30/10/14 -- Bandung - Malang.
Hampir semua orang dalam gerbong ini sudah tidur. Lelaki di depanku terlelap dengan mulut yang menganga. Bunyi nafasnya seperti sisa nafas kambing yang disembelih. Perempuan di sampingnya, setiap beberapa menit sekali memperbaiki posisi duduk. Dengan mata tetap terpejam, halisnya selalu bekerut tiap ia menggeserkan tubuh. Seperti kayu bakar, kakinya terjulur ke samping, mengarah ke jalur orang yang hendak lalu lalang di gerbong ini. Ujung jemarinya hampir menyentuh ujung jari kaki penumpang lain di lajur kursi kanan.
Lelaki di sampingku, seorang bapak, tidur dengan earphone di telinganya. Jaketnya terlalu longgar untuk tubuhnya yang kurus. Ia terlihat nyenyak dengan hanya menyandarkan tubuhnya, tanpa condong ke kiri atau kanan. Tampaknya ia tipe orang yang mudah menerima apapun dalam hidupnya. Ia tak melepas kacamatanya. Hal yang pasti tak ia lakukan jika tidur di rumah.
Aku lebih ingin menulis daripada tidur. Duduk berhadap-hadapan di kursi kelas ekonomi seperti ini membuatku tak leluasa tidur. Aku selalu merasa diperhatikan walaupun hanya tersisa mataku yang masih terbuka. Tapi ini jauh lebih baik daripada kereta ekonomi beberapa tahun lalu. Dulu, sangat tak manusiawi. Semua orang berjejal dalam satu gerbong, bertumpuk-tumpuk seperti ayam dalam truck yang siap dibawa ke penjagalan. Setiap mulai terpejam ada saja pedagang asongan hingga jasa sapu lantai yang membuat nafsu tidur hilang.
Lewat tengah malam begini, hampir tak ada yang bisa kulihat dari jendela kecuali pekat malam. Aku tak tahu apakah kereta sedang melintasi pinggiran hutan, jembatan, atau tepian jurang. Kereta melaju kencang. Kadang aku berangan-angan, sebenarnya kereta ini tidak berjalan di atas rel. Melainkan melayang di langit. Meliuk-liuk seperti naga raksasa.
Aku memang sudah lama tak bepergian sendiri dengan kereta. Terakhir kali aku pergi bersamamu. Tidak sendiri seperti sekarang. Aku ingat kita sama-sama panik karena tak bisa menemukan tiket saat petugas menanyakannya. Aku mulai menuduhmu meninggalkannya di meja kafe di stasiun saat kita minum kopi tadi. Kamu bersikeras mengatakan barusan tiket itu ada di genggamanmu, lalu kamu menaruhnya di suatu tempat, di sekitar sini. Bukan di meja kafe. Aku tak percaya. Sedang kacamatamu saja sering tertinggal, apalagi hanya dua lembar tiket kereta. Petugas itu mulai bosan menunggu. Ia berpindah, menghampiri penumpang lain. Kita masih sibuk membongkar tas. Orang-orang melihat kepanikan kita. Mereka mungkin mulai berpikir kita berpura-pura, dan sebenarnya tak memiliki tiket. Yang benar saja. Aku dulu memang pemain teater, tapi aku tak pernah bisa akting panik seperti ini. Tanganku tak sengaja memindahkan novel yang kutaruh di atas meja kecil tempat menyimpan gelas. Dua lembar tiket itu ada di sana. Tertimpa novel. Kita girang bukan main, sebelum akhirnya kamu balik merutuki aku yang tadi begitu percaya diri menuduhmu. Itu beberapa tahun lalu. Kamu bilang itu perjalanan menyenangkan terakhir denganku. Setelah itu, katamu, perjalanan hanya akan diisi dengan ingatan menyakitkan. Mungkin kamu benar. Tapi aku memilih tidak memercayainya.
Aku duduk di kursi yang menghadap ke arah ekor sang naga. Kereta terasa mundur. Aku mungkin tak akan pernah sampai. Tubuhku serasa ditarik ke belakang. Jauh. Ke tempat paling jauh: masa lalu. Dari jendela aku serasa melihat pemandangan diriku di luar. Pemandangan mundur ke beberapa hari yang lalu, semua yang aku lakukan, dari mulai pergi ke kantor lalu mundur ke saat aku baru bangun tidur pagi kemarin. Terus mundur. Sampai pada ingatan tentang malam-malam yang kita habiskan dengan pertengkaran. Mundur. Tahun-tahun di belakang. Lalu bayangan tentang pertemuan denganmu, atau saat terpaksa meninggalkan kampung dan meninggalkan mama sepuluh tahun lalu. Namun, bayangan terhenti sampai di situ. Mengapa? Mungkin karena peristiwa sebelumnya hanya memberiku ingatan yang manis-manis saja. Ingatan yang tak membuatku harus menuntutnya kelak. Atau justru ingatan yang kelak tak menuntutku. Lagipula, kita memang lebih mudah mengingat kembali semua hal yang pahit daripada yang manis, bukan?
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar