Rabu, 26 Juni 2013

Dear Steve...

Pagi kemarin, pesan singkat dari Kirsty mau tak mau membuatku bangun untuk tidak sekadar mematikan alarm dan tidur kembali. Aku harus membuka mata dan berpikir sejenak harus seperti apa kubalas SMS-nya. “Hi Ellis, aku ingin memberitahumu bahwa Steve akan pulang dalam waktu dekat, karena ayahnya meninggal”, kujawab terimakasih karena telah memberitahuku.
Samar-samar terdengar lelaki perempuan bercakap-cakap di dapur, pagi ini. Steve sudah datang rupanya. Suara perempuan muda itu pasti Ezara, anak kakak perempuannya yang tertua. Dua kali pertemuan singkatku dengan perempuan itu tak membuatku cepat melupakan suara ramahnya. Kali ini Ezara tak membawa bayinya.
Pintu menuju halaman belakang terdengar dibuka. Lalu keduanya kembali bercakap-cakap dengan suara yang semakin samar. Aku sempat terlelap kembali setelah sadar rumah telah sepi saat aku terbangun lagi. 
“Aku turut berduka cita atas meninggalnya ayahmu, Steve” kataku ketika berpas-pasan dengan lelaki berumur empat puluhan itu di muka kamar mandi. Ia berterima kasih sambil seperlunya memberitahu bahwa ayahnya meninggal Sabtu kemarin. “Aku tak sempat datang ke pemakamannya”, katanya. Kudengar nada bicaranya biasa saja. Seperti menceritakan kepergian teman lama yang tak lagi terlalu akrab. Aku lalu berpikir mungkin aku yang justru berlebihan, menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang menyedihkan bagi Steve.
 Steve masuk ke kamarnya setelah ia berkata bahwa ia perlu istirahat. Penerbangan berjam-jam membuat kepalanya sakit.  
****
Aku menutup pintu yang menuju teras belakang. Angin di awal musim gugur mulai merontokkan daun-daun. Tiba-tiba aku teringat percakapanku dengan Steve di sebuah makan malam sederhana, di teras ini.  “Kau pasti lahir dari  keluarga musisi”, tebakku saat itu.
“Aha! Kau salah, Ellis. Aku satu-satunya orang yang memilih musik sebagai pekerjaan sekaligus teman hidupku”, kata Steve setelah meletakkan kembali gelas red-wine di samping piringnya. Ini kali pertama aku minum anggur, atas bujukkan Steve. Katanya “Kau tak akan benar-benar merasakan kenikmatan beef steak kalau tak sambil minum red wine”.
Sebetulnya aku tak terlalu lapar malam ini. Tapi dari sepuluh orang teman Steve yang ia undang untuk datang ke rumah dan makan siang bersamanya ternyata cuma dua orang yang datang. Salad, daging kalkun, beef, hingga sausage kangguru, dan beberapa pack vegetable-curry dari restoran India, masih bertumpuk di dalam kulkas. Akhirnya ia memohon padaku untuk membantunya menghabiskan semua makanan itu malam ini. Steve bilang aku tak perlu memasak appun lagi. Tapi aku merasa perlu menyumbang nasi. Walau nasi dan steak bukan pasangan serasi, (kecuali di kedai-kedai steak di kota asalku) tapi ini lebih baik daripada aku membawa tangan kosong.
Lalu Steve mulai bercerita tentang masa kecilnya. Makin lama ia terlihat semakin asyik bercerita. Bagian ketika ia mengamuk karena minta dibelikan grand piano di usia sepuluh tahun adalah bagian paling seru ia ceritakan. Diam-diam, aku menemukan Steve yang lain. Steve yang malam ini tak seperti Steve yang kukenal dari cerita Kirsty atau yang kulihat sendiri sebelumnya. 
Steve tertawa lepas. Aku pun ikut tertawa. Bukan karena mendengar cerita yang menurutnya lucu itu, tapi karena kebahagiaanku bertemu dengan sosok Steve yang berbeda.
“Nasi apa ini? Rasanya berbeda..” kata tiba-tiba Steve memotong ceritanya.
“Ini nasi yang kumasak dengan santan dan rempah. Di negaraku, ini disebut nasi uduk.”
“Hmm.. Can I have more?”
“Why not? Help yourself, Mate..”
Nasi udukku tandas. Laris manis....
****
Di ruang tamu, kain penutup piano Steve terbuka. Di atasnya terdapat foto kedua orang tuanya yang sedikit berdebu. Ibunya sudah lebih dulu meninggal. Sedangkan ayahnya  April lalu berulang tahun yang ke-90 tahun. Setiap enam bulan sekali, Steve selalu pulang dari pekerjaanya sebagai pemain piano di kapal pesiar. Ia hanya akan menginap di rumah ini dua atau tiga malam saja. Selebihnya ia habiskan di rumah ayahnya di sebuah suburb di sebelah barat kota Melbourne. Kali ini hal itu tentu tak lagi bisa dilakukannya.
 Aku sering berpikir, betapa kesepian menjalani hidup seperti yang Steve jalani. Tak menikah, bahkan tak memiliki “partner” seperti kebanyakan orang-orang di sini. Jika pulang selama tak lebih dari tiga minggu, ia sering keluar rumah hingga larut malam. Lalu esoknya bercerita padaku bahwa ia menemui beberapa teman lamanya. Sesekali ia hanya menghabiskan malam di depan TV sambil kadang menawariku agar-agar dengan custard dan irisan apricot kalengan.
Mungkin benar kata Kirsty, Steve tidak menikah karena sulit menemukan perempuan yang mau dinikahi untuk hanya ditemui setiap dua kali setahun. “Tapi di kapal ia akan banyak bertemu wanita cantik yang akan menghiburnya”, kata Kirsty. “Tapi bagiku itu tetap menyedihkan”, kataku menyanggah. “Yeah, but, who cares??”, kata Kirsty lagi ketika akan menutup obrolan kami.
Yang kutahu, Ezara satu-satunya keluarga yang rutin menemui Steve. Ezara bahkan sering mengirim makanan, atau memberi seplastik lemon dan jeruk dari kebunnya. Menjelang keberangkatannya untuk kembali berlayar, biasanya Steve mengajak Ezara dan suaminya untuk makan malam bersama. Setelah mereka pulang, Steve larut kembali dalam kesendiriannya. Tapi ia selalu terlihat biasa saja.
Aku sering menemukan diriku kebingungan mencari cara agar bisa menyapa Steve lebih sering, mengajaknya duduk minum kopi bersama, mendengarkan ceritanya. Aku ingin mendengar ia bermain satu atau dua lagu dengan pianonya. Aku ingin memintanya memainkan beberapa nomor Sonata yang sering ia lantunkan di tengah malam, saat aku dan Kirsty berada di kamar masing-masing.
Aku ingin Steve tak semenyedihkan ini. Tapi sering juga aku menganggap diriku terlalu berlebihan. Siapa yang sebenarnya menyedihkan? Steve yang selalu tampak kesepiankah? Atau aku yang selalu kebingungan dengan keterbiasaan Steve pada sesuatu yang kuanggap sebagai sebuah kemalangan?
Who cares??  Perkataan Kirsty  kembali terngiang di pendengaranku.

****
Aku berada di dalam kamar ketika kudengar langkah Steve mondar-mandir antara kamar mandi dan ruang tidurnya. Ia seperti berlari-lari, padahal jarak kedua ruangan itu hanya tiga meter. Kudengar ia seperti berbincang dengan seseorang, lalu tertawa keras. Sesekali suaranya melemah. Kupikir seseorang menelponnya. Kuintip dari celah pintu, tapi tak kulihat ia memegang telepon. Ia seperti sedang berbicara dengan seseorang yang hanya ada dalam pikirannya.
Steve terus berbicara sendiri. Aku tak mendengar suara Kirsty di sofa bersama televisi yang biasanya selalu ia nyalakan. Kirsty pasti di dalam kamarnya. Aku semakin tidak berani untuk keluar. Tingkah aneh Steve membuat tengah malam ini menjadi sedikit menegangkan. Sebuah pesan kuterima, “Ellis, kamu tidak apa-apa? Aku tak berani keluar kamar. Steve aneh sekali”.  Kujawab singkat, “Aku pun. Dia seperti sedang kebingungan. Kasihan, Steve.”
Beberapa jam kemudian, malam mulai sepi. Sepertinya Steve sudah tidur di kamarnya. Aku memberanikan diri keluar menuju dapur dan mengambil air minum. Lalu kumatikan lagi lampu dapur dan ruang makan.
Saat melewati ruang tamu, kulihat foto ayah dan ibu Steve tak lagi berdebu. Sebuah buku partitur tergeletak dalam keadaan terbuka di atas kursi dekat piano itu. Sekilas aku membaca judul lagu. Tiba-tiba aku teringat saat tak sengaja mendengarkan perkataan Ezara ketika Steve memainkan lagu itu di acara makan malam mereka, "Hey, itu lagu yang sering dimainkan kakek ketika aku kecil!"
Sekarang aku tahu apa yang Steve rasakan. Lebih dari itu, aku serta-merta seolah terhisap oleh kesedihannya. Kesedihan yang tak pernah ia ungkapkan pada siapapun.
Malam semakin renta. Angin tak sekencang biasanya. Namun di luar, denyit engsel gerbang halaman yang tertiup angin terdengar amat pilu.  Aku pun kembali melangkah menuju kamarku.
Aku berbisik amat pelan hingga hanya terdengar oleh telingaku saja,
Sleep tight, Steve. Good night…..

*****
Tak seperti Laverton, Bendigo lebih berbukit. Kota kecil sebelah utara Victoria ini memiliki lebih banyak bangunan tua. Pohon-pohon seperti orang-orang lansia yang kehilangan rambutnya. Murung dan pendiam. Rumah-rumah kehilangan nyawa. Penghuninya lebih memilih untuk bersembunyi di dalam kamar atau di balik selimut. Aku sendiri hampir tak pernah mematikan electric-blanket dan penghangat ruangan.
Hampir satu term aku pindah dan mengajar di salah satu sekolah menengah di kota ini. Di sini pun aku memiliki tempat murid-murid yang menyenangkan seperti Laverton. Hari ini aku mengajari mereka tentang cara membuat Batik. Beberapa murid sangat antusias ingin langsung mencoba. Namun tiba-tiba aku teringat Steve. Ia pernah memuji gaunku yang bermotif Batik saat aku memakainya ke sebuah pesta kecil di rumah temanku.
Sejak pindah ke kota ini, aku tak pernah lagi kembali ke rumah Steve. Semua barang yang masih bisa kupakai telah kubawa. Sisanya aku sumbangkan. Akupun tak secara langsung pamit padanya, karena seperti biasa ia sedang berlayar. Aku hanya menyampaikan salamku untuk Steve melalui Ezara. Semoga ia tak lupa menyampaikan salamku kalau nanti Steve kembali.
Kirsty sudah lebih dulu pindah ke St. Kilda. Ia beruntung karena di sana pantainya sangat indah. Tetapi harga sewa apartemen sangat mahal. Aku lebih memilih tinggal di kota kecil tapi murah seperti di sini. Aku harus berhemat, agar tabunganku tiap bulan selalu cukup untuk membiayai kuliah adikku di Bandung. Aku pun rasanya tak sempat memikirkan apapun selain bekerja dan menabung. Suatu hari Retno, kawan kuliahku dulu bertanya di inbox Facebook, “Kamu nggak pengen cari pacar di Australia?”. Kujawab dengan kelakar, “Boro-boro, Non. Nggak sempet dan nggak ada yang nyangkut di hati. Hahaha..”. Ya, di otakku hampir tak mengingat apapun selain bekerja. Tapi kali ini aku terus teringat Steve. Ada apa? Rasanya ini tak wajar..
Setelah jam istirahat usai dan sebelum bergegas menuju kelas sepuluh, sebuah pesan muncul di kotak masuk handphone-ku.
“Hi Ellis, apa kabar? Ini aku, Ezara. Aku harap aku tak mengganggumu. Ellis, Steve meninggal tadi malam. Jika kau tak keberatan, bolehkah kami minta alamatmu? Ethan akan menemuimu karena ada pesan dari Steve untukmu. Thanks Ellis..”.

Aku menutup pesan itu. Aku melangkah menuju kelas. Aku berjalan seperti biasa, tetapi tak pernah aku merasakan langkah yang tak biasa seperti ini. Kakiku terasa ringan. Wajahku tak menampakkan apapun selain kekosongan.
Steve....
****
Aku menunggu Ethan dengan kecemasan. Aku khawatir Ethan akan lebih menggenapkan rasa kehilanganku pada Steve. Aku bahkan segera mengabaikan rasa kikuk ketika Ethan akhirnya muncul dari salah satu gerbong kereta api.
Ini kali pertamaku bertemu dia. Aku hampir lupa saat Ezara menyebut nama Ethan dalam pesan kemarin. Aku hanya ingat sedikit cerita tentangnya. Ethan, keponakan lelaki kesayangan Steve dan satu-satunya orang di keluarga yang mewarisi bakat musik Steve. Ethan ke Perancis lima tahun lalu untuk mengembangkan bakat dan karirnya dalam bermusik.
“Hai! Ellis? Benar?” mata birunya berkilap-kilap saat mengucapkan kata itu.
“Ya. Dan kau pasti Ethan. Maaf, aku turut berduka tentang Steve, dan aku sangat kehilangan” mataku mulai berkaca-kaca. Tiba-tiba Ethan merangkulku, membenamkan aku dalam rasa kehilangan yang tak biasa ini.
Ethan menuntun tubuhku berjalan menjauhi stasiun. Di sebuah coffee-shop kami berhenti. Beberapa saat kemudian, kami mulai berusaha bersikap biasa kembali. Aku melihat Ethan tak lagi gugup menghadapiku yang mulai berhenti menangis.
“Maaf, aku yakin kau sengaja tak bekerja hari ini karena harus menemuiku. Dan aku pun minta maaf, karena sebetulnya tak ada pesan khusus dari Steve untukmu. Tapi aku merasa harus bertemu denganmu. Kupikir itu adalah cara terbaik untuk menebus rasa bersalahku karena tidak ada di samping Paman Steve di saat hari-hari terakhirnya”, Ethan terus berbicara dan kembali terlihat gugup. Ia sepertinya tahu aku menangkap gelagatnya. Maka ia kemudian mengeluarkan sebuah amplop dan menyuruhku membukanya. “Aku harap kau tak keberatan membaca ini..”
Perlahan aku membuka dan mulai membaca surat itu...

