Senin, 24 Juni 2013

Senja Dari Balik Jendela

Waktunya menutup tirai. Sudah hampir gelap. Lebih cepat dari biasanya. Masih ada gagak hitam yang bertengger di atap rumah tetangga yang tak pernah kukenal siapa namanya. Yang kutahu, mereka punya dua ekor anjing besar-besar. Aku bisa melihat halaman belakang rumah mereka dari jendela kamarku yang terletak di lantai dua ini.

Rumah yang satunya lagi, yang agak ke sebelah kiri, tampaknya mereka tak punya hewan peliharaan. Mereka sepasang suami istri tua. Tidak terlihat punya anak. Mungkin punya, tapi sudah tidak lagi bersama mereka. Tadi  kulihat si suami itu memotong rumput.  Ia memakai sweater coklat.  Tak berapa lama,  istrinya keluar dan mengatakan sesuatu yang tak bisa kudengar.  Lalu masuk lagi, diikuti suaminya yang terlebih dahulu mematikan mesin pemotong rumput itu.

Aku masih melihat langit dari tirai jendelaku yang tipis. Belum juga aku rapikan buku-buku untuk besok pagi. Nanti dulu. Tunggu sebentar. Rasanya masih ingin berdiam dulu sejenak.

Sepi sekali. Tapi sepi begini sudah menjadi sangat biasa.  

Ini malam yang kesekian kalinya. Di tanah dan langit yang sama, tanah Victoria. Tanah kemenangan.  Begitulah mungkin makna dari nama tempat ini. Mungkin, begitu banyak perjuangan yang dilewati  si pemberi nama ketika mendapatkan atau menemukan tempat ini. Maka untuk alasan itulah ia memberi nama Victoria.

Sedikit tersenyum memikirkan korelasinya dengan apa yang kualami. Mungkin tidak sekompleks itu. Tapi setidaknya ada benang merah yang bisa aku hubungkan dari keduanya. Kenyataannya, bagiku, untuk tiba di tanah ini bukanlah mudah. Tapi tak pula merasa perlu untuk putus asa. Di penghujung sisa-sisa tenaga dan harapan, sampai jualah di sini. Di tanah ini. Victoria, tanah kemenangan. Menang atas segala keraguan, kesulitan dan kesakitan.  Menang untuk sesuatu yang selalu aku percaya.

****

Saatnya sedikit bergerak. Menyiapkan buku-buku. Membaca lembar-lembar kertas untuk besok pagi. Tak ada secangkir kopi malam ini. Hanya teh hangat dan satu sendok gula. Cukuplah..

Dari sela-sela tirai, langit tampak semakin gelap. Lampu rumah tetangga mulai menyala. Redup dan sendu. Angin  meniup daun-daun pohon willow. Lenguh anjing yang kedinginan, dan suara burung gagak hitam yang parau.

Betapa dinginnya senja yang menjadi malam…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar