Ada
satu pohon mangga yang tumbuh di halaman sebuah rumah kosong. Sejak penghuni
rumah itu pindah ke kota lain, si pohon mangga selalu merasa kesepian. Tubuhnya
yang menjulang tinggi menjadi tidak terawat dengan baik. Daunnya yang lebat
sering rontok. Ranting-rantingnya yang kering juga berjatuhan dan memenuhi
halaman.
Namun
hari ini si pohon mangga sangat bergembira. Ia mendengar kabar bahwa ada penghuni
baru yang akan tinggal di rumah itu. “Asyiik..!
Pokoknya aku harus ceria hari ini, untuk menyambut para penghuni baru,” kata si pohon mangga ketika cahaya matahari
mulai menyentuh daun-daun dan rantingnya.
“Mudah-mudahan
keluarga itu akan menyukaiku. Aku berjanji akan berbuah lebat. Daun-daunku yang
rimbun akan membuat rumah mereka teduh dan sejuk sepanjang hari,” gumam pohon
mangga itu lagi. Ia tak sabar menunggu kedatangan penghuni baru.
Di
tengah hari, sebuah mobil berwarna putih perlahan berhenti di depan rumah.
Seorang anak lelaki keluar, dan mendorong pintu pagar agar mobil mereka bisa
masuk. Pohon mangga yang sempat tertidur karena terlalu lama menunggu tersentak
kaget mendengar denyit pintu pagar. Ia senang sekali. “Mereka datang!” katanya.
Ternyata
penghuni baru rumah ini adalah sebuah keluarga dengan dua anak dan seorang
nenek. Setelah semua keluar dari mobil, mereka melihat teras dan halaman rumah
itu. “Nah, Dito dan Dita, mulai hari ini
kita akan tinggal di rumah ini”, kata ayah kedua anak itu.
“Wow!
Rumah ini besar sekali!” teriak Dito.
“Iya
betul, Dito. Halamannya juga luas”, ibunya menimpali.
“Boleh
kan aku mengajak teman-temanku bermain lompat tali di halaman, Bu?” giliran Dita
yang bertanya.
“Iya
Dita sayang. Boleh..” jawab ibunya lagi.
“Ooh,
jadi dua anak kecil itu bernama Dito dan Dita. Aku pasti akan membuat mereka
betah bermain di halaman karena mereka tak akan kepanasan.” Pohon mangga itu
kembali bergumam dalam hatinya.
“Nanti
aku juga bisa bermain sepakbola di halaman dengan teman-teman baruku”, ujar
Dito. “Tapi..., hmmm..”
“Ada
apa, Dito?” tanya ayah.
“Pohon
mangga ini harus ditebang, ayah.”
Betapa
kagetnya pohon mangga itu mendengar ucapan Dito barusan. Ia tak percaya dengan
apa yang ia dengar.
“Lho,
mengapa harus ditebang?” tanya ayah dan ibu serentak.
“Pohon
mangga ini terlalu besar. Tumbuhnya pun di tengah halaman. Pohon ini akan
menghalangiku kalau aku mau bermain bola bersama teman-teman di halaman.
“Iya
sih, aku juga jadi tidak bisa bebas bermain lompat
tali karena terhalang pohon ini.” kata Dita.
Pohon
mangga yang malang. Kini matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis saat
mendengar alasan Dito dan Dita.
“Dito
dan Dita...” tiba-tiba terdengar suara nenek yang segera menghampiri kedua anak
itu. “Mari kita berdiri lebih dekat dengan pohon ini.” Dita dan Dito menurut.
Mereka berjalan mendekati pohon mangga itu.
“Apa
yang kalian rasakan?” nenek menatap wajah Dito dan Dita dengan lembut. “Teduh, Nek,” jawab Dito pelan. “Sejuk, Nek”,
tambah Dita.
“Nah,
benar sekali. Pohon ini membuat halaman rumah kita menjadi teduh dan terasa
sejuk. Lalu, apa yang akan terjadi kalau pohon ini ditebang?”
“Panas..”,
Dito menjawab dengan suara yang semakin pelan karena malu dengan niatnya tadi. “Dan udara tidak
sejuk lagi” tambah Dita.
“Pintar
sekali. Itulah yang akan terjadi kalau pohon
ini ditebang. Selain itu, banyak kerugian lain kalau kita menebang pohon ini.”
“Dan
kita tidak bisa menikmati buah mangga yang manis dari halaman rumah kita
sendiri..” kata ibu yang juga sudah ada di dekat mereka. Nenek dan ibu
tersenyum disusul oleh senyum Dito dan Dita.
“Nah,
jadi bagaimana? Masih mau menebang pohon mangga yang banyak manfaatnya ini?” tanya
ayah sambil menahan senyuman.
“Tidak
mauuuuu.....” jawab Dito dan Dita berteriak sambil memeluk ayah mereka. Lalu semuanya
tertawa. Orangtua dan nenek mereka lega karena Dito dan Dita akhirnya menyadari
bahwa menebang pohon itu bukan keputusan yang baik. Bahkan Dito dan Dita
berencana menanami lagi halaman mereka dengan pohon buah-buahan lainnya. Si
pohon mangga pun akhirnya lega dan sangat bahagia. Ia berjanji untuk tumbuh
lebih baik agar bisa lebih bermanfaat untuk keluarga ini.
Sejak
saat itu, si pohon mangga selalu memenuhi janjinya. Ia tumbuh semakin rimbun. Udara
yang sejuk selalu memenuhi halaman dan rumah. Di musim mangga, buahnya sangat
lebat dan manis. Dito, Dita dan teman-teman mereka semakin betah bermain di
bawah pohon itu. ***
(tamat)
Cerpen Anak
Dimuat di Kompas Anak, 26 Mei 2013
tehh..aku ingin aktif menulis kembali...bagaimana agar aku tak jadi angkatan gagap?hehehe :(
BalasHapus