Rabu, 27 Januari 2016

Murid-murid Australia Senang Belajar Mandi Ala Orang Indonesia

PAGI itu, bersama Ibu Anne, guru bahasa Indonesia di Point Cook Primary 9 College, Victoria, Australia, kami menyiapkan lima bak plastik berisi air hangat ke halaman sekolah. Sesuai dengan persetujuan kepala sekolah dan izin dari orang tua murid, hari itu semua murid kelas empat akan praktik mandi ala Indonesia.
Murid-murid yang sudah sudah sejak pagi tidak sabar menunggu, segera membawa handuk, sabun, dan baju satin ke halaman sekolah. Mereka tak sabar ingin mempraktikkan apa yang dua minggu sebelumnya telah mereka pelajari di kelas. Awalnya, saya sempat bingung ketika pertama kali Ibu Anne meminta saya membantunya menjelaskan mandi ala Indonesia kepada para murid. Topik tersebut dipilihnya untuk diajarkan di murid kelas empat selama term satu, tahun ajaran ini.
Akhirnya, saya memulai pemela-jaran tersebut dengan menjelaskan tentang tradisi mandi di Indonesia. Saya juga menjelaskan cara dan alat yang dipakai oleh orang Indonesiaketika mandi. Beberapa kosakata, seperti gayung, sabun, handuk, dan air, pun saya berikan.
Hal yang menyenangkan sekaligus tak terduga ternyata Ibu Anne punya selusin gayung yang dibelinya saat berkunjung ke Indonesia. Sambil mendengarkan penjelasan saya dan Ibu Anne, murid-murid mulai penasaran untuk mengetahui bagaimana mandi dengan menggunakan gayung. Bukan menggunakan shower seperti yang lumrahnya mereka lakukan. Saya mulai menunjukkan caranya di depan kelas, persis seperti sedang berpantomim.
Pagi itu mereka dibagi menjadi beberapa kelompok. Satu bak untuk tiga orang. Murid-murid perempuan yang sudah siap mandi dengan memakai baju renang itu segera meraih gayung. Mereka mulai mandi. Begitu juga dengan murid laki-laki. "Ayo, siram kepala dan badan" teriak Ibu Anne. "Oh, dont put the sabun in the bak mandi. Your air will be kotor!"
Saya pun sibuk membantu murid-murid menggunakan gayung dan memberi instruksi selanjutnya, "Sekarang, ambil sabun. Gosok ke badan, tangan, dan kaki. Lalu siram lagi pakai air." Murid-murid itu berteriak senang.
Shelny (9) yang terlihat kedinginan masih menunggu di depan pintu toilet sambil memegang handuk. "Kamu merasa dingin?" tanya saya. Murid itu mengangguk dan berkata, "Ya, but it was so fun." Saya lantas menyuruhnya segera mengganti pakaian setelah temannya keluar dari toilet. Latas temannya itu menghampiri saya dan berkata, "Ibu, I will do Indonesian mandi at home. Because its really fun!". Kemudian, dia bergegas kembali menuju kelas sambil membawa gayung, handuk, dan sabun.
Kegiatan mandi tadi merupakan salah satu dari sekian banyak pengalaman menarik yang saya alami ketika mengajar bahasa Indonesia di Point Cook Primary 9 College, Victoria, Australia. Sejak akhir Januari lalu, kami berenam dari Indonesia terpilih untuk menjadi Language Assistant di Australia. Keikutsertaan kami merupakan bentuk dari pelaksanaan SLAP (School Language Assis-tants Program) yang diselenggarakan oleh DEECD (Department Education and Early Childhood Development) Victoria, bekerjasama dengan Monash University dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Selain dari Indonesia, DEECD juga mendatangkan tenaga guru bantu dari Jepang, Perancis, Jerman, dan Spanyol.
Bahasa Indonesia dianggap penting untuk diajarkan kepada seluruh siswa di Victoria karena secara geografis Indonesia adalah negara yang lebih dekat dengan Australia. Kenyataan bahwa besarnya peluang berkarier di Indonesia turut menjadi hal yang memotivasi pemerintah Australia untuk mengajarkan bahasa Indonesia di sekolah-sekolah. Saat ini tercatat lebih dari lima ratus sekolah negeri ataupun swasta di Victoria yang memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa yang mereka ajarkan dalam program LOTE di sekolah. 

--Victoria, 10 Mei 2011--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar