PRIMBON
(Cerita &
Skenario: Ellis R. Artyana)
1.
INT. Rumah Parno:
kamar mandi. Malam
PARNO, NURMI.
CU: keran yang airnya sedang mengalir.
Terdengar suara Nurmi yang muntah-muntah.
Subyek camera beralih ke Parno yang sedang
memijit-mijit pundak Nurmi, dan sebelah tanggannya memegang gayung.
Parno:
Keluarin semua,
ayo jangan ditahan-tahan. Biar plong.
(Parno memijit-mijit pundak Nurmi sambil sesekali
menyiram lantai kamar mandi yang terkena muntahan Nurmi.)
Parno:
Kamu itu kenapa toh dek.., dek..? Enggak kemana-mana kok
bisa masuk angin itu gimana ceritanya toh?
(Sambil
tetap memijit-mijit. Nurmi tetap muntah-muntah.)
Ayo keluarin
aja. Nanti tak olesin balsem
perutnya.
(Seketika Parno berhenti memijat.)
Parno:
Jangan-jangan?
Walah Dek,
jangan-jangan kamu isi??
(Nada bicara Parno meninggi, karena menahan senang.)
Nurmi:
Nggak mungkin ah
Mas. Moso sih mas? Ini cuma masuk
angin biasa kok.
(Nurmi mulai menegakkan badan setelah muntahnya
berhenti.)
Parno:
Loh? Kok nggak
mungkin toh? Bisa saja. Pokoknya
besok pagi-pagi kita harus ke puskesmas.
(Parno menatap Nurmi untuk meyakinkan. Nurmi yang
balas menatap Parno tiba-tiba mual lagi, lalu muntah kembali)
Parno:
Owalaah…, muntah
lagi. Bener ini, HAMIILL…!!! Hahahaha…
(Parno terkekeh senang sambil kembali memijit puenggak
Nurmi. Nurmi kembali muntah-muntah)
FADE
OUT
FADE
IN
2.
INT. Rumah
Parno: ruang tengah. Pagi.
PARNO, NURMI.
Parno mengancing kemeja batiknya, lalu duduk di
kursi makan sambil menyeruput kopi.
Ia menunggu Nurmi di kamar mandi.
Parno:
Cepetan Dek.
Biar nanti ngantrinya enggak lama.
(Nurmi lalu keluar kamar mandi dengan memakai
handuk)
Nurmi:
Batal Mas.
Parno:
Batal? Apanya?
Nurmi:
Dari pada Mas
jauh-jauh nganter aku ke puskesmas, mending ke warung depan aja. Beliin aku pembalut.
(Parno melihat Nurmi dengan tatapan bingung)
Nurmi:
Aku haid.
Hamilnya enggak jadi.
Parno:
Ooh….ngono toh….
(Nurmi masuk kamar meninggalkan Parno yang
menghela nafas dan terlihat kecewa)
FADE OUT
FADE IN
3.
INT. Kantor
Parno; meja kerja parno. Siang.
PARNO.
CU: meja kantor Parno, ada tumpukan kertas, buku,
telepon, komputer, kalender.
Subyektif kamera bergeser perlahan ke jari Parno
yang memainkan pulpen.
Parno sedang menerima telpon dari atasan.
Parno:
Iya Pak. Iya.
Apa Pak? Ooh, sekarang tanggal…
(Melihat kalender)
..tanggal 16 Pak. Iya Pak, pasti
tanggal 18 sudah jadi. Iya, selamat siang Pak.
(Tak sengaja melihat ke arah kalender lagi. Lalu
seketika duduk tegak dan mengambil gagang telpon, memencet nomor.)
Dek. Iya ini
Mas. Kamu udah haid belum bulan ini? Belum?? Wah, bagus! Sebentar lagi aku
pulang.
CUT
TO
4.
EXT. Pinggir
jalan; depan apotek. Siang.
PARNO.
LS: Parno terlihat keluar dari apotek sambil
menenteng plastik kecil, lalu berdiri di pinggir jalan menunggu bus kota.
Parno lalu buru-buru memasukan plastik
itu ketika sebuah bus menepi. Ia lalu naik bus.
CUT TO
5.
INT. Rumah
Parno: ruang makan. Siang.
PARNO, NURMI.
Nurmi dan Parno duduk di kursi makan. Nurmi mengaduk
kopi sambil cemberut mendengar Parno berbicara.
(Parno Menyodorkan Testpack)
Parno:
Ayo, coba sana.
Udah tak beliin tadi di apotek. Ayo
dong...
(Nurmi menatap testpack itu sebentar, lalu mengaduk
lagi.)
Nurmi:
Enggak ah. Bulan
kemarin aja udah muntah-muntah gitu tapi buktinya enggak hamil toh? Apalagi sekarang. Aku paling cuma
telat haid biasa kok Mas..
Parno:
Ayolah.., enggak
ada salahnya dicoba toh? Namanya juga
usaha. Hehehe..
(Nurmi mengambil benda itu, lalu malas-malasan menuju
kamar mandi. Tak lama ia keluar lagi.)
Parno:
Gimana???
(Nurmi mendekati Parno sambil menunjukan testpack
yang hasilnya negatif. Lalu wajah kedua-duanya terlihat kecewa)
FADE
OUT
FADE
IN
6.
INT. Gor
bulutangkis: kursi pinggir lapangan. Sore.
PARNO, GATOT.
Subyektif kamera pada suasana dalam gor bulutangkis.
Ada beberapa lapangan. Ada beberapa
orang yang bermain.
Kamera mengikuti gerak Gatot dan Parno yang keluar lapangan,
berjalan menuju tepi lapangan dan duduk sambil mengelap keringat.
(Gatot melambai pada temannya yang akan pulang)
Gatot:
Oke, duluan aja!
(Meneguk air mineral dari botol)
Makin lama
maenmu kok makin jelek? Jarang latihan sih. Makanya, jangan sibuk di rumah
menggarap istri terus. Hehehe…
(Gatot tertawa sambil mengelap tengkuknya yang
berkeringat dengan handuk kecil)
Parno:
Ah kamu ini.
Siapa yang sibuk garap istri?
(Pura-pura menyibukan diri dengan memasukkan raket
ke dan handuk ke dalam tas olah raga)
Gatot:
Loh? Emang nggak
pernah kamu garap toh?? Walaah.., pantessaaan..
Parno:
Pantesan apa? (Nada
bicara Parno meninggi, tersinggung)
Gatot:
Eh, hehe..
becanda Bos. Jangan dimasukkin ke hati ya..
(Gatot menepuk-nepuk punggung Parno)
(Parno mulai terdiam)
Parno:
Aku iri sama
kamu.
Gatot:
Sama aku? (Gatot
memandang Parno heran)
Parno:
Anakmu lima.
Aku? (Nada merendah)
Gatot:
Oh itu.
Hahahaha… Parno, parno. Kamu itu cuma kurang ngitung. Kayak aku dong. Semua
pakai perhitungan!
(Parno mengernyitkan dahi, memandang Gatot
dengan bingung)
Parno:
Perhitungan?
Perhitungan kayak apa?
Gatot:
Prim-bon! (Seperti
mengeja)
Parno:
Primbon?
Gatot:
Iya, primbon!
Wetonku opo, weton bojo-ku opo. Kalau sudah ketahuan, baru dihitung-hitung pake rumus primbon.
Naah.., nanti ketahuan waktu yang tepat. Kalau sudah ketemu, baru siap “tempur”!
Kalau hari dan jamnya sesuai dengan hitung-hitungan primbon, sekali nyess
sedikit saja, langsung bleess…
Besoknya
langsung…, tuing…tuing…
(Gatot menegakkan badan, mengerakkan kedua
tanganya membentuk seperti perut yang
hamil, dari kecil sampai besar)
Parno:
Yang bener
Tot???
(Dengan muka serius Gatot menjawab dengan hanya menggerakan
tangannya seperti orang yang sedang mengucap sumpah)
Parno:
Aku mau dong
Tot!!
Gatot:
Bisa diatur!
Tapi kita enggak boleh sembarangan. Harus langsung buka kitab primbon. Makanya,
kalau emang serius, ntar malem tak tunggu
di rumahku jam tujuhan.
Parno:
Oke Boss!
FADE
OUT
FADE
IN
7.
EXT. Rumah
Gatot: Halaman. Malam.
ESTABLISH
CUT TO
8.
INT. Rumah
Gatot: ruang tamu. Malam.
PARNO, GATOT..
Parno dan Gatot duduk di ruang tamu Gatot. Lalu dua
orang anak Gatot datang menghampirinya, yang satu (3,5 th) duduk di pangkuan
Gatot, satunya lagi (2 th) berusaha naik ke punggung Gatot.
Gatot:
Sudah dulu ya..,
Bapak ada tamu. Sana, ke ibu dulu sana.
(Anak-anak itu pergi dari ruang tamu)
(Gatot memperbaiki posisi duduk, lalu serius berkata
pada Parno)
Nah, sekarang
coba kamu tulis tanggal dan hari lahir punyamu dan punya istrimu.
Parno:
Tanggal lahirku…
Gatot:
Sssttt…sssstt…
Langsung tulis di sini saja.
(Menyodorkan selembar kertas)
(Parno menulis lalu memberikannya lagi pada Gatot.
Gatot lalu mencorat-coret kertas itu seperti menghintung sambil bergantian
melihat kitab primbon)
Gatot:
Menurut
primbon, weton istrimu Selasa kliwon, dan kamu itu Minggu Pon. Walaah,
pantesaan….
Parno:
Kenapa Tot? Nggak bisa punya anak???
Gatot:
Nggak.
Nggak apa-apa. Cuma karakter kalian kontras. Tapi nggak bakal ngaruh sama anak.
Sebentar-sebentar, aku mau ngitung waktu buat kalian.
(Gatot kembali
serius mencorat-coret sambil membaca primbon)
Nah, sudah ketemu!
Parno:
Apa katanya Tot??
Gatot:
Hmm.., kalau dimasukan ke
penanggalan masehi berarti kalau untuk bulan ini.., Hmm.., sekitar malam-malam tanggal 11 sampai 21, itu yang
paling tepat!
Tapi
harus pas tengah malam. Makin pas makin bagus!
Parno:
Wah, berarti malam ini bisa dong?
Ini kan tanggal 16.
(Gatot mengangguk
mantap.)
Parno:
Lalu?
Bagaimana lagi??
Gatot:
Ya
sudah, tinggal diCuss.. Opo mene??
Parno:
Berarti
aku boleh pulang sekarang?
Gatot:
Hajar!!
Tunggu apa lagi??
Parno:
Hahaha…
Makasih banget Tot! (menepuk pundak Gatot)
Kubikin
pingsan nanti si Nurmi. Hahahaha..
(Gatot dan Parno terbahak.)
Parno:
Aku
pulang dulu Tot. Assalamu’alaikum.
Gatot:
Hati-hati.
Wa’alaikumsalam. Sukses ya..
(Gatot mengantar parno sampai depan pintu)
FADE OUT
FADE IN
9.
INT./EXT. Rumah
Parno: kamar tidur. Halaman rumah Parno. Malam
PARNO, NURMI.
Parno bercelana pendek tak memakai baju baring di
kasur menatap Nurmi yang duduk di meja rias sambil menyisir rambut)
Parno:
Dek.., sini…. (Suara dan tatapan yang menggoda)
Nurmi:
Apa sih? Emoh ah… (Nada
bicara manja)
Parno:
Eeeh, sama suami kok nggak nurut? Siksa kamu yaa…
(Parno beranjak, mematikan lampu)
( Lalu terdengar jeritan kecil Nurmi disusul tawa
mereka berdua, lalu senyap.)
FADE OUT
FADE IN
10. INT. Rumah Parno: ruang tamu, kamar
tidur. Malam.
GATOT, PARNO,
NURMI
CU: Hiasan topeng di dinding ruang amu rumah Parno.
Subyektif kamera lalu mengarah pada Parno dan Gatot
yang sedang dudu di ruang tamu)
Gatot:
Gimana No?? Sukses kan??
Parno:
Yaa.., baru aja dua
malam Tot..
Gatot:
Loh, itu nggak
masalah.. Kan sudah dihitung, sekali nyess langsung bless…
Parno:
Iyaa, tapi mau
dinyess-nyess juga tetep saja ngecek kepastiannya baru bisa seminggu lagi. Kan
gitu aturan dari bidan.
(Nurmi masuk dari arah dapur mengenakan daster
selutut dan tanpa lengan. Dia menyuguhi kopi untuk tamu dan suaminya.)
Nurmi:
Diminun Mas
Gatot. Wah, sampean kok baru sekarang ke sini lagi toh? Biasanya sering ngajak tanding catur yo Mas?
(Nurmi meminta pendapat Parno)
Gatot:
Sibuk ngurus
anak Nur. Istriku kan sekarang kerja di laundry, jadi nggak ada yang nunggu
anak-anak.
(Nurmi
Jongkok meletakkan gelas di meja. Pahanya terlihat).
CU: Paha Nurmi
Terlihat wajah Gatot yang memandang
paha Nurmi.
Parno:
Terus gimana Tot?
Gatot:
Eh.., eung… Iya
terus, ya terus aja..hajar terus! Sampe berhasil.
Parno:
Ya kalau itu sih
sudah dari dulu-dulu Tot..
Gatot:
Eung..Oh iya, aku
lupa kasih tau kamu, No. Menurut primbon, ada waktu-waktu di mana kamu bahkan
dilarang menyentuh istrimu. Sama sekali, bahkan kalau bisa jangan ketemu dia
seharian!
Parno:
Loh, memangnya
kenapa Tot?
Gatot:
Aku nggak tau
persis kenapa. Tapi kata kitab primbon sih ya gitu No.
Parno:
Lha.., terus
kapan saja hari pantang itu? Kasih tau aku. Kalau enggak nanti malah nggak
jadi-jadi hamilnya.
Gatot:
Tenang.., nanti
di rumah aku hitungin lagi untuk cari tau hari pantangannya. Nah, nanti kamu tak kasih tau. Oke.., hehehehe..
Eh, tanding
catur yuk! Bener kata istrimu, sudah lama kita nggak main..
(Parno mengambil papan catur dari kolong
meja dengan tidak terlalu bersemangat)
FADE OUT
FADE IN
11. INT. Kantor Parno: ruang kerja. Sore.
PARNO. REKAN
KERJA PARNO.
Terlihat rekan Parno mulai mengemasi barang.
Parno masih sibuk mengetik.
Rekan
kerja:
Mas Parno, duluan ya..
Parno:
Iya-iya..,
hati-hati..
(HP Parno berbunyi)
Halo
Tot, ada apa? Oh, aku agak lembur. Tapi nggak sampai malam banget. Kenapa? Mau
ke rumahku? Apa? Loh kenapa? Oh, hari ini toh?
Lha terus aku nginep di mana ya? Yo
wis, aku nginap di rumah adikku saja.
12. EXT. Depan pintu bagian luar rumah
Parno. Maghrib.
GATOT.
CU: Tangan Gatot sedang mengetuk rumah Parno
CUT TO
13. INT. Ruang tamu rumah Parno. Maghrib.
NURMI, GATOT.
Subyektif kamera pada lawang pembatas ruang tamu dan
ruang tengah.
Lalu muncul
Nurmi tergesa-gesa membuka pintu. Kamera mengikuti arah move Nurmi.
Gatot masuk cepat-cepat.
CUT TO
14. EXT./INT. Depan rumah Parno; Ruang tamu
Parno. Maghrib.
GATOT, NURMI.
Gatot dan Nurmi baring di kasur dengan selimut menutupi tubuh mereka yang
seolah-olah tak memakai baju.
Nurmi:
Memang sampean
tadi bilang apa sama suamiku?
(Gatot terkekeh)
Gatot:
Hehehe.., aku
bilang malam ini dia pantang nyentuh kamu. Sesuai primbon! Hahahaha….
(Nurmi mencubit Gatot)
Nurmi:
Sssst.., jangan
keras-keras. Nanti ada yang denger..
(Gatot menutup mulutnya, tapi tetap
terkekeh)
Tapi, memangnya
bener menurut primbon seperti itu? Mas memang bisa ngitung-ngitung kayak gitu
ya?
Gatot:
Hahaha.., sejak
kapan aku suka hal-hal mustahil kayak gitu. Suamimu itu yang kolot! Aku tau
dari dulu dia tertarik sama yang gituan. Makanya aku manfaatin saja. Kebetulan
di rumah ada buku primbon peninggalan kakek istriku.
Nurmi:
Kamu jahat iih..
Gatot:
Tapi suka
kaan..? Suka kaan..? Hahahaha..
FADE OUT
FADE IN
15. INT. Kantor parno: ruang kerja. Siang.
PARNO.
Parno sedang mengetik, laluu sesekali menulis.
CUT
TO
16. EXT. Halaman rumah Parno. Sore.
PARNO, NURMI.
Nurmi sedang menyiram tanaman.
Parno datang dari kantor. Nurmi menyalami Parno.
FADE
OUT
FADE
IN
17. INT. Rumah Parno: Kamar tidur. Tengah malam.
PARNO, NURMI.
CU: jam weker menunjukkan pukul 00.26
Subyek kamera beralih ke Nurmi dan Parno yang sedang
tidur.
Nurmi terbangun, lalu membangunkan Parno.
Nurmi:
Mas.., Mas
Parno.. Bagun Mas..bangun..
Parno:
Mmmh… (Bergumam dengan masih tertidur, lalu
mengubah posisi tidur)
Nurmi:
Mas.., banguun..
Aku pengen rujak Mas. Mas Parnoo…
Parno:
Mmmh? (Mulai bangun tapi mata masih terpejam).
Nurmi:
Aku kepengen
rujak.
Parno:
Rujak?
Ngelindur kamu dek? Ini jam berapa?
Nurmi:
Iya tahu. Tapi
aku beneran kepengen rujak Mas.. yang pedees banget. Ayo dong Mas, cariin
yaaa..
Parno:
Haduuh.., besok
saja ya? Nggak mungkin ada jam segini. Ngaco ah..
Nurmi:
Ihh.., Mas
Parno. Banguuun.., aku kepengen rujak! Ndak mau tau pokoknya haruus…
(Tiba-tiba parno langsung duduk seketika dengan
wajah tegang dan mata yangdipaksakan
terbuka.)
Parno:
Jangan-jangan???
(Parno bergegas mengganti celana dengan celana
panjang dan memakai jaket. Meilhat itu Nurmi menjadi sangat heran)
Nurmi:
Loh, mau kemana toh Mas??
Parno:
Looh, katanya
kepengen rujak?
Nurmi:
Mas mau cari
rujak??
(Parno mengangguk.)
Nurmi:
Asiik…, beneran
ya mas? Tak tungguin loh. Awas kalau
bohong!
Parno:
Siap!
(Membuka pintu kamar dan pergi)
18. EXT. Jalan raya, Apotek 24 jam. Malam.
PARNO.
LS: Parno masuk ke apotek. Lalu keluar lagi.
CUT TO
19. INT. Rumah Parno: kamar tidur.
PARNO. NURMI
Parno duduk di hadapan Nurmi.
Nurmi:
Mana mas
rujaknya? (Merengek)
(Parno tidak menjawab. Ia malah sibuk membuka
bungkusan kecil)
Parno:
Rujaknya nggak
ada Dek. Tukang jualnya masih bobo. Mending kamu coba ini.
(Tersenyum sambil mengeluarkan testpack dari
plastic)
Nurmi:
Mas ini gimana
sih? Aku mintanya rujak malah dikasih gituan. Emoh ah! Nggak mau.
(Parno mendekati dan membujuk Nurmi)
Parno:
Ayo doong..,
kali ini pasti jadi. Kamu itu ngidam dek. Malam-malam kepengen rujak itu kan
nggak wajar. Makanya dicoba ya?
(Nurmi mengambil testpack dari tangan Parno, sambil
cemberut menuju kamar mandi. tak lama Nurmi kembali ke kamar sambil
perlahan-lahan dengan wajah serius menyodorkan testpack yang menunjukkan hasil
positif pada Parno)
Parno:
Dua? Garisnya
dua?? Jadi??
(Parno menatap Nurmi meminta penjelasan)
(Nurmi mengguk pelan)
Parno:
Hah??? Beneran
Dek? Kamu hamil?? CIHUY!!! Alhamdulillah Gustiiii….”