Dear Ethan,

Apa kabar, Nak? Ketika membaca surat ini, aku ingin kau dalam keadaan terbaikmu.
Aku menulis surat ini di dekat pianoku. Benda kesayangan kita. Aku selalu ingat saat pertama kali ibumu menyentuhkan jari-jari kecilmu di atas tuts piano ini. Kamu begitu gembira dan menangis saat ibumu memintamu berhenti bermain-main dengan piano ini. Sejak itu aku tahu bahwa kamu akan menjadi musisi hebat suatu hari nanti. Dan aku benar.

Kupikir, sebentar lagi aku tak akan lagi bisa bermain piano. Nada-nada itu tak lagi bisa keluar dari jari-jariku. Tapi jauh di dalam pikiranku, aku selalu bisa merasakan setiap nada itu. Dan aku akan menyimpannya. Aku harap aku bisa memainkannya sekali lagi di hadapan kakek dan nenekmu di sana nanti. Aku harap begitu.

Sebelum kututup surat ini, aku ingin bercerita padamu tentang seorang temanku. Namanya Ellis. Ia perempuan muda yang pernah menyewa salah satu kamar di rumahku beberapa bulan lalu. Aku tidak pernah memiliki teman sebaik dia. Dan kupikir, dia tak pernah benar-benar sadar bahwa banyak hal sederhana namun istimewa yang telah ia hadirkan pada pertemanan singkat kami.
Aku tak bisa bercerita banyak. Kau harus menemuinya sendiri. Dan tolong sampaikan terima kasihku padanya untuk hari-hari singkat yang menyenangkan.

Jaga baik-baik dirimu, Kawan..
Aku akan selalu mendengarkan setiap musik yang kau mainkan.
Dan aku sangat bangga padamu, Nak.

With love,
- Steve -
P.S. Kalau Ellis tak keberatan, mintalah ia memasak nasi bernama “nasi uduk”. Dan kau akan segera menyukai nasi itu seperti halnya kau akan segera menyukai perempuan baik hati itu..


Aku melipat kembali surat itu. Nafasku lebih ringan, tak ada sesak seperti tadi. Tak bisa kujelaskan perasaan ini. Bahwa aku justru merasa lega setelah membaca surat Steve. Aku tak pernah mengira bahwa pertemanan kami yang singkat itu meninggalkan jejak di ingatan Steve. Aku kehilangan, namun merasa bahagia karena sempat memberikan ingatan-ingatan indah bagi Steve.
Aku memberikan surat itu kembali kepada Ethan. Aku melihat ke kedalaman matanya. “Ellis, bolehkah besok aku menemuimu lagi? Aku akan menginap di hotel kecil sekitar sini” kata Ethan.
“Tentu saja. Aku punya kamar kosong di flat-ku. Kau bisa memakai kamar itu, Ethan.”
“Apakah itu artinya aku bisa makan malam dengan nasi uduk?” tanya Ethan sambil melirik ke arah amplop itu.


“Tentu....” aku hampir tak bisa menyembunyikan senyumku. Cepat-cepat kuteguk kopi yang segera dingin. Dingin yang tak sedikitpun kutemukan di dalam tatapan Ethan. Tatapan hangat yang mengingatkanku pada sosok lain Steve malam itu.



-- Ellis Artyana --
Dimuat di CHIC Magazine, edisi 16 Juni 2013

2 komentar:

  1. Hmm...ini kisah yang pernah kamu kirimkan dulu kan Neng..masih teringat diingatanku tentang kisah ini...Good job...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, iya, kawan. Kukirim ke media, rupanya dimuat juga.
      Thanks sudah membaca :)

      Hapus