Senin, 24 Juni 2013

Tiga Tema Indonesia

BARISAN pasukan tentara keraton Yogyakarta itu berdiri tegap dan kaku. Mereka membawa senapan, sedangkan beberapa orang lainnya membawa bendera dan drum yang sesekali mengeluarkan bunyi genderang saat ditabuh. Suara itu seolah menjadi tanda bahwa mereka siap berperang. Namun para prajurit itu tak lain seperti pasukan hantu, tanpa tubuh dan kepala. Hanya sepatu boot, dan topi yang lebih mirip topi tentara kolonial Belanda saja yang menandakan keberadaan sosok mereka. Seperti hantu. tubuh mereka ada namun tak terlihat.

Instalasi Jompet Kuswidananto “War of Java. Do you remember?”.  merupakan salah satu  karya sejumlah perupa Indonesia dalam pameran yang bertajuk “Closing the Gap; Indonesian Contemporary Art” yang berlangsung di Flatform Melbourne International Fine Art, Mellbourne, Austrlia (20 Januari-18 Maret 2011). Flatform merupakan sebuah ruang seni yang berada di Kota Mellbourne, yang khusus memamerkan karya-karya seni kontemporer.

Dalam pameran kali ini, selain Jompet juga terdapat karya tujuhbelas perupa Indonesia lainnya,  Angki Purbandono, Budi Ubrux, Eko Nugroho, Entang Wiharsono, F.X. Harsono, Gusti Agung Mangu Putra, Haris Purnomo, I Gusti Ngurah Udiantara, Maria Indria Sari,  Sini Irawan, Samsul Arifin, Sigit Santoso, Tromarama, Ugo Untoro, Ugy Sugiarto, Yudi Sulistyo., juga perepua dari Bandung Ay Tjoe Christine, Prilla Tania. Pameran ini mengusung tiga tema, yaitu,  social, political and the personalnew realism; dan new media, diandaikan bisa menjadi pintu masuk pintu masuk atau jendela pagi publik seni rupa Australia sehingga bisa lebih dekat mengenal lihat keragaman ragam seni rupa kontemporer di Indonesia.

Pemilihan karya yang disesuaikan dengan ketiga tema pameran ini diharapkan dapat merepresentasikan perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia. Seni kontemporer ini tidak hanya dilihat dari segi latar belakang isu sosial maupun politik yang pada akhirnya mempengaruhi karya para seniman Indonesia, melainkan juga  dari segi kecenderungan aliran-dan ragam media yang digunakan oleh para seniman dalam berkarya. Hal itulah yang membuat pameran tersebut memilki tiga tema sekaligus.

Sebutlah, Study of First September Doll karya Ay Tjoe Christine yang mengusung tema sosial politik dan persona. Demikian juga Sigit Santoso (“After the Crucifixion # 2), atau pelukis senior Entang Wiharso (Underclared Skins), Ugo Untoro ( d.h.12), F.X. Harsono (Memory of a Name – Rewriting The Erased). Sedang sejumlah karya yang dikategorikan pada New Realism di antaranya Budi Ubrux (Stock Market) dan  I Gusti Ngurah Udiantara (Level of Beautty, dan Out of Control), Haris Purnomo (judul: The Pink Dot), Ugy Sugiarto (judul: Muse). Sedangkankan New Media diusung oleh Prilla Tania (Space Within Time), Jompet Kuswidananto (judul: War of Java. Do You Remember?). 
                                                               **

KURATOR Bryn Collie menyadari bahwa perkembangan seni rupa Indonesia tidaklah banyak diketahui oleh masyarakat di Australia. Hal inilah yang menjadi latar belakang utama diselenggarakannya pameran ini. Menurut Collie, secara semantis tajuk pameran Closing the Gap ini merujuk pada kenyataan terdapatnya batas fisik antara Indonesia dan Australia, yaitu, berupa  Laut Timor. Secara metafor, makna tajuk tersebut juga merujuk pada perbedaan budaya, politik dan bahasa.

Maka, tidak heran jika perkembangan seni rupa Indonesia tidak pernah sepenuhnya diketahui oleh Australia. “Indonesia mungkin adalah tetangga terdekat kami. Tapi kami di Australia bisa jadi adalah salah satu dari orang-orang terakhir yang mengetahui perkembangan seni di Indonesia” tutur Collie.

Dia sendiri memandang para seniman Indonesia adalah seniman yang kaya akan bakat. Hal ini merupakan kreativitas yang secara turun temurun lahir dari  keberagaman budaya yang ada di Indonesia. Respon serta sambutan yang baik dari masyarakat Australia terhadap pameran Closing the Gap: Indonesian Contemporary Art ini membuat Collie merasa perlu memperpanjang waktu pameran ini.**


Dimuat di Pikiran Rakyat, 3 April 2011 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar