Sekitar menjelang tengah tahun 2004, seperti umumnya anak SMA yang baru lulus kala itu, saya mulai mempersiapkan diri mendaftar kuliah. Tidaklah terbayangkan awalnya bahwa rupanya saya dapat kuliah. Saat itu yang saya tahu adalah bahwa saya tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah lulus, karena memang tidak ada kepastian apakah orang tua saya akan sanggup membiayai saya untuk kuliah atau tidak.
Saya memulai prosedur pendaftaran dengan cara mengisi formulir SPMB yang belakangan saya tahu telah berganti sebut menjadi SNMPTN. Kampus yang saya pilih adalah UPI. Jurusan pertama yang saya pilih Pendidikan Bahasa Indonesia dan yang keduanya adalah Bahasa Jepang. Beberapa anggota keluarga yang tahu –padahal saya merahasiakannya termasuk dari orangtua tentang pilihan itu—heran karena kok Bahasa Jepang malah jadi pilihan kedua. Lalu saya juga berpikir mengapa saya meletakkan formasi pilihan serupa itu? Tapi ada jawaban yang bukan sekadar alibi dari diri saya ; “Mengapa saya harus menomorduakan bahasa saya sendiri?”. Betapapun terdengar idealis, hal itu tidak mengurangi kecintaan dan ketertarikan saya pada bahasa lain. Semua bahasa di dunia ini bagi saya sangat ajaib.
Namun bukan ingatan itu yang dominan pada saat saya menulis ini. Akan tetapi ingatan bahwa ada hal yang membuat saya penasaran hingga kini. Tentang peristiwa saat saya mendaftar SPMB itu. Tentang bagaimana repotnya. Dan tentang seseorang yang membantu saya kala itu namun saya sendiri sangat lupa dan tidak tahu siapa dia.
****
Jauh berbulan-bulan sebelum UAN, suatu malam, tiba-tiba telpon di rumah nenek tempat saya tinggal berdering. Suara lelaki di ujung telepon bilang bahwa dia ingin bicara dengan Ellis. Ya, saya sendiri, begitu jawab saya. Dia tidak saya kenal sama sekali. Dia menyebutkan namanya serta asal muasal ia bisa mendapat nomor telepon rumah ini. Dia terdengar datar dan tidak bermaksud apa-apa. Walau motivasinya menelpon dan mengajak saya berkenalan tidak luput dari pertanyaan di hati saya, namun karena orang asing seperti itu tidak begitu penting untuk saya, dan dia pun terdengar datar-datar saja, maka saya tidak merasa ingin bertanya lebih jauh tentang ini itu pada dia.
Kemudian dia sering menelpon saya. Tapi tetap dengan obrolan ngaler-ngidul dan tidak spesifik. Pembicaraan kami di telpon sering mentok karena dua-duanya tidak cukup punya bahan menarik untuk diobrolkan. Mungkin karena bosan juga, dia pelan-pelan hilang dan saya masa bodo dengan hengkangnya dia dari dunia obral-obrol via telpon itu.
Kembali ke peristiwa SPMB tadi. Saya dan teman-teman sekelas yang juga akan mendaftar, berkumpul di sekolah untuk pergi bersama ke ITB, tempat kami harus mengembalikan formulir. Semua calon peserta SPMB harus menyerahkan formulir dan semua persyaratan hingga batas pukul 12:00 WIB. Kami yang berasal dari daerah Margahayu Kopo ini butuh waktu lebih awal untuk pergi ke sana agar tak kesiangan. Setelah berkumpul semua, kami siap mencari angkot. Iseng-iseng saya buka map, dan “Gustii.., sayah poho mawa potokopi ijazaaah..” (Ya Tuhan, saya lupa bawa fotokopi ijazah) kalimat itu yang reflek keluar dari mulut saya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11:00. Saya panik. Jarak dari rumah saya ke sekolah saja sudah lumayan jauh. Teman-teman memutuskan untuk meninggalkan saya karena takut terlambat. Saya pulang dengan perasaan panik luar biasa. Dalam keadaan tidak karuan begitu, saya sekonyong-konyong pergi ke box telpon umum. Saya menelpon lelaki itu. Saya menceritakan kepanikan saya tanpa saya sadari mengapa saya harus bercerita pada dia. Lalu dia bilang dia akan mengantar saya. Tanpa sungkan saya bilang, oke, jemput saya secepatnya! Setelah menyebutkan alamat rumah, saya bergegas pulang mengambil fotokopi ijazah. Kejadian itu sangat luar biasa ricuh bagi saya sehingga saya tidak ingat untuk mengukur sopan-tidaknya memberi instruksi seperti itu pada dia.
Saat saya menunggu dia di depan gang, waktu menunjukan pukul 11:40 WIB. Lalu dia datang sesuai dengan ciri-ciri yang dia sebutkan di telpon. Kami bertemu untuk pertama kalinya, tetapi tidak punya waktu untuk berkenalan dan berkata “Senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan Anda”. Yang saya pikirkan saat itu adalah dia harus menepati perkataannya untuk mengantar saya ke ITB tepat waktu. “Tenang, 15 menit cukup kok!” Saya ingat dia bilang begitu, padahal jarak yang kami tempuh adalah dari Kopo ke ITB. Bahwa saya percaya dia tidak akan nyasar itu benar, karena dia—setidaknya mungkin—sudah kenal daerah Bandung. Tetapi bahwa saya yakin kami bisa tiba di sana tepat waktu, itu tidak benar.