(Parno mengusap wajah dengan kedua tangan seperti
setelah berdoa. Lalu memeluk Nurmi)
CU: Wajah Nurmi yang bengong dalam pelukan Parno.
FADE OUT
FADE
IN
20. INT. Mini market. Siang.
PARNO, EKA.
Subyek kamera pada keranjang belanjaan Parno yang
terisi sayuran dan makanan ringan.
Parno sedang berdiri dan membaca sebuah kotak susu
ibu hamil.
Eka muncul sambil menggendong anaknya, berjalan
mendekati Parno.
Eka:
Mas Parno??
Parno:
Eka?
Eka:
Wah, apa kabar
Mas?
Parno:
Baik, Ka. Kamu
juga sehat? Ini anakmu? (memegang tangan
bayi Eka)
(Eka mengangguk)
Parno:
Waah, udah gede
ya?
Eka:
Mas sendiri
gimana?
Parno:
Hehehe..,
kebetulan sekali kamu nanya. Coba lihat ini!
(menunjukkan sekotak susu ibu hamil)
Aku
juga bentar lagi mau punya anak Ka! Istriku hamil delapan bulan. Hehehe…
(Parno tertawa bahagia.)
( Eka terdiam)
Parno:
Loh, kok kamu
nggak ikut seneng Ka? Aku aja seneng liat kamu akhirnya bisa punya anak dari
suamimu yang sekarang.
Eka:
Eung.., bukan
gitu Mas. Aku seneng banget kok. Tapi aku heran, kok bisa?
Parno:
Loh, maksud kamu
apa? Kenapa enggak. Kamu juga bisa toh? Yah,
mungkin dulu kita berdua nggak bisa. Tapi sekarang kan situasinya beda, Ka.
Eka:
Maaf Mas, aku
nggak maksud bikin kamu kecewa. Tapi ada sesuatu yang selama ini aku
sembunyikan. Tapi…
Parno:
Maksud kamu apa?
Eka:
Eeuh.., dulu,
waktu kita sama-sama periksa subur atau nggak, kan aku yang menemui dokter
untuk tanya hasil lab-nya.
Parno:
Iya aku ingat.
Terus?
Eka:
Sebenarnya..Nng..,
anu..eeuh,,
Parno:
Sebenarnya apa?
Eka:
Kamu mandul
Mas.., waktu itu aku takut kamu sakit hati. Makanya aku bohong..
(Parno terdiam, lalu reflek menaruh kotak
susu kembali ke raknya)
Parno:
Aku permisi dulu
Ka.
CUT TO
21. EXT./INT. Rumah praktik dokter. Siang.
PARNO, DOKTER.
Dokter sedang menullis, lalu muncul pasien
berikutnya.
Parno muncul ragu-ragu.
Dokter:
Silakan duduk. Sakit apa Pak?
Parno:
Bukan dok..
Anu.. Nng…, dokter masih ingat saya?
(Dokter mengernyitkan dahi)
Saya Suparno,
dok. Dulu pernah tes kesuburan sama dokter.
Dokter:
Dulu? Kapan ya?
Pasien saya banyak, jadi saya lupa.
Parno:
Dulu dok..,
pernah..
Dokter:
Aah.. saya
ingat, yang waktu itu datang malu-malu diperiksa itu? Hehehe.., iya-iya saya
ingat. Nah, sekarang ada keluhan apa Pak?
(Parno tersenyum tidak enak)
Parno:
Nng.., anu dok,
saya cuma mau tanya. Waktu itu hasilnya gimana dok? Apa saya subur?
Dokter:
Loh? Ko bisa
belum tau, Pak? Istrinya nggak ngsih tau apa?
(Parno menggeleng pelan-pelan)
Dokter:
Sampean mandul Mas.
Dari hasil lab testis sampean nggak bisa maksimal menghasilkan sperma. Ada
kemungkinan juga hormone Mas yang kurang. Waktu itu saya suruh istri sampean
bilang kalau sampean harus periksa lagi. Siapa tau masih bisa diobati. Tapi kok
malah nggak datang-datang lagi. Saya pikir sudah pindah ke dokter lain.
Parno:
Saya permisi dok.
(Parno tiba-tiba keluar ruangan.)
FADE OUT
FADE IN
22. EXT. Depan rumah Parno. Siang.
PARNO. NURMI.
Parno berjalan menuju pintu rumah. Tapi ia tak jadi
membuka pintu. Terdengar Nurmi sedang bicara denganorang di telepon.
Subyek kamera: Parno yang sedang terdiam mendengar
obrolan Nurmi.
(VO) Nurmi:
(Tertawa kecil)
Ah, Mas Gatot
ini bisa saja. Terus kapan mau jenguk aku? Huu.., mentang-mentang aku udah
buncit, udah mengganjal, jadi nggak mau ke sini lagi. Mestinya perhatian dong,
ini kan anakmu. Hahahaha.., iya sih anak Parno, tapi cuma numpang di akta
kelahiran doang. Hahahaha…. Atau di buku primbon, hahahahaa…
CUT TO
23. INT. Rumah Parno: Ruang tamu. Siang.
PARNO, NURMI
Nurmi yang sedang duduk di ruang tamu sambil
menerima telpon dari gatot kaget karena Parno masuk tiba-tiba. Parto langsung
berjalan menuju kamar.
Nurmi:
Loh, Mas? Kok
sudah pulang? Belum makan kan? Aku siapin dulu ya?
Parno:
Nggak. Mau
tidur. (Masuk kamar, lalu menutup pintu)
(Nurmi
tegang. Dia duduk di kursi makan sambil meremas-meremas jarinya)
FADE OUT
FADE
IN
24. INT. Ruang makan. Malam.
PARNO, NURMI.
CU: asbak yang terdapat banyak punting rokok. Salah
satunya masih agak panjang dan masih mengepulkan asap. Di samping asbak ada
segelas kopi yang sudah habis.
Subjek beralih ke Parno yang terdiam duduk di ruang
tamu sambil merokok. Wajahnya terlihat dingin.
Nurmi pura-pura tidak tau apa-apa. Berjalan dari
arah ruang makan menuju ruang tamu.
Nurmi:
Kamu kenapa sih
Mas? Sejak pulang tadi diem terus? Sakit?
Parno:
(Menggelengkan kepala). Buatin kopi.
Nurmi:
Kopinya habis.
Tadi sore mau beli tapi keburu hujan sampai sekarang. Teh manis saja ya?
Parno:
Beli sana. Sama
rokok dua bungkus.
Nurmi:
Aduuh, nggak ah
Mas. Males. Hujan gini. Udah malam lagi. Warung yang deket kan udah tutup jam segini.
Parno:
Beli sana!!
Nurmi:
Mas,
jangan bentak-bentak gitu dong. Sampean pikir lagi ngomong sama siapa?
Parno:
Memangnya
sama siapa? Bos ku? Kamu itu cuma istriku!
Nurmi:
Iya,
memang. Dan lagi hamil delapan bulan!
Parno:
Memangnya
kenapa?!
Nurmi:
Kenapa? Aku ini
lagi hamil anakmu Mas. Dan kamu nyuruh aku malam-malam hujan begini beli kopi?
Parno:
Oya?? Kamu
yakin?
Nurmi:
Loh, memang
masih hujan. Apa dari tadi sampean
nggak sadar?
Parno:
Bukan itu. Kamu
yakin itu anakku?
Nurmi:
Loh, maksud kamu
apa sih Mas??
(Parno
mengambil jaket, lalu keluar rumah)
Nurmi:
Kamu mau kemana
Mas??
CUT TO
25. EXT. Warung kopi. Malam.
PARNO.
Parno duduk di warung kopi. Pelayan warung
menyodorkan korek apa. Parno mulai merokok.
(VO); Parno:
(berbicara dalam hati)
Gustii.., ampuun..
Aku tidak kuat menahan ini. Mengapa Engkau memberi aku keturunan dengan cara
seperti ini? Apa salahku Gusti? Aku cuma ingin punya anak..
Ah, bagaimanpun
juga ini tidak bisa dimaafkan! Aku akan habisi mereka malam ini juga!
Tapi aku takut
sama Kamu Gusti.., takut. Tapi aku tidak kuat lagi. Apa ini gara-gara aku lebih
percaya primbon dari pada kekuasaanmu Gusti??
Ah, iya benar.
Sepertinya gara-gara itu. Jadi ini hukuman dari-Mu Gusti??
Brengsek si
Gatot!! Jahanam!! Gara-gara dia! Tidak bisa dimaafkan! Tunggu saja nanti. Pasti
kubalas!! Kamu juga Nurmi, dan bayi haram kalian!
Tapi aku nggak
tega sama bayi dalam perut Nurmi. Aku sudah terlanjur jatuh cinta sama si
jabang bayi itu. Gustii.., bagaimana ini??
Gustiiii…..
FADE OUT
FADE IN
26. INT. Rumah sakit: ruang bayi. Pagi.
PARNO, NURMI.
CU: Wajah bayi baru lahir yang dibaringkan dalam box
di ruang bayi.
Terlihat Parno memandang dari kaca luar ruang bayi
itu menatap anak yang baru lahir dari perut Nurmi.
(VO)
Parno (berbicara dalam hati):
Suci.., cantik
sekali kamu nak. Mana bisa bapak enggak sayang sama kamu? Kamu itu suci nak,
dosa mereka tidak sedikitpun merembes di kulit sucimu.
Suci.., anakku…
CUT
TO
27. EXT: Rumah sakit: ruang rawat inap ibu
melahirkan. Pagi.
PARNO, NURMI.
CU: Tangan Parno mengaduk segelas susu.
Subyek beralih: Nurmi tidur. Parno duduk di kursi
samping tempat tidur Nurmi.
Nurmi terbangun, lalu Parno tersenyum tipis dan Nurmi membalas senyum itu.
Nurmi:
Mas.., mana bayi
kita?
Parno:
Di ruang bayi.
Tidur.
Nurmi:
Siapa namanya?
Sudah dikasih?
Parno:
Suci. Suci
Wening Nurani.
Nurmi:
Suci? Bagus
sekali…
Parno:
Iya, sesuai
artinya.
Nurmi:
Aku ngantuk
Mas..
Parno:
Minum susu
dulu..
(Parno mengambil susu dari atas meja lalu
memberikannya pada Nurmi.)
(Nurmi baru minum sedikit lalu memberikannya lagi
pada Parno)
Parno:
Habiskan.
Nurmi:
Udah ah..
Parno:
Habiskan! (Agak membentak)
Nurmi:
(Kaget mendengar suara Parno. Lalu menghabiskan susu
itu.)
(Parno lalu
tersenyum puas)
FADE
OUT
FADE IN
28. EXT. Terminal bus; kursi tunggu
penumpang. Sore.
PARNO.
LS: Suasana terminal bus.
Subyek kamera: Parno duduk di depan salah satu kios,
menggendong bayinya sambil memegang sebotol susu dan selembar tiket bis.
Subyek kamera beralih ke: Pelayan kios yang sedang
asik menonton berita.
(VO) Penyiar
Berita:
Siang tadi seorang
wanita, pasien Rumah Sakit Bersalin yang baru melahirkan di rumah sakit
tersebut ditemukan tewas. Korban tewas setelah meminum susu yang sudah dicampur
dengan racun. Diduga pelakunya adalah suaminya sendiri yang kemudian kabur
membawa bayi mereka.
(Parno berdiri lalu perlahan-lahan berjalan menjauhi kios itu.)
LS: Suasana terminal bus.
FADE OUT
FADE
IN
29. EXT./INT: Depan rumah Gatot. Ruang tamu
Gatot. Pagi.
TETANGGA GATOT.
Subyek kamera, mengikuti arah gerak si tetangga
menuju pintu rumah Gatot.
Tetangga mulai memanggil-manggil penghuni rumah.
Tetangga Gatot:
Assalamu’alaikum..
Kulonuwun... Mas Gatot?? Mbak Yu?? Kulonuwuun….
(Tetangga itu mencoba membuka pintu yang sedikit
terbuka)
CU: Wajah si tetangga.
MasyaAllaaaaah…..,
Tolooooong…toloooong….
(Terlihat Gatot tertelungkup di lantai, tewas
bersimbah darah dengan clurit menancap di lehernya)
FREEZE!!
= TAMAT =
Yogyakarta,
09/01/10
Tidak ada komentar:
Posting Komentar