempat murid-murid yang menyenangkan seperti Laverton. Hari ini
aku mengajari mereka tentang cara membuat Batik. Beberapa murid sangat antusias
ingin langsung mencoba. Namun tiba-tiba aku teringat Steve. Ia pernah memuji
gaunku yang bermotif Batik saat aku memakainya ke sebuah pesta kecil di rumah
temanku.
Sejak pindah ke kota ini, aku tak pernah lagi kembali ke
rumah Steve. Semua barang yang masih bisa kupakai telah kubawa. Sisanya aku
sumbangkan. Akupun tak secara langsung pamit padanya, karena seperti biasa ia
sedang berlayar. Aku hanya menyampaikan salamku untuk Steve melalui Ezara.
Semoga ia tak lupa menyampaikan salamku kalau nanti Steve kembali.
Kirsty sudah lebih dulu pindah ke St. Kilda. Ia
beruntung karena di sana pantainya sangat indah. Tetapi harga sewa apartemen
sangat mahal. Aku lebih memilih tinggal di kota kecil tapi murah seperti di sini.
Aku harus berhemat, agar tabunganku tiap bulan selalu cukup untuk membiayai
kuliah adikku di Bandung. Aku pun rasanya tak sempat memikirkan apapun selain
bekerja dan menabung. Suatu hari Retno, kawan kuliahku dulu bertanya di inbox
Facebook, “Kamu nggak pengen cari
pacar di Australia?”. Kujawab dengan kelakar, “Boro-boro, Non. Nggak sempet dan nggak ada yang nyangkut di hati.
Hahaha..”. Ya, di otakku hampir tak mengingat apapun selain bekerja. Tapi kali
ini aku terus teringat Steve. Ada apa? Rasanya ini tak wajar..
Setelah jam istirahat usai dan sebelum bergegas menuju
kelas sepuluh, sebuah pesan muncul di kotak masuk handphone-ku.
“Hi
Ellis, apa kabar? Ini aku, Ezara. Aku harap aku tak mengganggumu. Ellis, Steve
meninggal tadi malam. Jika kau tak keberatan, bolehkah kami minta alamatmu?
Ethan akan menemuimu karena ada pesan dari Steve untukmu. Thanks Ellis..”.
Aku
menutup pesan itu. Aku melangkah menuju kelas. Aku berjalan seperti biasa,
tetapi tak pernah aku merasakan langkah yang tak biasa seperti ini. Kakiku terasa
ringan. Wajahku tak menampakkan apapun selain kekosongan.
Steve....
****
Aku
menunggu Ethan dengan kecemasan. Aku khawatir Ethan akan lebih menggenapkan
rasa kehilanganku pada Steve. Aku bahkan segera mengabaikan rasa kikuk ketika
Ethan akhirnya muncul dari salah satu gerbong kereta api.
Ini
kali pertamaku bertemu dia. Aku hampir lupa saat Ezara menyebut nama Ethan
dalam pesan kemarin. Aku hanya ingat sedikit cerita tentangnya. Ethan,
keponakan lelaki kesayangan Steve dan satu-satunya orang di keluarga yang
mewarisi bakat musik Steve. Ethan ke Perancis lima tahun lalu untuk mengembangkan
bakat dan karirnya dalam bermusik.
“Hai!
Ellis? Benar?” mata birunya berkilap-kilap saat mengucapkan kata itu.
“Ya.
Dan kau pasti Ethan. Maaf, aku turut berduka tentang Steve, dan aku sangat
kehilangan” mataku mulai berkaca-kaca. Tiba-tiba Ethan merangkulku, membenamkan
aku dalam rasa kehilangan yang tak biasa ini.
Ethan
menuntun tubuhku berjalan menjauhi stasiun. Di sebuah coffee-shop kami berhenti. Beberapa saat kemudian, kami mulai
berusaha bersikap biasa kembali. Aku melihat Ethan tak lagi gugup menghadapiku
yang mulai berhenti menangis.