Kami tiba di ITB pukul 12:05. Saya tidak sempat banyak berkata-kata selain berterima kasih dengan singkat. Dia bilang dia akan jemput saya dan mengantar saya pulang. Saya bilang “Oke”.
Rupanya loket penyerahan formulir belum ditutup. Saya selamat dan bisa mendaftar. Setelah urusan saya selesai barulah saya sadar ada SMS dari dia yang mengatakan bahwa dia akan menjenguk dulu kakakknya (atau teman kakaknya, atau kakak temannya. Saya lupa) di rumah sakit. Saya pun mengiyakan ketika dia bilang tunggu saja dia di gerbang utama ITB.
Saya berjumpa dengan teman-teman saya yang tadi duluan tiba di ITB. Kami sudah beres menyerahkan formulir, dan teman-teman mengajak saya pulang bersama. Namun karena saya sudah janji pada lelaki itu bahwa akan pulang diantar dia, saya pun menunggu. Tetapi ada kegawatan yang terjadi. Saya tidak tahu dimana letak gerbang utama ITB. Bahkan saya bingung dari gerbang mana tadi saya masuk. Saya berputar-putar di dalam kampus ITB yang saat itu saya rasa sangat luas dan membingungkan.
Akhirnya saya tiba di mulut gerbang, tetapi saya tahu itu sepertinya bukan gerbang utama. Dia sudah menunggu saya di gerbang utama dan bilang bahwa dia akan menuju ke tempat saya berdiri saat itu. Namun saya tidak bisa secara spesifik menjelaskan di mana saya saat itu. Akhirnya dia kesal setelah berputar-putar mencari dan tak menemukan saya. Mendengar suara kesalnya di telpon, saya meminta maaf dan berkata saya akan pulang naik angkot saja. Dia tetap bilang bahwa dia akan terus mencari saya untuk mengantar pulang, tetapi saya bilang tidak usah, karena saya sudah cukup merepotkan dia hari ini. Saya pun pulang sendiri.
Setelah hari itu, mungkin sekitar beberapa hari kemudian dia menelpon saya. Dia bercerita dia akan bekerja di (kalau tidak salah) Batam. Dia lulusan D3 POLBAN, tapi saya lupa jurusannya. Yang jelas pekerjaan di tempat barunya kelak sesuai dengan bidangnya. Dia bilang jangan heran jika nanti dia akan lama tidak menelpon. Tetapi dia berjanji akan menghubungi saya lagi.
Namun setelah saat itu saya tidak pernah mendengar kabar dari dia lagi. Bahkan ketika hasil SPMB keluar dan mengumumkan bahwa saya termasuk peserta yang lulus, saya tak pernah lagi tahu kabar dia. Namun seperti di awal, saya tidak terlalu ngeyel untuk mencari dia. Lagipula saya berpikir mungkin dia sedang sibuk di tempat baru.
Barangkali pernah dia menelpon saya, tapi saya tidak tahu karena saya sudah nge-kost, tidak tinggal di rumah nenek lagi. Nomor HP saya pun sudah diganti, tanpa bisa memberitahu dia karena nomor dia pun dulu tidak pernah saya simpan di HP. Pernah saya coba menelpon ke rumahnya saat saya masih bisa mengingat nomor telpon rumahnya. Tetapi ibunya bilang dia tidak di Bandung. Saya pun tidak bertanya lebih lanjut tentang nomor HP dia, atau berpesan agar dia menghubungi saya jika bisa. Semua lewat begitu saja.
Sekarang yang tersisa hanya ingatan itu saja. Saya tidak ingat namanya, tidak ingat tempat tinggalnya, tidak ingat wajahnya. Saya tidak ingat apapun kecuali satu hal, yaitu bahwa dia sangat berjasa dan saya seharusnya bisa berterima kasih lebih banyak pada dia.
Saya ingin memberitahu pada dia bahwa sekarang saya sudah lulus kuliah dan bekerja. Saya ingin memberitahu dia bahwa jika 8 tahun yang lalu dia tidak bermurah hati mengantar saya, mungkin saya tak pernah bisa ikut SPMB dan kuliah, setidaknya di tahun itu. Dan saya ingin memberitahu dia bahwa hari pertama dan terakhir pertemuan kami itu menjadi penanda penting bagi sejarah perjalanan hidup saya selanjutnya hingga kini. Terakhir, saya juga ingin dia tahu bahwa untuk jasanya itu, saya akan senantiasa berdoa semoga dia diberi kebaikan yang berlipat dari Tuhan atas kebaikan yang dia berikan pada saya.
Terima kasih. Terima kasih sedalam-dalamnya, dari segenap hati dan jiwa saya.
Apa yang orang berikan kepada kita mungkin dia sudah tidak memikirkannya lagi bahkan lupa sama sekali, begitulah cara Tuhan menunjukkan kuasaNya, kita merasa perlu membalas kebaikan atau sekedar terima kasih, tapi kadang Tuhan tak pernah memberi kesempatan,cakrakala dunia ini harus senantiasa berputar kearah yg sama tak akan kembali, hanya kepada Tuhan kita dapat selalu berbalas dan Dia selalu membuka kesempatan itu dan dapat kita haturkan kepadaNya dalam bentuk puji, syukur, istigfar, tahlil, takbir.
BalasHapusSemoga kita menjadi orang yang paling cepat melupakan kebaikan yang pernah kita lakukan untuk orang lain, dan menjadi orang yang paling lama mengingat kebaikan yang orang lakukan untuk kita. :)
Hapus