“Maaf,
aku yakin kau sengaja tak bekerja hari ini karena harus menemuiku. Dan aku pun
minta maaf, karena sebetulnya tak ada pesan khusus dari Steve untukmu. Tapi aku
merasa harus bertemu denganmu. Kupikir itu adalah cara terbaik untuk menebus
rasa bersalahku karena tidak ada di samping Paman Steve di saat hari-hari
terakhirnya”, Ethan terus berbicara dan kembali terlihat gugup. Ia sepertinya
tahu aku menangkap gelagatnya. Maka ia kemudian mengeluarkan sebuah amplop dan
menyuruhku membukanya. “Aku harap kau tak keberatan membaca ini..”
Perlahan aku
membuka dan mulai membaca surat itu...
Dear Ethan,
Apa kabar, Nak? Ketika membaca surat ini, aku ingin kau
dalam keadaan terbaikmu.
Aku menulis surat ini di dekat pianoku. Benda kesayangan
kita. Aku selalu ingat saat pertama kali ibumu menyentuhkan jari-jari kecilmu
di atas tuts piano ini. Kamu begitu gembira dan menangis saat ibumu memintamu
berhenti bermain-main dengan piano ini. Sejak itu aku tahu bahwa kamu akan
menjadi musisi hebat suatu hari nanti. Dan aku benar.
Kupikir, sebentar lagi aku tak akan lagi bisa bermain
piano. Nada-nada itu tak lagi bisa keluar dari jari-jariku. Tapi jauh di dalam
pikiranku, aku selalu bisa merasakan setiap nada itu. Dan aku akan
menyimpannya. Aku harap aku bisa memainkannya sekali lagi di hadapan kakek dan
nenekmu di sana nanti. Aku harap begitu.
Sebelum kututup surat ini, aku ingin bercerita padamu
tentang seorang temanku. Namanya Ellis. Ia perempuan muda yang pernah menyewa salah
satu kamar di rumahku beberapa bulan lalu. Aku tidak pernah memiliki teman
sebaik dia. Dan kupikir, dia tak pernah benar-benar sadar bahwa banyak hal
sederhana namun istimewa yang telah ia hadirkan pada pertemanan singkat kami.
Aku tak bisa bercerita banyak. Kau harus menemuinya
sendiri. Dan tolong sampaikan terima kasihku padanya untuk hari-hari singkat
yang menyenangkan.
Jaga baik-baik dirimu, Kawan..
Aku akan selalu mendengarkan setiap musik yang kau
mainkan.
Dan aku sangat bangga padamu, Nak.
With love,
- Steve -
P.S. Kalau Ellis tak keberatan, mintalah ia memasak nasi
bernama “nasi uduk”. Dan kau akan segera menyukai nasi itu seperti halnya kau
akan segera menyukai perempuan baik hati itu..
Aku
melipat kembali surat itu. Nafasku lebih ringan, tak ada sesak seperti tadi. Tak
bisa kujelaskan perasaan ini. Bahwa aku justru merasa lega setelah membaca
surat Steve. Aku tak pernah mengira bahwa pertemanan kami yang singkat itu
meninggalkan jejak di ingatan Steve. Aku kehilangan, namun merasa bahagia
karena sempat memberikan ingatan-ingatan indah bagi Steve.
Aku
memberikan surat itu kembali kepada Ethan. Aku melihat ke kedalaman matanya.
“Ellis, bolehkah besok aku menemuimu lagi? Aku akan menginap di hotel kecil
sekitar sini” kata Ethan.
“Tentu
saja. Aku punya kamar kosong di flat-ku. Kau bisa memakai kamar itu, Ethan.”
“Apakah
itu artinya aku bisa makan malam dengan nasi uduk?” tanya Ethan sambil melirik
ke arah amplop itu.
“Tentu....”
aku hampir tak bisa menyembunyikan senyumku. Cepat-cepat kuteguk kopi yang
segera dingin. Dingin yang tak sedikitpun kutemukan di dalam tatapan Ethan. Tatapan
hangat yang mengingatkanku pada sosok lain Steve malam itu.
-- Ellis Artyana --
Dimuat di CHIC Magazine, edisi 16 Juni 2013